
Isti dan Fara sedang sibuk mengolah sayuran di dapur.
Terdengar suara lirih percakapan ke-duanya. Hal yang bisa ia rasakan lagi setelah dua Minggu ini menjadi sepi.
"Ummi, kesepian pasti. Harus tinggal sendiri di rumah."
"Kan masih ada Bilal dan Hafiz," jawab Isti dengan tangannya yang masih sibuk memotong-motong satu papan tempe. Fara sangat menyukai sayur tempe yang di potong dadu tanpa di goreng lebih dulu, di masak dengan cabai hijau besar dengan rasa yang dominan pedas dan manis dari gula merah dan kecap.
"A' Bilal dan Hafiz itu kan jarang pulang, Mi. Tetap saja ummi sendirian."
"Ya nggak papa. Ummi tidak masalah kok." Tempe itu sudah selesai di potong seluruhnya. Hanya tinggal cabainya saja, Isti beranjak sejenak ia memeriksa sayur bening bayam buatannya. Mungkin sudah matang, karena daun bayam tak perlu lama-lama di rebus. Isti mematikan kompornya lalu mengangkat panci kaca berisi sayur bayam, yang lantas ia pindahkan ke atas meja. Sigapnya Fara yang langsung meletakkan kain di bawahnya sebelum panci itu mendarat di atas meja membuat Isti tersenyum.
"Ummi, kenapa tidak mencoba untuk menerima orang lain lagi. Bukan masalah apa-apa, hanya sebagai teman hidup. Kalau dulu ada Fara, memang tidak khawatir. Tapi sekarang? Kalau malam siapa yang jagain Ummi?"
"Kan ada Wa Huda, ada Wa Siti," jawabnya sembari terkekeh.
"Iya tahu, tapi kan rumahnya cukup jauh berjarak lima rumah warga dari sini. Kalau ada apa-apa?"
"Berdoalah yang baik-baik. Lagian kan disini lumayan padat penduduknya. Jadi tidak perlu khawatir."
Fara terdiam, pertahanan Umminya untuk tetap menyendiri memang amatlah kuat, padahal yang ia tahu sudah banyak pria Soleh entah itu kyai atau bahkan habib juga banyak yang hendak meminangnya namun di tolak secara halus oleh Umminya. Hingga membuatnya merasa bersalah saat setelah menikah.
"Ummi– maafkan Fara ya, karena harus menikah secepat ini." Fara menunduk, seperti tak punya kekuatan untuk menatap sang ibu. yang pasti kini ia tengah berkaca-kaca. Karena semenjak dirinya keluar dari rumah itu, dan tinggal bersama Aiman, ia memang tak pernah sekalipun tidak menangis di setiap malamnya.
Maklumlah, ia memang paling jarang berjauhan dari Umminya.
"Jangan bicara seperti itu. Ummi kan baik-baik saja. Ummi sudah bilang, Ummi akan terbiasa. Berdoa saja A'a mu secepatnya punya istri, jadi bisa tinggal sama Ummi di sini." Isti berusaha terkekeh, walaupun ia tak bisa menahan bulir beningnya.
Fara pun tersenyum, ia mengusap pipi sang ibu lembut dengan ibu jarinya lantas mencoba untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu mengharu biru suasananya.
***
Di kampus...
__ADS_1
Ustadz Irsyad kembali berbincangan dengan pak Huda. Tentang niatannya untuk berhenti mengajar.
"Menurut pak Huda bagaimana?"
"Saya sih, terserah Ustadz saja. Tapi kalau Ustadz Irsyad pindah, rasanya hati ini kok seperti sedih ya?"
Ustad Irsyad terkekeh. "Sedih bagaimana?"
"Ya... Jadi lebih jauh. Kita akan sulit untuk berbincang soal agama."
"Kan kita masih bisa berbincang lewat telepon genggam."
"Lain, Ustadz. Tetap lebih nyaman jika bertemu langsung, kita bertiga yang selalu meluangkan waktu untuk memurojaah pun akan merasa lain. Karena setelah ini hanya akan saya dan Ustadz Rahmat saja. Tapi mau bagaimana lagi, kalaupun Ustadz Irsyad pindah itu tetap baik kok, inshaAllah ada kebaikan setelah ini."
Ustadz Irsyad terdiam sembari mengulas senyum. Memang sebenarnya agak berat juga.
"Lalu bagaimana dengan hasil istikharahnya?" Tanya pak Huda, pada Ustadz Irsyad yang kini kembali menoleh.
"Memang Ustadz sudah berbicara?"
"Iya, kemarin."
"Wah... Bicara yang bagaimana? Apa langsung Ustadz mengutarakan niatan baik Antum itu?"
"Tidak juga, hanya bertanya alasan dia masih betah menyendiri."
"Oh... Saya kira antum langsung melamar."
"Saya tidak seberani itu. Jadi saya hanya tanya itu saja."
"Lantas? Apa jawaban Isti, pasti soal yang ingin tetap bisa di persatukan dengan almarhum suaminya itu ya?"
Tidak ada jawab dari ustadz Irsyad selain tersenyum saja. Pertanda mengiyakan.
__ADS_1
"Kenapa tidak mencoba untuk tanya lagi, apa perlu saya yang berbicara?"
"Nggak... Nggak perlu pak Huda, saya hanya percaya. Kalau jodoh, pasti akan di persatukan. Lagi pula saya menghargai jawaban Isti kok."
"MashaAllah, ya sudah lah... Semoga yang terbaik yang menjadi penentu di akhir."
"Iya." Ustadz Irsyad tersenyum.
🌸🌸🌸
Beberapa jam kemudian, ketika Beliau masih berada di dalam mihrab-nya. Menyelesaikan zikir di masjid.
Bibirnya bergumam dengan bacaan hasbiallah sebanyak seratus kali, namun pikirannya berkelana.
Memikirkan antara mencoba maju untuk meminang Isti, atau tetap menyendiri sebagai duda selama sisa hidupnya. Pemikiran-pemikiran demikian terus saja mengusik isi kepalanya. Semenjak mendapatkan jawaban itu, bukannya tenang malah justru menimbulkan rasa penasaran di benak ustadz Irsyad.
Lebih-lebih saat mengingat tatapan Isti yang teduh saat mendengar ia ingin berbicara. Seperti ada yang sedang ia pikirkan.
Ya... Ajaib memang, pengaruh sepasang mata yang belum lama ia tatap tanpa sengaja nyaris membuat betah menyoroti tanpa berkedip. Pun masih mengganggunya hingga saat ini, tidak jelas apakah ini intuisi ataukah sebuah kerja hati yang sedikit menyiksanya.
Dua bola mata yang masih nampak indah seolah terus menguntit dan bahkan berusaha mengoyakkan iman ustadz Irsyad.
"Astagfirullah al'azim, ya Allah..." Suara yang lumayan keras membuat segelintir jama'ah yang masih duduk di belakang sedikit terkejut.
"Ustadz, ada apa?" Tanya salah satunya. Ustadz Irsyad pun menoleh.
"Tidak ada apa-apa." Beranjak dari tempat itu. "Maaf saya permisi pulang duluan ya, bapak-bapak. Assalamualaikum warahmatullah."
"Walaikumsalam warahmatullahi wabbarokatuh." jawab mereka serempak.
Di depan pelataran masjid, ustadz Irsyad kembali termenung menatap langit.
Hembusan nafas pun terdengar pelan, ya... Beliau sudah yakin untuk membicara serius malam ini juga dengan kedua anaknya, mumpung Nuha sedang berkunjung hari ini.
__ADS_1