Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
kekecewaan yang besar


__ADS_3

Debby menghela nafas. Dia segera memakai tasnya, lalu berjalan keluar dari ruangan yang sudah mulai gelap, hanya tersorot sinar jingga dari dinding kaca itu.


Menyapa teman-teman yang masih ada di sana, beberapa. Dan mereka pun menjawab sapaan itu dengan ramah juga. Seperti yang tertulis tadi, tidak semuanya memandang dia dengan sebelah mata. Ada kok yang baik juga seperti wanita satu ini, Raline namanya.


Gadis tak berhijab itu mendekatinya, setelah berseru lebih dulu mengucap salam.


"Walaikumsalam." Debby tersenyum.


"Deb... Pulang bareng yuk." Ajak dia.


"Boleh. Tapi aku tidak bawa kendaraan sekarang."


"Tidak apa, aku kan bawa. Yuk..." Ajaknya, kedua wanita itu bersamaan berjalan menuju lift.


Di dalam lift, mereka sempat bercengkrama. Namun sepertinya lebih banyak Raline yang bertanya tentang perubahan dia yang menjadi syar'i Seperti ini.


"Hari ini, bos belum melihatnya. Tapi aku khawatir." Jawab Debby.


"Emmm, pasti masalah hijab ya?" Tanya Raline. Debby mengangguk.


"Aku dengar, Beberapa hari yang lalu? Dia di keluarkan karena berhijab." Debby murung.


"Gadis itu bukan di keluarkan, tapi keluar sendiri karena bercadar. Dan dia tidak mau melepaskan cadarnya saat di minta untuk melepaskan. Sementara kamu kan tidak." jawab Raline.


"Tapi tetap saja aku takut."


"Berdoa saja, semoga posisi mu tetap aman di kantor ini." Raline tersenyum... Sama halnya dengan Debby yang mengamini. Hingga pintu lift terbuka, mereka pun berjalan bersama keluar dari dalam lift itu.


🍂 🍂 🍂


Di rumah bibi Maryam.


Debby melambaikan tangannya pada mobil yang sudah menjauh. Hingga dia pun berjalan masuk setelah membuka pagar rumah di depan.


Gadis itu melepaskan sepatu serta kaos kakinya di depan teras rumah, lalu membawanya masuk juga.


Di dalam, rumah itu sepi. Sepertinya bibi Maryam jadi ke Bandung hari ini, dia pun meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi bibinya itu.


Nomor bibi Maryam tidak aktif, dia pun mendadak cemas. Bagaimana dengan nasibnya, apakah akan di terima? Atau mungkin bibinya tengah di maki-maki oleh sang ayah? Debby pun menggeleng pelan, saat mendengar suara adzan Maghrib dari toa masjid. Sehingga membuatnya bergegas untuk masuk ke dalam tandas untuk bebersih serta berwudhu sebelum melangsungkan ibadah shalat Maghrib.


Sementara itu di tempat lain... Bibi Maryam masih menangis di atas alas sujudnya. Karena dia sedang berada di sebuah masjid yang berada di Jakarta, iya dia sudah kembali. Dan kini tengah memanjatkan doa untuk Debby, dia hanya merasa kasihan saja pada anak itu. Setelah mendengar ucapan dari Koh Yohan yang menurutnya sangat menyakitkan.


(Flashback is on.)

__ADS_1


Siang itu ia tiba di rumah Tuan Yohanes... Seperti dugaannya, keluarga itu sama sekali tak menerima kedatangan dia. Terlihat dari tatapan sinis Nyonya Brigitta yang langsung menghalaunya untuk pergi.


"Mau apa kau kesini." Hentaknya.


Maryam tersenyum. "Ci, saya mau ketemu kokoh."


"Untuk apa bertemu suami saya? Setelah menghasut anak saya. Masih berani kau menampakkan wajah mu di sini?"


Maryam menggeleng pelan. "Tolonglah Ci, maafkan anak mu Debby. Dia benar-benar berpindah keyakinan atas kemauannya."


"Diam kau. Gara-gara kau, aku jadi kehilangan anak perempuan ku. Kau pasti puas kan sekarang!" Cecarnya. Sementara Maryam hanya diam saja, membiarkan umpatan demi umpatan terlontar begitu saja dari mulut Cicinya itu. Mau bagaimana pun juga, jauh sebelum Debby berpindah keyakinan. Dia pun sudah tidak berbicara lagi dengannya, dan cacian seperti itu pun sudah biasa ia dengar dari keluarganya. Hingga Maryam pun sudah tidak merasa kaget lagi.


"Pergilah sekarang... Jangan tampakkan wajah mu itu di hadapan ku lagi, jangan pula kau injak rumah ini lagi!!" Nyonya Brigitta mendorong tubuh Maryam, hingga dia hampir terjatuh namun dengan cepat Maryam langsung meraih tubuh Cicinya dan memeluknya erat. Karena posisi nyonya Brigitta tengah menangis saat itu.


"Jangan seperti ini Ci... Merry tahu, Cici adalah wanita yang baik. Seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Cici pun dulu sangat dekat dengan Merry. Aku masih ingat semua kebaikan Cici... Cici tidak mungkin bisa membenci kami kan?"


"Aku membencimu sekarang, Merry...! Sangat membenci mu!!" Masih menangis dalam pelukan Maryam. "Teganya kau membawa anak ku, teganya kau Merry."


"Anak mu tidak pernah meninggalkan mu Ci, dia masih mencintai mu sama seperti Debby yang dulu."


"Tidak... Dia sudah meninggalkan ku. Sungguh kau tega sekali."


"Cici ku mohon jangan seperti ini. Kau wanita yang baik. Kau wanita yang tegar.... Tolonglah Ci." Maryam masih mengusap-usap punggung itu seraya memeluk. Menunggu sampai Nyonya Brigitta benar-benar merasa tenang. Setelahnya mereka pun berpindah ke dalam dan duduk di ruangan tamu yang tidak begitu luas namun tertata rapi.


"Mau apa, kamu kemari?" Tanya Nyonya Brigitta, dengan tatapan kosong.


"Aku hanya ingin mengabarkan sesuatu, tentang Debby."


Nyonya Brigitta langsung menoleh. "Ada apa dengannya? Dia baik-baik saja kan?" Tanya beliau, mengundang senyum di bibirnya Maryam. Sudah ia duga, Ci Gita tidak mungkin bisa membenci anaknya. Beliau pasti masih menyayangi Debby.


"Dia baik-baik saja, Ci. Hanya saja, ada seorang pemuda yang ingin menikahinya."


"Apa?" Tanya Nyonya Brigitta, terkejut. "Siapa pria itu?"


"Namanya Rumi Al Fatih. Putra seorang ustadz, bernama Irsyad."


Deg...! Mata Nyonya Brigitta melebar.


"Tidak!!! Aku tidak akan setuju. Hei Merry, kau mau anak ku bernasib sama seperti mu?" Hunus Nyonya Brigitta.


"Ci... Aku yakin laki-laki ini tidak akan sama dengan bang Akhri. Aku percaya dia pria baik-baik."


"Tidak...! Kamu tahu kokoh mu adalah seorang pendeta kan? Aku tidak akan setuju, dan lagi Koh Yohan juga tidak akan pernah setuju, putrinya menikah dengan pria itu...! Aku tidak mau anak ku di poligami sama seperti mu."

__ADS_1


"Ci..."


"Aku bilang tidak..!"


"Dia pria baik-baik. Aku sudah mencoba mencari tahu. Tolonglah Ci, Sepertinya Debby pun menyukainya."


"Aku tidak mau...! Pergilah, aku akan menjadikan mu wanita paling ku benci di dunia ini, kalau sampai anak ku menikah dengan pemuda muslim itu...! Sudah ku duga, pasti dia yang menghasut anak ku."


"Cici?"


"BIARKAN SAJA!!!" seru seorang pria yang berdiri di depan pintu. Sehingga membuat keduanya menoleh karena terkejut.


"Kokoh?" Maryam beranjak. Tuan Yohan pun mendekati keduanya.


"Biarkan saja, anak itu mau menikah dengan siapapun. Dia mau senang ataupun susah, sudah tidak ada lagi urusannya dengan kita," tutur Tuan Yohan dengan tatapan mengarah pada Maryam.


"Pah... Aku tidak mau pah." Nyonya Brigitta meraih lengan suaminya.


"Biarkan saja! Toh, dia sudah bukan anak kita lagi."


"Kokoh? Apa kokoh tidak kasihan kepada anak kokoh sendiri? Dia selalu murung saat ini koh, karena orang tuanya tidak lagi menganggapnya anak." Maryam mengiba.


"Aku tidak peduli. Sekarang keluar saja, kalian berdua sudah tidak lagi pantas menginjakkan kaki di sini. Silahkan nikahkan anak itu dengan pria manapun. Aku sudah tidak akan peduli dengan itu." Tuan Yohan berjalan dua langkah lalu menunjuk kening Maryam. "Kau juga, tolong dengar ini...! Aku, diam bukan karena aku tidak tegas, namun kecewa ku kepada mu. Jauh melebihi dari pada rasa kecewa adik-adik ku yang lain. Setelah membunuh Mamih, apa kau akan membunuh ku juga, dengan cara seperti ini?"


Maryam menggeleng, ia menitikkan air matanya. "Tidak seperti itu koh..."


"Dan kau pun tenang-tenang saja kan, saat Papih tidak ada? Kau lebih fokus dengan kehidupan baru mu."


"Aku pun sedih, kokoh tidak tahu betapa terlukanya aku. Ketika Papih pergi tapi aku tidak bisa melihat jasadnya."


"Pergi...!" Kedua mata Yohan sudah memerah, pertanda ia amatlah murka dengan ini. "PERGI...!" beliau mengulangi dengan intonasi yang lebih tinggi lagi. Membuat Maryam terhenyak, bersamaan dengan derai air mata yang menderas.


Maryam pun bergeser, lalu berjalan pelan menuju pintu keluar.


"Demi Tuhan...! Perbuatan mu, tidak akan pernah terampuni...!" seru Yohan, sehingga membuat Maryam menghentikan langkah kakinya. "Aku sangat membenci mu, wanita yang telah menghilangkan nyawa orang tua ku, serta menghasut putri ku." Sambung beliau.


Mata Maryam mengerjap, hingga meneteskan bulir-bulir bening yang berjatuhan semakin deras dari netranya.


"Ingat pesan ku, aku tidak melarang mu untuk menikahkan anak itu dengan siapapun!! Karena dia bukan lagi anak ku." Tutur beliau untuk yang terakhir kalinya. Maryam pun menoleh, Ia menelungkupkan ke-dua telapak tangannya di depan dada.


"Maafkan kami, Koh. Maafkan..." Suara itu serak. Lalu kembali ia memutar tubuhnya keluar dari rumah itu.


(Flashback is off.)

__ADS_1


__ADS_2