Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
tidak pulang 2


__ADS_3

Di luar...


Ponsel Jimmy bergetar, membuatnya berhenti sejenak, lalu mengeluarkan dari dalam saku celana.


"Malam pak?" jawab Jimmy, karena yang menelfonnya adalah Justin. "Oh... Iya, masih di sini pak. Ini sedang bersama saya." Jimmy menjawab sembari menoleh ke arah Rumi lantas menyerahkan ponsel itu pada Rumi setelah memberitahu, jika yang menelfon adalah pak Justin. Rumi pun menerimanya. Menyapa sebentar, lalu terdiam dengan kepala sedikit menunduk seraya manggut-manggut, guna mendengarkan apa yang sedang di ucapkan bosnya.


"Iya pak. Tidak apa-apa. Baiklah, selamat malam." Rumi menurunkan ponselnya, lalu menyerahkannya kembali pada Jimmy.


"Apa katanya?"


"Besok ada meeting pagi. Aku harus ikut."


"Begitu ya? Emmm, kalau gitu menginap saja di kontrakan ku."


"Boleh nih?"


"Boleh dong. Dengan senang hati malah, kebetulan sudah lama tidak mengobrol soal agama semalaman, seperti masa-masa kuliah dulu," ujar Jimmy bersemangat.


"Hahaha... Kamu bisa saja."


"Eh... Beneran. Makanya ini seneng banget pas tahu kak Rumi nggak pulang."


"Ckckck, Anak ini ya..."


"Hahaha... Telfon dulu istrinya kak."


"Iya, sebentar ya." Rumi mengeluarkan ponselnya sendiri, mematikan mode penerbangan, sembari berjalan agak jauh dari Jimmy.


Mencari-cari kontak Debby, setelah ketemu ia pun menekan tombol call. Menunggu beberapa saat, tak ada jawaban ia pun kembali menghubungi Debby. Dan di panggilan kedua ini pun tidak ada jawaban sehingga membuatnya memutuskan untuk menghubungi sang istri nanti saja.


"Sudah?" tanya Jimmy, pada Rumi yang kembali mendekat.


"Istri ku tidak menerima teleponnya, sepertinya dia sedang di ruangan lain."


"Oh... Ya sudah, kita makan saja kalau begitu."


"Boleh deh. Makan apa ya, enaknya?" Rumi menurunkan tubuhnya, duduk di pinggiran lantai batas suci untuk menggunakan kaos kaki dan sepatunya.


"Ada angkringan enak di dekat sini, banyak pilihan lauknya, pula."


"Wah... Boleh tuh. Yuk lah." Rumi beranjak setelah selesai, lantas berjalan bersama temannya itu menjauh dari area masjid, untuk mencari makan malam. Karena waktu Jimmy lumayan singkat, mereka pun mempercepat langkahnya menuju warung tenda angkringan.


***


Di sebuah warung tenda yang lumayan ramai orang-orang. Ada yang sedang mengobrol, ada yang baru saja makan, ada pula yang baru tiba sama halnya dengan Rumi dan Jimmy. Namun kebanyakan orang-orang di sana sudah selesai menyantap hidangan mereka, dan duduk sembari bercengkrama dengan teman-teman.


ke-duanya menghampiri sejenak meja di depan pintu masuk untuk mengambil nasi serta lauk pauknya.


Benar kata Jimmy, ada banyak pilihan lauk yang menggugah selera. Dari sayur krecek (kerupuk kulit sapi yang di masak bersama kentang dengan kuah merah.) Ada pula sayur tempe yang di masak tanpa di goreng lebih dulu, dengan potongan agak besar memanjang di campur dengan potongan cabai hijau yang banyak, sayur nangka, dan lain sebagainya. telur, tempe, dan tahu yang di bacem pun ada, lengkap dengan beberapa gorengan.


Rumi menatap tiga baskom besar sambal yang berlainan jenis. Padahal malam masih terbilang sore, namun sambal-sambal itu sepertinya sudah berkurang separuhnya.


"Monggo mas, mau yang mana lauknya?" ucap seorang ibu-ibu. Beliau sepertinya orang Jawa, terlihat jelas dari logatnya.


Rumi tersenyum, ia lantas menyerahkan dengan sopan piring yang sudah terisi nasi di dalamnya. Yang ia ambil sendiri, karena sistem angkringan itu adalah mereka bisa mengambil nasi sebanyak yang mereka mau.


Dan ibu-ibu itu pun menerimanya.


"Kok sedikit ambil nasinya? Nanti nggak kenyang loh," Tutur ibu-ibu tersebut, dengan ramah.


"Memang segitu porsi saya Bu," tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah mau lauk yang mana?"


"Saya mau sayur nangka, sayur tempe dan telur." Tunjuk Rumi. Sesaat pandangannya tertuju pada ayam yang di bumbu kuning namun seperti ada santan kental seperti di rendang, bedanya itu berwana kuning. "Itu ayam ya Bu?"


"Iya, ini ayam petis. Khas orang Banyumas. Rasanya agak manis, gurih beraroma daun salam. Nggak pedas," jawab ibu tersebut.


"Petis? Kok nggak hitam Bu?"


"Petisnya orang Banyumas itu nggak seperti punyanya orang Semarang. Jadi petis di sini hanya nama untuk santan yang di masak hingga airnya habis lalu tersisa bubur santan seperti ini, dan ayam yang di pakai pun harus ayam kampung nggak bisa ayam boiler. Mau coba? Enak ini mas."


"Boleh deh," jawab Rumi karena melihat orang-orang banyak yang mengambil lauk itu membuat Rumi penasaran dengan rasanya. Dan di ambilnya satu potong paha yang masih menyatu dengan paha atas serta cekernya, tak lupa bumbu dari santan itu pula di letakan di atasnya.


"Sambalnya pakai?"


"Boleh Bu, yang hijau itu. Sedikit saja."


"Okeh... Sepertinya nggak begitu suka pedas ya?"


"Hehehe iya Bu."


"Duh, masnya kalo ngomong kok adem ya," puji beliau yang membuat Rumi terkekeh. "Monggo mas, selamat makan ya," tutur ibu-ibu tersebut kemudian, seraya menyerahkan piring milik Rumi.


"Terimakasih Bu." Kini piring sudah berpindah tangan, sembari menunggu Jimmy mengambil lauknya. Mata Rumi berkelana, memburu meja kosong lantas menemukan di ujung belakang. Jimmy pun selesai, kini berdiri di sebelah Rumi.


"Mau duduk di mana, kak?" Tanya Jimmy.


"Di sana saja lah..." Tunjuk Rumi


"Baiklah."


Keduanya berjalan menuju meja yang kosong. Baru saja Rumi hendak meletakkan piringnya di atas meja, ponselnya sudah berbunyi.


"Angkat dulu saja kak," usul Jimmy, yang kini sudah duduk bersilah. Sementara Rumi langsung mengeluarkan telpon genggam dari dalam ranselnya.


"Assalamualaikum, Dek?" jawab Rumi, menutup satu telinga yang lain. Agar suara bising di sekitarnya tidak begitu terdengar dan ia bisa fokus berbicara dengan Debby di sebrang.


"Kakak tadi telfon ya? Aku tadi di dapur," jawab Debby dengan suara imutnya sehingga membuat Rumi tersenyum.


"Iya tadi aku telfon. Cuma mau mengabarkan, hari ini aku tidak pulang."


"Loh kenapa?"


"Iya aku ada meeting besok. Maaf ya, dek." Ucapan Rumi membuat yang di sebrang terdiam. "Dek, kok diam?"


"Nggak papa, cuman aku masak ikan hari ini. Ku masak kuah kuning. Kegemaran kak Rumi. Ku pikir kak Rumi pulang," jawab Debby lirih. Rasanya seperti sedih saja, jika sang suami tidak pulang.


"Ya Allah..." Rumi garuk-garuk kepala, ia merasa kasihan. "Maaf ya. Besok sisakan saja, nanti aku pasti makan kok."


"Kalau buat besok, ya udah jelas nggak akan enak."


"Tetep enak kok, pasti." Rumi berusaha menghibur Debby.


"Ck..."


"Dek, jangan gitu dong."


"Kalau mau nggak pulang? bilang dari siang dong, kaya gini kan jadi kesel."


Rumi tersenyum gemas. "Maaf... Beneran aku juga baru tahu, kalau pak Justin ngajak aku meeting. Tadi aku udah mau pulang sebenarnya, wallahi."


"Terserah lah..."

__ADS_1


"Ya Allah, dek. Aku biasanya juga langsung pulang 'kan?"


"Aku bukannya nggak ngebolehin. Cuma kesel aja, kamu ijin nggak pulangnya mendadak. Kalau tahu gini aku nggak akan masak."


"Nggak boleh gitu dong, Dek. Maaf... Beneran aku minta maaf ya."


"Ya sudah lah... Besok pulang jam berapa?"


"Entahlah, pak Justin bilang meetingnya bisa lama."


"Tuh 'kan? Keburu basi ikannya."


Rumi terkekeh. "Ya Allah, simpen di kulkas, besok kamu hangati saat aku pulang. Pasti masih enak."


"Tapi kan udah lain, rasanya." Rengek Debora kesal.


"Tetep bakal ku makan, Zaujatti." Rumi menjawab setiap ucapan Debby dengan lembut dan sabar, walau yang di sebrang terus mengoceh dengan nada sebal.


"Terserah lah."


"Dek, aku kerja loh di sini. Nggak main."


"Iya aku tahu."


"Ya sudah jangan ngambek."


"Siapa yang ngambek? Eggak kok."


"Itu ngambek namanya, sayang."


"Aaaaa... Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu."


Rumi tersenyum merasakan rindu. "Nanti kita telfonan ya. Sepanjang malam sampai kamu tidur."


"Huuuu..."


"Dek?"


"Iya... Kamu sudah makan, belum?"


"Baru mau."


"Sama siapa?"


"Sama temen," jawab Rumi.


"Cewek atau cowok?"


"Jelas cowok lah."


"Beneran ya?"


"Ya Allah Iya, beneran. Nanti aku foto deh, ku kirim ke kamu. Biar kamu percaya."


Debby tersenyum di sebrang. "Ya udah makan dulu sana, nanti telfon lagi selepas Isya."


"Iya... Kamu juga makan ya. Assalamualaikum ya Zaujatti."


"Walaikumsalam, suami."


PIK... Sambungan telfon terputus, di mana Rumi kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. Ia menghela nafas lantas menoleh ke arah Jimmy yang sedang senyum-senyum. Sepertinya dia sedang membayangkan sesuatu yang entah apa, intinya Rumi adalah gambaran pria beristri yang mungkin akan ia alami juga situasinya jika pulang terlambat ataupun tidak pulang.

__ADS_1


__ADS_2