
Maryam beristighfar mencoba untuk mengendalikan dirinya sendiri.
"Bacaan yang indah ya. Saya juga sampai tersentuh, sepertinya ustadz yang ngaji di bawah menghayati sekali saat membaca." tutur seorang wanita yang kira-kira usianya sudah mencapai enam puluh tahunan, di sisi kiri Maryam. Dimana Maryam langsung tersenyum pada wanita tua tersebut.
"Iya Bu. Memang sangat indah," jawab Maryam, sembari mengusap air matanya sendiri dengan tissue yang diulurkan Debby. Maryam kembali menatap lurus ke depan. Pandangannya yang kosong itu membawanya ke suatu masa.
Masa paling membuatnya menyesali, sebuah keputusan konyol yang sejatinya tidak pernah ia inginkan.
#Flashback is on#
Malam itu adalah acara makan bersama keluarga Kyai Mukhlis. Ada beberapa kerabat ulama-ulama lainnya yang turut hadir.
Beberapa ibu nyai pun berkumpul di meja yang sama. Bersebelahan dengan pasangan mereka masing-masing.
"Kyai Rozak tidak hadir, hari ini?" Tanya Kyai Mukhlis.
"Iya, beliau sedang mendampingi putrinya yang sedang melahirkan anak keduanya," jawab salah satu yang di sana.
"MashaAllah... Cucunya jadi berapa itu Beliau?"
"Sepertinya delapan. Kyai."
"Allahu Akbar... MashaAllah." Terkekeh.
"Ini Ce Maryam, terlihat agak berisi badannya? Mungkinkah tengah hamil?" Tanya seorang Bu nyai.
"Afwan, saya memang akhir-akhir ini sedang banyak makan, jadi ini bukan sebab saya sedang hamil," jawab Maryam sopan. Di mana ustadz Akhri yang di sebelahnya tersenyum. Menyentuh tangan Maryam yang berada di pangkuannya, mengusap lembut.
"Masa sih? Belum ketahuan saja mungkin? jangan-jangan benar sedang hamil. Kalau lagi hamil kan biasanya banyak makan." Ucapan ibu Nyai satu itu membuat yang di sana terkekeh. Berbeda dengan Ummi Salma yang hanya diam saja, menikmati santapannya. Tanpa turut tertawa.
__ADS_1
Hingga waktu sudah semakin malam, di mana para tamu sudah pulang, hanya tinggal beberapa ustadz dan habib yang masih betah mengobrol bersama Akhri serta saudara Akhri yang lain.
Ummi Salma melirik ke arah Maryam yang sedang duduk dengan sopan, di salah satu sofa. Bermain bersama keponakan-keponakannya yang amat menyayangi Maryam.
beliau pun mendekati, dan duduk di sebelah Maryam.
"Maryam, Ummi mau bicara. Bisa?"
Ia pun tersenyum, "bisa Ummi."
"Kita ke sudut sana yuk," ajak Ummi Salma ke sudut ruangan, di mana tempat itu terdapat satu sofa tunggal namun agak panjang, bisa di duduki dua orang.
Ummi, mau bicara apa ya? Maryam bertanya-tanya dalam hati sembari menyusul ibu mertuanya.
Keduanya pun duduk dengan tenang. Terlihat raut wajah keseriusan di sana, Ummi Salma sepertinya ingin berbicara serius.
"Maryam tahu, Akhri itu anak Ummi satu-satunya?"
"Maryam juga tahu kan, bahwa ini pondok pesantren besar." Tutur beliau, membuat Maryam mengangguk. "Saat Ummi dengar kamu memiliki gangguan Tiroid, yang menyebabkan ketidaksuburan pada rahim mu, hal itu sungguh membuat Ummi sedih. Dan prihatin kepada mu."
"Iya Ummi, tapi Maryam tidak apa-apa kok. Bang Akhri pun tidak mempermasalahkan itu. Kita sudah berdiskusi." Tersenyum.
Ummi Salma terdiam sejenak. "Tapi aku tidak setuju dengan hasil diskusi kalian."
"Tidak setuju? Maksud Ummi?"
"Ummi tidak mau, Akhri memiliki anak hasil adopsi. Yang Ummi mau itu, keturunan kandung."
Deg...!
__ADS_1
Maryam mematung saat mendengar itu. Dia pikir, setelah berdiskusi panjang, semua bisa berjalan lancar. Namun sepertinya tidak?
"Kamu tahu kan, pondok pesantren ini butuh pemimpin baru, dari keturunan asli Abdul Aziz. Apabila ada anak yang hadir di sini, namun tidak memiliki darah dari putra ku, bagaimana bisa dia menggantikan Abinya?"
Mata Maryam mulai berkaca-kaca, ia merasakan kekhawatiran atas ucapan dari ibu mertuanya.
"Janganlah egois. Karena kita tidak akan sempurna, jika tidak bisa memberikan hak keturunan untuk suami."
Tangan Merry saling meremas. "Jadi, Maryam harus apa Ummi?"
"Berikan lah, haknya untuk mendapatkan anak. Walaupun dia harus menikah lagi."
Ya Rabbi...
setitik air yang tertampung, di kantung matanya pun langsung terjatuh begitu saja. Maryam benar-benar seperti di hantam benda yang amat berat di bagian dadanya.
"Tapi? Apa Maryam boleh berbicara pada bang Akhri lebih dulu?" Bertanya dengan berat.
"Bicara lah, dan bujuk dia. Semua demi kebaikan kalian berdua juga. Dan bila perlu, paksa dia." Sejenak ia melihat seorang santri wanita yang dengan sopan menunduk, sembari membawa beberapa piring kotor melewati keduanya. "Kamu lihat itu? Kania namanya. Dia gadis yang terlihat subur, hafalannya juga baik. Dia pantas menjadi istri kedua Akhri."
Maryam sudah tidak kuasa duduk di sebelah ibu mertuanya. Namun ia tidak bisa berbuat banyak selain diam saja, mengusap matanya yang basah. Padahal pada saat itu Maryam benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya.
##Flashback is off##
'waktu memang sudah berlalu cukup lama. Di mana, kamu selalu menghiasi hari-hari ku dengan ayat-ayat indah Allah sebagai metode untuk mendidik ku. Aku tidak pernah kecewa dengan segala yang ku rasakan di rumah itu. Satu hal yang selalu ku kenang? aku pernah memiliki suami yang baik dalam hidupku, walaupun akhirnya aku harus berbagi cinta dengan madu ku. Kau tetap suami yang tidak akan pernah bisa ku lupakan, segala bentuk cinta yang kau berikan kepada ku memang membuat ku susah melupakan.'
Maryam kembali mengusap air matanya, berusaha untuk kembali berdamai dengan masa lalunya.
'Ustadz Akhri, semoga kau selalu bahagia, bersama Nia dan anak-anak mu. Aku hanya wanita tak sempurna, yang memang sepantasnya hidup sendiri tanpa pasangan.'
__ADS_1
Begitulah Merry, ia yang sudah berusaha keras untuk menghalau pikirannya agar tidak condong ke hal-hal buruk tentang mantan suaminya dan keluarga, menjadikan dia semakin dewasa.
Biarlah Cintanya kini berselindung dalam sunyi. Bukan karena dia menyerah pada kondisi, namun dari pada kecewa. Ia lebih memilih untuk menghindari satu rasa itu, rasa yang akan membuatnya kembali merelakan sang suami, akibat rasa bersalah ketika dirinya tidak bisa memberikan hak keturunan pada suaminya kelak.