Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
kekhawatiran


__ADS_3

Di ruang dapur yang menyatu dengan ruangan makan, Nuha mengeluarkan beberapa mangkuk dan piring dari dalam raknya. Lalu kembali mendekati meja membuka bungkusan yang sama sekali belum ia buka itu, bahkan dia sendiri tidak tahu apa isinya, yang ternyata adalah SOP iga, sambal dan ayam bakar.


Ia melihat satu tulisan di sana. (Selamat makan wanita hebat ku.) Nuha tersenyum, untung A'a sudah di rumah, jadi dia bisa langsung cium suaminya itu.


"Telat bacanya." Gumam Faqih yang sudah berdiri di pintu dapur, sembari menggendong Ziya. Nuha menoleh ia mengembangkan senyumnya, nyengir.


"Terimakasih suami ku... Muuaaahh.... Muaaah." Ucap Nuha menggunakan gerakan kiss bye, yang langsung membuat Faqih terkekeh gemas, ia pun kembali keluar.


Nuha menarik senyumnya, hatinya masih merasakan sedih karena memikirkan sang ibu di Bekasi. Ia pun menuangkan SOP iga tersebut ke dalam mangkuk besar karena porsinya cukup banyak.


Setelahnya dua potong ayam, serta sambalnya juga di piring saji yang berbeda. Sepertinya A'a pesan makanan ini di salah satu restoran favorit mereka, tercium dari aroma sop Iga yang khas ini. Seharusnya Nuha bisa menyantapnya dengan lahap.


Nuha meraih sedikit nasi, meletakkannya ke atas piring bersamaan dengan lauk yang tersaji itu. Ia pun mulai menyantap makanan tersebut dengan perasaan getir.


Rasanya, dia malah ingin menangis lagi saat ini, namun berusaha keras ia tahan. Sebab tidak ingin membuat A'a khawatir, belum lagi Ziya tengah sakit. Lebih baik tunda saja dulu mengunjungi Umma Rahma, begitu pikirnya.


Sudah selesai menyantap makanan itu, Nuha mencuci piringnya lalu menutup sisa makanan yang ada. Menggunakan tutup saji.


–––


Karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, mereka pun memutuskan untuk mengunjungi dokter selepas Azhar saja.


Kini Keluarga kecil itu sudah bersiap, A'a dengan kaos lengan panjangnya tengah mengunci rumah mereka sementara Nuha berdiri di bibir teras rumah. Menunggu A'a yang berjalan masuk ke dalam garasi, guna mengeluarkan mobil mereka dari dalam sana. Setelah semuanya siap, mobil pun melaju keluar dari pelataran rumah mereka yang tidak begitu luas namun tertata.


Sepanjang perjalanan Nuha hanya diam saja, memegangi dot berisikan susu yang tengah di hisap Ziya.


Sebenarnya Faqih merasa Nuha banyak diam. Namun sepertinya dia menangkap diamnya Nuha karena kelelahan, sehingga hanya mengusap kepala Nuha saja sudah cukup bagi A'a yang tengah fokus memegang kendali stir mobil mereka.


Tidak memakan waktu lama... Mereka sudah tiba di salah satu klinik yang lumayan besar. Ada dokter anak juga di sana, jadi mereka tidak perlu menuju rumah sakit besar untuk memeriksa Ziya.


Di sana mereka melakukan prosedur Seperti pendaftaran dan sebagainya lalu mengantri di depan ruangan pemeriksaan menunggu giliran mereka.

__ADS_1


Ziya saat ini tengah berada di gendongan Faqih, yang berdiri di dekat sebuah tanaman hias berwarna merah tak jauh dari Nuha duduk.


Dilihat-lihat, sepertinya anak itu tertarik, karena sedari tadi tangan kecil Ziya tak lepasnya menyentuh daun maple tersebut. Sementara Nuha hanya diam saja, menatap ke arah layar ponsel menunggu kabar dari kakaknya, atau mungkin Abi Irsyad.


'kenapa tidak ada yang mengabari sih?' runtuknya dalam hati, Nuha mendesah ia benar-benar tidak tenang saat ini. Hingga panggilan atas nama Ziya pun terdengar Nuha masih diam saja pada posisinya. Membuat Faqih menoleh, menjawab panggilan itu.


"Neng...?" A'a sudah berdiri di hadapan Nuha, membuat gadis itu terkejut bahkan hampir menjatuhkan ponselnya. "Di panggil loh itu,"


"Ah... Iya." Nuha gelagapan, dan langsung beranjak. Diraihnya Ziya lalu mereka pun masuk kedalam ruang pemeriksaan. Sementara Faqih menatapnya lurus lalu menggeleng pelan sembari beristighfar.


Setelah beberapa menit menjalani pemeriksaan, serta mengurus administrasi, mereka kembali kerumah.


Suasana senja menemani perjalanan mereka yang penuh dengan keheningan. Faqih sesekali melirik, gadis itu tak banyak bicara. Ada apa ya? Apa mungkin dia ada salah, sehingga membuat sang istri kesal?


Dia ingin bertanya, tapi sudah lah nanti saja. Karena Ziya juga sepertinya mulai terjaga dari tidurnya, dan kini mulai merengek. Faqih menyentuh kepala Nuha, turun perlahan hingga kepipinya. Nuha pun menoleh, menangkap senyum simpul di bibir Faqih. Gadis itu langsung membalas sekilas lalu kembali menunduk menenangkan Ziya yang berada di pangkuannya.


Anak itu semakin rewel, merasakan tidak nyaman sepertinya. Karena di baringkan tidak mau, duduk tidak mau, susu pun juga ia tolak. Yang pasti anak itu ingin keluar dari dalam mobil mereka, terlihat dari tangannya yang menunjuk kearah jendela.


"Hei... Hei... Neng? Sabar ya. Sebentar lagi sampai." Faqih menyentuh kepala anak itu lembut.


"Mbiiii...." Ziya beralih pada Abinya memindahkan untuk di gendong lagi.


"Jangan, neng. Abi lagi nyetir. Nanti gendong kalo sudah sampai rumah." Ucap Nuha. Faqih pun terkekeh sembari mencubit pipi Ziya yang semakin menangis kencang.


***


Malam berselang...


Selepas dari masjid, Faqih masuk ke dalam kamar. Dimana ia melihat Nuha duduk menyandar di ranjang tidur mereka, dengan ponsel di tangannya.


Terlihat ia mengusap air matanya cepat, lalu tersenyum menjawab salam dari Faqih.

__ADS_1


Gadis itu meraih tangan Faqih mengecupnya lembut. Dengan tatapan sendu, dan tubuh yang terlihat lunglai.


"Duduk yuk." Faqih menyuruh Nuha untuk duduk di bibir ranjang, lalu sendirinya meraih kursi meja rias dan duduk di bangku itu menghadap Nuha. Tatapannya hangat, kearah Nuha. Sehingga membuat air mata Nuha kembali menetes, lalu segera ia hendak menghapusnya.


Faqih menahan itu, dengan tatapan masih terarah ke mata sang istri.


"A'a punya salah ya?" Sambung Faqih. Membuat Nuha menggeleng cepat. "Lantas?"


"Umma... Hiks."


"Kenapa, ada apa sama Umma?"


"Umma masuk rumah sakit." Tangis Nuha pun pecah.


"Innalilah... Kapan?" Faqih terkejut, ia langsung memeluk Nuha erat.


"Hiks...Tadi sore A'. Umma mengalami saturasi oksigen. Sedangkan oksigen di rumah habis."


"Allahu Akbar... Kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Nuha bingung mau izin ke A'a. Sedangkan Ziya sedang sakit. Tapi Nuha takut Umma?"


"Sssssttt... Jangan berfikir yang macam-macam. Sekarang bagaimana? Apa kata Abi?"


"Umma di ICU."


"Ya Allah..." Faqih semakin mempererat pelukannya. Ia menciumi kepala Nuha.


"Hiks, Maaf A'... Nuha pengen kerumah sakit. Nuha pengen ketemu Umma." Nuha semakin menangis sesenggukan dalam dekapan A' Faqih. Sementara itu Faqih menoleh ke arah Ziya yang tengah tertidur pulas. Dan perlahan melepaskan pelukannya.


"Sebentar, A'a telfon Umma Hasna dulu. Sudah pulang atau belum?" Faqih beranjak, dari posisi duduknya dan langsung menyambar ponselnya yang tengah di charge di atas meja.

__ADS_1


Menekan-nekan layar tersebut, mencari nama Umma Hasna dan saat di jumpai Faqih pun langsung menghubungi ibunya.


__ADS_2