Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
masih berkabung


__ADS_3

Langit di sekitar area pemakaman terlihat mendung. Seolah turut bersedih, menemani prosesi pemakaman Rahma. Sayup-sayup terdengar suara adzan di liang yang hendak di tutup itu.


Rumi menyerukan adzan dari dalam kubur yang masih terbuka, mengantarkan perjalanan sang ibu menuju tempatnya yang baru. Yaitu alam barzah.


Setelah selesai, makam pun di tutup. Isak tangis Nuha yang berada di tengah-tengah antara Shafa dan Debby yang memeluknya, kembali pecah. Dia sudah berusaha tegar sejak semalam, namun karena lantunan adzan yang di serukan Rumi tadi membuat hatinya kembali teriris.


Penyesalan karena tak turut merawat sang ibu di akhir hayatnya seolah menambahkan duka di dada. Nuha ingin memutar waktu, seharusnya dia tak perlu menunggu A'a pulang, bawa saja Ziya ke Bekasi. Kalau saja dia tahu? itu adalah momen terakhirnya.


Namun sudah lah, siapa yang tahu? Jika takdir Umma hanya akan sampai malam tadi, Nuha kembali meremas kain hijab di bagian dadanya.


"Umma..." Rintihnya lirih, menatap nanar ke arah pusaran yang sudah hampir tertutup seluruhnya.


Tidak ada lagi sosok ibu yang akan membuatnya tertawa, karena kasih sayang yang berbeda dari sosok-sosok ibu pada umumnya. Umma Rahma tidak hanya menempatkan dirinya sebagai figur seorang ibu saja, namun ia bisa menjadi kakak perempuan, juga sahabat curhatnya.


Intinya, sang ibu benar-benar luar biasa.


Kini wanita yang paling ia cintai di dunia sudah tenang di pangkuan sang Khalik. dan berharap ruh sang ibu bisa di terima dalam keadaan baik. Nuha tersenyum sendu, bergumam dalam hatinya, mengucapkan terimakasih atas kasih sayangnya itu. Ya... Dia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi, sesuai perintah Abi walaupun tetap tidak bisa. Dan hanya mampu menahannya sedikit saja, membiarkan air mata itu terus berderai-derai membasahi kedua pipinya.


Abi Irsyad yang berdiri tak jauh dari para penggali tanah juga sudah semakin tegar, tidak ada lagi air mata yang keluar. Selain tatapan sendu yang tertutup kaca matanya mengarah pada makam itu, hingga proses penutupan liang lahat selesai.


Tak lama, Rumi yang mengenakan Koko berwarna hitam yang sedikit kotor akibat terkena tanah kuburan itu, mulai mendekat dan berjongkok di sebelah nisan sang ibu. Memanjatkan doa sejenak lalu menabur bunga di atas pusaran tersebut, bersamaan dengan Debby, Nuha, Faqih,dan juga ustadz Irsyad.


Sementara yang lain masih berdiri di belakang mereka. Turut memanjatkan doa juga.


Selang beberapa lama setelah pembacaan doa selesai. Mereka mulai beranjak, dan hanya tertinggal ustadz Irsyad di tempat itu.


Beliau meraih sedikit tanah makam tersebut lalu menempelkannya di gundukan tanah itu lagi. Entah apa yang ada di pikiran sang ustadz, yang pasti dia kembali meraih tanah makam tersebut lalu menggenggamnya erat.


Matanya mengerjap setelahnya menghembuskan nafasnya pelan menghalau sesak.

__ADS_1


"Mas pulang dulu ya, besok mas datang lagi." Tutur ustadz Irsyad, mengusap pangkal kayu nisan bertuliskan Rahma Qurrata Aini. Setelahnya beliau pun beranjak dan berjalan melewati jalan setapak, keluar dari kompleks pemakaman tersebut.


***


Malam kembali datang, selepas acara tahlilan.


Keluarga Ustadz Irsyad masih berkumpul, di ruang tamu dengan posisi lesehan. Karena sofa-sofa yang berada disana dikeluarkan sementara.


Aida dan Safa sudah pulang sejak sore tadi, hanya tinggal Ulum yang ada di sana.


Pak Huda, ustadz Rahmat dan sang istri, juga bibi Maryam pun masih di sana. Mereka mengobrol biasa membahas hal yang bisa di bilang basa basi.


Bibi Maryam dan Umma Hasna serta Ummu Hanifah atau kak Siti (istri pak Huda) tengah mengobrol di ruang tengah bersama Debby dan juga Nuha. Sementara Rumi dan A' Faqih ada di gazebo depan. Entah sedang mengobrol apa dua pria itu, mungkin A' Faqih tengah menenangkan Rumi yang sedari tadi hanya duduk sembari melamun, sendirian.


Kembali ke para wanita.


Umma Hasna mengusap-usap bahu Nuha, gadis itu sudah tidak menangis lagi. Dia kini sedang tersenyum menatap Ziya dengan mata sembabnya itu. yang sedang di gendong Ummu Hanifah sembari tertawa lepas.


"Bener. Pokoknya teh, kamu sekarang anggap Umma itu ibu kandung ya. Jangan canggung sama Umma kalo mau butuh apa-apa. Umma akan luangkan waktu lebih banyak lagi untuk kamu." Tutur Umma Hasna, dengan tangan masih melingkar di bahu menantunya itu.


"Iyya Ummu Hanifah, Umma. terimakasih." Jawab Nuha dengan senyum getirnya. Tetap saja, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu kandung di dalam hatinya. Namun ia tetap menganggap Umma Hasna sebagai ibu kandung jauh dari saat dirinya baru menjadi menantunya.


Debby tersenyum tipis, Umma Hasna pun menoleh ke arah Debby.


"Geulis... Kamu harus bisa lebih bersabar lagi ya, karena di rumah ini. Kamu sebagai perempuan satu-satunya jadi harus bisa menjadi pengganti ibu mertua mu, jagain Abi sama suami mu dengan baik, inshaAllah itu ladang pahala mu."


"Iya Bu. inshaAllah, akan Debby usahakan." Jawab Debby lembut.


Hingga malam terus berjalan, mereka masih mengobrol ringan. Hingga Maryam pun beranjak, dia harus berpamitan pulang juga.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, di luar terdengar seruan salam. Sepertinya ada tamu baru yang datang.


Maryam dengan di antar Debby keluar, ia pun sedikit tertegun melihat kearah pria yang sedang berpelukan dengan ustadz Irsyad.


'dia Habib yang waktu itu, bertemu di Masjid kan?' batin Maryam yang merasa tak asing dengan pria yang menggunakan Koko gamis berwarna putih, serta sorban yang di lilitkan di kepalanya.


sama halnya dengan Maryam, pria itu sempat menoleh ke arahnya sehingga membuat Maryam langsung menunduk. Ia berpamitan pada ustadz Irsyad sejenak lalu keluar dari rumah itu.


Habib Bilal pun menoleh sedikit, lalu kembali fokus pada ustadz Irsyad dan yang lainnya. Sementara dalam hatinya bertanya-tanya, sepertinya dia kenal wanita beretnis Tionghoa itu, tapi di mana?


–––


Di luar pagar, Maryam menggenggam tangan Debby erat.


"Kamu harus bisa lebih dewasa lagi, karena mungkin akan berat untuk suami mu. Jadilah kekuatan untuknya ya." Ucap Maryam memberikan wejangan.


"Iya Tante. Terimakasih sudah datang bahkan sampai seharian di sini."


Maryam tersenyum. "Aku kan pengganti wali mu di sini."


"Ah... Hehehe." Terkekeh dengan hati yang merasa hampa. Seharusnya kan orang tuanya. Ada perasaan iri yang berkecamuk di hatinya.


Di mana orang tua Safa dan orang tua dari suami Nuha sangatlah dekat dengan ustadz Irsyad. Berbeda dengan dirinya, di saat seperti ini, harusnya orang tuanya juga hadir, agar tidak ada perasaan tidak enak lagi. Ia menoleh ke arah gazebo itu. Melihat Faqih masuk sementara Rumi tertinggal sendirian di tempat itu.


"Ya sudah, sana temui suami mu." Maryam membuyarkan lamunan Debby, gadis itu pun tersenyum.


"Iya... Tante hati-hati ya."


"Iya sayang. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikumsalam." Jawab Debby, dia menunggu sampai bibinya masuk ke dalam kendaraannya dan setelah mobil pergi ia menoleh lagi ke arah Rumi, namun sang suami sepertinya hendak masuk terlihat dari dia yang tengah beranjak dari posisi duduknya, yang langsung di susul Debby masuk kedalam.


__ADS_2