
Karena sholat ashar tak menyerukan bacaannya, dia hanya bisa mengamati. Dan dalam raka'at ke dua dia baru menyadari. Siapakah ustadz yang menjadi imam di depan.
Namun segera kembali fokusnya pada ibadah yang tengah ia jalani, setelah sesaat goyah.
Mereka pun mengucap salam setelah selesai, berzikir singkat masing-masingnya. Lalu beranjak dari alas sujud itu.
Di luar, Maryam dan Debby memakai kaos kaki mereka. Bersenda gurau bersama, sembari bersantai sejenak.
"Permisi, ukh." ucap seorang wanita yang hendak meraih sepatunya karena berada tepat di bawah kaki Maryam.
"Oh... Silahkan." Maryam menyingkirkan kakinya sejenak. Namun ia lantas terkejut saat mendapati wanita itu adalah sosok wanita yang ia kenal. "Nia?"
Perempuan itu pun menoleh, yang tak lain adalah mantan madunya. Turut terkejut kemudian. "Cici?"
Maryam melihat wanita itu sedang hamil. Ia pun tersenyum "MashaAllah, apa kabar?"
"Baik Ci. Alhamdulillah... Cici bagaimana?"
"Aku pun baik Alhamdulillah."
"Syukurlah..."
"Kamu sedang hamil lagi?" Tanya Maryam ramah.
"Ah... Iya. Alhamdulillah, anak ketiga ku dengan Bang Akhri."
'Akhri?' Debby tercengang, jadi dia istri Om Akhri? Begitu pikirnya.
"Owh... Selamat ya. Lama tidak ku dengar kabar kalian. Rupanya sudah mau punya tiga anak."
"Iya, Alhamdulillah. Cici bagaimana? Apakah sudah menikah lagi? Atau mungkin sudah punya anak?"
Deg...! Maryam meredupkan senyumnya. 'dia kan tahu aku tidak bisa punya keturunan? Kenapa bisa bertanya seperti itu?'
"Aku belum menikah lagi," jawabnya sembari memaksakan senyum.
__ADS_1
"Oh... Begitu ya? Kenapa tidak secepatnya menikah lagi? Cici masih cantik loh. Masih muda lagi."
Debby yang mendengar itu sedikit gusar. Wanita itu Berhijab, tapi sepertinya ucapannya tidak enak sekali pada bibinya itu. Walaupun dengan senyum tersungging.
"Tante, maaf ya?"
"Deb. Jangan ya." Bisik Maryam, karena Dia paham, Debby seperti apa orangnya.
Hingga seorang pria berdiri lumayan jauh dari mereka bertiga, "Dik..."
Maryam mematung seketika, saat mendengar suara pria di belakangnya.
'suara itu? Panggilan itu?' batin Maryam, ia pun menyentuh dadanya. Masih dalam posisi membelakangi, tidak berani menoleh kebelakang.
"Sudah selesai? Ayo pulang." Ajaknya pada Nia. Ya... Dialah ustadz Akhri yang belum ngeh jika wanita yang sedang mengobrol bersama Nia adalah Maryam.
Nia yang saat itu sedang menjinjing sepatunya di tangan langsung melangkah mendekati sang suami.
"Bang... Jadi ke toko peralatan bayi?"
"Iya. Tapi sebelum ini kita makan dulu ya. Aku lapar."
"Hahaha... nggak tahu ini."
"Ya sudah, tapi di restoran X ya."
Deg...! Maryam mengingat, itu adalah restoran favorit dirinya dan Akhri dulu, ia meremas kain hijab di bagian dadanya. Tiba-tiba saja dadanya terasa kembali sesak.
"Hahaha... Iya Dik." Mengusap-usap perut Nia lembut. "Pelan-pelan jalanya Umma, nanti anak Abi ini lelah."
Ucapan Akhri walaupun lirih tapi masih bisa terdengar samar oleh Maryam.
"Hahaha... Yang ada Umma yang lelah Bi."
"Ya kalau lelah nanti Abi pijitin. Kasian istri ku. Yuk jalan."
__ADS_1
'ya Rabbi...' mata Maryam mulai menganak sungai, ia benar-benar tidak berani menoleh sedikitpun. Amat berharap Akhri tidak tahu jika itu dirinya, dan merasa bersyukur saat mereka berdua pergi dari tempat itu.
Debby menoleh sebal kepada dua orang yang sudah mulai semakin menjauh. Sungguh ia geram sekali rasanya. Jika saja tidak di tahan Maryam, mungkin dia sudah beranjak mendekati mereka berdua lalu memaki-makinya.
"Dasar tidak tahu diri." Umpat Debby, gusar.
"Istighfar Deb," titah Maryam yang tengah memakai sepatunya.
"Tante, kenapa diam saja? Tadi Itu sengaja sekali loh. Ya ampun... Akhlak wanita itu tidak ada sepertinya."
"Biarlah... Ayo kita pergi." Maryam sudah beranjak, dan melangkah pelan lebih dulu.
"Tante... Dulu dia seperti itu? Dia itu berhijab panjang loh, istri Ustadz lagi."
Maryam tersenyum. 'apa yang dia lakukan lebih dari apa yang kamu lihat saat ini Deb.' Maryam hanya bisa berbicara dalam hati, sembari terus melangkah.
"Tante. Kenapa diam saja sih?"
"Memang Tante harus apa? Marah-marah gitu? Tante tidak ada hak untuk marah?"
"Ya tapi setidaknya kasih pelajaran lah sama mulutnya itu. Ngomongnya halus tapi penuh sayatan."
"Hahaha..."
"Nggak mencerminkan istri Ustadz, dan ustadz itu pun tidak bisa di jadikan panutan."
"Jangan gitu Deb, Bang Akhri itu suami yang baik. Buktinya dia baik sama istrinya."
"Tapi kan, Dia nggak baik sama Tante. Ih... Sungguh ya." Debby geram sendiri.
"Udah biarin sih. Itu sudah bukan urusan Tante lagi. Ayo pergi, kita makan dulu... Yuk... Yuk..."
"Haaaaah... Nggak ngerti lagi deh sama Tante."
"Hehehe... Sudah... Sudah... Tante aja woles kok."
__ADS_1
Maryam menggandeng tangan Debby membawa anak itu menjauh dari masjid itu menuju tujuan selanjutnya sebelum kembali ke rumah mereka masing-masing.
Bersambung...