Kuntilanak

Kuntilanak
Menangis dalan pelukannya


__ADS_3

Pak Anton membawa Sekar ke rumah sakit, sepanjang perjalanan pak Anton takut dan cemas saat melihat darah sebanyak itu yang terus mengalir dari punggung Sekar.


"Sekar kamu bertahan, aku akan bawa kamu ke rumah sakit, kamu harus sembuh, jangan tinggalkan saya"


Pak Anton mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, jarak rumah sakit sangat jauh, rumah sakit itu terletak di kota bukan di desa terpencil seperti desa anggrek.


Pak Anton mengusai jalan, dia ingin segera sampai di rumah sakit, melihat keadaan Sekar yang lemas dan terluka parah membuat pikiran-pikiran buruk berdatangan.


Sekitar 3 jam waktu yang di tempuh untuk bisa sampai di rumah sakit Medika yang paling dekat.


Pak Anton dengan cepat menggendong tubuh Sekar dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster, suster tolong" teriak pak yang khawatir dengan keadaan Sekar.


Sekar terus memejamkan mata dan tubuhnya yang semakin lama semakin lemas, itu yang membuat pak Anton semakin takut ada apa-apa yang terjadi sama Sekar.


Suster yang ada di sana langsung mendorong brankar mendekati pak Anton, pak Anton meletakan tubuh Sekar di atas brankar.


Mereka semua mendorong brankar menuju UGD, pak Anton di larang masuk ke dalam karena itu ruangan gawat darurat.


Pak Anton gelisah, wajahnya tampak khawatir, melihat darah yang banyak seperti itu membuatnya takut ada apa-apa dengan Sekar dan anak yang masih ada di dalam kandungannya.


"Semoga Sekar baik-baik saja, jika ada yang terjadi sama Sekar, aku tidak akan membiarkan orang melakukan hal itu hidup" janji pak Anton yang tidak terima juragan Doni menyakiti Sekar hingga seperti itu.


Pak Anton terus gelisah, dia takut Sekar kenapa-napa, dia terus mondar-mandir ke sana kemari karena dokter tak kunjung keluar.

__ADS_1


Krieet


Pintu ruangan UGD itu terbuka, dengan cepat pak Anton mendekati dokter yang baru saja keluar.


"Dokter bagaimana dengan keadaan Sekar, dia baik-baik saja kan, tidak ada yang terjadi padanya bukan?" ragam pertanyaan pak Anton lontarkan, wajahnya terus di selimuti kekhawatiran.


"Pasien mengalami luka yang cukup serius di bagian punggung, luka tersebut kami taksir akan sembuh sekitar 3 Minggu" jelas dokter prihal keadaan Sekar yang cukup mengkhawatirkan.


Pak Anton bertambah khawatir, mendengar penjelasan dokter bukan membuatnya tambah tenang malah tambah khawatir.


"Terus bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan Sekar dokter, dia baik-baik saja kan?" pak Anton takut anak Sekar kenapa-napa melihat ibunya yang terluka separah itu.


"Anak yang ada di dalam kandungan pasien baik-baik saja, namun kandungan pasien lemah, pasien tidak bisa bekerja yang terlalu keras, usahakan pasien beberapa bulan ini istirahat total, saya hanya takut kandungan pasien tidak dapat di selamatkan jika pasien ngotot untuk bekerja"


Pak Anton terdiam, tindakan juragan Doni sudah membuat ibu dan anak itu dalam bahaya.


"Pasien untuk beberapa Minggu ke depan saya saran di rawat inap di sini karena takut luka di punggung pasien infeksi" saran dokter.


"Baik dok, pasien di rawat di sini saja, saya mohon tempatkan pasien di ruangan VVIP" titah pak Anton, dia menempatkan Sekar di ruangan itu agar tidak ada yang tau kalau Sekar dari rumah sakit ini.


"Siap pak, tolong bapak bayar administrasinya di depan, baru kami akan tempatkan pasien di kamar VVIP" suruh dokter.


Pak Anton mengangguk, dia dengan cepat langsung mendatangi suster yang menjaga


bagian admistrasi, dia membayar semua perawatan Sekar, setelah itu mendatangi kamar Sekar untuk melihat keadaannya.

__ADS_1


Ketika pintu itu di buka, orang yang pertama kali Sekar lihat adalah pak Anton, Sekar langsung tak kuasa menahan tangisnya, dia menghambur ke dalam pelukan pak Anton.


"Pak Anton" tangis Sekar yang kondisinya saat ini tengah lemah, dia tidak punya banyak tenaga, tenaganya berkurang draktis.


Pak Anton membiarkan Sekar berada di dalam pelukannya, dia tau Sekar pasti sangat terluka dengan tindakan suaminya yang kejam dan tega hingga hampir membuatnya dan juga anaknya mati.


"Pak Anton dia jahat, dia tidak nerima anak ini, dia malah memfitnah saya yang bukan-bukan, dia juga menghukum saya dengan cara mencambuk, salah saya apa pak, saya harus apa sekarang pak jika ayah dari anak ini tidak menginginkan keberadaannya hiks hiks hiks" tangis Sekar menceritakan kejadian buruk yang menimpanya, Sekar tidak tau lagi pada siapa dia harus bercerita, hanya pak Anton satu-satunya orang yang Sekar percayai saat ini.


"Kamu tenanglah, masih ada saya di sini, meskipun juragan Doni tidak mau menerima kehadiran anak mu, saya yang akan menggantikannya, setelah dia lahir dia tidak akan merasakan hidup tanpa adanya sosok ayah, saya yang akan menjadi sosok ayah untuknya, kamu tidak perlu khawatir lagi, saya yang akan jaga kamu"


Pak Anton menenangkan Sekar yang rapuh, Sekar hanya terus menangis dalan dekapan pak Anton yang membuatnya sedikit tenang.


"Udah jangan nangis lagi, kondisi kamu bisa tambah parah kalau kamu terus menerus nangis" pak Anton menghapus air mata yang mengalir di pipi Sekar.


"Pak Anton" panggil Sekar lirih.


"Sstt kamu jangan mikirin itu dulu, pikiran keadaan janin kamu, dokter bilang janin kamu lemah, kamu jangan kerja yang berat-berat, dokter minta saya buat pastiin selama beberapa bulan ke depan kamu istirahat total"


"Bagaimana saya bisa istirahat total pak, saya harus bayar semua hutang saya sama juragan Doni"


"Hutang? hutang apa lagi, bukannya hutang kamu sudah lunas!" heran pak Anton, dia taunya seluruh hutang Sekar lunas jika dia bersedia menikah dengan juragan Doni.


"Juragan Doni sebelum nikahin saya memang bilang kalau nikah sama dia seluruh hutang saya lunas, tapi tadi dia bilang hutang saya yang awalnya 6 juta bertambah menjadi 20 juta, dia juga menyangkut pautkan biaya kematian ibu, dia minta saya buat lunasi semua hutang itu, jika dalam 1 bulan saya tidak bayar, maka hutang itu akan bertambah 5 juta" jelas Sekar yang juga tidak menyangka juragan Doni setega itu di saat keadaannya tengah terpuruk seperti ini.


Pak Anton shock, bagaimana mungkin juragan Doni mengubah semua isi perjanjian dan malah membuat Sekar semakin tertekan.

__ADS_1


"Kenapa juragan Doni menjadi seperti ini, apa dia benar-benar tidak mau lagi dengan Sekar, dia dulu berusaha mendapatkan Sekar dengan cara apapun, kenapa Sekar dia malah mencampakkan Sekar hingga sampai seperti ini, sungguh aku tidak tau lagi kemana jalan pikirannya" batin pak Anton yang tak habis pikir dengan juragan Doni.


__ADS_2