
Di dalam kamar yang terkunci dari luar, Samar-samar ia mendengar suara adzan Ashar.
Debby pun menghentikan tangisnya, dia segera beranjak dari tempatnya berjongkok tadi.
Lalu berjalan lunglai menuju tandasnya mengambil air wudhu. Dengan gerakan yang tumani'nah Debby membasuh satu demi satu anggota tubuhnya itu, berwudhu dengan sempurna.
Setelahnya dia pun berjalan keluar tandas bergumam membaca doa selepas wudhu, lalu melangkah lagi mendekati lemarinya yang sudah berantakan itu, ia menyentuh bagian balik pintu lemari tersebut dengan kembali terisak. Karena catatan di sana sudah tidak ada, namun untungnya dia sudah hafal. Dan kini ia sendiri sedang bingung, bagaimana caranya untuk sholat? sedangkan dia tidak ada hijab besar, semua pakaiannya masih berada di dalam mobilnya. Mukenah pun tidak ada.
Debby kembali berjongkok. "Hiks..." Ia menutup mulutnya menangis lagi. Pandangannya sendu menatap ke arah kain-kain di hadapannya untuk beberapa saat. Hingga ia pun mulai memiliki ide saat melihat kain seprai berwarna putih.
Debby mengusap air matanya, dan meraih itu. Mencoba menjadikan kain seprai itu sebagai hijabnya. Lalu bagian bawahnya ia gunakan kaos kaki, karena kakinya masih sedikit nampak walaupun gamis itu sudah sangat lah panjang.
Gadis itu berjalan mendekati cermin, dia pun membuat hijabnya dengan itu, lalu mengaitkan peniti di bawah dagunya. Merapatkan bagian bawahnya sedikit lalu mengaitkannya lagi dengan peniti di bagian bahu, lalu kebawah lagi, di bagian siku hingga sampai lah di bagian Tangannya.
Dia rasa cukup, walaupun rasanya terlihat aneh dan ribet, namun itu lebih baik dari pada dia bingung tidak ada hijab sama sekali.
Kemudian, dia membentangkan kain panjang di bawah sebagai pengganti sajadahnya. Dan setelah selesai, Debby menghela nafas, ia mulai berniat lalu mengangkat kedua tangannya sebatas dada.
"Allahu Akbar..." Ucapnya, dia pun mulai hening, bergumam tanpa suara membaca iftitah dan bacaan-bacaan yang lain seperti Al-fatihah lalu suratan pendek yang ia hafal. Debby menjalankan kewajibannya dengan baik dan tenang.
Dan setelah empat rekaat solat itu dia kerjakan, serta tak lupa berzikir pula. Ia pun menengadahkan kedua tangannya bermunajat.
Derai air mata tak henti-hentinya bercucuran, dalam setiap ucapan doanya. Mengharapkan sebuah kebaikan akan di turunkan Rabbnya kepada dia.
Hingga cukup lama Debby dalam posisi heningnya itu. Dan perlahan ia mengusap wajahnya, ketika selesai bermunajat. Rasa lelah itu pun membuatnya sedikit mengantuk, hingga perlahan dia merebahkan tubuhnya di atas alas sujudnya tadi, dengan kain seprai masih membalut sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Debby beristighfar banyak tanpa henti, sampai mata itu pun terpejam, dia tidur dengan suasana hati penuh ketenangan.
***
Di tempat yang berbeda, Rumi baru selesai melaksanakan sholatnya. Iya... Dia sudah kembali, tiga puluh menit sebelum waktu ashar.
Tinggallah berdua di tempat itu, Rumi dan Abinya. Sementara Faqih baru saja beranjak dari sana, karena memang sebentar lagi dia dan Nuha harus kembali ke rumah mereka. Jadi dia harus membantu Nuha bersiap.
Suasana hening di tempat solat itu, membuat Rumi menunduk. Setelah beberapa saat menatap punggung Abinya yang masih membelakangi dia.
Cukup lama dia bertahan, menunggu Abi Irsyad selesai berzikir. Hingga pria paruh baya itu kembali mengambil sujud panjang, bermunajat lagi dengan suara hatinya.
Lalu setelah beranjak dan memutar tubuhnya menghadap Rumi.
"Maaf Bi. Rumi, Menolak ta'aruf dengan Shafa." Jawabnya tanpa menimbang-nimbang lagi.
Abi Irsyad mengernyitkan keningnya. "Kenapa? Bukankah dia wanita baik-baik? Keluarganya pun jelas."
"Rumi tahu, tidak ada yang kurang dari Shafa Bi. Tapi hati Rumi menolak." Jawabnya lirih, dia sama sekali tidak berani menatap Abinya.
"Bagaimana dengannya?"
"Dia baik-baik saja." Jawab Rumi.
"Kami yakin?" Tanya Abi Irsyad.
__ADS_1
"Emmm....?" Rumi tidak bisa menjawab, karena sepertinya Seperti itu.
"Sebagai seorang laki-laki saja, jika kita mengagumi seorang gadis lalu gadis itu ternyata tidak menyukai kita? Dan dia bahkan langsung menolaknya.... Apakah kita akan menerima keputusannya semudah itu?" Tanya Abi Irsyad, Rumi pun terdiam. Tiba-tiba saja ia mengingat ekspresi wajah Shafa yang senyum namun menitikkan air matanya. Dia tahu, Shafa pasti sangatlah berusaha keras untuk tegar di hadapannya, entah setelah dia pergi tadi. "Seharusnya kau jangan bergegas langsung menolaknya. Berilah waktu untuk saling membuka hati."
"Tapi itu lebih baik kan Bi?" Potong Rumi sehalus mungkin. "Kalau setelah menikah, Rumi tetap tidak bisa menerima Shafa? Bukankah itu haram hukumnya? Rumi bisa menyiksa batin Shafa Bi, dan batin Rumi sendiri. Terlebih, Rumi punya wanita lain. Yang Rumi kagumi." Sambungnya.
Ustadz Irsyad menghela nafas. Beliau diam sejenak, sama halnya dengan Rumi yang belum berani mengangkat kepalanya menatap Abinya. Sungguh, suasana saat ini rasanya tegang sekali untuk Rumi, dia bahkan tak henti-hentinya beristighfar dalam hati.
"Siapa?" Tanya Abi Irsyad. Rumi pun mengangkat kepalanya pelan. "Wanita yang kau kagumi itu?"
Rumi mengusap wajahnya sejenak, naik. Lalu mendorong rambutnya kebelakang sembari melepaskan pecinya. Kemudian menunduk lagi, dengan kedua tangan meremas peci rajut miliknya.
"Dia wanita mualaf yang tadi di rumah Shafa." Jawabnya lirih, kemudian.
Tanpa menjawab lagi, Abi Irsyad langsung beranjak dari tempat sujud itu. Meninggalkan tanda tanya besar untuk Rumi. Tentang keinginannya yang di setujui atau tidak, karena dia tidak berani melihat ekspresi wajah Abinya itu. Rumi menoleh sejenak saat Abinya sudah melewati dia dan keluar begitu saja. Setelahnya dia pun menghela nafas, kembali menunduk.
"Hah... Ya Allah." Rumi menghembuskan nafasnya berkali-kali rasanya dada itu amatlah sesak saat ini. Matanya pun mulai berkaca-kaca, di sini perjalanan dia di mulai.
Ia pun sebenarnya tidak tahu perasaan Debby yang sekarang, apakah wanita itu masih mau dengannya karena melihat ekspresinya tadi sepertinya wanita itu sudah banyak berubah, dia jadi lebih sopan dan tidak seagresif dulu.
di tambah urusan meyakinkan keluarga Debby, apakah akan semulus yang ia bayangkan? Sedangkan Abinya sendiri saja seperti tidak setuju, walaupun beliau belum tahu jawabannya. Hanya mengetahui sikap diam Abinya itu.
Sesulit inikah ketika kita menginginkan bisa bersanding dengan lawan jenis yang berbeda keyakinan?
Karena menikah urusannya bukan antara hati satu dan yang lainnya. Namun menggabungkan dua keluarga juga.
__ADS_1