Kuntilanak

Kuntilanak
Sama-sama merasa bersalah


__ADS_3

"Maafkan aku, aku gak bisa jagain kamu dengan baik, aku belum bisa ngasih kebahagiaan buat kamu, kamu keburu pergi di saat aku belum menjadi apa yang kamu inginkan, maafkan aku karena tidak bisa menolong mu, aku sungguh minta maaf, tolong maafkan aku"


Seorang wanita berpakaian putih yang tengah hamil besar, berwajah pucat berdiri di dekat pohon besar yang ada di sana, dia menangis keras ketika mendengar kata-kata itu dari pak Anton.


"Mas maafin aku, aku gak bisa bertahan, maaf aku gak bisa ngelahirin anak itu, aku gagal jadi ibu hiks hiks hiks" tangis Sekar menyaksikan suaminya yang merasa bersalah atas kematiannya.


Sekar semakin terluka ketika melihat suaminya yang terluka.


"Sekar, tolong maafin aku, maaf aku gak bisa jaga kamu" pak Anton mencium batu nisan itu dengan air mata yang terus mengalir.


Sekar di bawah pohon itu terisak, dia tidak tega melihat suaminya terluka dan merasa bersalah seperti itu.


"Enggak, kamu gak salah, kamu jangan merasa bersalah, aku gak nyalahin kamu, ini semua terjadi karena kebodohan aku juga, aku bodoh mau nikah dengan iblis itu, andai kamu datang lebih cepat, hidup aku gak akan berakhir dengan pedih seperti ini" Sekar berusaha menjelaskan semuanya pada pak Anton namun ia tau kalau pak Anton tidak bisa melihat ataupun mendengar suaranya.


"Sekar kamu istirahat yang tenang di alam sana" pak Anton sulit untuk mengikhlaskan kepergian sang istri, dia terus menangisi kepergiannya.


Sekar yang melihat suaminya terluka akibat kepergiannya berjalan mendekatinya, ingin rasanya dia memeluk erat tubuh suaminya yang begitu dia sayangi.


"Mas maafin aku, aku gak dengarin kamu, kalau aku gak keluar rumah, aku gak akan jadi begini, aku gak akan buat kamu terluka, tolong maafin aku hiks hiks hiks" Sekar terus menangis, dia merasa bersalah, namun pak Anton tidak bisa mendengar semua ucapannya, pak Anton juga tidak bisa melihat keberadaannya, kini mereka menjadi dua orang berbeda alam yang saling mencintai.


Kedua pasangan suami istri yang berbeda alam itu menangis di tempat itu, mereka sama-sama merasa bersalah, di antara mereka terus saja menyesali kejadian ini, walaupun mereka sudah tidak dapat berkomunikasi seperti dulu lagi, rasa cinta di hati mereka tidak berkurang walau sedikitpun.


Pak Anton enggan untuk pulang dari sana, dia ingin menemani istrinya sendirian di sana.


Di saat air mata pak Anton terus mengalir, tiba-tiba pak Anton merasakan ada hawa dingin yang menghapus air mata itu.


"Sekar, Sekar kamu ada di sini kan?"


Sekar mengangguk dengan menahan tangisnya, dia terluka karena suaminya tidak bisa melihat keberadaannya.

__ADS_1


"Sekar katakan pada ku, kamu ada di sini bukan?" pak Anton celingukan mencari keberadaan istrinya, namun di sana tidak ada siapapun kecuali dia.


"Mas, aku ada di sini, ada di depan mu, kamu bisa lihat aku kan?"


Sekar melihat wajah pak Anton yang celingukan, dia semakin mengeraskan tangisnya setelah tau kalau pak Anton tidak bisa melihatnya lagi.


Pak Anton melihat sekelilingnya, dia tidak menemukan siapapun di sana, tidak ada istrinya yang dia cari di sana, pak Anton tertunduk lesu, wajahnya terpancar kerinduan yang mendalam pada mendiang istrinya yang sudah pergi meninggalkannya.


Pak Anton menemani Sekar di sana semalaman, dia tidak pulang ke rumahnya, dia terus bercerita tentang segalanya di makam Sekar, sementara Sekar yang mendengar itu semua hanya terus menangis tanpa henti.


...•••...


Kini matahari sudah menampakkan dirinya, cahayanya yang terang perlahan-lahan menyingkirkan kegelapan.


Sekar menatap wajah suaminya yang terlelap dengan memeluk kuburannya, pak Anton tidur di makam Sekar, Sekar mengelus rambut pak Anton dengan air mata yang terus mengalir.


"Makasih pak Anton sudah menjadi orang baik di sepanjang hidup Sekar, aku bahagia hidup bersama mu walaupun cuman sebentar, aku sungguh beruntung bisa memiliki suami seperti mu yang mencintai ku sampai akhir hayat ku, ku doakan semoga engkau bisa mendapatkan orang yang lebih baik lagi dari ku" dengan menahan sesak Sekar mengatakan itu semua, dia rasanya tak ikhlas jika ada orang yang memiliki hati suaminya setelahnya.


Sekar masih tidak mau pergi, dia terus berada di dekat suaminya yang lagi tidur.


"Anton, Anton bangun, ini sudah pagi" Karan mendatangi kuburan ketika mengetahui kalau pak Anton tidak ada di rumah, dia menduga kalau pak Anton pasti berada di kuburan.


"Anton buka mata mu, ini sudah pagi, kenapa kamu malah tidur di sini, kenapa kamu gak pulang ke rumah!" omel Karan.


Pak Anton dengan malas membuka matanya, dia begitu tidak semangat menjalani hari-hari yang penuh dengan air mata, dia masih belum bisa berkompromi dengan keadaan.


"Ayo bangun, ayo kita pulang, jangan ada di sini, di sini banyak nyamuk!" ajak Karan.


"Enggak, aku gak mau pulang, aku mau di sini aja" dengan suara yang serak pak Anton menjawab, dia enggan untuk meninggalkan istrinya, dia malah ingin menemani istrinya sepanjang hari.

__ADS_1


"Anton aku tau kamu masih belum menerima kepergian Sekar, tapi mau tidak mau kamu harus pulang, ini sudah pagi, kamu harus pulang dulu ke rumah, baru setelah itu kamu boleh balik ke sini lagi"


Pak Anton menghela nafas berat, dia rasanya tidak mau jauh-jauh dari Sekar walaupun itu hanya sebentar.


"Ayo ikut pulang, jangan di sini, kamu sudah gak pulang semalaman, jangan siksa diri mu sendiri" ajak Karan yang berusaha tegas, dia tidak bisa lemah, dia harus bisa menjadi sosok yang kuat di sisi pak Anton yang lagi tertimpa musibah.


Pak Anton mau tidak mau pulang ke rumahnya, dia terpaksa mau ikut pulang bersama Karan karena dia tidak mau mendengar ceramah Karan lebih lama lagi.


Sekar mengikuti suaminya dari belakang, dia akan menjaga suaminya, tak akan dia biarkan ada orang yang mengganggunya, apalagi menyakitinya.


Karan dan pak Anton berjalan pulang, suasana jalanan desa sepi, tidak ada satupun batang hidung manusia yang terlihat di mata keduanya.


"Kok jalanan ini sepi ya?" Karan memulai percakapan setelah lama keheningan terjadi.


"Warga-warga pasti belum bangun, ini masih pagi, wajar sepi!"


"Tapi biasanya gak kayak gini Anton, kok aku jadi merinding ya" Karan menyentuh tengkuknya yang terasa merinding, bulu kuduknya berdiri semua.


"Perasaan kamu aja paling, udah kamu jangan mikir macem-macem, ini masih pagi, gak akan ada makhluk astral yang akan ganggu kita!"


Karan terus berjalan dengan rasa takut yang semakin lama semakin menjadi-jadi, dia terus berjalan dengan melihat sekeliling tempat yang dia lewati, dia masih yakin kalau ada orang yang mengikutinya dari belakang.


Karan menoleh ke belakang."Gak ada siapapun, tapi kenapa aku merasa merinding, apa ini cuman perasaan aku aja" batin Karan.


"Apa yang kamu lihat?" penasaran pak Anton.


"Enggak ada, aku cuman ngerasa kayak ada orang yang ikutin kita" jawab Karan dengan mempercepat langkah.


"Itu perasaan kamu aja, gak ada yang ikutin kita, ayo kita pulang!"

__ADS_1


Karan dan pak Anton mempercepat langkah, Karan tampak gelisah tanpa sebab, dia merasa was-was sejak tadi.


Sekar terus mengikuti mereka, dia tidak berbuat apapun meskipun Karan merasa merinding.


__ADS_2