
Di sisi lain.
Bu Hamiddeh mencuci piring di rumahnya, anak dan suaminya berada di ruang tamu menonton TV, ia dengan tenang mencuci piring di dapur, ia tidak takut karena malam ini ia tidak sendirian di rumah.
Di saat bu Hamiddeh mencuci piring, tiba-tiba ada sebuah bayangan yang besar berdiri di belakang bu Hamiddeh.
Bu Hamiddeh tercekat, dadanya berdegup kencang, sosok itu berhasil membuat dunianya berhenti berdetak, bu Hamiddeh langsung tidak fokus melakukan aktivitasnya.
"S-siapa dia, m-mengapa bayangannya besar sekali" batin bu Hamiddeh yang ketar-ketir.
Jantung bu Hamiddeh memompa dengan kencang, wajahnya pucat pasi, tubuhnya mulai bergetar karena takut.
Pikiran-pikiran kotor secara bersamaan datang menghampiri bu Hamiddeh.
"Siapa yang ada di belakang ku, perasaan cuman aku aja yang ada di sini, bapak sama anak-anak ada di depan, lalu siapa yang berada di belakang ku saat ini" batin bu Hamiddeh yang gemetaran.
Bu Hamiddeh tak berani untuk meriksa langsung siapa yang telah berdiri di belakangnya, ia tidak punya nyali sebesar itu.
Tubuh bu Hamiddeh tremor, ia mulai tertekan berada di keadaan seperti ini, bu Hamiddeh membulatkan tekad untuk meriksa langsung siapa sosok yang saat ini berdiri di belakangnya.
"Mau tidak mau aku harus liat siapa yang ada di belakang ku, kalau ternyata dia hantu aku akan teriak dengan sangat keras biar bapak datang kemari menolong ku" batin bu Hamiddeh.
Dengan menahan nafas bu Hamiddeh pelan-pelan membalikkan badannya.
"Huaaaaaaaaa" jerit keras bu Hamiddeh yang terkejut.
"Ada apa bu, kenapa ibu teriak!" heran pak Rulan suami bu Hamiddeh karena tiba-tiba istrinya berteriak sangat keras saat melihatnya.
Hati bu Hamiddeh lega, ia pikir orang yang berdiri di belakangnya adalah hantu yang menyeramkan.
"Ibu pikir bapak itu hantu mangkanya ibu teriak" jawab bu Hamiddeh dengan hati yang masih tegang.
"Mangkanya ibu jangan suka gosib, biar apa yang ibu bicarakan sama para ibu-ibu lainnya gak kebawa ke dunia nyata, liat sekarang ibu jadi penakut kayak gini, itu efek sampingnya!" ujar pak Rulan.
Pak Rulan tau bahwa setiap hari istrinya selalu bersama para ibu-ibu tukang gosib lainnya.
__ADS_1
"Eh bapak ini gimana, kalau ibu gak ikutan gosib, kita gak akan tau perkembangan bencana ini, kita harus update terus pak biar gak ketinggalan berita, bapak gimana sih" bantah bu Hamiddeh yang tidak akan berhenti melakukan kegiatan yang menjadi rutinitasnya.
"Terserah ibu, kalau semisal ibu di ganggu sama Sekar, jangan salahkah bapak, ibu tanggung aja sendiri" tutur pak Rulan yang tak mau tau nasib bu Hamiddeh kedepannya.
"Gak akan Sekar ganggu ibu, ibu juga gak ganggu dia, mana mungkin dia ganggu ibu, dia paling ganggu ibu-ibu kampung lainnya yang memang suka ngusik hidup Sekar" yakin bu Hamiddeh.
Bu Hamiddeh menganggap enteng, ia yakin bahwa Sekar tidak akan mendatanginya, padahal dulu ia pernah di ganggu oleh Sekar.
"Emang ibu siapanya kok yakin banget gak akan di datangin Sekar, orang-orang udah banyak yang di datangin sama dia, ibu yang bukan siapa-siapanya pasti juga akan dia datangin, jadi ibu jangan sok-sokan berani" pak Rulan mematahkan semangat bu Hamiddeh.
Pak Rulan berharap bu Hamiddeh di ganggu oleh Sekar biar bu Hamiddeh jera dan tidak akan keluyuran lagi.
"Iiih bapak jangan ngomong gitu, nanti kalau dia datangin ibu gimana, ibu gak mau ketemu lagi sama dia, dia udah pernah bikin ibu ketakutan, ibu gak mau lagi ketakutan gara-gara dia" tutur bu Hamiddeh yang mulai kesal.
"Bapak doain ibu malam di datangin sama dia, biar ibu gak ikutan kumpul-kumpul gak bener lagi" sumpah pak Rulan agar istrinya bisa sadar.
Bu Hamiddeh geram, rasanya ia ingin membungkam mulut suaminya yang benar-benar keterlaluan.
"Bapak tega banget, kenapa bapak malah sumpahin ibu kayak gitu, kalau dia datangin ibu beneran gimana, ibu harus minta tolong sama siapa kalau bapak gak mau bantuin ibu" mulai gemetaran bu Hamiddeh.
Bu Hamiddeh mengerucutkan bibirnya, ia kesal dengan sang suami yang sama sekali tak berpihak padanya.
"Dasar suami gak berguna, sukanya marah-marah aja, dia gak tau kalau dengarin berita itu seru!" ujar bu Hamiddeh yang kesal.
Bu Hamiddeh tidak memasukkan ucapan sang suami ke dalam hati, ia pun kembali melanjutkan mencuci piring.
Tiba-tiba bu Hamiddeh merasakan bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Ada apa lagi pak, bapak mau minta maaf bukan, ibu gak mau maafin bapak, bapak udah keterlaluan, masa cuman kumpul-kumpul sama ibu-ibu lainnya gak boleh, ibu itu pengen berkawan juga sama ibu-ibu kampung, kami juga membahas mengenai Sekar yang gentayangan kok, gak ada yang lain" ujar bu Hamiddeh.
"Ibu gak akan aneh-aneh kok, bapak tau gak tadi siang semua ibu-ibu berdemo ke pak RT, mereka minta pak RT buat usir Sekar dari desa ini, kalau pak RT gak bisa usir Sekar, maka ibu-ibu sepakat mau RT baru, itu ibu-ibu lakukan agar Sekar segera pergi dari desa ini" tambah bu Hamiddeh.
"Bapak jangan larang-larang ibu, seharusnya bapak dukung ibu" sambung bu Hamiddeh yang mengharap dukungan dari sang suami.
Sepanjang pembicaraan tak terdengar sahutan sama sekali dari orang yang berdiri di belakang bu Hamiddeh.
__ADS_1
"Bapak kenapa diem, apa bapak masih marah, bapak jangan marah, ibu lakuin ini biar ibu bisa tau segala apa yang terjadi di desa ini, berita Sekar itu lagi seru-serunya di desa ini, bapak tau gak dia itu meninggal dengan sadis gara-gara mau menjadi simpanan juragan Doni, sampai hamil pula, bu Jamilah yang tau langsung habisi Sekar"
"Lagian istri mana yang tahan kala melihat wanita lain mengandung anak dari suaminya, kalau ibu yang berada di posisi bu Jamilah, ibu juga akan lakuin itu, mana mungkin ibu diem aja, ibu gak akan takut sama Sekar, dia itu wanita lemah, gampang buat di tumbangin" hina bu Hamiddeh yang benar-benar jijik terhadap Sekar.
Satu berita yang ada di desa anggrek ini dengan mudah tersebar luas ke beberapa desa di kecamatan ini, orang-orang banyak mendengar cerita-cerita tentang Sekar yang meninggal sampai gentayangan.
"Sekar itu memang sehina itu pak, udah terlahir dari keluarga yang gak mampu, dia masih aja serakah, kalau bukan orang serakah mana ada yang mau menjadi simpanan juragan Doni itu" tutur bu Hamiddeh.
"Dia palingan haus uang mangkanya dia lakuin itu, kalau seandainya dia masih hidup dia paling......."
Perkataan bu Hamiddeh tiba-tiba terhenti, bu Hamiddeh tercekat kala mencium bau kembang yang memenuhi dapurnya.
"Kok ada bau kembang ya, perasaan aku gak pernah nanem kembang" batin bu Hamiddeh yang mulai merinding.
Praaaaangggg!
Bu Hamiddeh tersentak mendengar suara panci yang jatuh di belakangnya.
Dengan tubuh yang bergetar bu Hamiddeh membalikkan badannya menghadap ke belakang untuk melihat apa penyebab panci itu bisa jatuh.
Bibir bu Hamiddeh langsung bergetar, bagaimana tidak, saat dia membalikkan badan sosok yang ia hina-hina dan ia caci maki barusan berada tepat di depannya.
Wajah Sekar amat murka, wajahnya hancur dan banyak darah yang mengalir bagaikan air hujan, sorot mata Sekar menatap tajam ke bu Hamiddeh yang sedari tadi mengoceh dan menghina-hina dirinya sampai seperti itu.
Bu Hamiddeh tiba-tiba tergagap, untuk berbicara rasanya ia tidak bisa, ia ketakutan di tatap dengan tajam seperti itu oleh Sekar
Mulut Sekar terbuka, ia mengeluarkan gigi taringnya dan menggertakkannya.
Sontak bu Hamiddeh langsung tumbang, ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri saat rasa takut itu mendatanginya secara bersamaan.
**********
**Kepada para pembaca mohon maaf atas updatenya yang kurang maksimal, lantaran di desa saya sedang ada kuntilanak yang gentayangan, dia lagi balas dendam, konflik yang terjadi antara dia dengan cerita ini berbeda, namun meskipun begitu author tetap ngeri kalau update di malam hari.
Nanti jika keadaan sudah mulai aman, author akan mencoba untuk menulis ceritanya yang saya dengar dari mulut ke mulut, untuk saat ini author tidak bisa ngambil resiko, karena dia bukan kuntilanak biasa melainkan kuntilanak merah yang penuh dengan balas dendam.
__ADS_1
Saya mohon pada para pembaca tolong dukung karya ini ya**!