Kuntilanak

Kuntilanak
Dia bukan manusia


__ADS_3

"Ibuu....."


Teriak seseorang yang benar-benar keras.


Bu Naima mengenali suara teriakan itu, ia berbalik menatap ke arah Mia yang berlari dengan air mata yang berjatuhan mendekatinya.


"Mia kenapa kamu nangis nak, apa yang sudah terjadi?" penasaran bu Naima dengan anaknya yang tiba-tiba menangis.


"Ibu kenapa tinggalin Mia sendirian, Mia takut di rumah sendirian" tangis Mia yang begtu ketakutan.


"Maafin ibu Mia, ibu gak bermaksud buat tinggalin kamu di rumah, ibu itu keluar rumah karena ibu mau nyari bapak kamu, kata bu Salamah bapak kamu lagi nongkrong di gazebo, ibu mau ke sana, ibu ingin bawa dia pulang" bu Naima mengusap air mata yang berjatuhan di wajah putri kecilnya.


"Ayo kita pulang, jangan di sini, di sini gak ada orang, Mia takut bu, Mia gak mau berada di sini hiks hiks hiks" tangis Mia yang begitu menyayat hati.


"Gak ada orang?" terkejut bu Naima, ia merasa aneh dengan apa yang putrinya ucapkan.


"Iya, di sini gak ada orang bu, ayo kita pulang aja, kita tunggu bapak di rumah, jangan ke gazebo, Mia takut ke sana" ajak Mia yang sudah ketakutan parah.


"Mia di sini ada orang kok, kita gak berduaan kok, liat ada bu Salamah sama bu Maimun, kita jangan takut" ujar bu Naima.


"Loh kemana bu Salamah sama bu Maimun, tadi dia ada di sini, kenapa sekarang mereka malah gak ada, pergi kemana mereka, apa mereka berdua pergi ninggalin aku" terkejut bu Naima saat tidak menemukan salah satu di antara mereka.


"Mereka itu bukan orang asli, ayo kita pulang aja, jangan ada di luar, Mia takut" ajak Mia.


"Tapi Mia tadi ibu beneran ketemu sama bu Salamah sama bu Maimun, mereka ada di sini tadi, mana mungkin mereka bukan orang beneran" bu Naima berusaha meyakinkan putrinya agar dia percaya dengan apa yang ia katakan.


"Enggak bu, mereka itu bukan manusia, dia hantu, ayo kita pergi, ibu jangan mau di kedalin sama mereka, mereka itu memang kayak gitu, mereka ingin jebak ibu, ayo sekarang kita pulang, kita jangan ada di luar, Mia gak mau ada di luar" ajak Mia.

__ADS_1


Bu Naima mencerna baik-baik ucapan Mia, ia pun merasa apa yang Mia katakan ada benarnya juga, bu Salamah dan bu Maimun itu benar-benar aneh, mereka tidak pernah bilang kalau mereka sangat benci pada Sekar, tapi tadi mereka begitu iba sekali akan nasib Sekar yang buruk.


Bu Naima berjalan pulang bersama putrinya, sepanjang perjalanan ia mencerna apa yang Mia katakan barusan.


"Masa iya apa yang aku temukan tadi itu bukan bu Salamah maupun bu Maimun, tapi apa yang Mia katakan ada benarnya, mereka tadi aneh banget, bisa aja ucapan Mia benar-benar nyata" batin bu Naima.


"Ku rasa mereka memang bukan manusia asli, mereka kayaknya ingin ngadalin aku, aku gak boleh ketipu sama mereka, aku gak mau pak ketipu kayak waktu itu" batin bu Naima yang sudah merasakan sakitnya di tipu oleh hantu.


Keduanya terus berjalan di jalanan yang semakin sepi dan sunyi.


"Ibu liat itu orang yang tadi ibu ajak bicara" tunjuk Mia ke arah Sekar yang terbang ke sebelah selatan.


Bu Naima terkejut, ia benar-benar terkesiap melihat sosok Sekar yang terbang dan terlihat begitu menyeramkan.


"Jadi benar kalau dia hantu, kenapa aku bisa sebodoh itu percaya sama hantu yang menyerupai bu Salamah dan bu Maimun" terguncang hebat bu Naima yang tak pernah menyangka bahwa dirinya benar-benar ketipu, untung Mia menyadarkannya di waktu yang tepat sehingga hantu itu dia mengganggunya habis-habisan.


"Kita jangan keluaran rumah bu, di luar masih gak aman, ayo kita pulang aja, kita tunggu bapak di rumah aja, bapak pasti akan pulang" ajak Mia.


"Kenapa mereka bisa jebak aku kayak gini, untuk Mia bisa nyadarin aku, kalau enggak, aku pasti akan lari terbirit-birit, lain kali aku gak mau keluaran lagi, aku gak mau mereka ganggu aku" batin bu Naima.


Bu Naima dan Mia sampai di rumah, mereka masuk ke dalam rumah, bu Naima menutup pintu rapat-rapat agar tidak ada yang masuk ke dalam rumahnya.


"Hiks hiks hiks hiks hiks" tangisan Mia terdengar menyayat hati.


Bu Naima terkejut, ia heran kenapa anaknya tiba-tiba menangis saat sudah sampai di dalam rumah.


"Mia kamu kenapa nak, apa yang sudah terjadi, kenapa kamu nangis, bilang sama ibu, apa yang udah bikin kamu nangis" cemas bu Naima yang gelisah saat melihat anaknya menangis seperti itu.

__ADS_1


"Ibu di luar ada dia, Mia takut, ibu tolong suruh dia pergi, jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah ini, Mia gak mau lihat wajah dia yang menakutkan" titah Mia dengan terus menangis kencang.


"Dia? dia siapa, siapa yang ada di luar ,apa bapak kamu yang ada di luar" bu Naima hendak membuka pintu.


"Bukan bu" cegah Mia cepat.


"Bukan bapak yang ada di luar, tapi orang yang tadi terbang itu, dia ngikutin kita sampai ke rumah hiks hiks hiks" tangis Mia yang ketakutan.


Bu Naima merasa kurang yakin atas apa yang Mia katakan, ia pun berjalan mendekati jendela, ia ingin melihat apakah benar kalau di luar ada hantu atau tidak.


Saat gorden terbuka alangkah kagetnya bu Naima saat melihat sosok Sekar yang serem berada di tengah-tengah jalanan rumah, tatapan maut Sekar menatap tajam ke arah bu Naima.


Bu Naima langsung menutup gorden kembali, ia takut, ia sungguh gemetaran melihat Sekar yang semenakutkan itu, ia kini percaya bahwa apa yang Mia katakan benar-benar apa adanya.


"Di luar ada dia, ternyata benar kalau dia memang mengikuti ku sampai ke rumah, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, aku gak tau cara untuk menghadapi dia" batin bu Naima yang panik.


Mia bisa rau bahwa ibunya tengah panik kala melihat sosok seseram itu di luar.


"Ibu Mia takut jika hiks hiks" tangis Mia yang ketakutan.


Bu Naima menghampiri Mia, ia memeluk erat tubuh Mia, ia akan menenangkan jiwa yang ketakutan.


"Mia kamu jangan takut, ada ibu di sini, ibu tidak akan biarkan dia masuk ke sini, ibu yakin dia gak akan berani masuk kemari, kamu jangan nangis ya nak, sebentar lagi bapak kamu akan pulang, dia akan usir hantu itu dan kita bisa bebas" tutur bu Naima sembari menghapus air mata Mia.


Mia hanya mengangguk dengan bulir-bulir bening yang terus saja berjatuhan.


"Hihihihihihihi"

__ADS_1


Suara maut Sekar telah di layangkan, mereka berdua ketakutan di dalam rumah namun mereka tidak bisa apa-apa selain diam di rumah, percuma mereka menghadapi Sekar karena Sekar bukanlah lawan yang tepat untuk mereka.


Bu Naima terus menenangkan Mia yang menangis ketakutan gara-gara ada suara kuntilanak yang menyeramkan.


__ADS_2