Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
rasa bersalah


__ADS_3

Malam ini, Ustadz Irsyad memakai jaketnya. Beliau hendak mengunjungi keluarga Ulum, karena perasaan bersalah masih saja menyeruak di dada.


Membuat dia memutuskan untuk bersilaturahmi langsung, walaupun dia sendiri sudah meminta maaf berkali-kali. Namun hal itu tak membuat beliau lega begitu saja.


Rahma berjalan, mendekati Ustadz Irsyad. "Mas. Rahma ikut ya?" Ucapnya, dengan tatapan sendu. Karena Rahma pun sama, merasa tidak enak hati dengan keluarga Ulum.


Ustadz Irsyad tersenyum, beliau mencium kening Rahma lembut. Perasaan syukur karena istrinya sudah mulai membaik membuatnya semakin menyayangi Rahma. Dan takut jika istrinya kembali sakit.


"Jangan, Rahma. Kamu harus banyak istirahat... Mas bisa sendiri."


"Tapi Rahma ingin meminta maaf sama Aida langsung, sudah beberapa hari ini. Telfon Rahma tak di jawabnya, dia bahkan tidak membaca pesan chat Rahma." Menunduk sedih.


"Mungkin dia sibuk, dek." Irsyad mencoba menghibur, agar Rahma tak berfikir buruk.


"Tapi aku kenal Aida, sesibuk apapun dia? Kalaupun sampai panggilan telepon Rahma tidak terjawab, dia pasti menghubungi kembali. Aida pasti marah sama kita."


"Jangan su'udzon. Buktinya Ulum masih mau bersikap baik kan? Mereka bukan keluarga pendendam, sayang. Mas yakin."


"Iya... Tapi aku tetap ikut, aku mau ikut mas."


"Dek, angin malam nggak baik untuk mu. Kamu gampang kambuh kalau merasakan dingin kan? Mas nggak mau kamu sakit lagi. Jadi nurut ya? Mas nggak lama kok." Ustadz Irsyad mencium pipi Rahma lembut. "Sudah, mas jalan dulu. Kamu di rumah sama Rumi ya." Ustadz Irsyad menyodorkan tangannya, yang langsung di raih Rahma, mencium punggung tangan tersebut.


"Assalamualaikum." Ustadz Irsyad mengusap-usap kepala Rahma. Yang di jawab dengan gumaman Rahma, ibu dua anak itu pun berjalan pelan menuju ranjang, untuk merebahkan dirinya. Sesaat setelah Ustadz Irsyad keluar dari kamar mereka.


"Aku sudah lelah tiduran terus. Kapan aku bisa benar-benar sehat, tanpa bantuan tongkat dan kursi rodanya. Naik tangga saja belum kuat." Rahma sedikit mengeluh, sembari memijat-mijat kakinya pelan.


Hingga tak lama, pintu kamar itu terbuka dan masuklah Rumi dengan tampang sedih tergambar jelas di wajahnya.


"Umma... Maaf ya Umma." Rumi meraih tangan kanan Rahma, menciumi punggung tangan itu berkali-kali. "Maaf Umma... Rumi sudah mengecewakan Umma dan Abi, Rumi sudah membuat kalian malu. Serta mendapatkan masalah."


Rahma menggeleng pelan, di raihnya tubuh Rumi yang bergetar, lalu di pelukannya erat. "Nggak sayang, kamu tidak membuat masalah, kamu tidak membuat Umma dan Abi kecewa. Itu hak kamu, sungguh Rumi."


"Tapi Rumi merasakan, hubungan Abi dan Bu lek Aida jadi tidak baik." Tutur Rumi, suaranya serak. "Rumi harus bagaimana Umma, Rumi tidak ada rasa dengan Shafa... Kalau Rumi memaksakan diri untuk menikah dengannya, yang ada Rumi akan berdosa, karena sudah melukai Shafa. Setan tidak hanya membisikan hati, serta mempengaruhi pikiran saja, mereka juga hidup di aliran darah Rumi. Takutnya, hati ini terhasut sesuatu yang haram Umma. Akibat meresapi perasan yang tidak baik, bersama wanita lain."


"Umma memahami Rumi, kamu tidak salah. Sungguh... Hidup ini adalah pilihan, dan kamu berhak memilih jalan hidup mu sendiri. Termasuk calon istri mu." Ucap Rahma memenangkan Rumi.

__ADS_1


"Jujur Umma, Rumi tidak ada niatan melukai Shafa dan keluarganya. Wallahi Umma..." Terisak-isak.


"Iya... Iya Rumi. Jangan seperti ini, nak. Jangan membuat Umma sedih, kamu tidak bersalah." Umma Rahma mempererat pelukannya, ia pun turut menangis tidak tega melihat putranya itu. Yang di penuhi rasa bersalah.


"Maaf Umma, maaf." Rumi masih saja bergumam, sembari terisak. karena perasaan bersalahnya kepada semua orang yang ia sayangi. Dia bahkan merasa tidak enak dengan keluarga dari Shafa, lebih-lebih perasaan bersalahnya terhadap Shafa itu sendiri.


Beberapa menit berlalu, Rumi sudah mulai tenang. Rahma pun tersenyum, bersamaan dengan itu Rumi langsung mengusap air mata ibunya. Lalu menciumi kedua pipi Rahma.


"Siapa akhwat itu?" Tanya Umma tiba-tiba.


"Dia?" Rumi bergetar saat ingin menyebutkan namanya. "De... Debby." Jawabnya lirih. Rahma tersenyum tipis.


"Sepertinya tidak asing dengan nama itu?" Dia seperti pernah dengar, namun di mana.


"Iya... Umma kan, sudah pernah bertemu."


"Di mana?"


"Di rumah Shafa," Jawabnya.


"Oh.... Ya Allah, gadis imut? Yang kemarin di rumah Shafa itu? Yang menggunakan hijab panjang berwarna hitam?" Tanya Rahma bersemangat. Rumi tersenyum tipis, lalu menunduk. "MashaAllah, anak ini... Kamu menyukainya?"


"Iya... Umma lupa. Kamu kan, seperti Abi hehehe. Ya Allah...." Rahma terkekeh. Kini suasana terasa lebih hangat. karena memang? Dalam hal mencairkan suasana, Ummanya sangatlah handal. "Kalau begitu, Umma bilang ke Abi ya. Untuk melamar anak itu saja."


Rumi terdiam. Dia pun menunduk, meraih tangan Ummanya. "Sepertinya, akan sulit Umma."


"Kenapa?"


"Rumi kan, pengangguran. S2 saja, tidak lulus. Sedangkan dia... Bekerja di salah satu perusahaan bonafit."


"Hei... Jangan minder gitu. kan bisa, kamunya cari kerja terus sambung lagi kuliah. Kamu itu kan cerdas Rumi..." Rahma mengusap bahu putranya itu.


"Iya... Tapi tetap saja. Ada yang lain lagi Umma?"


"Apalagi?" Tanya Rahma penasaran.

__ADS_1


"Masalah latarbelakang dia." Jawab Rumi lirih.


"Latarbelakang, Maksudnya....?"


"Umma, sudah dengar kan kemarin? Kalau dia mualaf?" Tanya Rumi. Rahma pun mengangguk. "Nah... masalahnya, Rumi sendiri masih belum mengenal dengan jelas tentang keluarganya itu. Yang pasti, yang Rumi tahu. Dia anak seorang pendeta Keturunan Tionghoa, yang tinggal di Bandung."


"Astagfirullah al'azim." Gumam Rahma, menutup mulutnya. Rumi pun mengangkat kepalanya, menangkap perubahan ekspresi wajah ibunya.


"Umma pasti, tidak setuju kan?" Rumi kembali ragu.


"Bukan begitu, pasti akan sangat sulit, Rumi." Jawab Umma Rahma. "Coba lah solat malam, kamu pikirkan matang-matang lagi."


"Rumi sudah berusaha meminta petunjuk. Dan hati Rumi semakin yakin dengannya. Tidak dengan Shafa Umma."


Rahma terdiam sejenak, lalu kembali membuka suaranya. "Apa dia berpindah keyakinan, atas persetujuan orang tuanya?" Tanya Rahma.


"Entahlah... Rumi sudah tiga tahun tidak bertemu, kalau dulu dia bilang? Dia punya seorang Tante yang sampai di asingkan karena berpindah keyakinan. Dan dia sempat khawatir dengan itu."


"Ya Allah..." Gumam Rahma, semakin bimbang. Namun juga iba. "Lalu bagaimana dia bisa berpindah keyakinan, bagaimana dengan dia sekarang?"


"Rumi tidak tahu. Sudah lah Umma... Lupakan saja, seharusnya Rumi tidak mempersulit Abi dan Umma."


"Apa tantenya tinggal di Bandung juga?" Potong Rahma.


Rumi terdiam, dia seolah mengingat kata-kata Debby, jika Tantenya itu tinggal di Jakarta. "Sepertinya, dia tidak tinggal di Bandung Ma. Tapi di Jakarta."


Rahma menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. "Cari tahu alamat Tantenya dulu. Nanti coba Umma rundingan sama Abi ya, kalau Abi setuju. Kita bisa langsung bersilaturahmi kesana."


"Eh... Um... Umma setuju?" Tanya Rumi, tidak percaya.


"Yang penting dia pindah agama bukan karena mu. Melainkan karena Allah SWT. Dan lagi, Umma itu akan selalu menerima pilihan mu?" Umma Rahma tersenyum.


"Beneran Umma? Umma yakin, Rumi boleh menikahi wanita pilihan Rumi?"


"inshaAllah... yang penting, Kita bicarakan ini dulu sama Abi. Lalu bertemu dengan keluarganya. Kita lihat respon mereka ya." Rahma mengusap-usap pipi Rumi yang masih mengembangkan senyum serta berucap hamdalah berkali-kali.

__ADS_1


"Umma? ya Allah Ma... Terimakasih Umma–, Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah." Gumam pria itu, senang. Sehingga dia langsung meraih tangan Ummanya dan mencium punggung tangan tersebut lalu memeluk tubuh ibunya.


Sungguh, rasanya teramat lega. Hanya tinggal menunggu, bagaimana respon Abi Irsyad lalu keluarga dari Debora. Dan semoga saja semuanya bisa berjalan sesuai yang ia harapkan. Tanpa terkendala apapun.


__ADS_2