
Siang itu ketika mentari sudah semakin meninggi, karena sudah masuk waktu zhuhur. Rumi memilih untuk mampir sejenak. Rehat di bangunan paling nyaman untuknya mengistirahatkan tubuh dan hati. Iya... Masjid.
"Dek, kita Sholat dulu ya. Nanti setelah ini kita makan siang," Rumi mengusap air mata di pipi sang istri, setelah mesin mobil di matikan. "Kamu jangan sedih lagi, masih ada aku."
"Aku tahu, aku tidak akan sedih lagi kok. Hanya saja, separuh hati ku terasa kosong." Ia kembali terisak. Rumi kembali memeluknya erat.
"Sabar sayang. Waktu akan segera membawa mu kembali pada kebahagiaan. Kamu percaya itu kan?"
Ucapan Rumi seolah membuatnya semakin ingin menangis, merasa beruntung saja. Ia sudah ada suami, dan lebih beruntung lagi, sikapnya kini sudah kembali baik. Seolah melupakan jika dia juga pernah merasa ingin menyerah karena kondisi pernikahannya itu. Dimana sikap diam Rumi yang membuat dia semakin merasa kosong.
Tidak bisa membayangkan jika itu kembali terjadi.
"Hiks... Iya. Iya." Sesenggukan, Debby meremas baju di bagian punggung Rumi. Dimana pria itu memutuskan untuk bertahan sejenak menunggu sampai sang istri benar-benar tenang.
Hingga beberapa detik kemudian, Debby sudah bisa mengontrol diri. Ia tersenyum, mengucapkan terimakasih pada suaminya yang sudah berkenan untuk menenangkan dia.
Kini keduanya pun keluar dari dalam mobil mereka dan berpisah menuju tempat wudhu masing-masing.
Setelah mengambil air wudhu Debby kembali masuk kedalam, menuju tempat saf para jamaah wanita.
Iqomah berkumandang, pertanda sholat akan segera di tegakkan.
Suasana hening pun terasa ketika imam berseru takbir, membuatnya kembali menitikkan air mata, di setiap gerakan solat. Hingga sampai ia pada saat sujud pertama, lalu beranjak duduk sebentar. Membaca doa 'Rabbighfirlii, Warhamnii, Wajburnii, Warfa'nii, Warzuqnii, Wahdinii, Wa'aaifinii, Wa'fuanii'
Ia menekankan di setiap potongan ayatnya, Karena ia tahu Rumi pernah berkata. Bacaan solat setelah sujud pertama sebelum ke sujud ke dua, adalah bacaan yang pas untuk menyembuhkan luka hati, dengan cara meresapi bacaan di atas sama saja kita tengah meminta kekuatan dari Sang Maha Pencipta, atas apapun ujian hidup di dunia. Karena arti yang terkandung didalamnya adalah tentang seorang hamba yang meminta pengampunan, pertolongan, kekuatan, rizki, serta meminta agar derajatnya di naikan oleh Allah SWT. (Tafsir doa di atas, kalau kita cari itu terkadang beda-beda ya, tapi intinya sama.)
__ADS_1
Setiap gerakan solat pun telah di kerjakan, hingga sampai pada saat rakaat terakhir yaitu di bagian sujud terakhir. Ia mengambil sujud lumayan lama bermunajat sebentar melalui batinnya tidak di lisan, setelah selesai membaca 'Subhaana rabbiyal a'la wabihamdihi.' sebanyak tiga kali. Dalam doanya, ia meminta kebaikan serta pengampunan atas dosa yang sudah ia perbuat selama ini, serta kekeliruannya. Lalu setelahnya beranjak di Tahyat terakhir.
"Assalamualaikum warahmatullah..." Menoleh ke arah kanan dan setelahnya mengucap salam lagi lalu menoleh ke sebelah kiri.
Ia berdoa, menengadahkan kedua tangannya. Dimana deraian air mata masih saja berjatuhan, walaupun sekuat apa dia menahan.
Sebab gambaran ibu dan ayahnya kembali berseliweran di pikirannya. Debby mengusap wajahnya setelah selesai berdoa, lalu keluar setelah membenahi mukenah yang ia kenakan tadi.
Ia duduk sendirian, di depan masjid menunggu sang suami keluar, karena sepertinya Rumi sedang berzikir dulu di dalam. Hatinya sudah lebih tenang saat ini, memang solat adalah cara paling ampuh untuk memulihkan kondisi hati yang sedang lelah. Ia menatap sendu langit yang biru dengan awan-awan putih, berjalan mengikuti arah angin.
"Apa aku salah? Memilih jalan ini? Kenapa Sepertinya terasa sulit," gumam Debby lirih. Ia menghela nafas, menggeleng cepat. Menepis setiap pikiran tidak baik yang membisikan dadanya. "Mamah... Papah... Walaupun kita sudah tidak seiman, Debby tetap selalu berdoa untuk kalian, agar kalian selalu di beri kesehatan dan keberkatan dalam hidup kalian."
Rumi yang berdiri di belakang tersenyum tipis, ia melanjutkan langkahnya sebentar lalu duduk di sebelah Debby.
Gadis itu menoleh, sedikit terkejut tiba-tiba Rumi sudah di dekatnya.
"Iya," jawab Rumi sembari menyentuh Kepala Debby, lalu meraih tangannya, menautkan jari-jari mereka, Rumi membawa keatas pangkuannya. Menggenggam lebih erat dengan satu tangannya lagi.
Masjid itu ramai, namun Debby dan Rumi duduk di salah satu sudut yang tidak begitu banyak orang keluar masuk.
"Dek, aku mau tanya. Bagaimana perasaan mu setelah memeluk Islam?"
"Berat... Aku hampir menyerah," menunduk.
Rumi mengangkat tangannya, mengecupnya lembut. Lalu menurunkannya lagi.
__ADS_1
"Kamu tahu? Ada banyak manusia sebelum kita, yang menerima ujian dari Allah selepas mereka beriman."
Debby mengerutkan keningnya, ia menunggu Rumi bercerita. Karena ia paling suka saat mendengarkan cerita orang-orang Saleh di masa lalu.
"Abu bakar Ash-Shiddiq contohnya, beliau pernah mengalami hal yang sama. Di usir orang tuanya karena beriman kepada agama Allah. Lalu Bilal bin Rabah Radhiallahu Anhu, beliau dulu adalah budak yang sejatinya bukan budak yang di perlakukan sewenang-wenang oleh Tuannya Umayah bin Khalaf, malah justru sebaliknya dia tetap di hargai dan di berikan kenyamanan asal semua pekerjaannya selesai dengan baik. Namun ketika ketahuan sudah memeluk agama Islam, dia lantas di siksa oleh Umayah karena perasaan malunya saja, ketika tidak bisa mendidik budaknya sementara dia adalah seorang pemimpin Quraisy."
"kisah Ammar bin Yasir, beserta ibunya Sumayyah binti Khayyat dan ayahnya Yasir bin Amir. Mereka pun juga mendapatkan ujian dari Allah setelah memeluk Islam yang di siksa oleh kaum Quraisy. Lalu ada juga Khabbab bin Arats Radhiallahu Anhu yang juga mendapatkan penganiayaan setelah masuk Islam. Dari semua itu apakah membuat mereka semua mengeluh?"
"Tidak ada di antara mereka yang mengeluh dek. Karena mereka tahu, cinta dari Rabbnya lah yang membuat mereka kuat, serta janji pertolongan Allah SWT itu nyata. Jadi mereka tidak akan pernah merasakan menyesal walaupun harus meregang nyawa sekalipun."
Debby menitikkan air matanya.
"Dan lagi... Rosulullah Saw. Setelah menjadi Rosul, apa beliau langsung enak-enak saja dakwah? Tidak... Beliau pun sama. Bahkan lebih parah dari apa yang kamu dan aku rasakan. Beliau malah menjadi orang miskin setelah di angkat menjadi Rosul. Padahal hidupnya saat masih bersama Khadijah beliau kaya. Kenapa bisa demikian? Kenapa Allah tidak berikan para kekasih-kekasihNya kebahagiaan dunia?"
Mata Debby menatap dengan sendu wajah Rumi.
"Karena dunia itu nggak ada harganya sama sekali dek, ibarat emas? Dunia itu bagaikan emas Imitasi, jadi buat apa Allah kasih dunia yang tidak ada nilainya ke para hamba-hambaNya yang taat? Sedangkan ada akhirat yang jauh lebih berharga, yang lebih luas nikmatnya, bahkan kita tidak akan pernah merasakan lelah, sakit, sedih, bosan dan semua kesulitan seperti dunia ini."
"Jadi jangan pernah putus asa dari Rahmat Allah dek. Sesungguhnya Allah lebih memahami apa yang terbaik untuk kita.... Ujian hidup, tidak akan pernah sampai pada kita, kalau kita tidak sanggup memikulnya. Kalau kamu masih bisa, berarti kamu sekuat itu, dan kamu mampu menjalaninya."
"Hiks..." Terisak lagi. Rumi menyeka air mata Debby dengan punggung jarinya.
"Ujian bisa datang dari mana saja, bisa dari orang tua, anak, mertua, tetangga, atau bahkan dari aku, dek. Suami kamu."
"Cukup sampai disini kak. kakak jangan, jangan pula menjadi ujian ku. Aku tidak akan sanggup."
__ADS_1
Rumi tersenyum. "Aku tidak bisa menjanjikannya, karena aku hanya berusaha untuk menjadi imam yang baik. Tapi aku tetaplah manusia biasa dek, yang terkadang tidak akan pernah luput dari kekhilafan serta kekeliruan, yang akan membuat mu terluka."
Debby tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya menatap dengan senyuman. Ia memahami itu, dan semoga apapun yang akan terjadi kedepannya. Rumi tetap menjadi pria yang akan selalu menyesali perbuatannya jika dia bersalah, lalu berusaha memperbaiki diri. Begitu pula dirinya kepada Rumi.