Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
bahagia ku


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Rumi berucap Ikrar di depan penghulu serta para Saksi.


Dia sudah duduk termenung di sofa dekat tangga, dengan keringat dingin mulai membasahi keningnya, padahal ruangan itu tidak panas.


Ya... Sepertinya dia tegang sekali, tangannya terlihat gemetaran saat memegangi gelas air mineral dalam kemasan. Memikirkan tentang kelancaran acaranya nanti, bisakah dia berucap dengan lancar, melantangkan setiap kata akad yang sudah ia hafalkan. Walaupun sebenarnya sudah hafal sih, namun memang kadang rasa gugup akan membuat semua hafalan menjadi buyar.


Ustadz Irsyad berjalan mendekati sang anak, karena mereka sudah harus berangkat menuju kawasan Kelapa gading sekarang juga, mengingat waktu sudah semakin siang.


"Nak, ayo." Ajak Ustadz Irsyad.


"Emmm... Iya Bi." Rumi menghela nafas panjang. Sehingga membuat Ustadz Irsyad terkekeh.


"Santai saja. Gugup ini hanya sebentar, nanti saat sudah terucap. Kamu akan merasa lega." Ujar ustadz Irsyad menghibur. Rumi pun membalas itu dengan senyum.


"Iya Bi... bismillahirrahmanirrahim." Rumi kembali menghela nafas, namun dia belum juga beranjak. Sehingga membuat Ustadz Irsyad urung bangkit dari duduknya.


"Ayo, sudah siang ini." Ajak beliau lagi.


"Emmm...?" Terpancar ekspresi bimbang di wajah Rumi.


"Kenapa?" Tanya Abi Irsyad.


"Rumi sedikit kepikiran sesuatu, Bi."


"Kepikiran apa?"


"Bisa tidak ya, Rumi menghadapi keluarga Debby nanti. Mengingat respon Tuan Yohanes di Bandung, saat kita mendatangi beliau, satu Minggu yang lalu. Rumi jadi sedikit ciut, untuk datang lagi."


Abi Irsyad tersenyum. "Menghadapi mertua memang seperti itu. Tapi Abi yakin, Tuan Yohan adalah pribadi yang sangat baik sebenarnya. Beliau tidak mau menemui kita saat berkunjung kesana mungkin karena ada satu alasan. Sekarang gini, yang penting beliau sudah memasrahkan Debby untuk mu, hanya tinggal bagaimananya kau dengan istri mu nanti."


Rumi berfikir sejenak, karena ia sedikit memahami sikap Debby sebelum ini. Namun sepertinya kali ini ada yang lain.


"Bi, Rumi bisa tidak ya? Membuat dia bahagia?"


"Harus..." Jawab Abi Irsyad, tegas. "Karena saat ini, kau lah yang menjadi penjaga dia setelah ayahnya."


"Tapi? Rumi saja belum ada penghasilan tetap."


"Kamu kan ngajar private, sama ngisi dakwah walaupun nggak mengharapkan penghasilan dari dakwah, tapi kamu tetap harus bersyukur ketika di kasih rezeki dari situ. Jangan pernah minder ketika istri mu jauh lebih tinggi penghasilannya dari kamu. Abi yakin, kalau dia benar-benar kau didik dengan baik, dan di dukung oleh perangainya juga, pasti dia akan bisa menghormati mu." Tutur ustadz Irsyad memberi wejangan. Sementara Rumi hanya mendengarkan dengan sedikit menunduk.

__ADS_1


"Selalu ingat pesan Abi. Tegas lah pada istri mu saat mendidik soal ketaatan, namun lemah lembut lah diri mu saat menyentuhnya. Maksudnya disini, kamu harus bisa memposisikan diri mu, sebagaimana seorang suami itu tidak bisa terlalu keras apalagi kasar, tapi kamu juga tidak bisa mengalah dari istri mu, yang kodratnya sedikit di bawah mu. Intinya posisikan dia sebagaimana letaknya tulang rusuk yaitu dekat dengan hati mu untuk kau lindungi dan kau kasihi. Karena Istri mu itu bisa jadi ujian mu, bisa jadi juga sebagai penolong mu. Ketika dia bisa menjaga diri dari fitnah-fitnahnya maka dia sudah berhasil mengurangi sedikit beban tanggung jawab mu di akhirat. Paham ya?"


Rumi tersenyum seraya mengangguk. "inshaAllah paham Bi."


"Ya sudah... Bismillah. Yuk berangkat sudah semakin siang." Ajak Ustadz Irsyad. Dan Rumi pun turut beranjak, serta membaca basmalah lalu berjalan menuruni anak tangga, menemui para kerabat yang sudah siap dengan mobil mereka masing-masing di pelataran.


–––


Hingga pukul sepuluh pagi, Rumi telah selesai mengucap Ikrarnya kepada Debby.


Membuat senyum haru terus saja terpancar di kedua mempelai, yang kini duduk bersanding di bangku pelaminan. Di mana wajah Debby tertutup niqab berwarna putih, serta riasan yang sederhana namun tetap memperlihatkan sosok anggun wanita itu.


Namun, Sepertinya Debby tidak benar-benar menikmati acara hari ini. Walaupun dia menebar senyum, yang terlihat dari matanya yang menyipit. Namun mimik wajah kesedihan masih saja nampak.


Tangan Rumi bergeser, ia meraih tangan Debby menggenggamnya. Membuat Debby menoleh dan mendapati senyum Rumi mengembang dengan sangat indah. Dia nampak lebih tampan rasanya, itu menurut pemikiran Debby.


"Kamu kenapa?" Tanya Rumi.


"Nggak papa. Kak." Jawabnya singkat. Debby membalas meremas tangan Rumi.


"Aku memahami. Nanti ceritakan semua keluh kesah mu pada ku, ya."


Debby tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. Dia sebenarnya sedih, karena momen bahagia ini ia lalui tanpa satupun dari anggota keluarganya, terkecuali Bibi Maryam. Gadis itu mengangguk, lalu menunduk lagi.


"Terimakasih, sudah memilih ku. Kak Rumi." Balas Debby, berbisik juga. Rumi mengusap-usap tangan Debby dengan ibu jarinya.


"Sama-sama, hadiahnya nanti ya." Ledek Rumi, dengan suara yang semakin lirih. Sehingga membuat Debby terkekeh.


"Hadiah apa?"


"Sebuah pelukan dari ku." Jawab Rumi, yang lantas membuat keduanya tertawa pelan bersama. "Mau kan?" Tanya Rumi lagi.


"Mau. tapi boleh request, tidak?"


"Apa?"


"Yang lama, buat membalas jarak satu meter mu dulu."


Rumi melebarkan senyumnya, seraya geleng-geleng kepala. Ia pun berbisik. "Kamu ya. Ya Allah." Terkekeh tanpa suara.

__ADS_1


"Apa?" Bernada imut.


"Jangan membuat ku merasa gemas ya."


Debby menutup mulutnya seraya terkekeh. Keduanya masih menikmati ngobrol asik di atas bangku pelaminan itu.


Membuat Nuha senyum-senyum sendiri melihat sodara kembar dan istrinya itu. Walaupun tidak tahu apa yang yang sedang mereka bahas, namun manis saja melihatnya. Sepertinya Rumi sangat bahagia, dan Debby juga.


"Ehemmm..." Faqih berdeham, karena sedari tadi Nuha masih fokus menatap kearah pengantin baru itu.


"Iya, A?" Tanya Nuha, ia meraih Ziya yang sedang di gendong Faqih.


"Ngeliatinnya gitu banget?" Tanya Faqih.


Nuha pun terkekeh. "Gemes saja. Melihat Kak Rumi dan istrinya. tidak seperti saat kita dulu." Ledek Nuha.


"Apa?"


"Hehehe... Jangan salah sangka A'. Dulu? Nuha itu tegang sekali, jangankan untuk bisik-bisik Seperti itu setelah ijab Qabul. Liat A'a saja tidak berani."


"Memang A'a dulu kaku sekali ya?"


"Nggak dulu aja sih, sekarang juga?" Jawab Nuha, jujur.


"Ohhh, jadi? Sekarang masih begitu?"


"Hehe, dikit A'... Sudah ngeliatnya jangan gitu, serem." Nuha menyentuh pipi Faqih memalingkannya.


Faqih menghela nafas. "Nanti A'a tunjukkan yang romantis ya."


"Eh...?" Nuha menelan ludah. Dia menggeleng sembari cengengesan. "Jangan deh A'... A'a tuh sudah romantis." Ucap Nuha, ia sudah merasa ngeri saja melihat senyum jail itu.


"Pokoknya nanti kalau sudah pulang kerumah? A'a tunjukin. Khusus untuk mu, neng."


"Nggak ya A'...? A'a jangan aneh-aneh deh."


"Nggak aneh-aneh. Kan? Neng sendiri yang bilang sekarang masih kaku kan?"


"Dikit, aku ngomongnya."

__ADS_1


"Dikit ataupun banyak sama saja. Intinya nanti di tunggu saja." Tersenyum sinis.


Sementara Nuha hanya mendengus, 'ya Allah, hal ajaib apa yang bakal di lakukan Abi tengil satu ini?' batin Nuha yang sudah semakin ngeri. Sementara Faqih malah justru terkekeh puas, melihat ekspresi wajah sang istri.


__ADS_2