Kuntilanak

Kuntilanak
Menyebarkan berita terbaru


__ADS_3

Bu Nining berlari mendekati gazebo tempat di mana para ibu-ibu berkumpul.


"Ibu-ibu, ibu-ibu" teriak bu Nining yang heboh.


"Ada apa bu Nining, kenapa lari-lari, apa ibu ketemu sama Sekar juga, tapi ini masih pagi, kagak mungkin Sekar gangguin ibu?" pikir bu Maimun yang menatap wajah bu Nining panik.


"Ibu-ibu ada berita besar, lebih besar dari apapun" heboh bu Nining, ia memegangi dadanya yang kehabisan nafas akibat berlari.


"Berita apa bu, cepat katakan, kami ingin dengar!" tak sabaran bu Sinab.


"Kalian tau gak, barusan saya dengar bu Jamilah jatuh sakit, dia demam sehabis di datangin sama Sekar" jelas bu Nining dengan sangat menghayati.


"APA!" tercekat mereka, mereka baru mendengar berita mengejutkan ini.


"Yang benar aja kamu!"


"Masa iya bu Jamilah di ganggu sama Sekar?"


"Sekar gak mungkin ganggu bu Jamilah, dia pasti takut sama bu Jamilah"


"Kamu jangan ngada-ngada!"


Mereka masih tak percaya dengan ucapan bu Nining.


"Beneran bu, bu Jamilah itu lagi jatuh sakit, dia di datangin sama Sekar tadi malam dan paginya langsung jatuh sakit" jelas bu Nining.


"Kamu tau dari mana berita ini, kamu jangan ngasal ngomong, kalau terbukti gak benar kamu yang akan kena masalah!" bu Toya masih tak percaya dengan berita yang bu Nining bawakan.


"Saya tau dari mbk Mala, dia yang bilang kalau bu Jamilah jatuh sakit, barusan saya ketemu sama dia yang hendak mau beli bubur di rumahnya pak Wowo, mana mungkin saya ngada-ngada, saya juga takut sama bu Jamilah kalau saya nyebarin berita bohong" jawab bu Nining.

__ADS_1


"Kok bisa ya Sekar bikin bu Jamilah jatuh sakit" kaget bu Maimun.


"Bisalah, Sekar kan hantu, dia bisa gangguin bu Jamilah tanpa ampun, dia kan orang yang sudah bunuh Sekar, jelas Sekar lakuin ini sama dia, saya yakin Sekar pasti dendam sama bu Jamilah" jawab bu Nining.


"Iya juga, gara-gara bu Jamilah Sekar meninggal, sekarang dia gentayangan, desa kita sudah gak aman lagi kalau kayak gini, ini semua gara-gara bu Jamilah, kalau dia gak bunuh Sekar, kita gak akan kena masalah kayak gini!" bu Hamiddeh melampiaskan segala kesalahan pada bu Jamilah, dari awal memang bu Jamilah biang kerok dari ini semua.


"Dia memang biang keroknya, tapi mana ada yang mau maki dia, dia itu berkuasa di desa ini, kalau di antara kita coba main-main sama dia, tak jamin umur kalian gak bakal lama kayak Sekar, kalian sudah lihat sendiri kan bagaimana kejamnya bu Jamilah saat bunuh Sekar" sahut bu Rohani.


"Iya, bu Jamilah kejamnya nauzubillah, dia memang jahat, tapi gitu-gitu juga gak ada yang berani hardik dia" tambah bu Toya.


"Terus gimana ini, Sekar semakin lama semakin menjadi-jadi, sudah ada banyak orang yang di ganggu sama dia" gelisah bu Naima.


"Iya, saya jadi risau buat beraktivitas di luar rumah kalau Sekar masih terus gentayangan" tambah bu Maimun.


"Kenapa Sekar gak gangguin bu Jamilah saja jangan kita juga, kalau dia cuman ganggu bu Jamilah kita mah aman, tapi ini apa, dia juga ganggu kita juga, dia gak mikir apa kalau kita itu pada takut sama dia!" tak habis pikir bu Nilem.


"Udah nasib, gini-gini juga kita udah ikut maki dan hina Sekar, semuanya gara-gara hasutan bu Jamilah, kalau bukan bu Jamilah yang sudah hasut kita, kita gak mungkin ikut marahin Sekar" jawab bu Rohani.


"Gimana ini ibu-ibu, desa kita kayak gak aman kalau begini terus, kita harus bikin Sekar itu pergi dari sini" usul bu Naima.


"Kami mau aja dia pergi dari sini, tapi siapa yang berani usir dia, wajah dia itu seramnya naudzubillah, saya gak mau cari masalah sama dia, saya sudah kapok di ganggu sama dia" sahut bu Nilem yang sudah merasakan bagaimana di ganggu oleh Sekar.


"Terus ini gimana, masa kita biarkan gitu aja, akan mati ketakutan kita nantinya?" bu Toya meminta pendapat mereka semua.


"Saya gak tau bu, saya gak berani usir Sekar, saya tidak seberani itu" jawab bu Maimun.


"Di desa ini yang berani cuman bu Salamah, tapi dia malah hilang" sahut bu Nining.


"Dia palingan lagi sembunyi di rumahnya, nanti sore kita ke sana lagi, kita harus temuin dia, kita paksa dia biar dia bisa usir Sekar dari sini, dia udah janji bakal usir Sekar dari sini, dia harus tepatin janjinya" ujar bu Nilem.

__ADS_1


"Iya, dia harus tepatin janjinya, nanti sore kita ke rumahnya lagi" setuju bu Hindun.


"Nanti sore itu kelamaan, ayo sekarang kita ke rumahnya saja, dia pasti ada di rumahnya, Shila itu pasti di suruh emaknya untuk boong, secara logika mana ada berita orang tua hilang, pasti Shila ngarang cerita biar emaknya selamat" seru bu Nining.


"Iya juga, emak sama anak itu kan sebelas dua belas, pasti Shila bantu emaknya agar gak kena labrak sama kita" sahut bu Sinab.


"Kalau kayak gitu mending kita ke sana, kita cari bu Salamah sampai ke lubang semut, dia harus bisa kita cari!" ujar bu Nilem.


"Ayo sekarang kita berangkat ke rumahnya, dia gak boleh lari dari masalah" ajak bu Toya semangat.


Sekali lagi mereka berangkat ke rumah bu Salamah, mereka yakin kalau bu Salamah tengah bersembunyi di rumahnya.


Tak berselang lama dari itu mereka sampai di rumah bu Salamah.


"Bu, bu Salamah keluar, jangan sembunyi dari kami, kami sudah tau kalau ibu ada di dalam!" teriak warga-warga yang yakin kalau bu Salamah sengaja menghindar dari mereka.


"Keluar bu, jangan sembunyi, kalau ibu gak mau keluar, kami akan robohkan rumah ibu" teriak bu Nilem.


Pintu rumah bu Salamah terbuka dengan lebarnya.


"Ada apa lagi, kenapa kalian semua teriak-teriak di rumah saya!" murka Shila kala ketenangannya di usik sama mereka.


"Beri tau kami di mana ibu kamu, dia pasti ada di dalam bukan?" yakin bu Naima.


"Ibu, berapa kali saya bilang, ibu saya itu gak ada di dalam rumah, dia hilang, dia gak ada di sini, kalian harus percaya sama saya" jawab Shila.


"Kami gak percaya, ibu kamu pasti ada di dalam, kamu pasti umpetin dia" bu Toya masih tetap yakin dengan pendiriannya.


"Gak ada sumpah, di dalam rumah ini gak ada ibu saya, saya berani sumpah" jawab Shila yang tak habis pikir mau menjelaskan bagaimana lagi pada mereka semua yang tetap ngotot kalau bu Salamah ada di dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2