
Di dapur itu, semua sibuk mengolah makanan.
Abi Irsyad memang paling pandai jika sudah mengolah makanan, itu sebabnya beliau lah yang menjadi Lider di dapur itu.
"Abi setiap hari masak?" Tanya Nuha, yang tengah mengupas bawang untuk tambahan sambalnya.
"Nggak Dek. Abi seringkali di kasih sama Bu lek wati, atau mungkin makan bareng santri. Makan masakan mereka," jawab Abi Irsyad.
"Masakan mereka? Memang mereka masak sendiri, Bi?" Tanya Debby yang penasaran dengan kehidupan para santri.
"Iya Nduk, sistemnya seperti piket. Jadi di bagi beberapa kelompok, siapa yang hari itu dapat jatah masak makanan santri ya? mereka harus siap mengolahnya tanpa terkecuali."
"seberapa banyak yang di masak, Bi?" pertanyaan demi pertanyaan dengan rasa ingin tahu terus tercecar dari bibir Debby.
"Kadang sehari bisa memasak lebih dari dua puluh kilo beras." Jawab Ustadz Irsyad.
"Banyak banget." Debby sedikit tercengang.
"Kan santrinya banyak, biasanya yang ke jatah masak nasi yo santri laki-laki. Perempuannya yang bikin lauk pauknya. habis itu nasi berserta lauk pauk yang telah matang itu akan di bagi ke beberapa tampah yang sudah di alasi daun pisang, jadi sistemnya bareng– satu tampah itu untuk enam sampai delapan santri."
"wah..." Debby nampak tertarik, karena sepertinya lucu juga ya makan seperti itu.
"iya Itu cara mendidik mereka agar lebih mengutamakan kebersamaan, mandiri dan prihatin. Jadi nggak ada tuh, santri makan di luar, semua harus makan di dalam pondok bersama-sama dengan hasil olahan temen-temen mereka seperti apapun rasanya."
"Berarti mereka bisa masak semua dong Bi?"
"Nggak semuanya, baru beberapa hari yang lalu kita makan nasi bau angus, tapi kita tetap harus makan." Abi Irsyad terkekeh saat mengingat itu.
Mereka yang di sana manggut-manggut, dan lantas melanjutkan olahannya yang tinggal sedikit lagi matang. Sembari haha hehe bersama.
.
.
__ADS_1
.
Sore harinya...
Nuha kini sedang memandikan kedua anak kembarnya, yang langsung di bantu oleh A' Faqih. Setelah itu A' Faqih menggendong kedua anak kembar mereka membawanya keluar, tinggal lah Ziya yang mendapat giliran mandi. Setelah semua selesai Nuha menghela nafas, dia benar-benar lelah hari ini.
Karena sejak kedatangannya siang tadi. Wanita itu belum istirahat, belum lagi mengurus si kembar, dan turut memasak juga.
Nuha menghela nafas, ia duduk sejenak meluruskan kakinya yang terasa pegal. Hingga pintu kamar yang terbuat dari kayu jati itu terbuka.
A' Faqih masuk, sembari menggandeng tangan si kembar.
"Neng, cape pasti? Istirahat dulu saja, tidur sebentar. Nanti A'a bangunin." Faqih mengusap kepala sang istri yang tertutup jilbab. Gadis itu tersenyum.
"Sebentar lah A' tanggung. Kasian Ce Debby juga belum selesai."
"Tadinya aku sama Rumi mau ajak Abi ke kota, buat cari makanan di sekitar alun-alun. Tapi nggak tahunya Abi malah masak."
"Abi memang ingin menyenangkan kita, makanya beliau bersemangat sekali saat hendak memotong ayam tadi. Dan lagi, tadinya juga Abi sebenarnya nggak mau di bantuin, maunya masak sendiri. Tapi kan kasihan–"
"Nggak papa A'... Abi malah senang."
"Ya sudah... si kembar biar sama A'a. Kamu lanjut lagi saja, sudah hampir selesai kan?" Tanya Faqih sebelum mendaratkan kecupan di kepala Nuha. Gadis itu mengangguk pelan.
"Aaiiiizzz.... Aaiiiizzz..." Fawwaz menarik-narik baju Faiz agar mau turut keluar dengannya. Namun anak itu malah sedang berusaha untuk naik ke atas ranjang, di sebelah Ummanya. Nuha pun mencium dia anak aktif itu lalu menitipkan keduanya pada Faqih, sementara dirinya harus kembali ke dapur membantu kakak iparnya memasak walaupun tidak banyak karena hanya tinggal mematangkan opor ayam kampung buatan Abi Irsyad, dan kini Debby tengah membuat teh manis untuk persiapan berbuka nanti.
Hingga berselang beberapa menit, Ziya berlari menghampiri Ummanya di dapur yang tengah menyiapkan piring-piring.
"Umma– Umma–" seru anak itu sembari masuk lalu menarik-narik gamis Nuha.
"Ya neng? Sebentar, Umma lagi bawa piring."
"Dede Umma, bajunya kotor. Main debu–" tutur gadis kecil itu, yang lantas membuat Nuha menoleh cepat.
__ADS_1
"Main debu? Ya Allah... Dimana?"
"Di depan sana–"
"Ya Allah A' Faqih..." Nuha bergegas meletakkan piringnya di atas meja. "Ce, sebentar ya. Anak-anak kalau main sama Abinya itu suka bikin nggak tenang hati."
"Ya ampun... Hehehe, iya Nuha." Debby terkekeh saat melihat ibu tiga anak itu berjalan cepat keluar dari dapur.
Di luar...
Nuha berkacak pinggang sembari menghela nafas di depan pintu, melihat suaminya malah asik mengabadikan momen anak kembarnya itu saat saling menggenggam debu di tangan mereka.
"Bales A'... Ye– meni diem wae, eta si Faiz ngasih debu." Faqih terkekeh, melihat tingkah lucu Faiz yang sudah menggenggam debu pasir di kedua tangannya lalu meletakkan di bagian kepala Fawwaz yang tertutup peci abu-abu, sedang duduk dengan kedua kaki di luruskan bergerak-gerak dengan arah yang bertolakbelakang, menyapu tanah itu dengan kedua celana panjangnya.
"Jangan di kepala, Faiz... Sok di kaki A'a aja." Faqih sedikit menahan tangan kecil itu, lalu menariknya pelan dengan satu tangan.
"Allahu Rabbi– A'a... Ya Allah, ya kareem...." Seru Nuha, ia kini berjalan cepat menghampiri.
"Waduh, Umma datang." Faqih bergegas memasukkan kembali ponselnya ke saku.
"A'... Kok di biarin sih mereka main debu tanah ini?" Nuha mengangkat tubuh Fawwaz untuk berdiri lalu melepaskan pecinya yang sedikit terkena debu.
"Nggak sengaja neng. Itu tadi Fawwaz jalan ke situ terus jatuh. Nah pas A'a mau nolongin si Faiznya malah sudah duduk sambil mainan debu itu juga. Di bangunin nggak mau, ya udah lah A'a biarin, dari pada nangis."
"Ya mending nangis lah A'... Dari pada kotor lagi. mereka kan sudah mandi, A' ya Allah–" Nuha merengek frustasi, belum hilang lelahnya sudah di buat semakin lelah saat melihat kedua anaknya kotor lagi.
"Sudah jangan mengomel, nanti A'a yang mandiin. Lihat tuh, Fawwaz nangis kan?" Faqih berjongkok mendekati salah satu anak mereka yang merengek itu.
"Lagian kenapa bisa mereka ke sini? Tadi bukannya lagi main di kamar?"
"Mereka kan aktif neng– lagian berani kotor itu, Baik." Faqih menjawab santai. Dimana bibir Nuha semakin maju karena kesal.
"Bisa saja ngejawabnya, A'a mah– mandiin lagi sana anak-anaknya atau kalau nggak di lap-lap aja terus gantiin baju, sudah hampir buka nih." Nuha sedikit menghentak kesal.
__ADS_1
"Iya... A'a tanggung sorangan nih. Buat mandiin Fawwaz dan Faiz. Kalau perlu Ummanya sekali," bisik Faqih di akhir sebelum terkekeh menghindari pukulan gemas Nuha di bahunya. Nuha pun geleng-geleng kepala, turut senyum-senyum. Memang di sini yang aktif tidak hanya anak-anaknya Abinya juga. sepertinya hehehe...