
"Sekar buka mata kamu sayang, jangan begini, aku mohon buka mata kamu, jangan tinggalin aku" dengan erat pak Anton memeluk tubuh Sekar, tak sedikitpun ia mau melepaskannya.
Pak Anton terus memeluk erat tubuh Sekar sambil menangisi kepergiannya, hatinya hancur kala tau istrinya di bunuh dengan cara yang paling kejam, ia tidak terima orang-orang memperlakukannya seperti ini, suatu saat dia akan membalas mereka semua.
"Sekar maafin aku, aku gak bisa nyelamatin kamu dan Alica, aku mohon maafin aku" pak Anton terpukul hebat ketika kehilangan istri tercintanya, dunianya langsung menjadi gelap kala istrinya pergi meninggalkan dirinya.
Karan menyeka sedikit air mata yang mengalir di pelupuk matanya, dia bangkit dari duduk, dia berjalan mendekati pak Anton yang terus menangisi kepergian Sekar.
"Anton ini sudah malam, ayo kita harus makamkan Sekar, kita harus bawa dia pergi dari sini sebelum ada orang yang lihat dia di sini" ajak Karan.
Pak Anton mengangguk, dia menggendong tubuh istrinya yang dingin bagaikan es batu, pak Anton membawa Sekar masuk ke dalam mobil Karan.
Karan mengemudikan mobil menuju desa pak Anton yang jaraknya sangat jauh, mereka berdua berniat memakamkan jenazah Sekar di desa pak Anton, mereka tidak mungkin memakamkan jenazah Sekar di pemakaman umum yang ada di desa ini.
Pak Anton sepanjang perjalanan terus menangisi istrinya yang sudah tidak bernyawa, dia pergi membawa segalanya, sekali lagi pak Anton kehilangan orang yang paling dia sayang di dunia ini.
"Sekar bangun, buka mata kamu, bilang sama aku mananya yang sakit, aku akan obati semua rasa sakit itu sampai kamu tidak akan merasakan sakit lagi, tapi aku mohon bangunlah, jangan tinggalin aku, aku gak tau harus apa jika gak ada kamu di samping aku" kehilangan sosok yang paling berharga di dalam hidup ini adalah sesuatu yang paling sakit dan kini semua itu di alami oleh pak Anton.
Sekali lagi semesta mengambil orang yang paling berharga di hidup pak Anton, setelah ini dia akan menjalani kehidupan sendiri lagi tanpa ada cinta dan kasih sayang yang ia dapatkan.
Air mata terus saja mengalir di mata pak Anton, pak Anton tak kuasa membayangkan bagaimana mereka semua membunuh istrinya yang begitu dia sayangi.
__ADS_1
"Apa yang sudah mereka lakukan pada mu, apa saja yang sudah mereka perbuat pada mu, Sekar aku tidak akan tinggal diam, aku akan balas mereka, mereka tidak akan aku biarkan hidup bahagia, sampai mati aku akan balas dendam, kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan tinggal diam saat kamu di bunuh sama mereka dengan cara yang setragis ini"
"Akan aku pastikan mereka menderita, kamu doakan aku semoga aku bisa buat mereka menderita juga!"
Pak Anton tidak terima, dia berniat akan balas dendam, dia tidak akan biarkan orang yang sudah bunuh istrinya hidup tenang.
"Sekar kenapa kamu pergi, kenapa kamu pergi membawa anak kita, anak yang kita nanti-nanti akan segera lahir, tapi mengapa kamu malah membawanya pergi bersama mu ke tempat yang paling jauh, aku tidak bisa meraih kalian, aku mohon jangan pergi ninggalin aku"
Di depan Karan terus berusaha fokus, dia berusaha tetap terlihat biasa di saat pak Anton terus mengatakan kata-kata yang membuatnya tak bisa menahan air mata.
"Kamu tau tidak, saat kamu hamil 7 bulan, kita sudah mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut anak itu, tapi mengapa kamu ikut pergi bersamanya, tak bisakah kamu tunggu aku sebentaaar lagi, kenapa kamu harus hukum aku sampai seperti ini, aku tau aku salah karena aku gaak bisa bantu kamu, tapi aku mohon jangan hukum aku seberat ini, aku tidak sanggup kehilangan kamu, aku mohon kamu kembalilah, jangan tinggalkan aku"
Air mata terus mengalir saat pak Anton menatap wajah Sekar yang penuh dengan luka lebam.
"Ini sakit, apa ini sangat menyakitkan, katakan pada ku, bilang sama aku apakah luka ini menyakitkan, jika kau katakan iya aku akan bunuh orang itu detik ini juga!" pak Anton menyentuh muka Sekar yang terdapat luka lebam.
"Tenanglah sayang, aku akan balas semua apa yang mereka lakukan, kamu jangan menangis karena aku yang akan buat mereka semua menangis" pak Anton memeluk erat tubuh Sekar.
Dia terus menciumi wajah Sekar, sepanjang perjalanan pak Anton menangisi istrinya yang sudah meninggal di aniaya oleh bu Jamilah, tidak ada satupun orang yang membantunya, mereka hanya melihat tanpa ada niatan untuk menolong Sekar.
Karan terus mengemudikan mobil, dia sangat tidak tega dengan nasib sahabatnya yang harus kehilangan istrinya dengan cara yang paling tragis.
__ADS_1
"Anton, sungguh malang nasib mu, orang yang kamu cintai harus meninggal gara-gara bos mu sendiri, aku doakan semoga kamu bisa ikhlas melepas kepergiannya" batin Karan yang sungguh tak menyangka kalau kehidupan sahabatnya penuh dengan air mata.
Sepanjang perjalanan pak Anton menangisi kepergian istrinya, dia terus mencium wajah Sekar yang paling dia cintai.
Setelah perjalanan jauh, mereka akhirnya sampai di desa pak Anton, di sana sudah ada banyak orang yang membantu proses pemakaman Sekar.
Mereka menggali kuburan, pak Anton maunya malam ini Sekar di makamkan, sudah 1 hari dia meninggal dunia, kasihan jika jasad Sekar di biarkan begitu saja.
Pak Anton terus memeluk erat tubuh sang istri yang dingin, wajah Sekar pucat, terlihat kalau dia kedinginan di dalam sumur itu.
Terbesit rasa gagal menjadi seorang suami di hati pak Anton, andai dia berada di dekat Sekar, mungkin Sekar tidak akan terluka separah ini hingga meregang nyawa.
"Sekar maafin aku, maaf aku gak bisa bantu kamu" batin pak Anton yang merasa bersalah atas kematian istrinya.
Warga-warga desa yang tau kalau di rumah pak Anton ada orang yang meninggal mendatangi rumah itu, mereka membaca Yasin di sana.
Setelah sekitar jam 3 malam Sekar baru di makamkan di pemakaman umum yang ada di desa itu, semua orang yang ikut memakamkan jenazah Sekar pulang ke rumah masing-masing, di sana hanya tersisa pak Anton seorang, dia masih enggan untuk pergi dari sana.
Pak Anton menatap makam istrinya dengan tatapan linglung, kini orang yang paling dia cintai di dunia ini telah istirahat dengan tenang di alam sana.
"Selamat jalan istri ku, selamat istirahat yang tenang di alam sana, sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, kamu tidak akan mendengar kata-kata menyakitkan lagi, semua rasa sakit mu sudah hilang" dengan hati yang hancur pak Anton mengatakan itu semua, dia mengusap batu nisan istrinya dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1