
Rumi berjalan pelan, tujuannya yaitu kembali ke kantor. Mengambil berkas lalu pulang.
Senyum wanita muslimah itu masih terbayang saja, bahkan hingga dirinya mulai membawa laju mobil untuk mendatangi rumah mertuanya.
Berkali-kali dia beristighfar, berusaha mengalihkan wajah wanita itu dengan senyum Debby.
Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, mungkinkah karena rasa rindu teramat kepada Umma Rahma. Sementara wanita itu amat mirip dengan Ummanya sehingga membuat dia terus mengingat garis wajah wanita itu?
"Aku harus secepatnya bertemu Debby," kata Rumi bergumam, sementara mobil masih melaju dengan kecepatan sedang memasuki kawasan perumahan, tempat orang tua Debora tinggal.
Sesampainya di rumah, Debby keluar dengan cepat. Ia tersenyum lebar kepada Rumi, menyambut sang suami dengan rasa bahagia bercampur rindu walaupun hanya sebentar di tinggal bekerja.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," Debby meraih tangan Rumi mengecup punggung tangan itu lembut.
"Papa sudah pulang, belum?" tanya Rumi.
"Belum, Papa pulangnya nanti siang mungkin jam Dua."
"Owh... Baiklah."
"Kita nanti ke Jakarta jam berapa?"
"Ba'da Azhar ya."
"Iya.." jawab Debby, keduanya berjalan bersama. Rumi sempatkan menyapa ibu mertuanya, mengobrol sebentar lalu masuk kedalam kamar Debby.
Ia melihat hiasan salib di kamar itu sudah tidak ada, membuatnya menoleh ke arah Debby.
"Dek? Itu kamu yang nyopot ya?" Menunjuk kearah dinding.
"Enggak, kak. Itu mungkin Mama. Aku kesini sudah tidak ada."
"Owh... Tapi kamu tidak bilang apa-apa 'kan?"
"Nggak lah kak... Debby juga tidak tahu sudah di lepas begitu. Sudah biarkan saja." Debby duduk bersebelahan dengan Rumi, duduk bersila sembari bertopang dagu, menghadap pria itu. "bagaimana hari ini?"
"Alhamdulillah, lancar. Mungkin aku seminggu tiga kali ke Bandung."
"Emmmm... Begitu ya?"
"Iya, tapi aku boleh bicara? Ketika aku di Bandung, kamu di Jakarta tidak apa 'kan? Aku usahakan untuk pulang langsung dek, nggak nginep."
Debby tersenyum ia manggut-manggut. Tanda tidak apa-apa.
"Alhamdulillah, soalnya kalau kamu ikut ke Bandung, aku takut kamu kelelahan."
"Iya kak, aku paham. Aku nggak papa kok. berati nanti bisa main ke tempatnya Tante Maryam atau Mbak Shafa."
"MashaAllah, iya boleh sayang."
Debby melebarkan senyumnya. Yang langsung di balas senyum juga oleh Rumi sembari mengusap-usap pipi Debby.
"Ya Zaujatti, aku mencintaimu."
"Aku juga. Balasnya apa?"
__ADS_1
"Panggil saja Zauji."
"Iya... Zauji." Debby memberikan kode little love dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
"MashaAllah." Rumi menghadiahi kecupan di kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
***
Di Jakarta...
Ustadz Irsyad baru saja pulang mengajar. Beliau membuka kunci rumahnya, mengucap salam lalu termenung sebentar di depan pintu ketika merasakan rumah itu sudah sepi, jika kemarin dia bisa tertawa, saat melihat kedua kaki kecil Ziya yang berlari menghampiri beliau, kini sudah tidak lagi, karena anak itu sudah pulang ke Asemka pagi tadi menggunakan taksi online.
Ya... pagi tadi, Nuha bilang jika hari ini dia harus kembali ke Asemka, sebenarnya dia ingin menginap satu malam lagi. Namun berhubung A' Faqih sakit di rumah, dan tidak bisa pulang ke rumah ustadz Irsyad tadi malam membuat Nuha merasa bingung sendiri. Di mana saat dirinya di rumah Abinya sementara suaminya di rumah sendirian tengah demam. Sempat ia ingin pulang malam itu juga, namun Faqih melarangnya. Itu saja jika Nuha tidak mencecar A'Faqih dengan beberapa pertanyaan mengenai alasan dia tidak ke bekasi, mungkin Faqih tidak akan jujur jika dirinya sakit.
Ustadz Irsyad menghela nafas. Ia berfikir dalam lamunannya, memang teman terbaik dalam hidup adalah pasangan. Karena anak akan memiliki tanggung jawabnya masing-masing, dari situ lah dia sebagai orang tua tidak bisa memaksa mereka untuk tetap menemaninya di rumah. Dan beruntungnya ustadz Irsyad yaitu Ketika beliau masih mengajar, setidaknya dia bisa menghilangkan kesepiannya dengan bertemu anak didik, atau mungkin jamaahnya.
Ustadz Irsyad berjalan perlahan menuju kursi ruang tamu, duduk di sana seraya melepaskan kaos kaki yang masih terpasang di kedua kakinya.
Di lihat kuku kaki itu mulai panjang, sepertinya Jumat kemarin beliau lupa tidak memotong kuku kakinya. Ustadz Irsyad beranjak mendekati salah satu meja yang terdapat laci kecil, ia meraih gunting kuku beserta selembar surat kabar. Menggelar itu sejenak di lantai lalu beliau duduk dengan satu kaki di tekuk sementara satu lainnya menyilang.
"Biasanya, ini tugas Dek Rahma." Ustadz Irsyad terkekeh sendiri, beliau pun mulai memotongi satu persatu kukunya.
(Flashback is on...)
Siang yang yang lumayan panas, tepatnya saat usia Rumi dan Nuha masih sekitar sepuluh tahun. Dua anak itu sedang tidur siang. Sementara Rahma berjalan menuruni anak tangga, dan dapur lah yang menjadi tujuannya.
Setelah sampai, ia membuka lemari pendingin, mengeluarkan satu botol minuman isotonik dari dalam sana. Berjalan lagi menuju meja makan, menuangkannya segelas lalu duduk di kursi itu, meminumnya kemudian.
"Sssstt.... Sssssttt..." Ustadz Irsyad menyandar di pintu masuk dapur memanggil Rahma. Ibu dua anak itu menoleh dengan bibir gelas masih menempel di bibirnya. Rahma menurunkan gelas itu lagi.
"Ya mas?"
"Idih, siang-siang nawarinya begitu."
"Kok siang-siang? Justru kalo siang itu terang."
"Ya ampun mas, panas-panas juga."
Ustadz Irsyad geleng-geleng kepala, beliau mendekati Rahma, menarik pipinya gemas.
"Aaaa... Sakit, ih...!"
"Apanya yang panas-panas? Mas itu baik hati nawarin kamu surga, memang kamu mikirnya apa sih?"
"Ya apa lagi, kalo bukan?"
Ustadz Irsyad hendak menarik lagi pipinya.
"Ampun... Iya, iya. Surga apa?" Terkekeh.
"Surga karena berbakti pada suami."
Rahma melirik curiga. "Mau tausiyah apa mau jail nih?"
"Tuh kan su'udzon?"
"Ya habis, mas itu patut di curigai orangnya."
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim. Dek... Kamu ya?"
"Hehehe maaf... Maaf... Yaudah apa surganya."
"Tangan mu sini."
"Tangan?"
"Iya, tadahkan kedua telapak tangan mu," titahnya.
Agak sedikit ngeri namun Rahma menurut saja, dengan kedua siku bertopang meja, dia menengadahkan kedua telapak tangannya.
Ustadz Irsyad pun tersenyum, beliau lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Setelahnya meletakkan benda kecil yang terbuat dari besi itu ke tangan Rahma.
"Jeeeng... Jeeeng... Hanya bermodalkan ini, kamu bisa mendapatkan ridho ku sebagai suami kamu."
"Apa ini? Gunting kuku?"
"Iya, yuk potongin kuku kakinya Kang mas." Nyengir, sembari menepuk-nepuk dadanya.
"Astagfirullah al'azim,"
"Opo dek? Jangan protes, yuk katanya mau surga."
"Tapi kan?"
"Mau nggak? Ingat, menolak permintaan suami itu apa?"
"Bisaan sekali ya, bapak satu ini."
"Bisa dong..." Tertawa jail. "Yuk, jalan mau motingin kuku di mana ini? Ruang tengah? Ruang tamu? Atau di atas? Kang mas dengan senang hati akan menuruti."
"Hahaha... Enak sekali bapak satu ini ya?" Berkacak pinggang.
"Udah jangan protes, tadi kamu sendiri yang bilang mau surga loh. Mulai sekarang tugas memotong kaki, Mas serahkan ke kamu. Bangga nggak tuh?"
"Bangga dari mananya kaya gitu?"
"Loh, itu penobatan yang penuh keberkahan dek, jangan salah. Ayo udah jalan, dan tunaikan kewajiban mu." Ustadz Irsyad berjalan lebih dulu lalu menoleh, ketika Rahma hanya diam saja. "ayo... Mau jalan sendiri apa di gendong nih."
"Iiiihhh.... Ngeselin ya." Bersungut.
"Ra Popo dek, surga... Surga... Yuk, yuk ntar tak bonusi surga yang lain." Ustadz Irsyad menggandeng tangan Rahma.
"Nggak mau, enak di mas-nya. Jadi dobel-dobel."
"Ibadah dek, surga mu juga dobel nanti."
"Curang...!"
"Hahahaha."
(Flashback is off)
Ustadz Irsyad sudah selesai memotong kelima kuku kakinya. Beliau pun beralih kesatu kaki yang lain.
"Rindunya mas pada mu, dek. Sungguh," gumam ustadz Irsyad, dengan bibir masih tersenyum kecut. Fokus memotong kelima kuku kaki yang lainnya. Setelahnya beliau berniat mengunjungi makam Rahma, untuk melepas kerinduan.
__ADS_1
Bersambung...