
Setelah selesai menyantap sotonya, Rumi pun duduk menyandar menunggu istrinya selesai.
Dipandanginya terus sang istri, ketika makan. Dengan pikiran yang berkelana, mengingat apa yang sudah ia dapatkan selama ini. Dikucilkan keluarga besarnya, bahkan sempat tidak di akui anak oleh kedua orangtuanya. Sungguh membuat Rumi merasa tidak tega setiap kali melihat senyum Debora.
Gadis itu memang tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya. Walaupun Rumi sendiri tahu, diam-diam sang istri suka menangis sendirian sembari memegangi ponselnya.
Mungkin dia rindu sosok Papa, dan jika di tanya ada apa? Debby memilih untuk diam saja tak ingin membahas, lalu mengalihkan ke bahasan lain.
Ya seperti itulah Debora, gadis yang tidak pernah mau menampakkan kelemahannya.
Merasa di pandangi terus, ia pun mengangkat kepalanya.
"Apa sih kak, kok ngeliatin?"
"Nggak apa-apa. Habisin sayang. Sudah senja sepertinya."
"Emmm, iya. Tapi aku udah kenyang. Porsi disini banyak soalnya. Aku nggak habis nasinya?" ucap Debby menunjukkan nasi di piring yang masih tersisa separuh.
"Ya sudah nggak papa. Pinjem ponsel mu, Dek. Aku mau telfon Abi."
"Sebentar..." Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang hanya pas untuk Pouch uang dan satu ponsel saja. "ngomong-ngomong ponsel kak Rumi di mana? Kok aku nggak liat kak Rumi pegang HP dari kemarin?"
Rumi meraih ponsel yang di sodorkan Debora kepadanya.
"Rusak dek, karena jatuh pas di Bandung. Sekarang lagi di benerin di sana. Mungkin ku ambil saat berangkat besok."
"Owh..." Hanya membulatkan bibirnya.
Rumi pun tersenyum, ia kembali fokus pada tujuannya menelfon Abi Irsyad hanya untuk mengabari jika dirinya sedang ke luar bersama Debby. Tak lupa Rumi menanyakan apakah Abinya mau di bawakan sesuatu. Namun sepertinya beliau menolak, karena Rumi menjawab 'ya sudah kalau begitu.'
Debby mengamati Rumi, sembari menyedot minumannya hingga habis.
"Nih dek..." Rumi menyerahkan ponsel milik istrinya lagi. "Sudah selesai belum? Mau pulang sekarang?"
"Iya... Tapi mampir ke mini market ya kak. Stok pembalut ku habis."
"Iya..." Jawab Rumi, ia meraih gelas tehnya menyeruput sedikit lalu beranjak, seraya mengajak Debby.
***
Di Bandung...
Sebelum masuk ke kantor tempatnya bekerja, Rumi sengaja mencari tahu letak konter yang disebutkan wanita itu. Pukul sembilan ini, harusnya sudah buka?
Motor terus melaju pelan, membaca setiap papan nama di antara deretan ruko yang berjejer di pinggir jalan. Nampak sebuah ruko dengan cat berwarna biru dan putih. Bertuliskan Amanah Cell, tapi konter tersebut belum buka. Membuat Rumi memutuskan untuk mendatangi konter itu lagi selepas Dzuhur.
Bertepatan dengan perginya Rumi, seorang wanita berhijab datang sembari mengendarai sepeda. Ia memarkirkan sejenak sepedanya lalu berjalan mendekati pintu rolling.
__ADS_1
"Assalamualaikum, siangan Neng?" Seorang ibu-ibu menyapa.
"Walaikumsalam warahmatullah. Iya Ceu, tadi habis nganter Abah ke klinik dulu." Maida menjabat tangan wanita itu, sembari tersenyum.
"Ya Allah, pak kyai sakit apa?"
"Pusing sama sedikit kembung. Mungkin ke capean. Kemarin habis dakwah juga di Serang."
"Owh... semoga lekas sembuh ya."
"Aamiin makasih doanya Ceu... Ceu Rika mau kemana?"
"Ini saya mau beli pulsa neng, pas banget neng nya baru mau buka."
"Owh... Ya sudah tunggu sebentar ya." Meida membuka rolling doornya. Lalu masuk ke dalam, meletakkan tasnya sejenak, setelah itu meraih buku panjang yang lantas ia letakkan di atas etalase. "Nomornya Ceu."
"Iya, 081xxx..." Ia menyebutkan nomornya, di mana meida mencatat langsung.
"Mau yang isi berapa?"
"Sepuluh ribu saja."
"Oh iya..." Ia pun meraih HP kecil untuk melakukan transaksi pulsanya. Ketik... Ketik... Ketik... Menunggu sebentar.
"Sudah masuk ini neng. Berapa?"
"Biasa Ceu, dua belas," jawab Maida.
"Alhamdulillah, makasih ya Ceu."
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit ya. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Meida tersenyum ia lantas beranjak, mendekati meja yang terdapat laci uang.
Di sana ia melihat ponsel yang tergeletak di laci itu. Iya... Milik Rumi.
"A'a itu belum juga ngambil HPnya? Dia sepertinya bukan orang Bandung." bergumam sejenak namun kembali ia letakkan ponsel itu di tempat yang sama. Setelahnya beranjak hanya untuk bersih-bersih sedikit.
.
.
.
Pukul 12:40...
Rumi kembali mendatangi konter tersebut, di lihatnya satu tulisan yang berada di atas etalase. Jika sang pemilik sedang sholat, ia pun memutuskan untuk duduk di kursi plastik di depan konter itu menunggu.
__ADS_1
Namun baru saja ia mendaratkan bokongnya di atas bangku, seorang wanita keluar dari salah satu bilik didalam konter tersebut.
"Punten. Nunggu lama ya A?" Ucap wanita itu. Dimana Rumi langsung menoleh, ia tersenyum. Entah mengapa wajah itu membuatnya merasa senang jika melihatnya.
"Enggak kok, 'Teh. Saya baru saja tiba. Mau ambil HP saya."
Wanita itu pun baru menyadari. Jika pria itu adalah pria yang tidak sengaja ia rusak ponselnya.
"Ya Allah... Iya A'. Ini HPnya sudah jadi." Ia bergegas mendekati meja, membuka laci lalu meraih ponsel milik Rumi. Setelahnya kembali duduk di dekat etalase. "Silahkan."
Rumi mengamati wajah itu, membuat matanya sedikit basah. Ia pun meraih ponselnya.
"Habis berapa untuk memperbaiki ini?"
"Nggak banyak kok. Dan A'a nggak perlu menggantinya."
"Tapi LCD kan mahal. Seenggaknya saya bayar LCD-nya saja ya."
"Nggak perlu A'. Kan saya sudah bilang, kalau saya yang akan memperbaikinya. Jadi ini gratis."
"Tapi kan?"
"Wallahi... Tidak apa-apa. Saya juga tidak mau menerima uang seberapa pun. Karena ini memang kesalahan saya."
"MashaAllah... Saya benar-benar berterimakasih sekali kalau begitu."
Gadis itu tersenyum. "Di cek coba A'."
Rumi mengangguk ia menyalakan layarnya. Menggulir naik-turun, mencoba membuka aplikasi.
"MashaAllah, sekali lagi makasih ya."
"Sama-sama. Saya lega jadinya kalau sudah di ambil."
"Iya. Kalau begitu saya permisi dulu. Harus balik ke kantor."
"Memang A'a kerja di sekitar sini?"
"Iya di gedung X."
"Owh..." Manggut-manggut.
"Ya sudah, saya pamit assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Tersenyum. Dan setelah Rumi pergi sembari mengendarai sepeda motornya gadis itu bergumam. "Pria yang halus dan sopan. Sepertinya dia bukan pria biasa. Terlihat dari dirinya yang menjaga pandangannya."
Di sisi lain, Rumi yang sedang mengendarai sepeda motornya, ia mengusap lembut kedua matanya. Lalu menyentuh dadanya yang merasa sesak.
__ADS_1
Entah perasaan apa yang membuat dadanya sesak. Namun bertemu Maida, seolah menyembuhkan sedikit kerinduannya kepada Umma.
Bersambung...