
Pukul 11:30, di salah satu ruangan obgyn...
"Sudah berapa tahun menikahnya?" Tanya sang dokter.
"Sudah masuk usia empat belas bulan pernikahan, dok." Jawab Debby.
"Satu tahun lebih ya. Maaf sebelumnya, selama ini berapa kali berhubungan badan dalam seminggu?"
"Emmm ada dua kali kadang lebih," jawab Rumi.
Dokter manggut-manggut, lalu berlanjut ke pertanyaan lainnya. Hingga semua selesai sang dokter pun terdiam, membaca ulang hasil anamnesisnya.
"Baiklah, saya belum bisa menyimpulkan. Jadi, untuk hasil lebih jelasnya, Mbak sama Masnya bisa menjalankan pemeriksaan lanjutan. Yaitu dengan metode HSG atau histerosalpingografi. Itu termasuk jenis pemeriksaan radiologi yang bertujuan untuk mengevaluasi kondisi rahim dan tabung saluran indung telur. Bagaimana? Apa mbak dan masnya berkenan?"
Keduanya saling tatap, dimana Rumi langsung tersenyum sembari mengangguk.
"Iya dok tidak apa-apa," jawab Debby kemudian.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan menuju ruang radiologi dulu untuk pemeriksaannya ya."
"Iya dok." Keduanya beranjak dari kursi itu, menuju ruangan yang sudah di tunjuk dokter kandungan, tadi.
–––
Selang Beberapa menit, selepas Dzuhur. Karena kegiatan pemeriksaan di tunda sejenak, untuk melakukan ibadah sholat.
Di sana, Debby nampak tegang setelah dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutannya.
"Kak, kalau hasilnya nggak bagus gimana?" Tanya Debby.
"Jangan takut, dan jangan berfikir yang tidak-tidak. Kita berdoa saja yang baik-baik ya." Rumi mengusap pundak Debby, guna menenangkan. Wanita itu pun menghela nafas panjang lalu membuangnya pelan.
Hingga tiba masa pemeriksaan itu berjalan. Dimana prosedur pelaksanaan tes HSG dilakukan dengan cara memasukkan cairan kontras ke dalam rongga rahim dan tuba falopi.
Selanjutnya akan dilakukan pemotretan dengan sinar rontgen yang bertujuan untuk menilai apakah rongga rahim dan tuba falopi terisi oleh cairan kontras atau tidak.
Hasil normal terjadi bila ditemukan tumpahan kontras yang melalui tuba falopi ke rongga perut.
Selang satu jam kemudian... Mereka telah duduk di kursi ruangan praktek dokter kandungan. Dimana sang dokter langsung membacakan hasilnya.
"Baiklah... Karena saya berkewajiban menyampaikan sesuatu, terkait kondisi pasien. Maka akan saya jelaskan hasil dari pemeriksaannya ya." Kata dokter tersebut, sembari menatap ke-duanya, lebih tepatnya kepada Debby. "Jadi, Setelah di periksa rupanya memang ada sedikit masalah pada mbaknya."
"Sa...saya?" Debby terbata saat bertanya, sementara Rumi langsung menggenggam tangan Debby.
"Iya... Jadi Mbak Debora mengalami penyumbatan pada saluran tuba Fallopi," tutur sang dokter. Dimana Debby dan Rumi serius mendengarkan, menunggu penjelasan dari sang dokter. "Saluran tuba adalah dua saluran kecil, ada satu di setiap sisi rahim, yang membantu mengangkut sel telur (ovum) matang dari ovarium (indung telur) ke dalam rahim. Nah, jika ada sumbatan saluran tuba ini, maka pembuahan bahkan tidak akan pernah terjadi. Inilah yang disebut infertilitas faktor tuba, yang merupakan penyebab infertilitas pada 40% wanita infertil."
"Be... Begitu ya? Tapi... Tapi aku nggak? Nggak?" Debby sudah berkaca-kaca.
"Dek, sabar ya. Dengar dulu penjelasan dokternya. Jangan menyimpulkan sendiri." Rumi berusaha menguatkan.
Sang dokter wanita itu tersenyum. "Benar kata suaminya... Mbak harus tenang, karena yang tersumbat itu hanya satu. Jadi Mbak masih berkesempatan punya anak kok."
Mendengar itu, Debby langsung mengusap air matanya yang terjatuh di salah satu matanya. Seperti hembusan angin segar, ia merasa sedikit lega.
"Beneran dokter? Beneran kan?"
__ADS_1
"Iya, mbaknya masih ada harapan untuk memiliki momongan. dengan cara menjalankan terapi program hamil. Cuman itu mungkin agak lama ya untuk mendapatkan hasilnya, dan mbaknya harus ekstra sabar. Lagi? setiap kali melakukan terapi mungkin mbaknya akan menghasilkan efek tidak nyaman di tubuh, seperti mual dan pusing."
"Nggak papa dok, saya akan lakukan."
"Baiklah, nanti kita akan atur pertemuan selanjutnya ya. Untuk memulai terapinya." Kata dokter tersebut, yang lantas meraih buku notenya mencatat resep. Sementara itu, Rumi menoleh kearah sang istri yang nampak bersemangat, ia pun mengusap-usap tangan Debby yang berada dalam genggamannya.
***
Sudah beberapa bulan berlalu, yang selama itu pula Debby menjalankan terapinya secara rutin.
Ia bahkan mengikuti saran para teman-temannya untuk mencoba alternatif lainnya.
Seperti saat ini, di bulan ke tujuh setelah selama itu melakukan program kehamilannya. Debby sudah tidak ada daya, tubuhnya terasa lemas dan tidak berselera untuk melakukan apapun.
"Dek, minum ini air hangatnya." Rumi duduk di bibir ranjang mengusap kening Debby yang berkeringat.
"Nggak mau..." Rengeknya.
"Kenapa? Biar enakan perutnya." Bujuk Rumi.
"Nggak mau, percuma nanti malah muntah lagi."
"Ya udah sekalian minum pereda mualnya."
"Hiks..." Debby malah justru menangis. Membuat Rumi lantas mengusap air matanya.
"Kenapa sayang?"
"Aku nggak mau terapi lagi. Nggak enak– Rasanya nggak enak. Yang ada malah membuat ku kesal, karena sampai sekarang belum ada hasilnya."
"Sabar yang gimana lagi... Aku yang ngerasain, Kak. Nggak enak." Isaknya dalam pelukan Rumi.
"Aku harus apa, Dek? Aku juga nggak tega melihat mu begini. Atau kita hentikan pengobatannya?"
"Tapi aku ingin punya anak, hiks–" Debby semakin terisak.
"Ya sudah begini saja, besok aku coba cari alternatif lain ya. Kamu semangat dong."
"Iya aku semangat. Tapi mau bagaimana lagi? rasanya sebegitu nggak enaknya."
"Ya udah sabar Dek, aku cuma bisa bilang itu. Aku berusaha juga kok makan sayur yang kamu mau."
"Kamu udah makan sayur taugenya?"
Rumi mengangguk, padahal dia sendiri paling tidak suka dengan aroma taugenya, walaupun terasa mual saat masuk ke mulut. Rumi tetap berusaha menelannya. Karena dia tidak ingin hanya Debby yang berusaha untuk memberikannya momongan, dia pun juga harus turut berjuang.
–––
Beberapa Minggu kemudian, Debby dan Rumi mendatangi salah satu klinik alternatif demi melanjutkan ikhtiar mereka, keduanya pun mendapatkan beberapa obat herbal racikan.
setelah sampai di rumah Rumi langsung merebusnya, yang terdiri dari rempah-rempah kering. Setelah mendidih dan mendinginkannya Rumi lantas membawanya ke kamar menghampiri sang istri.
Di dalam kamar itu, baru saja Rumi menuang air rebusan jamu. Debby sudah mendengus.
"Baunya, ya Allah..." Kata Debby sembari menutup hidungnya, akibat bau jamu yang menyengat.
__ADS_1
"Namanya juga jamu, sayang. Aku udah coba kasih madu kok. Cobain dulu aja."
Debby pun mendekatkan mulutnya pada gelas yang terarah kepadanya. Baru satu seruput, ia sudah hendak muntah-muntah.
"Sumpah nggak enak, Kak."
Rumi pun menghela nafas. "Maaf ya,"
"Maaf untuk apa?"
"Sudah membuat mu seperti ini, demi bisa memberikan aku anak."
"Mau bagaimana lagi, bukan salah kak Rumi kok. Karena itu kewajiban ku sebagai seorang wanita, harus memberikan hak keturunan untuk suami." Debby menjawab dengan murung.
Keduanya terdiam sejenak, dimana Rumi langsung mengangkat gelas berisi jamu tradisional di tangannya, lantas menenggaknya. Mata Debby membulat saat melihat itu. Terlihat Rumi berusaha untuk menghabiskannya.
"Kak Rumi, itu kan?"
Rumi tersenyum setelah jamu itu habis ia minum. Walau terlihat jelas ia seperti mau muntah. "Aku minum ini buat kamu, biar bisa merasakan juga. Bagaimana sulitnya jadi kamu."
"MashaAllah, kak Rumi."
"Jadi bagaimana, aku sudah minum satu gelas. Kamu mau 'kan, mencoba minum lagi?"
Debby yang sudah meneteskan bulir beningnya pun tersenyum, lalu mengangguk.
"Bentar aku minum madu dulu ya, pahitnya getir sekali, kaya masalah hidup." Ledek Rumi yang langsung membuat Debby tertawa. Setelah minum dua sendok madu untuk menetralisir, Rumi pun menuangkan setengah gelas jamu yang sama seperti tadi.
"Ini kaya lebih pekat?"
"Nggak kok, sama aja Dek. Yuk bismillah dulu." Titah Rumi, yang langsung di iyakan oleh Debby, membaca bismillah lalu meminum setengah gelas jamunya hingga habis.
Tangan Debby menutup rapat mulutnya yang sedikit menggembung, lalu berusaha menelan.
Rumi pun sigap menuangkan madu ke sendok makan, lalu menyuapkannya pada Debby. "Lagi?"
"Iya... Masih pahit."
"Nih..." Rumi memberikannya lagi, "gimana?"
"Mending sih. Tapi, di lidah sama kalau pas sedang sendawa tuh masih kerasa banget."
Rumi tersenyum, ia memberikan kecupan di kening untuk istrinya. "Sabar ya... Demi punya Dede bayi."
"Iya... Demi ada Dede bayi." Debby memeluk lingkar pinggang Rumi erat. "Makasih ya, sudah mau ikut minum jamunya."
"Sama-sama, besok aku juga minum lagi kaya kamu."
"Jangan, kasian kak Rumi."
"Nggak papa ya Zaujatti. Sekarang istirahat ya."
"Iya," jawab Debby yang lantas merebahkan tubuhnya di ranjang. Rumi pun menutup tubuh sang istri dengan selimut. Setelahnya menata nampan yang berisi gelas serta panci rebusan jamu tadi, lalu membawanya keluar.
Senyumnya terpancar tulus di bibir Rumi pada istrinya sebelum mematikan lampu dan menutup pintu kamarnya. Dimana Debby merasa beruntung, ketika memiliki suami seperti Rumi.
__ADS_1
Bersambung....