
Desa semakin lama semakin menyeramkan, keheningan terjadi, segala aktivitas manusia yang menghuni desa ini terhenti, mereka semua memilih mengurung diri di dalam rumah sebab telinga mereka terus menerus mendengar suara cekikikan kuntilanak.
Mereka ketakutan meskipun tak berjumpa langsung dengan kuntilanak yang tengah meneror desa anggrek, mereka hanya mendengar isu-isu dari warga sekitar.
Sekar berhenti melangkah, ia menatap sebuah bungunan sederhana milik salah satu warga, ia dengan mudah menembus tembok dan dengan otomatis masuk ke dalam rumah tersebut.
Sekar mengamati setiap inci rumah dengan teliti, ia melangkahkan kakinya dan mendekati sebuah bilik kamar yang terdapat di rumah tersebut.
Krieet
Sang pemilik kamar terkejut, ia menatap takjub ke arah pintu yang terbuka dengan sendirinya padahal pintu tersebut sudah ia tutup.
"Kok pintu itu ke buka" bu Nilem langsung bersembunyi di belakang tubuh pak Ujang yang merupakan suaminya, ia merinding tanpa sebab saat pintu terbuka dengan sendirinya.
"Ngapain ibu sembunyi?" heran pak Ujang dengan tindakan istrinya.
"Ibu takut pak, bapak tutup pintu itu gih sana, ibu gak mau kemana-mana" titah bu Nilem yang ketakutan hebat.
Pak Ujang hanya menghela nafas, ia bangkit dari duduk dan mendekati pintu, pak Ujang menutup pintu itu dengan rapat, biar tidak terbuka lagi.
Saat berbalik badan pak Ujang seketika langsung gagap, tubuhnya gemetar, ia sulit untuk mengeluarkan suara, ia hanya menunjuk ke arah dinding pojok dengan gemetaran.
"Bapak kenapa, kenapa bapak jadi gagap!" panik bu Nilem melihat suaminya yang menunjukan tindakan aneh dan berhasil membuatnya terkejut.
Pak Ujang hanya menunjuk pojokan, ia tidak bisa mengeluarkan suara, rasanya sulit ia mengucapkan sesuatu, ingin rasanya ia berteriak namun tak bisa.
"Pak, bapak kenapa, apa yang sudah terjadi sama bapak" bu Nilem yang panik menggoyangkan tubuh pak Ujang, ia benar-benar khawatir pada tingkah suaminya yang seperti orang gagap.
Pak Ujang langsung jatuh pingsan tepat di hadapan bu Nilem.
__ADS_1
"Bapaaakkk!" pekik bu Nilem terkejut melihat tubuh suaminya jatuh pingsan.
Bu Nilem langsung berlari mendekati suaminya yang jatuh pingsan secara tiba-tiba.
"Bapak bangun, bapak kenapa, apa yang sudah terjadi sama bapak!" bu Nilem berusaha membangunkan suaminya yang jatuh pingsan.
Tak ada pergerakan dari diri pak Ujang, pak Ujang menutup matanya rapat-rapat, bu Nilem yang panik menangisi suaminya yang jatuh pingsan, ia khawatir ada apa-apa yang terjadi pada suaminya.
"Pak bangun, bapak jangan tinggalin ibu huhu" isakan tangis bu Nilem dengan terus berusaha membangunkan pak Ujang.
"Pak jangan tinggalin ibu, bapak bangun, katakan apa yang sudah terjadi sama bapak hiks hiks hiks" bu Nilem masih belum berhenti membangunkan suaminya, ia berharap bahwa suaminya akan bangun dan menceritakan apa yang sudah terjadi padanya sehingga ia bisa jatuh pingsan.
"Pak bangun, jangan tinggalin ibu, ibu gak tau harus apa kalau gak ada bapak, ibu mohon bangunlah hiks hiks hiks" tangis bu Nilem memilukan hati.
Bu Nilem penasaran apa penyebab suaminya jatuh pingsan, ia dengan rasa penasaran yang terhakiki menatap tempat yang suaminya tunjuk sebelum jatuh pingsan.
Jantung bu Nilem seakan meloncat saat melihat seorang wanita berambut panjang, berpakaian putih melototkan matanya, ia kini berada di pojokan dengan terus menajamkan pengelihatannya.
Bu Nilem memundurkan tubuhnya, rasa takut menyelimuti tubuhnya.
"K-kenapa kau bisa ada di sini, kenapa kau bisa masuk ke sini, pergi kau!" teriak bu Nilem yang ketakutan.
Sekar terus melototkan matanya, di bibirnya terukir senyuman sinis yang ia keluarkan khusus untuk bu Nilem.
"Huaaaaa pergi kau dari sini!" pekik keras bu Nilem saat Sekar mendekatinya dengan cara merangkak.
"Bapak, bapak tolong ibu, buat dia pergi pak, lihat dia mendekati kita, bapak bangun" histeris bu Nilem yang gemetaran hebat melihat tindakan Sekar yang membuat dunianya di selimuti rasa takut.
"Pak, bapak bangun, buka mata bapak, jangan tinggalin ibu sendirian, plis tolongin ibu!" tegang bu Nilem terus menjerit-jerit supaya suaminya bangun dan bisa mengusir Sekar dari sini.
__ADS_1
Sekar dengan perlahan-lahan merangkak mendekati bu Nilem yang bersandar di dinding tak bisa mundur lagi, Sekar tersenyum sinis, ia dengan pelan-pelan terus mendekati bu Nilem di sertai mata melotot tajamnya.
"Pergi, jangan ganggu aku, pergi kau dari sini, pergiiii!" jeritan bu Nilem yang tak tau harus apa ketika Sekar pelan-pelan mendekatinya.
Bu Nilem terus menjerit-jerit, ia menangis histeris di kamarnya ketika di teror oleh Sekar sampai separah ini, baru kali ini ia di ganggu oleh hantu hingga seperti ini.
"Pergi Sekar, jangan ganggu ibu, ibu minta maaf, tolong maafin ibu, ibu gak akan ganggu kamu lagi, tolong ampuni ini, kasihanilah ibu, ibu minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu, sungguh ibu menyesal, ibu gak akan ulangi kesalahan yang sama, ibu mohon sama kamu pergi dari sini hiks hiks hiks" mohon bu Nilem berharap Sekar bisa mengasihaninya.
Sekar tak memiliki hati nurani lagi, ia tidak merasa iba sama sekali meskipun bu berteriak, meminta maaf dan memohon-mohon padanya, ia akan balas dendam sampai ke titik pendarahan terakhir.
"Huuuuaaaaaaaaaa!" histeris bu Nilem memberontak saat Sekar memegang erat kakinya.
"Lepaskan aku, lepaskan, jangan sentuh aku, lepaskan aku!" menjerit bu Nilem saat Sekar dengan erat memegangi kedua kakinya.
Tubuh bu Nilem benar-benar di selimuti rasa takut, menatap wajah Sekar yang seram di lengkapi sorot matanya yang tajam sungguh membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Sekar lepasin ibu, jangan sakiti ibu, pergi kamu dari sini, jangan ganggu ibu lagi!" pekik keras bu Nilem yang terus memberontak agar Sekar melepaskannya.
Sekar tak mendengarkan sama sekali, ia masih memegang erat kaki bu Nilem dengan melototkan matanya yang super duper tajam.
"Lepasin, jangan sentuh kaki ku, pergi kau dari sini, jangan sakiti aku!" teriak histeris bu Nilem terus menerus, ia tak tahan dengan tindakan Sekar yang berhasil menakutinya, rasanya seluruh tulang-tulangnya di patahkan serentak.
"Lepaaaaaas!" jerit bu Nilem namun Sekar tak kunjung melepaskan tangannya.
"Aaaaaaaaaahhhh!" jerit bu Nilem histeris saat Sekar menggigit kakinya.
Bu Nilem langsung tak sadarkan diri sehabis merasakan sakitnya gigitan Sekar, rasa sakit itu di atas rasa sakit yang biasanya ia derita.
Sekar menatap puas bu Nilem yang jatuh pingsan.
__ADS_1
"Aku jamin hidup mu habis ini akan lebih menderita, ini adalah balasan setimpal bagi mu karena selalu mengganggu ku!" pertegas Sekar tak main-main.