Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
sebuah pesan singkat


__ADS_3

Di tempat lain...


Siang ini, Nuha dengan sepeda motornya mendatangi Toko A' Faqih.


Karena saat ini Ziya tengah di ajak pergi oleh Umma Hasna dan Abi Rahmat yang menghadiri sebuah acara Walimatul 'ursy. Di rumah salah satu kerabat jauh ustadz Rahmat. Dan mereka mungkin akan kembali sore nanti.


Ia pun tidak pernah khawatir ketika Ziya ikut Nenek dan kakeknya, sebab anak itu tidak akan rewel walaupun pergi seharian tanpa kedua orangtuanya.


Motor mulai menepi sejenak sebelum menyebrang. Sementara didalam? A' Faqih tersenyum, ketika melihat Nuha yang sudah nampak dari kejauhan. Ia pun menutup buku catatannya, lalu melangkah keluar dari meja kasir, hingga ke pelataran menunggu sang istri semakin mendekat. Karena kedatangan Nuha juga atas perintah Faqih sendiri.


Perlahan, motor Nuha kembali melaju menyebrang jalan yang lumayan ramai kendaraan berlalu lalang. Tak lupa ia menoleh ke kiri dan ke kanan sebelumnya. Hingga kini motor sudah terparkir sempurna di depan.


Ia pun tersenyum pada Faqih, yang sigap melepaskan pengait helmet di bagian bawah dagunya.


"Terik banget ya A', cuacanya."


"Iya nih. kamu mau jajan es kelapa, nggak?" A'a menawarkan, sembari meletakkan helmet yang sudah terlepas ke bagian spion motor.


"Mau... tapi pakainya gula merah ya."


"Iya, sok masuk dulu. A'a mau pesan Esnya."


"Yeaaay, Sama itu A'...." Nuha menunjuk salah satu gerobak rujak buah. Membuat Faqih menoleh ke belakang, dan mendapati objek yang di maksud sang istri.


"Buah segar?"


"Mau rujaknya. Tapi mangga, sama kedondongnya aja." Nuha sudah menelan liurnya, karena membayangkan rasa asam segar dari buah itu.


"Jangan yang itu neng, nanti perut mu sakit."


"tapi aku maunya rujak itu. A'a... Nuha pengen banget."


"Apaan sih, biasanya nggak suka makan yang asem-asem, gitu."


Nuha nyengir. "Habis kelihatannya segar menggoda gimana gitu. Ya boleh yaaa."


Faqih menatap dengan datar, sembari geleng-geleng kepala.


"Lebih segar dan menggoda kamu bagi A'a..." tuturnya lirih sembari putar badan dan melangkah pergi, tanpa menjawab boleh atau tidaknya. Nuha pun terkekeh senang, melihat sang suami berjalan mendekati gerobak yang ia tunjuk tadi.


"Yeeees... Di beliin." Girang bukan kepalang, ia pun langsung melangkah masuk.


Di mana tiga karyawan A' Faqih langsung menyapanya dengan sopan.


Di meja yang tersekat etalase kaca, Nuha duduk di salah satu kursinya. Ia menengok ponsel A' Faqih yang menyala, karena terdapat satu pesan chat masuk.


(assalamualaikum ini aku Zahra. Apakah A' Faqih di kios, saat ini? Boleh nggak Zahra datang, karena ada sesuatu yang....) Begitulah kurang lebih isi pesannya, terpotong karena hanya sebagian yang nampak di layar yang terkunci.

__ADS_1


"Kak Zahra?" Gumam Nuha masih menatap layar telpon seluler milik A' Faqih yang tergeletak di atas meja. Ia penasaran ingin membuka pesan chat tersebut, namun tidak berani.


Ya... Hingga saat ini, Nuha memang masih tidak berani membuka-bukan ponsel suaminya tanpa izin. Terkecuali jika ada panggilan telepon, dan A' Faqih sedang berada jauh dari jangkauan. Sehingga membuat Nuha mau tak mau harus menerima panggilan itu. Takut-takut panggilan tersebut urgent.


Cahaya pada layar kembali redup, dan kini pun mati, Nuha menghela nafas. Entah mengapa ia masih ingat saja, jika kak Zahra pernah ada rasa dengan suaminya itu. Bahkan sampai sekarang wanita itu belum juga menikah, mungkinkah karena?


Nuha menggeleng cepat, lantas beristighfar. Ia tidak mau berfikir buruk pada wanita yang sudah ia anggap seperti kakak perempuannya sendiri.


Taaaakkk.... Sebungkus rujak sudah di letakkan A'a di atas meja. Nuha pun tersenyum senang dan langsung membukanya.


"Es-nya mana?" Tanya Nuha.


"Nanti di antar sama abangnya. A'a sekalian pesan siomay."


"Oh..." Nuha terdiam sejenak, ia sudah tidak bersemangat seperti tadi, sebelum melihat chat dari Zahra.


Hatinya yang masih sedikit mengganjal membuat dia tidak mampu menahan untuk tidak meraih ponsel A' Faqih, lalu menyerahkannya pada pria yang hendak meraih potongan buah melon segar di bungkusan yang berbeda. "Ada pesan, dari kak Zahra."


Mendengar nama Zahra Faqih menoleh kearah Nuha, ia melepaskan tusuk gigi yang ia pegang. Lalu meraih telfon genggam miliknya dari tangan Nuha.


"Zahra?" Tanya Faqih. Nuha mengangguk pelan.


"Iya," menunduk. Karena Faqih mulai beralih fokus pada HP yang ia pegang, lalu membukanya. Setelah itu menyerahkannya pada Nuha.


"Kamu aja yang baca, nih."


Nuha mengangkat kepalanya. "Kok, Nuha?"


"Nyimpan juga nggak papa..." Berusaha tersenyum, lalu mendorong ponsel itu. "Nuha percaya kok, sama A' Faqih."


Faqih pun menghela nafas, "A'a minta neng yang bacain loh, jadi bacain nanti kasih tahu A'a."


"Ya ampun, kan A'a bisa baca sendiri terus langsung balas gitu, 'kan?"


"Neng...! Ini perintah suami loh."


Nuha pun meraih ponsel itu pelan. Ia tidak suka saja ketika Zahra tiba-tiba mengirim pesan chat itu. Lalu mencoba untuk membacanya dengan pelan, di mana tangan Faqih langsung meraih tangan Nuha serta menggenggamnya.


"Wallahi, baru kali ini dia kirim pesan chat ke A'a, selama kita menikah." Ucap Faqih tiba-tiba, karena ia seperti menangkap ekspresi kesedihan di wajah Nuha.


"Kenapa sih, harus ngejelasin gitu? Nuha 'kan, jadi mikir. Kalau selama ini A'a memang sering berkirim pesan sama Kak Zahra saat belum menikah dengan Nuha? Kalaupun iya, ya udah Nuha nggak papa kok. Jadi nggak perlu menjelaskan apapun, karena cuma perkara pesan singkat ini." Nuha mendorong lagi ponsel itu dengan perasaan jengkel. "Kak Zahra mau datang ke sini. Karena ada yang mau di bicarakan soal kurma."


Faqih diam saja, masih menatap datar sang istri. Yang menjadi salah tingkah di buatnya.


"Jangan ngeliatin." Rengek Nuha, yang langsung memalingkan wajah, sembari mengusap air matanya. Ia memang paling sensitif jika sudah menyangkut soal Zahra.


Tak lama Abang penjual es kelapa, datang bersamaan dengan somay-nya. Membuat Nuha dan Faqih sama-sama diam.

__ADS_1


"Terimakasih Bang," kata Faqih, pada Abang penjualnya.


"Sama-sama A'..." Beliau pun berlalu pergi.


Faqih menoleh ke arah salah satu pegawainya. "Ali–"


"Iya A'?" Mendekati Faqih, yang sedang mendorong pelan nampan berisi tiga siomay dan tiga gelas besar es kelapa.


"Bawa nih, punya kalian," titah beliau.


"Wah... Nuhun A'."


"Iya."


Ali pun membawa makanan itu menuju areanya dan teman-teman, meninggalkan Nuha dan Faqih yang masih saling diam. Hingga tak lama, mobil Zahra datang, membuat Nuha menghela nafas. Padahal pesan chat itu belum di balas, dia sudah datang.


Hingga pintu mobil itu terbuka, Zahra keluar dengan anggunnya. Membuat Nuha menatap penuh kekaguman, lalu menoleh ke dirinya sendiri.


'kata A'a, aku paling cantik. Tapi menurut ku, kak Zahra jauh lebih cantik dari pada aku.'


"Assalamualaikum," gadis itu menelungkup kan kedua telapak tangannya di depan dada, menyapa seraya tersenyum.


"Walaikumsalam warahmatullah," jawab Faqih dan Nuha secara bersamaan.


Nuha pun beranjak, keduanya melakukan gerakan cipika-cipiki dan saling berpelukan.


"Apa kabar, Dek?"


"Baik Kak. Alhamdulillah... Kak Zahra sendiri apa kabar?"


"Baik Alhamdulillah, hari ini Hanifah pulang loh dari Kairo,"


"Wah... MashaAllah. Senangnya."


"Iya, besok ada acara tasyakuran di rumah, makanya mau pesan kurma ke A' Faqih. Kamu datang ya..."


"inshaAllah kak."


"Duduk Za..." A' Faqih menyerahkan kursinya, untuk Zahra.


"Terimakasih A'..."


Faqih tersenyum tipis lalu meraih kopiahnya. "Kamu diskusikan sama istri ku ini ya. Aku mau ke masjid dulu."


"Loh, A'a mau ngapain di masjid? Ini kan masih jam dua siang." Tanya Nuha bingung.


"Nggak papa, ada urusan. Tolong ya neng." Faqih pun memakai kopiahnya dan melenggang pergi, meningggalkan Zahra dan Nuha.

__ADS_1


Mata Nuha melirik ke arah Zahra yang masih memandangi punggung Faqih, lalu tertunduk dan berusaha mengulum senyum.


'Hanya tatapan biasa Nuha. Berfikir lah yang baik-baik.' Nuha berusaha mengalihkan pikiran-pikiran buruknya pada Zahra.


__ADS_2