
Di rumah bu Naima.
Menunggu suami yang tidak kunjung datang membuat bu Naima tak bisa tidur, guratan kecemasan terpancar dengan jelas di wajahnya, ia khawatir suaminya bernasib sama seperti suami bu Toya yang di kabarkan meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan.
"Kemana mas Khoiron, kenapa jam segini belum pulang juga, biasanya jam 9 udah ada di rumah, kemana dia, aku kan sudah bilang kalau sudah selesai langsung pulang, kenapa dia gak dengarin juga!" gelisah bu Naima mondar-mandir ke sana kemari.
Rasa gelisah mendominasi dirinya, ia tak bisa diam sebelum suaminya datang dalam keadaan baik-baik saja.
"Kemana bapak, kenapa gak pulang-pulang, apa yang udah terjadi sama dia" gelisah bu Naima terus memeriksa jendela dengan harapan suaminya akan datang.
Keresahan terus terjadi, bu Naima terus tak bisa diam, ia ingin kejelasan dari ini semua.
Di saat bu Naima tengah risau memikirkan suaminya yang tak pulang-pulang tiba-tiba.
Craaaaanggg!
Vas bunga tak sengaja di senggol oleh bu Naima dan hancur berkeping-keping, bu Naima terperanjat, mulutnya ternganga akibat terkejut.
"Yaah jatoh, kenapa pake jatuh segala, nambah beban aku aja!" gerutu bu Naima.
Dalam pikiran yang masih terus tertuju pada pak Khoiron, bu Naima mengambil sapu dan membersihkan puing-puing pecahan beling agar tidak di injak oleh anak maupun suaminya.
Setelah bersih bu Naima membuangnya ke tempat sampah yang ada di dekat pintu, bu Naima menyadari keberadaan seseorang yang berada di luar rumahnya, karena penasaran bu Naima pun membuka pintu dan melihat ke luar.
"Bu Nining" terkejut bu Naima saat dirinya menatap bu Nining yang berdiri di dekat pagar di iringi senyuman manis.
__ADS_1
Tangan bu Nining memberi kode supaya bu Naima mendekat, bu Naima yang penasaran mengapa bu Nining keluar di waktu malam hari pun berlari mendekatinya.
"Ada apa bu, kenapa manggil saya, apa ibu butuh bantuan?" penasaran bu Naima.
"Tolong ikut saya sebentar bu, ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan" jawab bu Nining.
"Apa yang ingin ibu tunjukkan, bilang aja sekarang, biar saya tau" bu Naima semakin di buat penasaran dengan apa yang ingin bu Nining tunjukkan.
"Udah ibu ikut aja, soalnya ini menyangkut suami ibu" jawab bu Nining.
Perasaan bu Naima menjadi tidak enak saat di bibir bu Nining terucap nama suaminya, ia takut ada apa-apa yang menimpa suaminya.
"Suami saya kenapa ibu, apa yang sudah terjadi padanya, dia gak apa-apa kan bu, dia baik-baik saja bukan?" panik bu Naima yang di dalam pikirannya penuh dengan kecurigaan dan hal negatif.
"Udah ibu ikut aja, kalau ibu ingin ketemu sama pak Khoiron, ibu tinggal ikuti saya, saya akan bawa ibu ke sana" ajak bu Nining yang tak mau mengatakan segalanya di sini.
"Ada apa sama suami saya ibu, ibu tau sesuatu tentang dia bukan?" kegelisahan terus terlihat di wajah bu Naima, ia sangat takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Udah ibu ikut aja, saya tau segalanya tentang suami ibu, dia sekarang belum pulang-pulang juga bukan?" bu Naima mengangguk cepat, sedari tadi ia menunggu kedatangan suaminya namun tetap saja tidak kunjung datang.
"Iya bu, saya udah dari tadi nungguin dia, saya takut sekali terjadi sesuatu sama suami saya, seperti halnya dengan suami bu Toya yang di kabarkan meninggal karena kecelakaan, saya gak mau itu terjadi ibu, bagaimana nasib anak saya kalau bapaknya pergi duluan" kecemasan bu Naima.
"Mangkanya ibu ikutlah dengan saya, saya akan bawa ibu ke tempat suami ibu berada sekarang, ibu jangan khawatir, ibu pasti akan berjumpa dengannya" bu Naima berharap dengan mengikuti bu Nining ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan suaminya.
Di malam yang gelap dan sepi serta sunyi keduanya berjalan lurus ke sebelah utara.
__ADS_1
Wussshhhh
Hembusan angin semilir membuat bulu kuduk bu Naima berdiri semua, ia menyentuh tengkuknya yang dingin, bu Naima menatap sekelilingnya yang sepi dan sunyi, keseraman desa terlihat dengan jelas di matanya.
Bu Naima menelan ludah pahit, desanya benar-benar sudah berubah menjadi desa angker dan tak pernah ia bayangkan sama sekali.
"Jadi kayak gini situasi desa ketika di malam hari, pentesan gak ada orang yang mau keluaran rumah kalau begini kondisinya, tapi kenapa bu Nining berani ya keluar rumah, apa dia memang gak takut sama hantu" batin bu Naima menaruh kecurigaan pada bu Nining yang berjalan di depannya.
"Bu Nining kok berani keluaran rumah, ibu gak takut keluar rumah saat di malam hari?" untuk mengusir rasa penasaran bu Naima nekat mengajukan pertanyaan pada orang yang bersangkutan.
"Apa yang mau di takutin bu, gak ada apapun yang terjadi kok, untuk apa kita takut" jawaban bu Nining sedikit mengusir ketakutan yang terasa di diri bu Naima.
"Wah ibu hebat banget, di saat semua orang-orang pada ketakutan ibu malah gak takut sama sekali, padahal sekarang lagi musim hantu berkeliaran, desa kita udah gak aman bu, udah gak kayak dulu lagi semenjak bu Jamilah yang kejam membunuh Sekar yang hina itu" tutur bu Naima, ia yang tadinya tidak membenci Sekar bisa membencinya karena Sekar telah membuatnya ketakutan terus menerus.
"Ibu gak takut sewaktu-waktu ketemu sama Sekar di jalan?" bu Nining diam, tak ada sahutan yang keluar dari bibirnya, ia terus berjalan lurus saja.
Bu Naima merasa aneh saat kawannya tiba-tiba diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kenapa bu Nining diam aja, apa dia mulai takut sama Sekar, masa iya sih dia gak takut sama hantu, bu Salamah yang kejam dan tega itu aja takut sama hantu, apalagi dia" batin bu Naima yang tidak mempercayai ucapan bu Nining.
"Ibu, kenapa ibu diam, apa yang ibu pikirin?" masih tidak ada sahutan yang keluar, bu Nining memilih untuk diam sementara bu Naima mengerutkan alis mengapa kawannya berubah menjadi pendiam di tengah gelapnya malam.
"Aneh, kenapa bu Nining diam aja" batin bu Naima semakin heran dengan sikap bu Nining yang berubah-ubah.
"Ibu mau bawa saya kemana, kok ke arah sana" bu Naima mulai merasakan ketidakwajaran.
__ADS_1
"Udah ibu ikut aja, saya akan bawa ibu menemui suami ibu" jawab bu Nining terus berjalan tanpa menoleh ke belakang maupun ke kanan dan kiri.