Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
Imami aku.


__ADS_3

Pagi sudah kembali. Suara adzan subuh sudah berkumandang, membangunkan Debora yang kini mulai menggeliat.


Perlahan pandangan yang masih buram itu mulai nampak jelas. Senyum hangat sang suami menyambutnya. Dia baru saja mandi, karena saat ini tengah memakai Koko gamisnya.


'wow...' meronta-ronta dalam hati. Lebay sih memang, bisa-bisanya si penulis aja. Hehehe.


Debby memeluk bantal guling lebih erat, menatap dengan rasa cinta yang amat dalam, penuh kekaguman. Senang rasanya melihat Rumi jika tengah memakai Koko gamis. Dia terlihat lebih tampan. Walaupun saat pakai busana biasa juga memang sudah tampan. Namun entah mengapa, auranya lain jika Rumi memakai pakaian yang lebih agamis.


Pujian terus saja meluap-luap dalam hati, mengagumi sang suami yang kini meraih sajadahnya. Lantas menggantungkannya di bahu. Seolah level seratus langsung saja di berikan oleh Debora.


"Mandi sana," titah Rumi, yang sudah berdiri di samping ranjang, mencondongkan tubuhnya lantas menekan-nekan kedua pipi Debby dengan satu tangan. Kesukaan Rumi ya seperti itu. Karena baginya menggemaskan saja, kedua pipi yang di tekan membuat bibir tipis berwarna pink alami istrinya nampak maju. Lebih-lebih ketika diakhiri dengan kesalnya Debby.


"Sebentar lagi. Baru saja adzan 'kan?" jawab gadis itu, seraya melepaskan tangan Rumi, yang masih saja betah menyentuh pipinya yang putih dan mulus itu.


"Dek, jangan menunda-nunda. Sekarang mandi habis itu langsung sholat. Aku ke masjid dulu ya."


"Tunggu Kak, kenapa nggak sholat di rumah saja sih?"


"Aku 'kan laki-laki. Jadi harus jamaah di masjid, Dek."


"Sholat di rumah sih, sekali-kali. Pagi ini saja. Aku pengen solat sama kamu." Menggelayut manja di lengan Rumi.


Rumi menghela nafas. Lalu duduk di sebelahnya.


"Ada waktu Azhar, waktunya aku sholat di rumah sama kamu."


"Tapi aku mau sholat subuh juga. Aku nggak hafal kunut."


"Lah? Kok kamu nggak bilang kalo belum hafal kunut?"


"Masa sih, aku belum bilang kalo aku belum hafal kunut? Sejujurnya, nggak hanya kunut. Tapi, Iftitah juga." Debby menunduk malu, sementara Rumi malah sebaliknya. Ia merasa bersalah karena belum bisa menjadi imam yang baik bagi sang istri.


"Astagfirullah... maaf ya Dek. Aku mungkin kurang memperhatikan mu. Apalagi semenjak aku kerja. ngomong-ngomong sekarang kamu jadi jarang ngaji ya?"


Gadis itu mengangguk.


"Ya Allah... Maaf ya. Untuk kunut, di hafalin lagi, kalau susah? Sementara baca saja doa sapu jagad. inshaAllah nggak papa, asal jangan nggak kunut ya. Walaupun sunah? tapi sayang, kamu jadi nggak dapat kebaikannya, Dek."


"Begitu ya? Doa sapu jagad itu yang gimana?"


Rumi tersenyum, ia mengusap kepala Debby. Berusaha untuk sabar dan memahami, karena Debby adalah orang yang baru memeluk agama Islam. Jadi dia masih benar-benar belajar dari nol.


"Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar. Hafal 'kan?"


"Oh... Yang Itu? Hafal kok." Debby melebarkan senyumnya.


"Ya sudah, yuk sekarang siap-siap. Oh iya! aku baru ingat, ini sudah hampir satu bulan loh kamu tidak setor hafalan surat pendek. Ya Allah, saking sibuknya sama pekerjaan, jadi melupakan semua tugas ku ke kamu."


'aduh... Terakhir surat apa ya yang di minta Kak Rumi untuk di hafalkan?' gumam Debby dalam hati, yang mendadak panik. Ia pun melepaskan pegangannya.


"Itu...?"

__ADS_1


"Itu apa? Kamu sudah hafal, 'kan?" Tanya Rumi.


"Emmm... haaaafal, kok hafal." Debby garuk-garuk kepala.


"Beneran? Surat apa kemaren coba?"


'duh... apa ya?' Debby menatap ke langit-langit kamar, mengingat-ingat nama dari surat tersebut.


"Dek?"


"Emmmm... Kak, jadiin ke masjid aja sana. Nanti di marahin Abi loh." Mencoba untuk mengalihkan, selagi dia berusaha mengingat lagi.


"Kok berubah pikiran. tadi minta sholat sama aku? Lagian Abi nggak akan marah kok. Dia akan memahami, kalau aku sudah punya istri yang perlu bimbinganku."


"Tapi 'kan? Kak Rumi sudah siap. Lagipula nunggu aku lama. Sudahlah berangkat saja ke masjid. Aku nggak papa kok." Debby mengangkat satu jari telunjuknya. "Dengar itu?"


Rumi menoleh kebelakang ketika suara Iqamah terdengar. Sementara itu nampak aura kelegaan di benak Debby.


"Tuh, sudah komat..."


"Justru karena sudah komat. Jadi lebih baik aku solat di rumah saja. Kamu jangan coba-coba mengalihkan ya dek."


"Enggak kok, siapa yang mengalihkan?" kata Debby, berusaha cool namun merengek dalam hati. 'aaaa... Gagal.'


"Sekarang aku tanya sekali lagi, surat apa kemaren yang aku suruh buat di hafalin."


"Hiks, iya deh iya... jujur aku tuh lupa nama suratnya." Menunduk malu.


"Tapi aku hafal kok. Serius...! Cuma lupa namanya." Debby langsung menggenggam tangan Rumi, meyakinkan.


"Namanya surat At Takatsur. Tapi beneran ya sudah hafal?" Tanya Rumi.


'belum seluruhnya. Hiks.' menjawab belum dalam hati namun mengangguk-angguk di luar.


"Ya sudah sekarang mandi, aku tunggu di mihrab." Rumi beranjak setelah memberi kecupan di kening, lalu berbisik. "Aku siap kasih kamu hukuman loh kalau nanti salah bacaannya."


Mata Debby membulat. "Kok... Ada hukumannya? Biasanya nggak ada tuh."


"Ini karena sudah hampir satu bulan nggak setor hafalan. Lagian kan cuma delapan ayat. Gampang dek."


'issshh... Gampang apanya? Bagimu yang sudah hafal delapan belas juz itu memang gampang. Bagi aku yang awam? Jangankan delapan ayat, tiga saja susah.' rengeknya dalam hati.


"Sudah sana siap-siap, aku keluar dulu ya. Duh... Sepertinya aku harus pakai cara Abi saat mendidik anak-anaknya ngaji nih."


"Apa itu cara Abi?" Debby ngeri.


"Pakai cemeti rotan yang di luncurkan ke jari-jari tangan." Rumi menaik turunkan alisnya.


"Astagfirullah kak...! Tega gitu nyabet tangan aku?"


"Harus tega dong... Udah nggak usah drama, ayo cepat siap-siap." Rumi pun beranjak sembari tersenyum jail.

__ADS_1


"Aaaaa...." Gadis itu mendadak lemas, sembari menjatuhkan kepalanya keatas bantal, ketika sang suami sudah hampir mendekati pintu. Rumi pun menoleh lagi.


"Dek...?"


"Iya, aku bangun." Debby beranjak, lalu berjalan menuju tandas.


–––


Setelah selesai mengambil air wudhu. Debby berjalan pelan-pelan, keluar dari kamar. Ia berusaha keras untuk mengingat bacaannya. Ya... Surat At-Takasur.


"Bismillahirrahmanirrahim, al-hakumut-takasur,


hatta zurtumul-maqabir


Kalaaa? Kala?" Debby terus bergumam, dengan dagu sedikit di naikan, mengingat-ingat. Di barengi dengan langkahnya yang amat pelan menuruni anak tangga. "kalla saufa ta'lamun, summa kalla saufa ta'lamun."


Bibirnya tersenyum senang saat mengingat lanjutannya lantas kembali komat-kamit menghafalkan sambungan ayat dari surat pendek tersebut.


Di sisi lain, Rumi sudah berdiri cukup lama di depan ruang sholat. Menyandar sembari menyilangkan tangannya di depan dada.


"Adek mana sih?" Gumam Rumi sembari sesekali menatap ke arah jam di dinding, lalu menghela nafas kemudian, setelah melihat bayangan istrinya.


Sementara Debby berhenti sejenak sebelum berbelok. Bibirnya masih komat-kamit menghafalkan ulang.


"kalla lau ta'lamuna 'ilmal-yaqin


latarawunnal-jahim


Summa latarawunnaha 'ainal-yaqin


Summa latus`alunna yauma`isin 'anin-na'im." Terdiam sejenak Sembari melebarkan senyumnya. "Hafal? Alhamdulillah."


Ia pun mengusap wajahnya lalu berbelok, seketika itu ia terkejut saat Rumi sudah berdiri di hadapannya.


"Astagfirullah al'azim... Kak Rumi ngagetin."


"Kamu baru ngafalin ya? Terdengar loh gumaman mu tadi."


"Bukan baru ngafalin, cuma karena lama jadi agak lupa."


"Makanya di pakai untuk bacaan sholat. Setiap surat yang baru di hafal dek. Untuk memurojaah."


"Iya..."


"Tapi tetep nanti aku mau lihat bacaan mu. Udah bener apa belum."


"Iya kak, tapi kalo salah jangan di cemeti." Merengek.


"Nggak janji lah."


"Kok gitu sih? Hiks."

__ADS_1


"Simpan tangis mu untuk nanti, sudah telat nih sholatnya." Rumi tersenyum tipis karena gemas, sembari menggandeng tangan Debby yang sudah menggunakan mukenanya, menuju ruang sholat.


__ADS_2