
Di rumah bu Salamah.
Bu Salamah celingukan menatap kanan dan kirinya yang sepi, tak ada orang lain di rumahnya, bu Salamah duduk di ruang tamu dengan rasa takut yang menyelimuti tubuhnya, ia trauma berat dengan kejadian yang menimpanya tadi malam, sungguh kejadian mengerikan itu masih terngiang-ngiang dengan jelas di benak bu Salamah.
"Bapak sama Shila kemana jam segini belum pulang, kenapa mereka pada gak pulang padahal udah malam, katanya mereka akan pulang lebih awal, tapi kenapa udah jam 10 masih belum pulang-pulang juga, gak tau apa kalau aku ketakutan di rumah sendirian"
Seorang bu Salamah yang biasanya tak pernah takut kini merasakan takut yang luar biasa, itu semua terjadi karena gangguan Sekar, di hatinya sedikit merasa menyesal telah menghina dan mencaci maki Sekar selama ini, ia tidak pernah menduga kalau Sekar akan balas dendam dengan hebat seperti ini.
Dalam suasana yang di selimuti rasa takut, bu Salamah celingukan menatap kanan dan kirinya, keringat-keringat dingin membasahi wajahnya, ia sungguh tak tahan berada di keadaan ini.
"Kapan bapak sama Shila pulang, aku udah gak tahan berada di rumah sendirian, kalau kayak gini terus menerus aku bisa benci sama malam hari"
Suasana semakin malam semakin dingin, bu Salamah sudah tidak tahan berada di ruang tamu, ia ingin kembali ke kamar namun ia takut berada di sana sendirian.
Mata bu Salamah tak henti-hentinya menatap jam yang terpampang di dinding, ia merasa jam berputar dengan sangat lambat, ingin rasanya ia memutar waktu menjadi lebih cepat dan segala ketakutan yang ia alami hari ini menghilang.
"Aku sudah tak tahan berada di sini, aku harus kemana ini, aku mau pergi ke rumah siapa, di sini yang paling dekat cuman rumah bu Toya, tapi aku takut datang ke sana, aku takut ketemu Sekar lagi" bu Salamah trauma dengan gangguan yang sudah Sekar berikan padanya kemarin, ia menjadi enggan untuk keluaran rumah.
tok
tok
tok
Bu Salamah langsung tercekat, suara ketukan pintu itu langsung mengalihkan segalanya, rasa gemetar langsung berdatangan, bu Salamah menjadi tidak tenang berada di dalam rumah sendirian.
"Siapa yang ngetuk pintu malam-malam begini, apa jangan-jangan itu Sekar?" pikiran bu Salamah penuh dengan hantu dan hantu, saking traumanya ia menjadi ketakutan tanpa sebab padahal dia masih belum melihat dengan jelas siapa orang yang tengah mengetuk pintu.
"Itu pasti Sekar, gak mungkin ada orang yang bertamu malam-malam begini, orang-orang pada takut dengan Sekar, gak bakalan ada orang yang mau keluaran rumah!" yakin bu Salamah merinding di ruang tamu.
tok
tok
__ADS_1
tok
Suara ketukan pintu kembali terdengar, namun bu Salamah masih tak bergerak sama sekali, ia enggan untuk membuka pintu, ia takut pikiran-pikiran kotor itu terjadi.
"Aku gak mau bukain pintu itu, aku gak akan biarkan Sekar masuk ke dalam rumah ku, sudah cukup dia bikin aku ketakutan setengah mati, aku gak mau berada di kuburan lagi, aku gak mau!" histeris bu Salamah menutup kedua telinganya.
tok
tok
tok
Suara ketukan itu terdengar memaksa, sementara pemilik rumah enggan untuk membukanya, trauma yang sudah ia alami membuatnya takut tanpa sebab.
tok
tok
tok
Bu Salamah mengamati sekelilingnya untuk berjaga-jaga, walaupun pintu tertutup dengan rapat hantu bisa masuk dengan mudah ke dalam rumahnya.
tok
tok
tok
Suara ketukan itu masih saja terdengar, di dalam rumah bu Salamah makin tidak tenang, anak dan suaminya masih belum pulang, untuk pertama kalinya ia takut berada di rumah sendirian, biasanya dia tidak takut sedikitpun meskipun di tinggal suaminya berbulan-bulan.
tok
tok
__ADS_1
tok
"Kenapa suara ketukan itu makin keras aja, dia gak lelah apa, pergi dari sini, aku malas keluar rumah, pergi aja dari sini, bertamu di rumah orang lain saja, jangan di rumah ku!" titah bu Salamah yang tengah gemetaran hebat.
tok
tok
tok
Suara ketukan itu tak kunjung berhenti, malah semakin lama semakin mengeras, bu Salamah geram, ia sudah tak tahan di teror seperti ini, tanpa pikir panjang bu Salamah bangkit dari duduk dan berjalan mendekati pintu.
"Sudah ku bilang bertamu di rumah orang lain, jangan rumah ku!" omel bu Salamah tanpa melihat siapa yang telah mengetuk pintu.
Bu Salamah diam melihat siapa yang berada di depannya.
"Eh bu Nilem, kok datang ke sini bu, malam-malam lagi, ibu gak takut ke sini malam-malam" ekspresi wajah bu Salamah langsung berubah total, tak seperti tadi yang marah-marah tak jelas, ia kini menyesal marah-marah pada orang yang sudah mengetuk pintu sejak tadi.
"Bu saya ingin nginap di sini, saya gak mau ada di rumah" titah bu Nilem.
"Oh silahkan bu, saya malah senang ibu mau nginap di sini, soalnya di rumah ini saya sendirian, anak dan suami saya belum pulang kerja, gak tau kapan mereka akan pulang kerja, saya tungguin dari tadi gak datang-datang juga" bu Salamah merasa senang, karena ia tidak akan sendirian lagi kalau bu Nilem menginap di rumahnya.
"Ayo bu masuk, di luar dingin, nanti ibu bisa sakit" ajak bu Salamah menatap takut keluar rumah yang tampak gelap, ia tidak mau berlama-lama berada di luar rumah.
Bu Nilem masuk bersama bu Salamah, rasa takut yang tadi bu Salamah rasakan entah kenapa menghilang secara tiba-tiba, ia sedikit merasa lega karena di rumahnya kedatangan tamu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Mereka berdua duduk di ruang tamu bersama, bu Salamah masih ingin menunggu kedatangan anak dan suaminya yang pasti sedang berada di perjalanan pulang.
"Ibu kenapa kok tumben-tumbenan mau nginap di sini, apa anak dan suami ibu lagi pergi?" penasaran bu Salamah karena baru kali ini bu Nilem ingin menginap di rumahnya.
"Iya bu, mereka lagi ke rumah kakek dan nenek Mela, mereka sudah lama tidak bertemu dengan kakek dan nenek Mela, mereka memutuskan untuk menginap di sana malam ini, saya takut di rumah sendirian, mangkanya saya datang kemari" jawab bu Nilem.
Bu Salamah tiba-tiba terdiam, ia merasakan ada keanehan dan itu sangat mencolok.
__ADS_1
"Ke rumah kakek dan neneknya Mela, tapi bukannya 2 tahun yang lalu nenek Mela meninggal, kakeknya juga sudah meninggal 4 tahun yang lalu, tapi kenapa sekarang bu Nilem bilang kalau mereka datang ke rumah kakek dan nenek Mela, setahu aku rumah kakek dan nenek Mela sudah runtuh karena tidak ada penghuninya" batin bu Salamah merasakan aneh pada temannya sendiri.