
Pukul 09:26
Ustadz Irsyad sudah memanaskan mesin mobilnya di luar, beliau sudah siap hendak berangkat menuju masjid tempat di adakan-nya tabligh Akbar.
Sebuah motor berhenti di depan rumah, ya... dua mahasiswa yang biasa mendampingi beliau saat kajian datang.
"Assalamualaikum, Pak Irsyad."
"Walaikumsalam warahmatullah." Tersenyum lebar, sembari menghampiri dua pemuda itu yang sigap meraih tangan ustadz Irsyad, guna mencium punggung tangan beliau. "Untungnya sudah datang, kalau nggak di tinggal nih."
"Hehehe, kita kan bisa nyusul pak."
"MashaAllah..." Beliau menoleh saat menantunya sudah siap, dan kini tengah mengunci pintu rumah. Setelah itu menghampiri ustadz Irsyad.
"Abi, nanti Tante ku mau datang juga. Karena daerahnya dekat."
"Oh, Alhamdulillah kalau begitu. Jadi kamu ada temannya ya."
"Hehe, iya Bi."
"Ya sudah, masuk Nduk. Kita berangkat." Ustadz Irsyad membuka pintu kemudi sama halnya Debby, yang membuka pintu satunya.
Keduanya kini sudah masuk ke dalam mobil, dan bersiap untuk melakukan perjalanan yang hanya menempuh waktu tidak sampai satu jam.
***
Di sebuah masjid yang lumayan besar, sudah banyak orang-orang datang memasuki kawasan masjid tersebut.
Suara sholawatan di dalam sudah terdengar, karena acara pertama yaitu adalah bershalawat bersama habib Bilal Lutfhi Asegaf.
Baru di susul murottal yang akan di bawakan oleh seorang hafidz, sekaligus penceramah bernama ustadz Akhri Mumtaz Zulkarnaen. Ya... Dunia memang sempit mungkin itu yang ada di fikiran Maryam yang baru saja tiba di depan pelataran masjid sembari menatap banner yang terpasang di depan masjid. Di sana terdapat tiga wajah yang ia kenal, karena salah satunya adalah ustadz Irsyad.
Ingin rasanya ia membatalkan untuk mendatangi tabligh ini, ia ingat pasti di dalam ada Nia juga. Bukan karena dia tidak suka, namun tidak enak saja jika harus mendapatkan sindiran halus darinya.
Ponselnya bergetar, membuat Maryam membuka tasnya lantas meraih ponsel tersebut.
"Assalamualaikum, Deb?"
__ADS_1
"Walaikumsalam.... Tante di mana?" Tanya Debby.
"Aku sudah ada di pelataran, kamu sendiri di mana?" Tanya Maryam, menoleh ke kiri dan ke kanan. Lantas tersenyum saat melihat Debby. "Tante sudah lihat kamu,"
"Begitu ya, di mana? Aku belum lihat Tante." Debby memburu segala penjuru.
"Sudah, diam saja di situ. Aku yang akan menghampiri mu."
"Iya deh..." jawab Debby mengalah.
Maryam mematikan telfonnya, lalu berjalan mendekati Debby. Dengan langkah sedikit terburu-buru. Hingga ia pun tidak sengaja menabrak bahu seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Astagfirullah, maafkan saya." Maryam menelungkupkan ke-dua telapak tangan di depan dada, saat itu juga pria yang memunggunginya tadi menoleh.
Dimana kedua bola matanya langsung melebar, sama halnya dengan pria yang ada di hadapannya. "Bang?"
Maryam tergagap, dan secepatnya ia menggeleng, menundukkan pandangannya. Sementara pria itu hanya diam saja, ia terpaku karena tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan istrinya di sini.
"Maryam, di sini?" Bertanya dengan hati-hati. Karena tidak ada pertanyaan lain selain itu, semua sebab kelu-nya lidah Akhri. Merasa bahagia, bercampur haru. Bahkan tanpa sadar, ia melebarkan senyumnya dengan tangan yang gemetaran.
Maryam pun berusaha tersenyum tipis, tanpa menatap wajah pria yang pernah memenuhi hatinya.
Panggilan dik membuat Maryam merasakan kerinduan itu. Namun ia masih bisa mengontrolnya.
"Maryam baik-baik saja bang, Alhamdulillah. Aku kesini sendirian, tapi sudah janjian sama seseorang."
"Seseorang?" Akhri mengangkat kepalanya mencari sosok siapa yang mengatur janji bersama mantan istrinya itu. "Wanita 'kan?"
"Iya," jawab Maryam.
"Oh..." Entah mengapa ia merasa lega mendengar jawaban bahwa yang di tunggu Maryam adalah seorang wanita.
"Maaf, aku harus permisi." tutur Maryam, lantas melenggang pergi dengan sopan.
"Maryam?" Panggil Akhri membuat wanita yang sudah menjauh tiga langkah dari hadapannya itu, berhenti. "Abang senang kamu baik-baik saja. Abang juga senang, karya mu bisa di angkat ke layar lebar. Aku kagum pada mu. Kamu wanita hebat."
Sebulir air mata yang ia tahan pun terjatuh juga, Maryam mendesah. Tangannya yang tengah memegangi tali tasnya pun mengepal kuat.
__ADS_1
"Abang senang, semoga kamu selalu bahagia. Dan semakin sukses, untuk kedepannya."
Maryam membalik badannya hanya untuk tersenyum sembari menelungkupkan ke-dua telapak tangannya di depan dada.
"Terimakasih Bang Akhri.... Terimakasih," ucap Maryam serak. Yang hanya mampu berucap sebatas itu, karena ia melihat air mata Akhri juga menetes di pipinya membuat hatinya turut tersayat.
Walaupun senyum terlihat indah menghiasi. Namun tidak bisa di bohongi, keduanya masih memendam cinta serta rindu yang tidak bisa saling terucapkan antar satu sama lain. Ia kembali memutar tubuhnya lalu berjalan cepat sembari mengusap pipinya yang basah.
Akhri menghela nafas. Ia menyandarkan punggungnya ke body mobil. Dengan tangan meremas kunci mobil serta botol air minum yang di minta oleh sang istri tadi.
"Kamu yang meminta ku, untuk melakukan dua hal yang tidak pernah ku inginkan. Menduakan mu, lantas menceraikan mu. Aku tidak pernah mau itu terjadi," gumam Akhri, menyesali semuanya.
Karena mau bagaimanpun juga, hatinya masih terpaut pada Maryam. Ia tidak pernah merasakan kenyamanan yang sama seperti saat bersama Merry dulu. Akhri pun beristighfar, ia berusaha untuk menormalkan perasaannya. Karena memikirkan Merry, itu sudah haram untuknya.
Setelah suasana hatinya merasa lebih baik ia pun kembali melangkahkan kaki, menuju tempat para ustadz yang menjadi tamu undangan dalam acara tabligh Akbar tersebut.
Di sisi lain, Maryam menoleh pelan ke belakang saat sudah berhadapan dengan Debby. Ia melihat pria itu sudah pergi dari tempatnya.
Andai saja niatannya untuk pergi dari tempat ini ia jadikan. Pasti momen pertemuan yang tak di harapkan itu tidak akan pernah terjadi.
"Tante, kita langsung naik yuk. Ke bagian para wanita," ajak Debby sembari melingkari lengan Maryam. Maryam pun mengangguk sembari tersenyum tipis.
–––
Di lantai atas...
Maryam duduk di sebelah Debby, ia bersyukur tidak bertemu dengan Nia.
Namun lantunan ayat yang sedang di bacakan Akhri saat ini benar-benar membuatnya terenyuh.
Ia menyentuh dadanya yang seolah-olah membawanya kembali, pada rentang waktu paling indah dalam hidupnya. Karena ayat itu di bacakan, sebelum pria itu berucap ikrar untuk Maryam.
Ya... Surat An Nisa.
'Kamu adalah gemintang indah, untuk ku. Aku mengkhitbah mu. Bukan tanpa alasan. Bukan karena Abang itu guru ngaji yang tidak profesional. Tapi sikap tangguh mu memeluk agama ini dengan semua yang terjadi pada mu. Membuat ku kagum dan ingin melindungi mu. Boleh 'kan kalau aku menjadi imam kamu?'
Maryam semakin tertunduk, memijat keningnya, ia benar-benar tidak kuasa menitikkan air mata. mendengar suara Akhri, membuatnya mengingat kata-kata pria itu saat melamarnya dulu.
__ADS_1
Debby yang merasakan suara sesenggukan lirih, tertahan di sebelahnya, menoleh.
"Tante nangis?" Tanyanya? Masih belum menyadari, apa yang terjadi. Karena saat masuk tadi, dia tidak melihat gambar ustadz Akhri bersanding dengan foto ustadz Irsyad di luar. Sehingga membuatnya tidak ngeh, jika yang membaca ayat suci di bawah adalah mantan suami bibinya sendiri, yang jika di dengar lebih jelas, suara ustadz tersebut pun sedikit serak akibat menahan tangis.