Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
niat tulus Rumi


__ADS_3

Kembali ke malam sebelumnya.


Setelah memastikan Umma Rahma sudah tertidur. Rumi menghentikan tilawahnya. ia menutup lagi Al Qur'an kecil itu. setelah mencium lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Allah di dalamnya lebih dulu.


Rumi meletakan Al Qur'an itu sejenak di atas meja, dia lantas beranjak membenahi selimut ibunya. Agar lebih nyaman lagi tidurnya. Lalu setelah itu, dia mengecup kening sang ibu lembut dengan penuh pengharapan. Agar Allah selalu memberikan kesehatan kepada wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Juga meminta keberkahan, serta kebaikan atas setiap jalan yang ia tempuh.


Kembali ia raih Al Qur'an tersebut. Ia bawa melangkah mendekati pintu kamar, menoleh sejenak seraya mematikan lampu kamar itu. Barulah ia keluar dengan tangan menarik pelan pintunya, hingga tertutup rapat.


Melanjutkan lagi, langkah kakinya menuju ruang tamu, untuk menyambung tilawahnya di ruangan itu sembari menunggu Abi Irsyad kembali.


Di ruangan yang tenang dengan pencahayaan yang terang. Rumi membaca surat An Nisa, sebagai salah satu surat yang sering Nabi Muhammad SAW baca ketika solat malam. Belum lagi dengan keutamaan lainnya, dimana surat itu bisa menjadi bimbingan para umat muslim dalam menjalankan kewajibannya sehari-hari seperti Hukum keluarga.


Yaitu kewajiban para waris dan pokok-pokok hukum waris. Cara mempergauli istri, hukum-hukum perkawinan dan peraturan hidup suami istri. Juga Kewajiban Manusia Terhadap Allah. Dasar-dasar Pemerintahan. Siasat dan Adab Perang dalam Islam. Kewajiban Berhijrah dan Mengerjakan Salat. Kewajiban Berlaku Adil. Pelanggaran Orang-orang Yahudi. Kejelekan Syirik dan Keburukan orang Munafik, serta Pandangan Al-Qur’an terhadap Nabi Isa AS.


Di sela-sela bacaan yang tengah ia resapi, suara motor pun terdengar di luar. Lalu tak lama gerbang depan pun juga terdengar, sepertinya Abi Irsyad sudah kembali dan saat ini tengah menutup gerbang itu rapat-rapat. Sementara Rumi masih menyambung bacaannya hingga pintu itu di ketuk dua kali, lalu terdorong masuk.


"Assalamualaikum." Sapa Abi Irsyad pelan, karena beliau mendengar suara anaknya yang tengah bertilawah.


"shodaqallahul adzim, walaikumsalam warahmatullah." Rumi mencium Al Qur'an itu, lalu beranjak. Meraih tangan Abi Irsyad yang sudah berdiri di dekatnya. "Abi sudah kembali? Bagaimana Shafa?" Tanya Rumi, setelah mencium punggung tangan beliau.


Irsyad berjalan dan duduk di kursi, sembari menurunkan resleting jaketnya.


"Alhamdulillah, gadis itu baik-baik saja. Ada sih sedikit sakit di hatinya rasa sakit, dan itu wajar kan? namun dia bilang sudah tidak apa-apa. Dan hanya merasa malu saja, karena kamu sudah mengetahui isi hatinya," jawab beliau, dengan posisi menyender. sedangkan Rumi hanya menunduk. Irsyad mengeluarkan sesuatu dari sakunya, secarik kertas yang di berikan oleh Shafa sebelum Beliau pulang tadi. Lalu ia letakan di atas meja.


Mata Rumi tertuju pada kertas itu, namun dia belum berani meraihnya.


"Ambil." Titah Abi Irsyad. Rumi pun meraihnya. Dan membaca sedikit, Seperti sebuah alamat tempat tinggal.


"Ini, alamat siapa?" Tanya Rumi hati-hati.


"Abi tidak tahu, Abi hanya menerima itu saja. Dan lagi, dia berpesan? Tentang gadis yang lebih membutuhkan perlindungan mu." Tutur beliau.


Rumi seketika langsung mengingat Debby. "Bi?" Panggilnya dengan kepala masih tertunduk. "Kalau menurut Abi? Untuk pria pengangguran seperti Rumi, apa boleh? Rumi membina rumah tangga?" Rumi mengangkat kepalanya mencoba memberanikan diri melihat ekspresi wajah ayahnya itu.


Ustadz Irsyad tersenyum. "Kamu ada uang berapa?" Tanya Abi Irsyad.


"Uang?" Rumi langsung berbinar. "Maksud Abi tanya uang, untuk apa?" Bibirnya sudah tidak bisa menahan senyum itu untuk tersungging.

__ADS_1


"Kamu tanya tadi kan? Apa boleh kamu membina rumah tangga? Sekarang Abi tanya balik, kamu ada tabungan tidak?"


Rumi mengangguk. "Ada Bi, tapi nggak sampai sepuluh juta."


"Jadikan itu modal pernikahan mu. Beli lah cincin untuknya. Serta mahar yang ingin kau berikan. Sisanya, jadikan itu untuk menafkahi istri mu. Kamu percaya kan? Jika Allah SWT akan selalu ada untuk membantu setiap langkah hambaNya menuju kebaikan? Jika kau percaya itu, maka kau, istri dan anak mu tidak akan kelaparan." Jawab Abi Irsyad.


"MashaAllah... Tapi?" Rumi kembali merasa tidak enak. "ini bukan untuk Shafa Bi." Gumamnya lirih.


"Abi tahu, untuk gadis mualaf itu kan? Abi merestui, kalau kamu mau sama dia."


Rumi menitikkan air matanya. "Allahu Akbar..." Gumamnya lirih, dia menatap Abinya tidak percaya. "Abi serius? Mengizinkan Rumi menikahi gadis itu?" Tanyanya lagi meyakinkan.


"Iya." Jawab beliau, dengan tangan menyentuh pundak Rumi. "Beli lah cincin untuknya besok, sorenya kita datangi rumah bibinya dulu. Baru habis itu kita temui keluarganya di Bandung."


"Ya Allah... Abi?" Rumi langsung memeluk tubuh ayahnya itu. "Terimakasih Abi... Terimakasih banyak Abi... Ya Allah."


"Sama-sama... Sekarang istirahat lah sudah malam."


"Iya Bi." Rumi meraih tangan kanan sang ayah, menciuminya berkali-kali. Memeluknya lagi kemudian lalu beranjak. Ustadz Irsyad tersenyum, dia geleng-geleng kepala melihat anaknya itu terlihat sangat bersemangat. Lalu menghela nafas.


"Semoga kau dapat jodoh yang baik Nduk. Lebih dari pada Rumi. Aamiin." Gumam ustadz Irsyad saat mengingat Shafa. Beliau beranjak lalu berjalan menuju kamarnya bersama Rahma yang sudah berada di lantai bawah.


Sore itu, tepatnya selepas Ashar Rumi duduk di bangku sebelah Abinya yang tengah menyetir. Dengan keranjang buah di pangkuannya, dia amatlah gugup, bercampur perasaan takut juga.


Karena menghadapi keluarga yang berbeda keyakinan, pasti tidak semudah saat kita mengkhitbah seorang gadis dari keluarga yang sama-sama seorang muslim.


Tangan Rumi yang satunya masih menggulir satu-persatu butir tasbih. Ia berzikir sepanjang jalan, menghalau rasa takutnya itu.


Hingga mobil pun berhenti di depan rumah yang pagar dan pintunya tertutup rapat.


Abi Irsyad menarik tuas rem tangannya sesaat setelah mematikan mesin mobil. "Benar ini alamatnya kan?" Tanya Abi Irsyad.


"Se... sepertinya iya." Jawab Rumi. "Tapi kelihatannya sepi ya Bi?"


"Coba kita ketuk dulu saja, siapa tahu ada orang di dalam." Titah Abi Irsyad yang langsung di iyakan oleh Rumi, dia pun keluar lebih dulu. Lalu di susul Abinya.


Barulah mereka melangkah bersama dan berhenti di depan pagar. Ustadz Irsyad mengetuk-ketuk gembok di pagar itu sejenak sebelum mengucap salam. Memanggil penghuni rumah.

__ADS_1


Cklaaakk... Cklaaakk... Terdengar suara kunci yang tengah di buka. Irsyad pun tersenyum merasa lega saat ada orang di rumah itu.


"Walaikumsalam warahmatullah." Seorang wanita berkerudung panjang, dengan wajah Chinese sudah keluar menghampiri pagar rumahnya.


"Assalamualaikum ukhti, apa benar ini rumah Ci Maryam?" Tanya Ustadz Irsyad, menelungkup kan kedua tangannya di depan dada. dia tahu nama itu dari Shafa.


"Walaikumsalam. Iya benar pak, dan kebetulan saya sendiri lah Maryam."


"Oh... Alhamdulillah," gumam ustadz Irsyad. Beliau menunggu gembok dan pintu pagar kecil itu terbuka.


"Mari silahkan masuk pak." Titah Maryam.


"Iya terimakasih." Keduanya pun melangkah masuk lalu berhenti di depan teras itu. "Maaf, adakah seorang pria di sini, suami Cici di rumah?" Tanya Irsyad, yang belum tahu kalau Maryam adalah seorang janda yang tinggal disini.


"Maaf pak, saya tinggal sendirian." Jawab Maryam.


"Oh begitu ya? Maaf Ci."


"Tidak apa, pak. Silahkan duduk." Maryam mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. Lalu keduanya pun duduk di kursi itu, sementara Maryam berpamitan untuk masuk lebih dulu, meraih bangku plastik namun sebelum itu dia mengetuk pintu kamar Debby.


Debby pun keluar. "Tante, mereka mau apa kesini?" Tanya Debby penasaran.


"Belum tahu, tapi tolong bantu Tante. Buatkan minum ya."


"Tapi Tante? Debby takut keluar, rasanya gugup sekali."


Maryam terkekeh lirih. "Nggak papa... Sana buatkan."


"Tapi?" Terlambat, bibinya sudah menghilang dari pandangannya. Beliau keluar sembari meraih satu kursi plastik dan meletakkannya agak jauh dari dua orang pria di hadapannya itu.


"Maaf ya Ci, kami mengganggu sore-sore." Ustadz Irsyad terkekeh basa-basi.


"Tidak apa, pak. Santai saja. Maaf, ngomong-ngomong? Ada tujuan apa ya?" Bertanya dengan hati-hati.


"Begini, saya ingin bertanya. Apa benar Cici ini tantenya Debby atau Debora, Putri dari Tuan Yohanes Aruan?"


"Iya benar." Jawab Maryam lembut. "Ada apa ya pak?"

__ADS_1


"Begini, tujuan kami datang pertama-tama hanya untuk bersilaturahmi, yang kedua tujuan kami yaitu untuk?" Ucapan ustadz Irsyad terhenti saat Debby keluar sembari menunduk, dia tidak berani menatap kearah dua orang itu, lebih-lebih Rumi. Yang sama gugupnya, bahkan dia berdeham karena tiba-tiba saja ia kembali gemetar. Terlebih saat Debby berjongkok sembari meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapannya.


__ADS_2