Kuntilanak

Kuntilanak
Kekecewaan pak Anton


__ADS_3

"Iya juga ya, gak mungkin ada orang yang mau datang buat mendoakan pak Harun, pinter juga bu Toya bawa pak Harun ke kampung halamannya" sambung bu Nining, dalam keadaan kampung halamannya yang keruh seperti ini mana ada orang kampung yang berani keluaran rumah meskipun itu dalam rangka tahlilan.


"Gak nyangka ya pak Harun yang baik itu meninggal dengan tragis seperti itu, padahal selama ini dia baik banget sama warga-warga" jawab bu Rohani.


"Orang baik memang cepat di ambil sama Allah" timpal bu Salamah.


Pribadi pak Harun yang baik dan penyabar membuat banyak orang-orang prihatin padanya yang menghembuskan nafas dengan cara yang sangat-sangat tragis.


"Ibu-ibu kemana ya bu Nilem, kok gak keliatan, di mana dia, apa dia udah pulang?" bu Rohani mencari-cari keberadaan bu Nilem yang tak terlihat di antara mereka.


"Nah prihal bu Nilem saya dengar-dengar dia gak bisa jalan" timpal bu Maimun yang membawa kabar dari semua berita di kampung ini.


"GAK BISA JALAN?" terkejut semua ibu-ibu yang belum pada ada yang tau prihal bu Nilem.


"Iya bu, bu Nilem dengar-dengar gak bisa jalan, kakinya luka karena di gigit sama Sekar tadi malam" jawab bu Maimun yang semakin membuat mereka semua menutup mulut tak percaya.


Mereka masih mengira bahwa ketidak munculah bu Nilem hari ini di karenakan dia belum bangun atau yang lain, namun ternyata ada sesuatu yang telah menimpanya sehingga tidak bisa berkumpul bersama mereka.


"Di gigit sama Sekar, kok bisa!" tercekat bu Salamah yang shock berat, ia tidak mendengar berita apapun mengenai temannya itu.


"Iya bu, bu Nilem memang gak bisa jalan, tadi malam katanya bu Nilem di datangin sama Sekar, Sekar buat kaki bu Nilem luka, sekarang bu Nilem gak bisa jalan, mangkanya dia gak keluaran rumah" sahut bu Maimun.


"Ya ampun kasihan banget bu Nilem" prihatin bu Naima dengan keadaan bu Nilem yang memperihatinkan.

__ADS_1


"Ayo ibu-ibu kita datangin rumah bu Nilem, kita harus lihat keadaan bu Nilem" ajak bu Salamah yang kepo dengan kondisi bu Nilem.


Semua ibu-ibu mengangguk setuju, mereka bergegas berjalan menuju rumah bu Nilem yang letaknya tak terlalu jauh dari sana.


Pak Anton tak mengikuti mereka, ia masih diam di tempat tak ada niatan untuk melihat kondisi bu Nilem yang di kabarkan terluka parah akibat ulah istrinya.


"Ternyata memang benar kalau Sekar gentayangan" raut wajah pak Anton tampak sedih, guratan kekecewaan terpancar jelas.


Sekar yang melihat itu tak tega, ia tak sanggup mengecewakan suaminya lagi, di dunia ia sudah pernah membuat pak Anton kecewa, namun kini ia kembali melihat kekecewaan tersebut.


"Mas maafin aku, maaf aku udah bikin kamu kecewa, aku gak tau kamu akan kayak gini, aku cuman mikir kamu akan senang dengan tindakan ku, sungguh aku melakukan ini semua karena aku gak terima mereka bunuh aku, aku ingin balas dendam, aku akan menuntut balas atas apa yang mereka lakukan pada ku, kamu jangan sedih hiks hiks hiks" isakan tangis Sekar menyayat hati, ia kini menyesal melakukan sesuatu yang berhasil membuat suaminya sedih.


Pak Anton dengan rasa kecewa yang menyelimuti tubuhnya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang terbilang cukup jauh.


Setibanya di sana ia langsung masuk ke dalam rumah, pak Anton begitu merindukan seseorang yang setiap ia datang selalu menyambutnya dengan hangat dan di sertai senyuman manis.


"Sekar kenapa kamu harus pergi, kenapa kamu harus hukum aku seberat ini"


Di pojokan Sekar terisak, ia dapat melihat dengan jelas kerinduan yang terpancar di mata pak Anton terhadapnya, namun tidak mungkin mereka berkumpul kembali seperti dulu.


"Mas maafin aku, maaf aku gak bisa bertahan, sungguh aku minta maaf sama kamu" titah Sekar namun sayang sekali pak Anton tidak akan pernah bisa mendengarnya.


Pak Anton menatap sedih foto-foto mendiang istrinya yang masih terpampang rapih di dinding kamarnya, tak akan ia pindahkan meskipun sekarang istrinya telah pergi dari hidupnya.

__ADS_1


"Sekar orang-orang bilang kamu gentayangan, tapi aku yakin kamu gak akan begitu, kamu pasti sudah berisitirahat dengan tenang di alam sana, semua apa yang mereka bicarakan itu palsu, aku yakin itu!" ucapan pak Anton semakin membuat Sekar terisak, ia tak pernah berpikir kalau suaminya sangat tidak suka mendengar bahwa dia gentayangan, pak Anton mengganggap Sekar telah beristirahat dengan tenang di alam sana.


"Mas kamu jangan sedih, aku gak bisa lihat kamu sedih hiks hiks hiks" isakan tangis Sekar yang terpuruk dalam keadaan ini.


Di keadaan ini tidak ada satu orangpun yang bisa Sekar ajak bicara, semua orang-orang yang ia sayangi telah pergi meninggalkannya, kini ia hidup dalam tekanan.


"Sekar aku harap kamu bisa istirahat dengan tenang di alam sana, perihal orang yang telah bunuh kamu, aku sendiri yang akan cari tau, aku yang akan bikin dia mendekam di penjara, kamu tidak usah mikirin hal itu, aku yang akan berjuang keras untuk mendapatkan keadilan!"


"Aku tidak mau berhenti mas, aku akan tetap balas dendam, kali ini aku tidak mau tinggal diam lagi, mereka sudah sangat keterlaluan, mereka tidak bis di biarkan lagi, aku harus menuntut balas tentang apa yang sudah mereka perbuat!"


"Ketika aku masih hidup, aku gak bisa berbuat apa-apa, aku tidak bisa berkutik, kali ini aku bisa melakukan apa saja, aku akan balas dendam pada mereka semua, aku akan bantu kamu, kamu tidak akan sendirian membuat mereka sengsara karena aku yang akan terjun langsung ke dalamnya"


Sekar masih tetap dengan pendiriannya, ia tidak goyah sama sekali, ia akan terus melakukan aksi teror untuk warga-warga kampung yang sudah mencari mati dengan mengganggunya kala ia masih hidup.


Krieet


Pintu kamar pak Anton terbuka dengan lebar, pak Anton dengan cepat menyeka air matanya, ia tidak mau ada orang yang melihatnya bersedih.


"Anton ayo makan, kamu dari tadi belum makan" ajak Karan yang masih belum kembali ke desa Cempaka tempat di mana dia tinggal.


"Iya aku akan segera ke sana, aku mau mandi dulu" jawab pak Anton tanpa melihat langsung wajah Karan, ia tidak mau sahabatnya melihatnya bersedih.


"Cepetan, aku tunggu!" pak Anton menganggukkan kepalanya, ia dengan cepat langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh, habis itu menemui Karan yang tengah menunggunya di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2