
Setelah Karan dan pak Anton selesai bersiap-siap, mereka berdua masuk ke dalam mobil putih milik Karan, aktivitas pak Anton akan kembali di mulai, ia akan berusaha menyibukkan dirinya dengan cara bekerja.
Karan melajukan mobil menuju desa anggrek yang terbilang sangat jauh, butuh waktu berjam-jam untuk sampai di sana.
Sepanjang perjalanan pak Anton berusaha menyakinkan dirinya bahwa dia bisa berkompromi dengan lingkungan di sana yang tengah kacau, ia masih merasa tidak yakin bisa tegar jika mendengar berita-berita tentang kematian tragis istrinya.
Sekar ikut bersama mereka, ia akan memastikan kalau mereka sampai di sana dengan selamat tanpa kekurangan apapun, ia akan menjaga suaminya dari orang-orang jahat.
Sekitar 5 jam mereka baru sampai di desa anggrek, Karan membawa pak Anton ke ladang, karena biasanya pak Anton selalu berada di ladang beda dengan halnya yang harus mengikuti bu Jamilah kemanapun bu Jamilah pergi.
"Kita sudah sampai" ujar Karan menghentikan mobilnya tepat di depan ladang yang luas.
Pak Anton menghela nafas berat, ia dengan berat hati turun dari mobil dan kembali menginjakkan kakinya di desa tempat istrinya di bunuh dengan sadis.
Pak Anton menatap para pekerja yang sedang bekerja di ladang, ia teringat dengan seorang gadis polos yang datang bekerja untuk membantu kedua orang tuanya yang sudah renta, namun kini gadis tersebut telah pergi ke tempat yang jauh dan sulit untuk di jangkau.
Pak Anton mengusap wajahnya, ia tidak boleh terlihat sedih, ia datang kemari bukan untuk bersedih tetapi untuk membalaskan dendam pada orang yang sudah tega merenggut nyawa sang istri.
"Aku harus kuat, aku gak boleh sedih, aku datang ke sini untuk balas dendam, bukan untuk bela sungkawa" batin pak Anton memantapkan dirinya.
Karan mengusap punggung pak Anton, ia menyadari bahwa sahabatnya berat kembali kemari.
"Sabar, kamu harus kuat, jangan lemah, misi mu masih panjang, jangan menyerah sekarang!" ujar Karan.
Pak Anton mengangguk, ia yakin bahwa dirinya bisa melewati masa sulit ini.
__ADS_1
"Kenapa aku harus kembali lagi ke sini, aku tidak mau ada di sini, aku tidak sanggup tinggal di tempat ini lagi" batin pak Anton.
"Tapi demi Sekar aku akan tetap berada di sini, aku tidak akan pergi sebelum kedua iblis jahanam itu masuk ke dalam penjara, lihat saja aku akan buat mereka mendekam di dalam penjara, mereka akan merasakan pahitnya penyesalan!" batin pak Anton membulatkan tekad.
"Ayo Anton kita temui juragan Doni" ajak Karan yang di balas anggukan pak Anton.
Kaki mereka melangkah di pematang, Sekar mengikuti mereka dari belakang, suaminya akan terus berada di desa ini, ia akan menjaganya dengan sebaik mungkin, ia tidak akan pergi jauh-jauh darinya.
Rasanya berat bagi pak Anton untuk menemui juragan Doni yang pernah menyakiti istrinya, namun tujuannya mengharuskan dia bertatap muka langsung dengan juragan Doni.
Sepanjang jalan karyawan-karyawan menunduk hormat pada pak Anton, sudah lama mereka tidak melihat pak Anton lagi.
Langkah pak Anton terhenti tepat di depan kantor.
Karan mengetuk pintu dengan harapan juragan Doni keluar menemui mereka.
Pintu kantor terbuka, alangkah kagetnya juragan Doni ketika melihat pak Anton yang sudah lama tidak pernah ia jumpai.
"Anton!" kaget juragan Doni, ia berpikir bahwa pak Anton masih lama berada di luar kota, ia masih belum tau kalau pak Anton sudah mengetahui bahwa Sekar telah meninggal dunia.
"Iya ini saya" dengan menahan geram pak Anton menjawab, ia kini berusaha sebisa mungkin untuk menahan amarah pada orang yang berdiri di hadapannya.
"Anton prihal se-
"Saya sudah tau, saya tau segalanya" pak Anton langsung menyela ucapan juragan Doni yang membuat juragan Doni bungkam.
__ADS_1
Juragan Doni pun diam, dari nada suara pak Anton ia sudah tau kalau pak Anton kecewa dengan berita itu, ia pun kini di selimuti rasa bersalah karena dia terlibat dalam masalah ini.
"Anton kamu urus ladang, saya ada urusan" juragan Doni memalingkan wajah, ia tidak mau menatap wajah pak Anton yang terlihat jelas kesedihan di dalamnya.
Terbesit rasa bersalah di hati juragan Doni, andai dia tidak mengajak Sekar ke ladang, maka kejadian itu tidak akan pernah terjadi, juragan Doni merasa bersalah karena dia awal mula Sekar meninggal dunia.
"Baik juragan, saya akan urus semuanya"
Juragan Doni percayakan semuanya pada pak Anton, ia bergegas pergi dari sana, sebenarnya hari ini ia tidak ada jadwal bisnis, ia pergi dari sana karena tidak mau berdekatan dengan pak Anton yang merupakan suami Sekar, ia masih merasa bersalah dengan kematian Sekar.
Sekar menatap tajam punggung juragan Doni yang pelan-pelan menjauh."Kau adalah awal mula kenapa aku bisa begini, nanti aku akan bikin kau menderita dua kali lipat di bandingkan warga-warga yang tinggal di desa ini!"
Amarah di dada Sekar masih belum kelar, ia masih belum puas melihat semua orang menderita, apa yang ia lakukan pada orang-orang tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan padanya.
"Anton segeralah urus ladang ini, aku mau ke rumah bu Jamilah dulu, aku mau pamitan padanya, lalu kembali lagi ke desa, aku tidak mau terlalu lama berada di sini" titah Karan yang ingin terlepas dari bu Jamilah.
"Iya aku akan mengurus ladang ini dengan sebaik mungkin, sana pergilah, kamu bisa ninggalin aku sekarang!"
"Jaga diri mu, ingat kamu ke sini bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk balas dendam, mereka sudah membunuh istri mu, kamu harus seret mereka ke dalam penjara, jangan lupakan itu!" tegas Karan dengan berbisik di telinga pak Anton biar tidak ada orang yang mendengar.
"Aku tau, tidak perlu kamu ingatkan lagi, aku tidak akan mungkin melupakan itu" pak Anton tau betul tujuan dia datang kemari, tak mungkin ia melupakannya, kalau bukan karena tujuan itu ia tidak mungkin berada di sini.
"Aku pergi dulu, nanti malam aku akan menemui mu lagi" pak Anton membalas dengan anggukan, ia malas untuk mengeluarkan suara, entah dari kapan dia menjadi cuek dan dingin.
Karan meninggalkan pak Anton di sana, ia berangkat ke rumah bu Jamilah yang sudah tak jauh dari sana, ia berniat akan berpamitan secara langsung pada majikannya.
__ADS_1
Pak Anton melangkah masuk ke dalam kantor, ia mulai mengerjakan segala yang harus ia kerjakan meski sering kali ia teringat pada istri kecilnya yang sudah meninggal dunia.
Sekar menemani pak Anton, ia tidak akan membiarkan pak Anton sendirian.