Kuntilanak

Kuntilanak
Gelisah tak menentu


__ADS_3

"Tapi bu itu jalan menuju kuburan, kita jangan ke sana, di sana menakutkan, lebih baik kita kembali aja" mulai tidak tenang bu Naima saat merasakan sesuatu yang tidak benar namun ia masih terus mengikuti bu Nining dari belakang.


"Kamu mau ketemu sama suami mu gak, di sana itu ada suami kamu, kalau kamu ingin ketemu sama dia, kamu tinggal ikuti saja, jangan banyak omong!" naik pitam bu Nining.


Bu Naima langsung bungkam, ia pun tak berani berkata-kata lagi, ia memilih untuk diam dari pada bu Nining marah lagi padanya.


Dalam kegelapan malam yang mencekam bu Naima menatap sekelilingnya yang membuatnya gemetaran, hawa tak nyaman terus di rasakan dengan jelas oleh bu Naima, apalagi sebentar lagi mereka akan melewati jalanan suram yang angker dan sepi serta menakutkan.


"Serem banget, kenapa aku berada di sini, aku gak bisa ada di tempat kayak gini, aku harus pulang, tapi aku ingin tau kenapa bapak gak pulang-pulang sejak tadi, aku ingin mastiin gimana keadaannya biar hati ku lega" batin bu Naima menjadi gelisah di tengah jalan.


Bu Naima bingung harus tetap berjalan mengikuti bu Nining atau kembali pulang ke rumah.


Kukk


Suara burung hantu terdengar sangat nyaring, bu Naima langsung memucat, dalam keadaan seperti ini suara burung hantu itu malah semakin membuat situasi tambah mencekam.


"Makin angker aja jalanan ini, aku gak tahan lagi, aku harus bujuk bu Nining buat kembali bersama ku, aku takut berada di sini lebih lama lagi" batin bi Naima.


"Bu ayo kita kembali aja, di sini gelap, saya takut bu, lebih baik kita kembali aja, ibu gak usah repot-repot bantu saya ketemu sama suami saya" ajak bu Naima.


Tak ada pergerakan dari diri bu Nining, bibirnya tertutup rapat sementara kakinya terus melangkah tanpa henti.


Bu Naima semakin tidak bisa tenang, ia merasa was-was yang lerlebihan, namun ia hanya bisa terus berjalan mengikuti bu Nining, perasaannya semakin lama semakin tidak enak, ia takut dengan keadaan ini, namun ia ingin berjumpa dengan suaminya.


"Ibu itu ke arah kuburan, ayo kita kembali, kita jangan ke sana, saya yakin di sana gak ada suami saya" ajak bu Naima, perasaannya tak enak, hawa mencekam terus menyelimuti tubuhnya, ia menyerah mencari suaminya.


Bu Nining tak menyahut, ia terus berjalan tanpa henti dan akan segera masuk ke dalam jalanan suram yang di kanan dan kirinya adalah kuburan massal.

__ADS_1


"Bu ayo kita kembali aja, kita jangan ke sana bu, di sana angker, gak akan ada gunanya kita ke sana, ayo kita balik aja" bujuk bu Naima yang tak bisa tenang saat temannya tak mau ia ajak pergi juga.


Tak ada tanggapan sama sekali dari diri bu Nining, ia terus berjalan tanpa henti dan tanpa menoleh ke kanan dan kiri apalagi ke belakang.


Perasaan bu Naima semakin tak enak, rasa merinding menusuk ke jantungnya lantaran sebentar lagi ia akan masuk ke dalam jalanan suram yang terkenal angker sejak tahun 80-an.


"Duh kenapa bu Nining diem aja, dia sebenarnya mau bawa aku kemana, kenapa perasaan aku gak enak banget" batin bu Naima yang gelisah tak menentu, matanya celingukan mencari warga namun nihil, tak ada satupun warga yang berkeliaran di malam hari.


"Ibu, ayo kita kembali, kita jangan ke sana, di sana angker, berhenti bu, berhenti!" titah bu Naima tetapi bu Nining tetap saja tidak menggubrisnya dan malah terus berjalan tanpa henti.


Rasa takut, gelisah dan merinding menyelimuti tubuh bu Naima, ia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang cemas.


"Kenapa bu Nining bandel banget, kenapa dia gak mau sama sekali nurutin keinginan aku, apa yang ingin dia beri tahukan pada ku, kenapa gak bilang aja tadi di depan rumah aja" batin bu Naima yang tak bisa tenang.


Mereka berdua terus berjalan, meskipun suasana hati dan pikiran bu Naima tidak tenang dan di selimuti rasa takut ia terus mengikuti bu Nining dari belakang.


Bu Nining menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa bu Naima tak lagi mengikutinya.


"Ayo jalan, katanya kamu mau berjumpa dengan suami mu" ajak bu Nining tanpa menoleh ke belakang.


"G-gak jadi bu, saya mau nunggu di rumah aja, pasti sebentar lagi suami saya akan pulang" dengan ketakutan bu Naima menjawab, tubuhnya sedikit bergetar.


"Kamu gak jadi berjumpa dengannya karena kamu sudah tau siapa saya bukan?" bu Naima menelan ludah pahit, tubuhnya langsung bergetar hebat, wajahnya memucat, keringat-keringat dingin membasahi wajahnya.


Bu Nining membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang yang terdapat bu Naima.


Bu Naima menutup mulut tak percaya saat melihat dengan jelas sosok seram yang wajahnya hancur lebur, giginya bertaring panjang, bajunya yang tadinya bersih kini berubah kotor, sosok menatap sinis ke arah bu Naima yang terkejut dengan perubahan dirinya.

__ADS_1


"K-kamu!" terbata-bata bu Naima, ketakutan menyatu di dalam tubuhnya, rasanya ingin berlari sulit untuk di lakukan saat ini menurut bu Naima.


"Aaah kita berjumpa kembali, bagaimana kabar ibu, apakah lebih baik lagi dari kemarin?" pertanyaan yang Sekar ajukan membuat jantung bu Naima berhenti berdetak.


"Saya rasa ibu pasti bahagia bukan, orang yang ibu sebut hina kini ada di depan ibu, apa ibu tidak mau menghina saya lagi, katanya ibu membenci saya bukan?" bu Naima tiba-tiba menjadi patung saat berhadap-hadapan dengan Sekar yang jelas-jelas sudah meninggal dunia.


"Ayo lakukan, saya ingin mendengar langsung semua unek-unek ibu" tantang Sekar yang sedari tadi meradang saat bu Naima mengatai dirinya hina.


Bu Naima menggelengkan kepalanya terus-menerus, ia tak punya nyali melakukan itu semua, ia tidak seberani itu.


"Lakukan, saya ingin dengar, cepat lakukan!" perintah Sekar sedikit memaksa.


Bu Naima hanya terus menggelengkan kepalanya, ia tak tahan dengan keadaan seperti ini, ia pun berlari pergi dari sana, ia tidak mau terus menerus bertatap muka dengan seorang hantu yang di takuti oleh semua orang.


"Hantu, di sana ada hantu, tolooong!" pekik bu Naima berlari ketakutan meninggalkan Sekar yang berdiri di ambang jalanan suram.


Bu Naima tak menyangka bahwa orang yang tadi mengajaknya keluar adalah hantu yang sedang dia hindari.


Sekar tertawa terbahak-bahak saat melihat bu Naima berlari terbirit-birit meninggalkan dirinya, segala usahanya berhasil ia lakukan, ia sungguh puas menghukum orang-orang yang sudah jahat padanya.


"Hahaha rasakan itu, suruh siapa kau main-main dengan ku, kau pikir diri mu siapa bisa membuat ku tak berkutik!" tatapan tajam Sekar terus menatap punggung bu Naima yang berlari sambil berteriak-teriak meminta tolong.


Sekar tersenyum sinis kemudian menghilang dari sana setelah puas membuat bu Naima ketakutan.


Jangan lupa mampir di karya sebelah yang berjudul (Misteri Kematian Di Sekolah)


__ADS_1


__ADS_2