
Sekar mengepal kuat tangannya, ia tidak bisa berkutik sama sekali di hadapan juragan Doni, seandainya dia punya harta yang melimpah, dia tidak akan di buat tidak berkutik seperti saat ini.
Juragan Doni tersenyum penuh kemenangan karena Sekar tidak bisa apa-apa di depannya, ia bisa dengan mudah melakukan apapun yang dia inginkan pada Sekar.
Juragan Doni mendekatkan wajahnya pada Sekar, Sekar pasrah ia tidak bisa memberontak sama sekali, ia sebenarnya tidak mau, namun ia dan juragan Doni sudah membuat kesepakatan.
"Permisi juragan"
Suara itu menghentikan aktivitas juragan Doni, dengan wajah kesal juragan Doni menatap ke arah siapa yang masuk ke dalam kantornya.
"Ada apa Anton?"
"Ini ada berkas yang harus juragan tanda tangani" pak Anton memberikan berkas itu pada juragan Doni.
Dengan cepat juragan Doni mentanda tangani berkas itu.
"Sudah selesai"
"Terima kasih juragan" pak Anton melirik ke arah Sekar yang tidak berkutik, ia mengerti ada apa yang terjadi dengan mereka meskipun tidak ada yang bilang padanya.
Pak Anton keluar dari kantor itu, ia tidak bisa berbuat banyak karena dia hanyalah bawahan juragan Doni, seandainya dia adalah atasan juragan Doni, maka dia tidak akan pernah membiarkan Sekar tersiksa seperti itu.
Sekar menatap punggung pak Anton yang keluar dari dalam kantor sampai tidak terlihat lagi.
"Sekar"
Sekar langsung menoleh ke arah juragan Doni.
"Ada apa juragan?"
"Saya mau menikahi kamu"
Sontak Sekar langsung kaget bukan main, Sekar tidak pernah membayangkan kalau juragan Doni akan mengatakan itu semua.
"MENIKAHI SAYA!"
"Iya saya mau menikahi kamu, saya merasa nyaman sama kamu, lebih baik kita menikah saja, biar kamu terus berada di samping saya"
"T-tapi juragan kan sudah punya istri, kalau istri juragan tau bagaimana?"
__ADS_1
"Kita nikah sembunyi-sembunyi, dia tidak akan tau karena dia sekarang lagi ada di luar kota dalam waktu yang cukup lama"
Sekar diam, ia tidak bisa menjawab ajakan juragan Doni yang punya itikad baik untuk menikahinya.
"Kita nikah diam-diam saja, kamu mau kan nikah sama saya?"
Sekar diam tidak bergeming, jarak usianya dengan juragan Doni sangatlah jauh, ia masih berusia 21 tahun, sementara juragan Doni berusia 34 tahun, mereka berdua selisih 13 tahun.
"Tapi apa ini semua gak akan ketahuan sama bu Jamilah, kalau semisal bu Jamilah tau bagaimana juragan?" ketakutan Sekar karena ia sudah mendengar dari warga kalau istri juragan Doni sangat kejam.
"Dia tidak akan tau, selagi di antara kita tidak ada yang ngasih tau"
Sekar berpikir terlebih dahulu, hatinya mengatakan tidak, namun seakan-akan raganya tertekan, ia tidak bisa mengatakan tidak sebab juragan Doni pasti akan meminta uang yang sudah ia berikan pada bu Sinab kembali, ia tidak mungkin bisa mengembalikan uang itu dalam waktu dekat.
Juragan Doni merasa kalau Sekar akan menolak ajakannya."Kalau kamu gak mau, kembalikan uang itu segera"
Dengan terkejut Sekar menatap ke arah juragan Doni.
"Tak bisakah uang itu Sekar cicil juragan?"
"Gak bisa, saya mau uang itu sekarang, gak ada cicil-cicilan!"
Sekar terdiam untuk sesaat, ia berpikir tindakan apa yang akan ia putuskan.
"Iya, saya mau menikah dengan juragan Doni" dengan berat hati Sekar mengatakan itu semua, ia rasanya berat mengambil keputusan itu, namun mau tidak mau dia harus setuju.
"Bagus, nanti malam kita akan menikah, kita akan menikah di rumah saya secara sederhana, tidak akan ada orang yang akan tau, kamu tidak usah khawatir ini semua di ketahui sama orang-orang apalagi istri saya!"
"Malam ini juragan!" sekali lagi Sekar kaget saat juragan Doni terlalu terburu-buru mengambil tindakan.
"Iya, lebih cepat lebih baik, nanti malam kita akan menikah, saya yang akan persiapkan semuanya"
"Tapi juragan gak ada wali nikahnya, bapak saya kan sudah meninggal, siapa yang akan jadi wali nikah saya?" bingung Sekar.
"Apa kamu tidak punya paman dari ayah kamu?"
"Ada, tapi dia ada di negara M, perjalanan ke sini lama, butuh berhari-hari kalau naik kapal, kalau naik pesawat memang cepat, tapi dia gak mungkin mau datang ke sini karena mahal!"
"Kamu hubungi saja dia, nanti saya yang akan tanggung semua biayanya"
__ADS_1
Sekar mengangguk ia akan menghubungi pamannya."Tapi sebelumnya juragan minta izin dulu sama ibu saya, saya mau nikah asalkan ibu saya merestui, di dunia ini hanya dia orang tua yang saya miliki, jika ibu saya tidak setuju, saya juga tidak bisa apa-apa"
"Masalah itu hal gampang, saya yang akan urus semuanya, kamu terima jadinya aja!"
Sekar mengangguk, segala persiapan di urus semua oleh juragan Doni, ia tidak perlu repot-repot lagi.
"Sekar kamu boleh pulang, nanti malam kamu datang ke rumah saya bersama ibu kamu, jangan lupa hubungi paman kamu, bilang saya yang akan bayar semuanya asalkan dia mau datang kemari"
"Baik juragan, saya permisi pulang dulu juragan"
Juragan Doni tidak menjawab, Sekar kemudian keluar dari kantor itu dalam keadaan hati yang cenat-cenut, bagaimana mungkin dia dan juragan Doni akan menikah secepat ini, ia saja masih belum siap untuk menikah.
"Aku harus kasih tau ibu, ibu harus denger ini semua"
Sekar dengan terburu-buru pulang ke rumahnya, ia akan memberi tau apa yang barusan juragan Doni bilang pada ibunya.
"Sekar" panggil seseorang yang membuat Sekar menghentikan langkah.
Sekar menatap siapa yang sudah memanggilnya.
"Iya ada apa pak Anton?"
"Saya ingin bicara sama kamu, ayo ikut saya"
"Kemana pak"
"Nanti kamu juga akan tau!"
Sekar mengikuti pak Anton yang membawanya keluar dari perkebunan juragan Doni, mereka berdua berada di tempat yang sepi yang tidak ada satupun orang di sana.
"Pak kenapa kita ke sini?" mulai tidak tenang Sekar saat mereka berada di tempat sepi itu.
"Sekar, saya mau tanya apa yang juragan Doni bilang sama kamu?"
"Dia gak bilang apa-apa, juragan Doni gak bilang apapun pak"
"Kamu gak usah bohong, bilang sama saya apa yang juragan Doni katakan barusan sama kamu, saya ingin dengar"
Sekar tampak ragu untuk menceritakan semuanya pada pak Anton, ia takut pak Anton akan membocorkan masalah itu pada orang-orang.
__ADS_1
"Saya tidak akan bilang sama siapapun, kamu bisa percaya sama saya, saya akan jamin segala rahasia kamu aman bersama saya, kalau seandainya saya langgar, kamu boleh bunuh saya!"
Sekar menatap ke arah pak Anton yang wajahnya sangat serius, tak mungkin rasanya pak Anton berbohong, apalagi dia rela menjadikan nyawanya sebagai jaminannya.