
Di sisi lain, tepatnya di sebuah parkiran motor.
"Ibu, Shafa boleh bertanya?"
"Apa?"
"Ibu masih tidak suka ya sama Debby?" Tanya Shafa sembari memasangkan pengait helmet di bagian dagu ibunya.
"Untuk apa tanya itu sih?"
"Maaf, tadi sikap ibu agak gimana ke Dia soalnya." Shafa bertanya dengan hati-hati.
"Wajarlah, habis nggak tahu diri...!" Aida menjawab dengan ketus.
"Astagfirullah al'azim, kok ibu bilangnya gitu sih?"
"Shafa kenapa sih masih mau berteman sama dia? Seharusnya yang bersikap seperti ini kamu ke Dia!"
"Kenapa mesti harus aku bersikap seperti itu, pada wanita yang amat baik pada ku, Bu?"
"Baik? Yang sudah merebut calon imam mu di sebut baik?"
"Ya Allah, Bu. Jangan ungkit itu lagi– Berapa kali Shafa bilang? Tidak ada yang merebut siapapun dalam hidup ku."
"Ck...! Sudah lah pulang saja, dari pada kamu ceramah di sini."
"Bu, Shafa mohon. Jangan seperti ini terus pada Rumi dan Debby."
"Terserah apa kata mu, yang jelas? Ibu males ketemu mereka berdua, apalagi wanita itu!"
"Astagfirullah al'azim."
"Sudah ayo jalan. Kamu masih mau baik sama mereka terserah kamu. Yang jelas ibu tidak suka melihatnya. Dan lagi... Jangan coba suruh si perebut itu ke rumah kita ya!"
"Ya Allah ibu, ibu kok bilang gitu sih. Istighfar Bu. Shafa nggak mau ibu punya pikiran seperti itu."
"Masa bodoh. Pokoknya ibu nggak suka! Eneg lihatnya!" Aida menepuk-nepuk dadanya. Masih saja ia merasa kesal dan muak pada Debby. Sementara Shafa hanya beristighfar sembari geleng-geleng kepala, ibunya memang lumayan keras kepala. Berbeda dengan ayahnya yang jauh lebih bijak.
Mereka pun memutuskan untuk pulang, menggunakan sepeda motor matic milik Shafa.
–––
Di rumah...
Aida yang sudah kehilangan semangatnya pun bergegas masuk ke dalam rumah. Ulum yang menyapa dengan senyum di depan pintu pun tidak di hiraukannya. Yang terus saja melangkah masuk, menyempatkan sejenak untuk meraih tangan Ulum lantas mengecup punggung tangan tersebut, setelahnya kembali melenggang masuk tanpa berbicara apapun selain salam.
Ulum sedikit terheran-heran, ia pun menghampiri Shafa yang sedang membawa tiga bungkusan besar, hasil belanjanya dan sang ibu.
"Sini ayah bantu," kata Ulum.
__ADS_1
"Terimakasih Ayah."
"Sama-sama– emmm, itu ibu kenapa?" Tanya Ulum seraya berjalan bersama putri sulungnya, masuk ke dalam rumah mereka.
"Nggak papa ayah."
"Beneran?"
"Iya." Shafa tersenyum, lebih baik menyembunyikan apa yang terjadi. Karena jika tahu ibunya masih bersikap tidak baik pada menantu ustadz Irsyad, pasti akan terjadi perang kecil di rumah mereka. Lebih tepatnya teguran sang ayah untuk ibunya itu.
Di ruang tengah terdengar suara televisi, yang tadi sedang di tonton ayahnya. Sepertinya sebuah acara berita, dimana sekilas ia mendengar kata Selebgram yang tertangkap polisi akibat kasus Narkoba.
Shafa terdiam, di ruangan itu. Ia seperti mengenal foto yang muncul di layar kaca. Walaupun bagian matanya di blur namun ia seperti kenal garis wajah tersebut.
~seorang Selebgram, Afin Anka di tangkap anggota satreskrim polres metro Tangerang, tadi malam. Akibat kedapatan mengukuti pesta sab*.~
"Afin? Afin?" Gumam Shafa yang seperti mengenal nama itu.
"Shafa– ini udang sama cumi mau di taruh kulkas atau mau langsung di olah?" seru sang ayah dari dalam dapur.
"Mau langsung Shafa olah, Yah." Jawab Shafa, ia pun menggeleng cepat. Lalu berjalan masuk ke dalam dapur itu menghampiri sang ayah.
–––
Di tempat lain...
Plaaaaaakkkkkkk, tamparan keras mendarat di pipinya. Pria bernama Arifin itu hanya diam saja tak mengangkat kepalanya sama sekali.
"Haruskah kamu, menjadi pria kedua yang mematahkan hati Bunda? Jawab Arif!!!"
"Arif tidak akan bisa menjawab bunda, karena memang aku bersalah." Arif menjawab dengan lirih.
Derai air mata sang ibu sudah semakin menderas. "Bunda kecewa pada mu. Sangat!"
Hanya dengan berbicara seperti itu, pria bertubuh tinggi tersebut langsung menurunkan tubuhnya bersimpuh. Lalu memeluk kaki sang ibu. "Maafkan Arif, Bun."
"Hiks!" Sang ibu hanya memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap anak semata wayangnya itu. "Seberapa bahagianya dirimu. Hidup dalam gemerlap dunia Selebriti? Sampai-sampai kamu bisa menyentuh, dan mengkonsumsi barang itu!!"
"Tolong maafkan, Arif. Setelah ini... Arif akan menjadi orang yang ibu inginkan."
"Kamu tidak pernah memegang janji mu."
"Untuk kali ini, Arif akan menurut."
"Kalau begitu, tutup akun YouTube mu. Berhenti lah menjadi selebriti di dunia Maya."
Arif mengangkat kepalanya. "Tolong jangan itu, Bu."
"Kenapa? Kamu bilang akan menurut kan?"
__ADS_1
"Tapi Arif mohon, aku menyukai pekerjaanku."
"Kalau begitu lepaskan kaki Bunda. Dan masuklah kamu ke dalam penjara."
Arif semakin memeluk erat kaki ibunya. Ia menggeleng cepat. "Ku mohon Bun, tolong Arif. Apapun akan Arif lakukan, asal jangan suruh Arif keluar dari pekerjaan Arif."
"Hanya itu pilihannya."
"Ku mohon Bun, aku mohon. Tolong Arif, tolong Arif Bunda."
"Baik... Kalau begitu, lebih baik kamu menikah saja, mungkin dengan cara seperti itu kamu bisa menjadi dewasa."
"A...apa? Aku masih muda Bun. Arif belum siap."
"MAU MENUNGGU SAMPAI KAPAN!!"
"Tolong lah Bun. Aku baru putus dari Camelia... Aku tidak ada calon."
"Kamu putus dari wanita begajulan itu? Baguslah... Karena Ibu sendiri yang akan mencarikan mu calon."
"Bun?"
"Sekarang pilih saja, menikah dengan pilihan ibu? Berhenti menjadi youtuber? Atau mendekam di dalam penjara selama lima tahun!"
Deg...!
"Bun, tolong jangan kasih pilihan seperti itu."
"Lepaskan bunda!"
"Nggak Bu– Arif mohon."
"Lepas!!! Rasakan dulu satu malam di dalam dinginnya bilik penjara. Renungkan semua kesalahan mu, dan bertaubatlah! Setelah itu baru kamu putuskan."
"Bun, ya Allah... Bunda–" dua orang polisi sudah memegangi lengannya dan membawa pria itu masuk. Sang ibu pun hanya memalingkan wajahnya sembari mengusap air matanya karena sang anak masih saja berseru memanggilnya.
Ia benar-benar merasa kecewa, saat tahu anaknya menggunakan barang harap itu.
"Aku memang belum menemukan calon untuknya, namun setidaknya dengan itu pasti akan membuatnya mengambil keputusan baik, jika dia memilih untuk berhenti menjadi youtuber." Wanita yang bekerja di kantor Dinas Pendidikan itu pun langsung melenggang pergi dari tempat tersebut.
.
.
.
# kisah Shafa aku simpan sampai di sini dulu ya. Mau fokus kisahnya Rumi. Karena ini sudah tinggal sedikit lagi. 😘😘 Aku belum ada gambar mau kisahnya Ce Maryam dulu atau Shafa dulu yang bakal aku tulis.
Yang jelas, setelah novel ini tamat aku mau Hiatus dulu, terus nulis cerita di luar ikrar cinta dulu. Biar fresh pikiran ku😁
__ADS_1