Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
berbicara empat mata dengan Abi (2)


__ADS_3

Di dalam ruangan itu, ke-duanya masih terdiam. Rumi dengan perasaan tidak enaknya ketika Abi Irsyad memilih untuk meraih remote tv dan mengganti channelnya. Ke salah satu acara komedi.


Beliau masih diam saja, tidak menjawab sama sekali. Bahkan tertawa santai pada saat pelawak di dalam acara tersebut mengeluarkan banyolan mereka.


"Abi, maafkan Rumi ya. Rumi tidak bermaksud melukai perasaan Abi. Rumi tidak seharusnya berbicara seperti ini. Padahal Rumi tahu, Abi masih sangat mencintai Umma." Anak itu tertunduk.


Sementara Abi Irsyad langsung mengecilkan volume Tv-nya, hingga ke mode mute. Lalu menyentuh pundak Rumi.


"Kamu tidak salah. Apa yang kamu ucapkan itu juga sama sekali tidak menyakiti Abi. Itu adalah wujud perhatian mu, Abi menghargai itu, Nak."


"Maafkan Rumi yang lancang Bi. Rumi paham perasaan Abi. Abi terlihat baik-baik saja, tapi hati Abi sakit. Apalagi, Nuha dan Rumi sudah memiliki kehidupan baru. Walaupun kami berusaha memberikan waktu kami untuk Abi, tetap saja Abi tidak sebahagia ketika Abi punya pasangan hidup."


"MashaAllah..." gumamnya, dengan bibir tersenyum haru.


"Kamu tidak lancang. Kamu pun tidak salah." Beliau menghela nafas sejenak, menatap kearah foto keluarga yang terpajang di ruangan itu. Di mana posisi mereka berdua berada di tengah-tengah. Sementara Nuha di sebelah Abinya, dan Rumi di sebelah Ummanya, saling memeluk.


Dulu... Mereka mengambil potret itu di rumah mendiang orang tua Rahma di Priok, saat dua anaknya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Senyum cerah Rahma yang tertutup kain cadar berwarna hijau tosca, membuat pikiran Irsyad berkelana. Ia masih merasakan ranumnya bibir Rahma ketika di sentuh oleh bibirnya sendiri untuk pertama kalinya. Ustadz Irsyad tersenyum, mengingat kenangan itu. Hari dimana dia menyentuh seorang wanita satu-satunya yang ia gauli selama ini.


"Untuk saat ini hati Abi masih bertaut pada Umma. Cinta Abi masih utuh. Bahkan semakin bertambah, di detik-detik terakhir Abi bersama Umma. Rasa takut ketika Umma akan meninggalkan Abi, ketika melihat tatapan yang mengarah pada Abi di saat-saat terakhirnya. Semua masih tergambar jelas... Berbarengan dengan momen-momen kebersamaan Umma dan Abi di masa lalu, turut menjadikan hati ini tidak ikhlas untuk melepaskannya. Hati Abi perih, saat genggaman tangan Umma merenggang. Iya... Saat itu lah Umma berpamitan, lalu selesai sudah tugas dia sebagai isteri Abi di dunia."


Rumi yang mendengar itu, menitikkan air matanya. Melihat Abi yang bercerita dengan tatapan kosong, namun bibirnya tersenyum.


"Abi masih sangat mencintai Umma. Dan tidak terukur seberapa besar cinta itu tumbuh di dada ini. Tapi, walaupun begitu Abi tidak bisa sesumbar dan berbicara tidak akan pernah menikah lagi. Karena mau bagaimana pun juga, Abi memang butuh seseorang yang bisa menjadi teman hidup Abi setelah Umma. Karena itu manusiawi, ketika Abi masih memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Tapi mungkin tidak untuk saat-saat ini. Entah beberapa tahun atau mungkin bulan yang akan datang. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan. Allah SWT punya banyak cara menyusun jalan hidup manusia, dan Abi sebagai manusia hanya bisa menerima itu."


Rumi termenung. Ia tersenyum penuh kekaguman. Dan berusaha mengambil sisi baik dari sikap Abinya. Yaitu kesetiaan yang hanya mencintai satu wanita dalam hidup beliau.


"Rumi kagum sama Abi," ucap Rumi.

__ADS_1


"Hahaha... Kagum bagaimana?"


"Abi bisa mempertahankan rumah tangga. Selama ini. Bahkan Rumi tidak pernah mendengar pertengkaran Abi dan Umma."


"Kata siapa Abi tidak pernah bertengkar dengan Umma."


"Ya setahu Rumi, Abi tidak pernah marah sama Umma. Tidak pernah membentak Umma."


"Abi pernah lah melakukan itu. Cuma memang Abi tidak mau melakukannya di depan kalian." Abi Irsyad mengusap kepala Rumi, ke-duanya terkekeh. "Pelajaran untuk mu, se-marah apapun kamu terhadap isteri mu, jangan pernah sekalipun kamu membentaknya di depan anak-anak mu apalagi di depan umum. Kita tetap wajib menjadi pakai untuk pasangan kita. Lemah lembut lah ketika berbicara. Diamnya Abi ketika Umma mengomel itu bukan berarti Abi kalah sama Umma. Hanya karena memahami sifat alami wanita itu seperti asalnya yaitu rusuk yang bengkok. Mau Solehah seperti apa, wanita pasti akan tetap bengkok. Jadi diamkan saja, selagi masih dalam batas wajar."


"Iya Bi... Rumi sedang mengusahakan menjadi seperti Abi. Dan mengamalkannya pada istri Rumi."


Ustadz Irsyad tersenyum. "Bagus kalau begitu. Ya sudah sana masuk. Sudah pukul sebelas malam. Kali saja isteri mu belum tidur."


"Iya Bi. Abi mau janji sama Rumi?"


"inshaAllah... Memang janji apa?"


"Hahaha... Ngomong opo to ngger? Emang Abi tidak terlihat bahagia? Tentu Abi bahagia. Dan bersyukur, karena masih ada dua anak, dua menantu dan satu cucu. Tinggal nunggu cucu dari kamu."


Rumi tersenyum kecut ketika pundaknya di tepuk-tepuk pelan. Benar ini sudah lebih dari delapan bulan sejak pernikahannya, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda Debby mengandung.


"Hei... Ngelamun apa?" Abi Irsyad membuyarkan lamunan Rumi. Membuat anak sulungnya itu terkekeh lagi.


"Nggak ngelamun apa-apa, Bi."


"Jangan pikir Abi bicara seperti tadi itu karena ingin buru-buru. Sedikasihnya saja, karena rezeki itu kita tidak pernah tahu kapan datangnya."


"Iya Bi, inshaAllah Rumi paham."

__ADS_1


Abi Irsyad tersenyum. "Ya sudah sana, naik. Istirahat saja, kamu pasti lelah sekali."


"Iya Bi. Rumi naik ya. Abi juga istirahat, jangan tidur di sofa."


"Nggak papa, adem di sini. Abi malah enak tidurnya."


"Bi, nanti masuk angin. Sudah masuk saja," titah Rumi. Sementara Abi Irsyad pun tersenyum tipis menuruti, beliau beranjak sembari mematikan televisinya lalu berjalan mendekati pintu kamar beliau.


Rumi pun mematikan lampu-lampu yang tak terpakai lalu melenggang pergi menuju tangga untuk beristirahat.


–––


Di dalam kamar...


Rumi mendekati Debby, gadis itu sudah tidur dengan posisi tangan masih memegangi ponsel.


Sepertinya ketiduran? Rumi meraih ponsel di tangannya. Lalu tidak sengaja menekan tombol samping, sehingga layar itu menyala.


Rupanya sang isteri sedang masuk ke salah satu menu note. Ada catatan yang belum selesai.


Isinya? Membuat Rumi tercenung...


(Abbas... Entah mengapa aku suka nama itu, kalau rahim ini terisi aku ingin memberikannya nama itu. Hehehe Walaupun aku tidak yakin akan memiliki anak laki-laki. Namun aku berharap kepada Allah SWT semoga...) Kata-kata dalam catatan itu terputus karena mungkin Debby langsung tertidur.


Rumi pun meneruskan catatannya, tepat di bawahnya, tanpa mengurangi catatan di atas.


(Ya Rabb anugerahkanlah pada kami dari sisi-Mu keturunan yang thoyyib yaitu anak yang sholeh. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. Aamiin.)


Rumi tersenyum, ia mematikan ponselnya lalu meletakkan di meja. Ia lantas menyentuh bagian perut Debby mengecup lembut kemudian. Ia mengangkat kepalanya, melihat tubuh Debby menggeliat pelan. Rumi pun mengusap lembut kepala sang istri.

__ADS_1


"Semoga secepatnya ya sayang, kita di beri keturunan." Gumam Rumi, ia pun masuk ke selimut yang sama dengan Debby, mengangkat kepala sang isteri pelan demi bisa menyusupkan tangannya di bagian leher lalu memeluk tubuh mungil Debby. Rumi pun memejamkan matanya tertidur. Setelah seharian lelah, kini tubuhnya pun bisa beristirahat.


Bersambung...


__ADS_2