Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
kabar gembira dari Nuha dan Faqih


__ADS_3

Sementara di rumah Abi Irsyad...


Debby melangkah lunglai menuju kamarnya. Sudah lewat waktu Isya namun sang suami belum juga pulang. Nomornya pula tidak aktif sejak selepas magrib tadi, di chat terakhirnya saja masih berwarna abu-abu.


Ia duduk di kursi yang terletak di balkon kamarnya dan Rumi. Tidak ada nafsu untuk menyantap makan malamnya, ia hanya mengkhawatirkan Rumi. Padahal janjinya setelah Dzuhur kemarin Dia akan langsung jalan pulang. Namun nyatanya ia belum juga pulang, akibat ada pekerjaan tambahan karena terdapat kesalahan saat rapat kemarin.


Debby membuka Al Qur'an-nya membaca surat Ad Dhuha untuk ia hafalkan. Sembari memurojaah bacaannya lagi, ia terus mengulang-ulang bacaan tersebut. Cukup lama, hingga lewat hampir satu jam. Ia masih betah mengulang surat tersebut, sampai-sampai tak menyadari salam Rumi yang sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Dari kejauhan, Rumi melihat sang istri duduk membelakangi posisinya. Ia tersenyum, merasa rindu sekaligus senang ketika melihat Debora amat bersemangat saat menghafalnya. Ia pun melepaskan tasnya lebih dulu, lalu melangkah pelan semakin mendekati sang istri dengan setangkai mawar merah di tangannya.


"Fa am mal yatiima fala taqhar


Wa am mas saa-ila fala tanhar


Wa amma bi ni'mati rabbika fahad dith"


menghela nafas lalu melamun, entah apa yang ia pikirkan. Namun tak lama ia menyadari seperti ada seseorang yang berdiri di belakang membuatnya menoleh.


"Assalamualaikum," ucap Rumi lembut, sembari tersenyum. Belum sempat membalas, Debby malah mematung. Mengerjapkan mata hingga dua kali. "Assalamualaikum ya Zaujatti... Kok nggak di jawab?"


"MashaAllah– suamiku sudah pulang?" Saking girangnya, ia bahkan tidak menjawab salam Rumi, dan memilih langsung menghambur ke dada Rumi. "jahat banget nggak pulang dua malam."


"maaf sayang."


"huhuhu kangen.... kangen... kangen..."


"hahaha... Aku juga, Dek. Tapi jawab dulu dong salam ku." Rumi terkekeh, sembari menciumi ujung kepala Debby berkali-kali.


"Walaikumsalam... Walaikumsalam suami..." Terkekeh, dengan kedua tangan semakin memperkuat pelukannya.


"Maaf ya aku telat pulang."


"Nggak papa yang penting sekarang sudah pulang. Aku takut kamu kecantol cewe Bandung, kalau kelamaan." Ledek Debby.


"Ya nggak lah sayang." Mengusap-usap punggung Debby. "Ambil ini yang ada di tangan ku, Dek."


"Apa?" Debby melepaskan pelukannya. Dan mendapati bunga mawar di tangan sang suami. "Ya ampun... Manisnya."

__ADS_1


"Bilang apa?"


"Makasih."


"Makasih apa?" Tanya Rumi sembari mengetuk-ketuk pipinya dengan jari telunjuk.


"Makasih Suamiku sayang, muaaaaah." Debby mencium pipi kanan Rumi.


"MashaAllah, senangnya di cium."


"Aku juga mau," kata Debby dengan nada manja.


"Ciumnya di dalam yuk, biar bisa lebih." Ajak Rumi yang membuat Debby terkekeh lalu mengangguk, mereka pun berjalan masuk bersama kedalam kamar mereka.


***


Hari berganti lagi, walaupun tak begitu terik akibat mentari yang berselindung dalam pekatnya kumulus awan, sedari pagi. Tak serta-merta menyurutkan semangat wanita yang sedang membacakan hafalannya di depan sang suami.


Dia sudah dapat dua surat pendek sekaligus, yang tengah di setorkan. Sebenarnya sudah lumayan panjang si karena terdapat sekitar lebih dari sepuluh ayat. Nampak Rumi tersenyum memberikan kecupan manis di kening lalu turun ke bibir istrinya.


"MashaAllah, kamu berusaha sekali. Aku senang, Dek." Puji Rumi pada wanita yang tengah tersenyum malu-malu.


"inshaAllah bisa, Pelan-pelan sayang."


"Iya..." Tersenyum tatkala mendapatkan kecupan lagi di kening. Tak lama keduanya mendengar suara ketukan pintu di luar. Rumi dan Debby pun menoleh.


"Tumben Abi ketuk pintu," gumam Rumi.


"Mungkin tamu lain, Kak."


"Mungkin... Ya sudah, aku buka pintu dulu ya."


"Iya," jawab Debby yang melepaskan mukenanya, lalu melipatnya dengan rapi. Sementara Rumi sudah beranjak dari posisinya, mengusap kepala Debby sejenak sembari melangkah keluar dari ruangan beribadah.


–––


Di luar....

__ADS_1


"Assalamualaikum, Om Lumi–" suara nyaring nan ceria, sudah terdengar saat pintu belum terbuka sepenuhnya.


"Walaikumsalam warahmatullah... MashaAllah, keponakan Om yang cantik. Sini gendong." Rumi sangat bersemangat saat Ziya datang bersama Nuha dan Faqih. "Huuppp... Kok berat sih, hemmmm? Si Solehah."


Gadis kecil itu terkekeh saat di cium beberapa kali oleh Om-nya.


"Iiiya udah besal, makannya belat."


"Oh... Sudah besar. Gemasnya." Rumi mengecup pipi Ziya sekali lagi, lalu menjabat tangan Faqih dan juga Nuha yang langsung mengecup punggung tangan Rumi. Di mana Rumi langsung meraih tubuh adik perempuannya, mendaratkan kecupan di kening. "Masuk yuk," ajak Rumi pada mereka semua yang langsung mengangguk.


"Assalamualaikum—" seru Abi Irsyad yang baru saja masuk ke dalam pagar rumah, hingga menghentikan langkah mereka semua.


"Kakeeek–" Ziya berteriak senang, sembari mengayun-ayunkan kedua kakinya, karena melihat sang kakek sudah melebarkan kedua tangannya. Berjalan cepat, menghampiri.


Rumi pun menurunkan anak itu, si gadis kecil yang ceria langsung saja berlari kencang memeluk ustadz Irsyad yang kini sudah berjongkok menyambut.


"MashaAllah..." Ustadz Irsyad menciumi cucunya berkali-kali, saking rindunya. Bersamaan dengan itu, Debby keluar ia menjabat tangan Nuha lalu memeluknya. Setelah itu menelungkupkan ke-dua telapak tangan di depan dada kepada Faqih.


"Kakek, Iyaaa mau punya Dede."


"Apa Dede?" Tanya Ustadz Irsyad tersenyum lebar.


"Iya... Di peyut Umma. Ada Dede segini." Ziya menunjukkan kesepuluh jarinya. Sehingga membuat mereka tertawa.


"Nggak segitu juga, Neng." Jawab Nuha. Ustadz Irsyad pun mengangkat tubuh Ziya, menggendongnya.


"Beneran ini?" Tanya Ustadz Irsyad sembari menghampiri mereka, di mana Nuha langsung meraih tangan kanan Beliau lantas mengecup punggung tangan Abinya, sama halnya dengan Faqih bergantian.


"Beneran Bi. Alhamdulillah, Nuha sedang isi lagi." Senyum Sejenak, "janin kembar."


"MashaAllah..." Ustadz Irsyad terharu. Beliau langsung mencium kening putrinya lalu kedua pipi Nuha. "Senangnya hati Abi. Ya Allah... Selamat ya Nak."


Nuha tersenyum mengangguk. Terlihat juga senyum cerah di wajah Faqih. Dan juga Rumi yang langsung memeluk Nuha, mengucapkan selamat.


Lalu Debora, kemudian. Keduanya saling tatap sembari tersenyum haru lantas saling memeluk.


"Selamat ya Nuha."

__ADS_1


"sama-sama, Ce," jawab Nuha, membalas pelukan hangat Debora. Debby pun memejamkan matanya, tubuhnya bergetar. Ia bahagia mendengar Nuha hamil lagi, namun entah mengapa? Ia malah justru merasa bersalah dengan suami dan ayah mertuanya. Padahal sudah masuk ke pernikahannya yang pertama, namun hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda adanya kehamilan pada dirinya.


__ADS_2