
Di sana mereka masih diam, menunggu keputusan dari Rumi.
Hingga tangan Abi Irsyad pun menyentuh bahunya menguatkan, agar anak itu bisa segera memberikan jawabannya.
"Rumi? Bagaimana?" Tanya Ustadz Irsyad. Sementara Rumi kembali menatap Shafa, lalu menghela nafas. Padahal sebelum kesini dia sudah bisa untuk memberikan jawaban. Namun kenapa lidah ini seolah kaku lagi, apa yang membuatnya ragu untuk menerima ta'aruf ini?
Rumi masih berfikir keras dengan hatinya yang tiba-tiba goyah. Tidak bisa di pungkiri sih, sepertinya ada hati lain yang menariknya. Untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.
"Rumi, boleh minta waktu lagi Bi?" Ucap Rumi kemudian, setelah bertarung lama dengan pemikirannya serta hatinya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Ustadz Irsyad.
Shafa pun menunduk, ada sedikit rasa kecewa di hatinya, namun ia tahan itu sebisanya. Jangan sampai terlihat raut wajah sedihnya di depan semua keluarga.
"Karena Shafa juga pasti sama. Kita harus memikirkan dulu semuanya. Lalu memutuskan. Bukan begitu Fa?" Tutur Rumi, Shafa pun mengangguk pelan.
"Iya." Jawabnya kemudian. Hanya itu yang bisa ia ucapkan, ketika bibir sudah tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata lain.
Dia memahami situasi di sana sepertinya. Dan sebagai wanita, bukankah tidak ada hak untuk menolak apalagi memaksa? Biarlah keputusan ada pada Rumi, yang sepertinya masih ragu akan ini.
Mendengar itu Rumi langsung menghela nafas, lega. Dan karena jawaban dari Rumi itu pula, Ustadz Irsyad ataupun Ulum pun tidak bisa memaksakan lagi. Sehingga mereka segera mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain demi mencairkan suasana.
Yang saat itu membuat Shafa langsung beranjak. Ia tersenyum pada semua yang ada di sana lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya lagi.
Namun Rumi itu bukan seorang pria yang tidak peka, dia tahu jika Shafa pasti sedikit kecewa. Masalahnya keyakinan hati Rumi untuk Shafa sama sekali tidak ada. Dan dari pada memutuskan dengan cara terburu-buru, lebih baik kembali memikirkan, bukan? Karena menikah itu adalah ibadah terlama dalam hidup, sementara Rumi tidak ingin menodainya, yang bisa saja akn menyakiti hati pasangannya.
Ia pun menggeleng pelan dengan bibir bergumam mengucap istighfar, sehingga membuat Faqih segera memberi kode untuk mengajaknya keluar, dan langsung di turuti oleh Rumi. Mereka pun berjalan keluar, duduk di kursi teras.
__ADS_1
Di depan...
Rumi dan Faqih masih terdiam sejenak, karena memang Faqih sepertinya bingung ingin memulai pembicaraan ini dari mana.
"Aku pernah berada di posisi, ketika hendak di jodohkan dengan seorang akhwat yang sama sekali tidak membuat ku merasa bergetar." Gumam Faqih, sementara Rumi yang berada di sebelahnya hanya terdiam, menatap lurus kedepan. "Sempat memaksa sih, untuk berusaha menyukai dia. Tapi tidak bisa... Sampai akhirnya aku bertemu lagi dengan Nuha, dan hati ku semakin tidak bisa menerima kehadiran wanita itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menikahi adik mu, ya karena hati ku lebih memilihnya bukan wanita itu. Mungkin itu lah yang di sebut bukan jodoh. Karena yang namanya ta'aruf belum tentu bisa semulus itu jalannya. Mau tidak mau, wanita itu harus menerimanya jika si Ikhwan ternyata tidak cocok, walaupun harus kecewa. Begitu pula sebaliknya, jika si akhwat lah yang tidak bisa menerima kita." Sambungnya.
Rumi menghela nafas. "Lalu? Bagaimana cara A'a menolak? Aku tidak enak sebenarnya."
Faqih tersenyum. "Ya... Mempunyai sifat tidak enakan itu baik. Namun, sebisa mungkin jangan beri harapan pada wanita itu. Karena sifat mereka mudah bawa perasaan... Kalau dulu, aku selalu menghindari dia, karena aku cuek sih orangnya. Realistis saja, kita juga berhak memilih yang sesuai dengan hati kita. Bagaimanapun juga pernikahan itu maunya ya yang seumur hidup sampai ke Jannah. Lagi pula, aku tidak ingin menyakiti dia jika aku tidak bisa memberikannya cinta yang tulus."
"Yang ku tahu dia itu saudara A'... Kalau dari awal sudah kenal sebagai orang asing mungkin aku bisa. Terlebih, yang ku dengar dari Abi? dia mengagumi ku." Menunduk lesu, Karena semakin merasa tidak enak hati, juga tidak tega jika harus menolak.
"Itu ujian mu... Dan kau harus benar-benar mengambil keputusan, sesuai hati nurani. Karena sebuah pernikahan jika saling menyakiti itu bisa di sebut haram. Kamu tahu kan, ketika kita belum menikah godaan syaitan itu tidak seberapa, lalu setelah menikah ribuan kali lipat lebih dengan segala tipu daya mereka untuk menjerumuskan kita sampai pada titik di mana adanya perceraian. Itulah kenapa Allah tidak mengharamkan perpisahan namun malah membencinya. Sementara setan akan bersorak Sorai dengan itu." Tutur Faqih, yang langsung membuat Rumi terdiam. "Sekarang, bagaimana? kau sendiri bahkan sudah tahu tentang dia yang mengagumi mu, Apa kau bisa berusaha memberikan hati mu kepadanya?"
"Aku sudah berusaha, tapi sepertinya tidak bisa A'... Aku sudah menganggap Safa itu saudara." Jawabnya, mereka berbicara dengan suara yang sangat pelan, setengah berbisik.
Rumi terdiam, ia mengingat ekspresi kesedihan Shafa yang ia tangkap saat berjalan masuk, namun gadis yang lain? Rumi merasa gila sendiri saat ini. Kenapa dia bisa terjebak dalam situasi yang sepertinya sulit untuk dia memilih. Padahal jika dia mau memberi keputusan itu amatlah mudah.
Bersamaan dengan itu, Debby keluar dengan di temani Shafa dan juga Qonni. Rumi yang masih di bangku teras pun menoleh sejenak lalu kembali menunduk.
Sementara Debora sempatkan untuk berpamitan dengan dua orang pria di sana lalu melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu.
Di dekat mobil Debby, dua gadis itu berpelukan. Debby yang mengucapkan selamat tinggal dengan Shafa yang membalas itu dengan jawaban hati-hati, mengakhiri waktu pertemuan mereka di waktu yang sudah semakin siang ini.
Sejenak, sebelum masuk kedalam mobil Debby sempatkan menoleh ke arah Rumi.
'aku memang mencintainya, tapi aku tidak se-agresif dulu. Aku paham sekarang, jodoh itu tidak bisa di tentukan oleh hati kita sendiri. Semua sudah ada garisnya masing-masing, seperti kematian. Dan aku hanya berharap, kalian bahagia, jika takdir mempersatukan kalian dalam sebuah pernikahan.' batin Debby, ia pun membuka pintu mobilnya lalu masuk. Karena dia memang sudah ikhlas sebenarnya, dari awal dia memutuskan untuk menjauhi Rumi. Baginya mendapatkan cinta Rabbnya itu jauh lebih menenangkan jiwa, bahkan ia pun tak merasakan sesak di dadanya.
__ADS_1
Shafa melambaikan tangannya, pada mobil yang sudah melaju semakin menjauh itu. Lalu setelahnya melirik ke arah Rumi, yang kedapatan tengah menatap mobil itu yang sudah menghilang dari pandangannya.
Shafa pun langsung menunduk lesu, dia ingat saat Rumi membelikan hijab untuk Debora. Lalu ketika mereka buka puasa bertiga di salah satu restoran siap saji. Memang pandangan Rumi lain kepada Debora.
Mata Shafa pun berkaca-kaca. 'salah... Ini salah, tidak seharusnya begini... Tidak seharusnya.' ia menggerak-gerakkan bola matanya menahan genangan air di sudut matanya itu, ketika menyadari sesuatu.
–––
Selang beberapa waktu kemudian...
Keluarga Irsyad pun berpamitan, membuat Rumi turut beranjak.
Di lihat sang ayah tengah berpelukan dengan Ulum, sama halnya juga Rahma bersama Aida.
Rumi pun berdeham sejenak, "Bi–" panggilnya. Yang seketika itu membuat Ustadz Irsyad menoleh. "Rumi mau di sini dulu, mengobrol sebentar dengan Shafa. Ada yang ingin Rumi sampaikan. Boleh?"
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Ngobrolnya di luar ya. Tetap jaga pandangan mu."
"Iya Bi." Jawab Rumi. Irsyad pun mengeluarkan kunci mobilnya, lalu menyerahkannya kepada Rumi.
"Abi bareng Nuha sama Faqih saja. Mobil Abi? kamu saja yang bawa ya." Tutur Beliau.
"Iya Bi, terimakasih." Rumi tersenyum. Setelahnya Ustadz Irsyad mendekati, dia berbisik sesuatu.
"Abi tak memaksa mu, mengobrol lah sebentar demi memantapkan hati mu, setelah itu putuskan. Namun usahakan jangan sampai kau melukai Shafa." Bisiknya seraya memeluk.
"Iya... Iya Bi." Rumi mengiyakan, Abi Irsyad tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Rumi pelan. Lalu melangkah mendekati Rahma menggandeng sang istri untuk berjalan mendekati mobil Faqih. Di susul dengan Ulum dan Aida yang mengantarkan keluaga Ustadz Irsyad sampai ke kendaraan mereka.
__ADS_1