Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
luka masa lalu yang kembali terbuka


__ADS_3

Sudah beberapa hari berlalu, Ustadz Irsyad sepertinya banyak diam.


Terasa sekali sikap diam Abinya itu, sehingga membuat Rumi memutuskan untuk mendekati beliau, yang tengah duduk melamun seraya mengamati ikan koi peliharaannya. Sementara kotak berisi pakan ikan masih berada di pangkuannya.


Saat ini Umma tengah beristirahat tidur siang, jadi dia bisa berbicara empat mata dengan Abinya itu, sekarang.


Dengan penuh keraguan Rumi masih melangkah, hingga dia pun duduk di sebelah Abi Irsyad.


"Ikannya sudah mulai besar-besar ya, Bi?" Tanya Rumi basa-basi.


"Hemmm." Ustad Irsyad menjawab dengan singkat.


Saat itu, Rumi paham sih. Sikap seseorang jika dia semakin tua pasti akan menjadi kekanak-kanakan. Sehingga membuatnya berusaha lebih sabar lagi. Dan benar, sepertinya Abi Irsyad kecewa dengan keputusannya.


"Abi marah ya, sama Rumi?" Tanya Rumi terus terang, karena dia sudah tidak bisa basa-basi lagi.


"Marah? Memang kamu buat salah?" Tanya Abi Irsyad balik, tanpa menatap Rumi.


"Iya, Rumi buat salah. Karena Rumi sudah menolak pilihan Abi," jawab Rumi lirih.


Irsyad terdiam sejenak. Menikmati suara gemericik air yang berasal dari kolam ikan tersebut. Beliau lantas membuka pakan ikan itu, meraih sejumput isinya, lalu melemparkannya ke arah kolam.


Terdengar riuh suara ikan yang berebut pakan mereka, sehingga membuat senyum Abi Irsyad tersungging tipis. Karena menurutnya itu hiburan untuk beliau.

__ADS_1


"Dulu, ada seorang kakek. Yang pernah menyelamatkan Abi, saat hanyut di sungai. Beliau, lantas mengangkat Abi sebagai anaknya... Itu salah satu adat di kampung Abi. Jika kita punya hutang Budi, yang berkaitan dengan nyawa, maka dia harus kita anggap orang tua juga." Gumam Abi Irsyad bercerita, dengan pandangan masih menatap ke arah ikan-ikan di dalam kolam. Sementara Rumi hanya mendengarkan.


"Kakek itu, menitipkan seorang cucuk perempuannya kepada Abi, karena cucunya itu hidup sebatang kara. Dan kamu tahu? Beliau bilang apa? Kalau bisa, Abi harus nikahi dia. Itu adalah wasiat terakhir kakek Ruri." Abi Irsyad menoleh, ke arah Rumi. "Tapi pada saat itu, Abi tidak bisa menikahi dia. karena Abi? Sudah ada Umma Rahma, yang baru Abi nikahi sekitar dua bulan lamanya."


Abi Irsyad, kembali menatap ke arah kolam. "Wanita itu mencintai Abi sebenarnya, tapi Abi tidak mencintai dia. Namun Abi tetap menganggap dia adik... Yang harus Abi cukupkan semua kebutuhannya. Hingga akhirnya Abi merasa lega saat dia dekat dengan seorang pria. Lebih-lebih pria itu mau menikahinya. Dialah pak lek Ulum, dan wanita itu adalah Bu lek Aida."


Sejenak Abi Irsyad mengingat masa lalunya, yang hampir saja menikahi Aida. Dan jika di ingat lagi, rasa bersalahnya yang dulu pun seolah kembali mencubit hatinya. Sehingga bagian itu hanya dia, Aida, dan Rahma saja yang tahu.


Irsyad menghela nafas, menggenggam kotak pakan ikan itu dengan kedua tangannya. "Abi pikir, kalau kamu menikah dengan Shafa. Kita bisa memperkuat nasab kita dengan keluarga Ulum. Abi cuma merasa masih berhutang saja pada kakek Ruri. Apa lagi, saat dengar Shafa mengagumi mu, walaupun dia tidak menjabarkan siapa laki-laki yang dia maksud itu, kepada Abi. Tapi Abi paham, setiap kali dia bertemu dengan mu, gadis itu pasti langsung gugup dan menghindari sekali untuk berbicara dengan mu. Jadi merasa kasihan dan tidak tega, bagaimana perasaan anak itu sekarang ya?" Abi Irsyad kembali meraih sejumput pakan ikan itu, lalu melemparkan ke arah kolam ikan lagi, riuh suara ikan yang berebut pun kembali terdengar.


Rumi kembali melamun. Dia mendesah, mengangkat kepalanya ke atas, menatap langit yang biru, serta awan putih yang berjalan mengikuti arah angin. Dengan sinar terik dari mentari yang masih menyinari bumi, mata Rumi sedikit menyipit merasakan silau. Abi Irsyad menoleh ke arah anak itu, sepertinya ucapan dia sudah membuat Rumi merasa semakin tidak enak.


"Tapi ya... Mau bagaimana lagi? Abi tidak berhak memaksa mu." Menepuk pundak Rumi sekali, lalu meremasnya pelan.


"Seandainya, waktu itu? Kamu tidak mengiyakan. Mungkin Shafa tidak akan merasa tertolak Rumi. Karena rasanya, kita seperti mempermainkan keluarga mereka, kita loh yang datang sendiri? Tapi Kita juga yang menolaknya. Itu pasti menyakitkan." Gumam beliau lagi.


"Astagfirullah al'azim, Rumi bersalah sekali. Maaf Abi... Maafkan Rumi." Rumi bergumam sangat lirih. Abi Irsyad pun tersenyum, lalu melingkari bahu putranya itu. Serta mengusap-usap pelan.


"Kalau Abi pasti memaafkan, tapi tidak tahu jika itu Shafa. Apakah dia bisa semudah itu memaafkan? Walaupun dia bilang tidak apa-apa di depan mu. Siapa yang tahu? jika saat itu juga dia sedang menangis batinnya."


"Astagfirullah al'azim." Rumi geleng-geleng kepala. Dia merasa menyesal sekali sudah melukai hati Shafa. Namun dia juga tidak bisa menolak keinginan hatinya, yang tertuju pada Debora.


–––

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain...


Selama beberapa hari ini, Shafa hanya menyibukkan diri untuk semakin memperkuat keimanannya.


Dia bahkan semakin jarang keluar dari kamarnya selain jika hendak makan dan melakukan urusannya di dalam tandas.


Keluar rumah pun ia sekarang malas, selain kegiatan mengajar di madrasah ataupun hanya untuk mengaji yang benar-benar sudah rutinitas dia untuk menambah ilmu.


Seperti hari ini, gadis itu sedang bertilawah Al Qur'an di dalam kamarnya. Dengan suaranya yang lembut dan merdu, dan sesekali serak. Dia menjeda lantunannya, hanya untuk menghela nafas sesak.


Karena mengobati luka hati tidak semudah itu bukan? Tapi dia tidak menyalahkan siapapun disini. Hanya saja, dia menyesali kesalahannya sendiri. Yang sudah meresapi perasaan kagum itu pada seorang Ikhwan yang belum halal, lebih-lebih keluarganya memiliki hubungan yang cukup erat dengan keluarga laki-laki itu. Dan seharusnya Shafa sudah siap dengan hal ini, 'kan?


Samar-samar ia mendengar pintu kamarnya di buka pelan, Shafa segera menyeka air matanya. Dia menunduk, mengalihkan pandangannya. Agar tak terlihat oleh ibunya.


Aida masuk dengan sangat hati-hati, setelah mendengar penjelasan dari suaminya kemarin malam. Tentang batalnya ta'aruf Shafa dan Rumi.


Aida duduk di sebelah Shafa, dia pun langsung mengangkat kepala anak sulungnya, itu. "Jangan menghindari ini lagi. Ibu tahu perasaan mu."


Shafa tersenyum hangat, dia lemas karena terus saja menangis. "aku tidak apa-apa, bu."


"Jangan membohongi diri mu. Kamu bilang tidak apa, tapi ibu tahu itu sakit." Aida menitikkan air matanya. Seolah ia sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu, dia pun langsung memeluk tubuh Shafa yang masih mengembangkan senyum sembari memejamkan matanya. Hingga tubuh mungil Shafa turun merubah posisinya, dengan merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Air mata itu masih mengalir, dengan posisi mata terpejam, serta bibir yang bergumam mengucap istighfar. Shafa yang sudah lelah, perlahan-lahan mulai tertidur di sana. Sementara Aida hanya menyeka air matanya sendiri, lalu mengusap-usap lembut kepala anaknya. Dengan penuh kasih sayang, dan perasaan prihatin.


Sungguh, tidak ada luka yang lebih pedih di rasakan seorang wanita. Selain merasa tertolak oleh seorang pria yang mereka kagumi. Begitu pikir Aida... Bahkan rasa sakit itu sepertinya tidak hanya di rasakan oleh anaknya saja, melainkan Aida sendiri yang lebih merasakan sesak karena perlakuan keluaga itu.

__ADS_1


Iya... Karena bagi Aida saat ini adalah? Ustadz Irsyad, seolah kembali menorehkan luka padanya. Melalui putranya itu. Dan kali ini, Shafa lah yang harus merasakannya. Namun yang membuatnya gusar, dia tetap tidak bisa apa-apa, dia tidak bisa menutut Ustadz Irsyad, demi sebuah ukhuwah antara mereka. Belum lagi dengan semua yang ia terima dari Ustadz Irsyad, membuat dia merasa menyesal. Karena sudah terikat dengan hutang Budi yang belum bisa ia ganti hingga saat ini.


__ADS_2