Kuntilanak

Kuntilanak
Meminta belas kasihan


__ADS_3

Malam harinya.


Suasana malam begitu mencekam, suara-suara aneh bermunculan, satu pintu rumah warga pun tidak ada yang terbuka, mereka semua mengurung diri di dalam rumah dan tidak ada niatan untuk keluar sama sekali.


Kedua kuntilanak yang bekerja sama untuk membuat desa anggrek ini menjadi angker keluar dengan iringan suara menyeramkan.


Jam kini masih menunjukkan pukul 8 malam, kebanyakan warga-warga masih belum tidur di jam segini, mereka yang mendengarkan suara kuntilanak itu tak ada yang berani keluar, mereka tau siapa pemilik suara kuntilanak tersebut.


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


Suara cekikikan kuntilanak menggema di telinga orang-orang yang masih belum pada tidur.


"Hihihihihihihi"


Sekar menatap lurus ke depan, ia celingukan mencari mangsa."Kenapa tidak ada satupun orang yang keluar rumah"


"Mereka pasti takut pada kita, lihatlah tidak ada satupun orang yang berani keluaran rumah, mereka palingan mengurung diri di dalam rumah" ujar Kiki.


"Baguslah kalau seperti itu, tapi walaupun mereka mengurung diri di dalam rumah, tidak menutup kemungkinan mereka bisa terlepas dari kita, kita bisa mudah keluar masuk ke dalam rumah-rumah mereka" timpal Sekar.


Dendam terus saja berkobar, meskipun pak Anton kecewa padanya karena ulahnya tetapi ia tetap tidak akan berhenti sebelum semua dendamnya terbalaskan.


"Kiki kita pencar, kamu ke sana, aku ke sana" tunjuk Sekar ke sebelah barat dan timur.


"Siap, aku akan ganggu mereka di sebelah barat, tidak akan aku biarkan mereka lolos, malam ini mereka harus bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah kita" setuju Kiki yang memang sangat suka mengganggu orang-orang semenjak berteman dengan Sekar.


Sekar menganggukkan kepalanya."Buat mereka yang belum tidur ketakutan, kalau perlu datangin mereka di rumah mereka masing-masing, biar mereka semua tau rasa, malam ini aku maunya semua warga desa ketakutan, agar mereka tidak macem-macem lagi sama kita!"


"Baik aku akan melakukan itu semua, aku pergi dulu, kita ketemu lagi di sini" Sekar membalasnya dengan anggukan.


Kiki dan Sekar berpencar, mereka mulai mengganggu warga-warga, tidak akan mereka biarkan warga-warga yang tinggal di sini hidup tenang.


"Hihihihihihihi"

__ADS_1


Suara cekikikan mereka terus saja terdengar, mereka berdua sepakat akan merubah desa anggrek menjadi desa yang menyeramkan.


Sekar terbang ke sebelah timur, ia hinggap di salah satu atap rumah orang yang paling ia benci, tapi kali ini orangnya bukan juragan Doni ataupun bu Jamilah.


Sekar menatap seorang wanita yang tengah cuci piring di belakang rumahnya, sebab tempat pencucian piring terletak di belakang rumahnya yang sepi.


Tatapan tajam Sekar terus tertuju padanya."Gara-gara keserakahan dia aku jadi begini, kalau dia tidak meras aku, aku gak akan sudi mau jadi istri juragan Doni yang biadab itu!"


Lirikan tajam Sekar terus menatap bu Sinab, seorang pemilik toko kelontong sekaligus orang yang mengambil keuntungan dari jalur riba.


"Aku akan bikin kau merasakan ketakutan yang tiada tanding, selain bu Jamilah dan juragan Doni kau merupakan salah satu musuh terbesar ku, kau terlalu serakah akan duniawi, kini aku akan buat kau membenci dunia" pertegas Sekar, ia memiliki dendam yang sangat dalam terhadap bu Sinab yang tamak dan serah dan itu sudah di dengar bahkan di akui oleh seluruh masyarakat.


Bu Sinab tak sadar sama sekali bahwa saat ini ia tengah di pantau oleh Sekar dari atas atap, bu Sinab dengan santai terus mencuci piring bekas makan keluarganya.


Sekar tersenyum licik, secara tiba-tiba ia terbang dan mendarat tepat di belakang bu Sinab.


Seketika aktivitas bu Sinab terhenti, tiba-tiba ia merasakan merinding tanpa sebab, angin sepoi-sepoi datang dan berhasil membuat suasana semakin bertambah mencekam.


"Kenapa perasaan aku gak enak banget, siapa yang ada di belakang ku, perasaan aku cuman sendirian di sini" batin bu Sinab ketar-ketir tanpa sebab.


Sekar menggerakkan tangannya, bu Sinab melihat ada kain yang di bergerak-gerak di belakangnya tapi itu bukan kain biasa.


"Tapi siapa yang jadi hantu, siapa yang berani ganggu aku malam-malam begini!" batin bu Sinab bertanya-tanya.


"Bu Sinab" panggil Sekar lirih namun berhasil membuat jantung bu Sinab meloncat keluar.


Bu Sinab langsung membalikkan badannya, seketika tubuhnya langsung gemetar hebat, bagaimana tidak, wajah Sekar yang hancur terlihat dengan jelas di matanya.


"S-sekar" terbata-bata bu Sinab menyebut nama Sekar yang terus tersenyum licik ke arahnya.


"Iya, ini saya bu, apa ibu lupa sama saya, sudah lama kita tidak pernah berjumpa, bagaimana kabar ibu, apa ibu sudah kaya setelah membuat saya menderita" Sekar mulai melancarkan aksinya, ia teramat dendam pada bu Sinab, karena dia merupakan awal ini semua bisa terjadi.


"A-apa maksud kamu" bu Sinab tak mengerti dengan arah pembicaraan ini.


"Ibu jangan pura-pura gak tau, karena ibu yang sudah bikin saya terjebak dalam cengkeraman juragan Doni, kalau seandainya ibu tidak melakukan riba, saya tidak akan seperti ini!" bu Sinab langsung mengerti apa yang Sekar katakan.


"Itu bukan salah ibu Sekar, itu salah mu, ibu hanya mau uang ibu kembali, itu saja" bu Sinab berusaha untuk membela diri.

__ADS_1


"Tapi ibu membuat hutang yang mula-mula hanya beberapa juta menjadi puluhan juta, dan saya harus melunasinya dengan cara mengemis-ngemis kepada juragan Doni!" pertegas Sekar tak main-main.


Mulut bu Sinab bungkam, lidahnya terasa keluh, tubuhnya terus bergetar hebat, ingin rasanya ia beranjak pergi dari sana, namun entah kenapa kakinya kaku dan seperti tidak bisa di gerakkan.


"S-sekar maafin ibu, ibu gak sengaja, kamu jangan marah sama ibu, sungguh ibu tidak sengaja melakukan itu" mohon bu Sinab berharap Sekar akan pergi dari hadapannya dan membiarkan dia lolos.


"Maaf mu sudah tidak berguna, saya sudah menjadi seperti ini dan kata maaf ibu tidak akan bisa mengembalikan saya seperti dulu lagi!" tolak keras Sekar.


Tubuh bu Sinab semakin kaku, rasa gemetar itu tak kunjung berhenti, malahan semakin lama semakin menjadi-jadi, wajah Sekar yang hancur, darah-darah yang terus keluar dari hidung, ujung bibir dan juga perutnya membuat bu Sinab ketakutan.


"L-lalu apa yang kamu mau?" Sekar menyunggingkan senyuman licik, bu Sinab semakin ketakutan, pikiran kotor bertebaran di kepalanya.


"Apa yang saya mau, itu kan yang ibu tanyakan?" dengan takut bu Sinab menganggukkan kepalanya.


"Saya hanya mau nyawa ibu!"


Tubuh bu Sinab terguncang hebat, mulutnya ternganga, permintaan Sekar sungguh tak main-main.


"J-jangan Sekar, jangan lakukan itu, tolong kasihanilah ibu, ibu mohon pengampunan mu" mohon bu Sinab yang panik khawatir Sekar akan melakukan sesuatu di luar dugaannya.


"Tidak bisa dan tidak akan mungkin terjadi kalau saya mengampuni ibu!" penuh penekanan Sekar.


Bibir bu Sinab terus gemetar, ia ingin pergi namun kakinya kaku, tidak bisa di gerakkan sama sekali.


Kepala bu Sinab menggeleng."J-jangan lakukan itu Sekar, tolong berilah ibu belas kasihan mu"


"Belas kasihan? itu kan yang ibu mau!" bu Sinab dengan cepat menganggukkan kepalanya, ia ingin terlepas dari cengkraman Sekar yang teramat dendam padanya.


"Tidak akan mungkin itu terjadi, dulu saya minta belas kasihan ibu tapi apa yang ibu lakukan, ibu malah memaki dan menghina-hina saya dan sekarang saya akan balas itu semua" wajah bu Sinab mendadak menjadi pucat, guratan kekhawatiran terus terpancar di wajahnya.


"J-jangan Sekar, tolong jangan habisi ibu, lepaskan ibu" titah bu Sinab ketakutan sebab di tangan Sekar ada balok kayu yang lumayan besar.


Sekar memberikan tatapan tajamnya, bu Sinab memohon meminta ampunan, namun hatinya sudah di penuhi rasa dendam, ia tidak akan melepaskan orang yang ia benci di dunia.


Bugh!


Sebuah pukulan dahsyat mengenai kepala bu Sinab, tubuh bu Sinab langsung ambruk, keningnya mengeluarkan darah yang tiada henti.

__ADS_1


Sekar menatap murka ke arah bu Sinab yang sudah tidak sadarkan diri, ia tanpa aba-aba menghilang dari sana.


__ADS_2