
Hari berganti hari...
Saat ini Debby sudah mulai beraktivitas kembali di kantor tempatnya bekerja. Dia pun menyiapkan sarapan pagi, sebelum Abi Irsyad pulang dari masjid.
Karena kata beliau, hari ini dia ada pertemuan pagi dengan beberapa mahasiswanya di kampus, sehingga pukul enam nanti beliau harus sudah ada di sana.
Abi Irsyad menyapa sang menantu, yang tengah meletakkan beberapa lauk sarapan pagi di atas meja.
"MashaAllah, sudah siap. Baiknya anak perempuan Abi ini." Puji ustadz Irsyad. Debby pun tersipu.
"Abi maaf ya, cuma masak ini saja." Ujar gadis itu saat sang ayah mertua sudah duduk di bangkunya.
"Nggak papa Nduk. Ini juga sudah banyak." Ustadz Irsyad membuka piring yang tertelungkup di hadapannya. Sementara Debby hanya tersenyum senang.
"Maaf Bi, Debby tinggal ya. Soalnya Debby juga harus bersiap untuk ke kantor." Meminta izin, sembari melepaskan celemek di tubuhnya.
"Oh... Iya Nduk. Terimakasih sekali lagi."
"Iya..." Tersenyum sekilas, dengan pandangan mata mengarah ke pintu. Dimana Rumi belum juga nampak masuk ke rumah itu, setelahnya dia pun berjalan keluar.
Di kamar, ia melihat Rumi sudah ada di dalam, tengah mengganti kokonya dengan kaos oblong.
"MashaAllah, aku kaget kak. Kamu sudah di dalam." Debby menutup pintu kamar mereka, lalu berjalan menghampiri.
"Iya, dek." Jawabnya singkat, beliau duduk dengan kain sarung masih terpasang, serta Qur'an kecil di tangannya.
Debby pun mendekati Rumi, dan duduk di bibir ranjang di sebelah Rumi.
__ADS_1
"Aku masak, sayur bayam dan ikan goreng kesukaan mu." Debby memijat-mijat kaki Rumi.
"Iya kah? Nanti aku makan ya." Jawab Rumi tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada Al Qur'an di tangan.
Sementara Debby hanya diam saja, pandangannya masih tertuju pada wajah sang suami, seraya mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang sudah mulai di baca suaminya. Padahal pria itu ada di dekatnya, setiap hari pun dia melihat sosok suaminya itu. Namun rasa rindu seolah semakin berkecamuk, ada rasa ingin di cium, ingin di cumbu juga olehnya, jika di ingat-ingat semenjak Umma meninggal, Rumi tidak pernah memanjakannya sekalipun.
'sudah ada dua minggu lebih, tapi dia masih seperti ini?' batin Debby merasa sedih, ia bahkan rindu dekapan Rumi ketika tidur. Karena pria itu setiap malamnya seperti orang kelelahan yang langsung tidur begitu saja selepas isya. Tanpa ada perbincangan di atas ranjang apalagi melakukan hubungan yang wajib untuk setiap pasangan, walau pun hanya seminggu sekali.
Debby menghentikan pijatannya, lalu beranjak. Dia melangkah lesu menuju tandas, sepertinya dia harus lebih ekstra bersabar lagi. Entah lah sampai kapan, namun melihat Rumi sudah lebih sering tersenyum kepadanya lagi sudah lebih baik, begitu lah Debby yang masih mencoba untuk berbaik sangka pada sang suami.
Wajar bukan? jika Rumi jadi seperti itu. Dia amatlah menyayangi ibunya. Mungkin jika itu terjadi kepadanya, Debby akan melakukan hal yang sama. Itulah yang ada di dalam kepala gadis itu.
–––
Setengah jam lebih waktu yang di perlukan untuk bebersih serta merias diri di depan cermin, Debby sudah terlihat rapih. Hijab besar berwarna mocca bermotif bunga-bunga maroon, pakaian kantor dengan rok plisket berwarna hitam yang panjang, sudah membuatnya terlihat sangat anggun.
"Aku berangkat dulu, kak." Mengulurkan tangannya.
Rumi menghentikan tilawahnya, Sejenak. Ia menoleh. Menyerahkan tangannya pada Debby yang langsung mengecup punggung tangan itu.
"Iya... Hati-hati, ya." Jawabnya, mengusap kepala sang istri.
Debby pun terdiam sejenak, melihat sang suami hanya diam juga. Hendak kembali fokus pada ayat-ayat yang akan ia baca lagi.
"apa kau tak ingin mencium ku? Walau hanya sebatas di kening?" Debby tersenyum getir saat Rumi kembali menoleh.
Rumi pun tersenyum. "Ya Allah... maaf dek. Sini ku cium." Hendaknya dia mendekati kening Debby, namun gadis itu tertawa, mendorong Pelang dada sang suami. Dia sudah tidak ada hasrat ingin di cium lagi, karena semua bukan inisiatif sang suami sendiri, melainkan dari sindirannya.
__ADS_1
"tidak usah kak... aku sudah telat." Katanya, Dia pun beranjak dari posisi duduknya. Lalu meraih tas yang tergeletak di atas meja berjalan hingga ke pintu, ia sempatkan untuk menoleh kebelakang berharap Rumi akan menghentikannya pergi karena bisa jadi dia menyadari kekeliruannya itu. Dan yang ia dapati hanya Rumi yang sedang melebarkan senyum kearahnya.
Seolah sesak kembali terasa, kak Rumi sama sekali tak menahannya. Atau sekedar basa-basi hendak mengantarnya bekerja.
Membalas senyum itu sejenak, lalu kembali menghela nafas kecewa. Debby pun keluar sembari menutup pintunya lagi.
Sejatinya, Rumi sendiri tidak menyadari perbuatannya itu sudah melukai sang istri. Yang dia pikirkan saat ini adalah ibadah, berusaha menjadi salih demi bisa membuat Ummanya selamat. Walaupun dia tidak menjamin juga. Namun berikhtiar tidak ada salahnya kan?
***
Di kantor...
Debby masuk ke ruangannya, yang terdiri dari sekitar sepuluh orang pegawai. Nampak kegaduhan yang berasal dari sebuah perayaan kecil-kecilan yang sepertinya menyangkut soal jabatan.
Ya... karena terlihat beberapa rekan-rekan yang sedang menyalami salah seorang pegawai. Ia baru saja naik jabatan, sebenarnya sudah ada desas desus jika jabatan itu untuk Debby. Namun karena satu dan lain hal menjadikan ia urung mendapatkan kesempatan untuk di promosikan.
Ada beberapa yang memberinya ucapan selamat, ada pula yang bertanya-tanya tentang sosok yang manjadi gagal. Dengan nada menyindir membuat Debby tersenyum tipis sembari menunduk di bangkunya.
Ia lebih fokus mempersiapkan berkas untuk ia bawa nanti saat meeting direksi.
Ya semenjak perubahannya, lumayan banyak yang cuek, tidak peduli dengan gadis yang kini berhijab syar'i itu. Namun, sudahlah... Siapa mereka? Hanya orang-orang yang baru di kenalnya di kantor itu. Berbeda dengan masalah pelik yang sedang ia alami di rumah, itulah yang jauh lebih memenuhi fikiran dan hatinya.
Debby kembali bekerja dengan kemampuannya, melupakan hal tidak mengenakan yang terjadi antara dirinya dan sang suami. Bukankah itu hal lumrah, memiliki masalah di setiap bahtera rumah tangga? Mungkin inilah salah satunya. Ujian awal pernikahan.
Karena hidup tak seperti karya novel yang isinya hanya tentang romansa pria-pria romantis.
Bangunlah... Jangan terlalu banyak berkhayal akan indahnya sebuah pernikahan. Debby menghela nafas, sejenak. Saatnya berkutat pada keyboard komputernya.
__ADS_1
Tak lama telfon kantor berdering, Debby menerimanya. Dimana ia manggut-manggut dan mengiyakan. Ketika salah satu kepala devisi memanggil gadis itu untuk menghadapnya saat ini. Dan membuatnya bergegas menghampiri sang kepala devisi di bagian marketing tersebut.