
"Kalian sudah tau siapa aku sebenarnya, kini tinggal mereka-mereka yang selama ini mengganggu hidup ku, aku akan buat mereka ketakutan juga, tidak akan biarkan mereka hanya diam begitu saja"
Selain dendam pada juragan Doni dan bu Jamilah Sekar juga akan membalas dendam pada warga-warga desa yang mengganggunya terus menerus, ini adalah kesempatan emas untuknya membalas dendam.
Sekar berjalan di jalanan desa yang sepi, malam ini adalah malam jumlah Kliwon, satu orang pun tidak ada yang keluaran rumah, mereka memilih mengurung diri di dalam rumah.
Sekar menampakkan dirinya, ia sengaja melakukan itu semua agar ada orang yang ketakutan ketika melihatnya.
Sekar berjalan dengan santai, ia masih berada di jalanan yang sepi, habis keluar dari jalanan itu ia akan bertemu dengan pemukiman warga.
Ketika berada di tengah-tengah jalanan yang sepi dan gelap Sekar banyak melihat makhluk-makhluk astral di sana, tapi anehnya dia tidak merasa takut sama sekali, ia membiarkan mereka yang terus saja lewat, sementara dia terus berjalan tanpa arah.
Saat Sekar memasuki permukiman warga Sekar mengeluarkan suara tawa yang sangat sinis dan menakutkan bagi siapa yang mendengarnya.
"Hihihihihihihi" tawa seram itu terdengar menggelegar di telinga mereka yang mendengarnya.
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
Sekar terus mengeluarkan tawa seramnya biar orang yang mendengarnya ketakutan, ia sengaja melakukan itu semua, akan dia buat desa ini menjadi angker, itu adalah balasan bagi mereka karena sudah membuatnya menderita selama ini.
"Hihihihihihihi"
Bu Naima menutup mulut tak percaya ketika melihat ada seorang wanita berpakaian putih berjalan di depan rumahnya dengan terus tertawa menakutkan.
Bu Naima langsung menutup tirai dengan cepat sebelum hantu itu sadar kalau dia sudah melihatnya.
"Hantu, di luar ada hantu, tapi siapa yang jadi hantu, siapa yang baru-baru ini meninggal dan gentayangan!" panik bu Naima mulai mengingat-ingat tentang siapa yang meninggal di desa ini.
"Hah Sekar, apa iya yang barusan lewat itu Sekar!" kaget bu Naima tak percaya.
"Tapi mana mungkin Sekar jadi hantu, memang dia baru-baru ini meninggal dunia, tapi masa dia gentayangan, pasti itu bukan Sekar" bantah bu Naima yang masih yakin kalau Sekar tidak akan jadi hantu.
Bu Naima tercekat saat ia merasakan hembusan angin yang kencang, tubuhnya langsung gemetaran tanpa sebab.
Bu Naima membuka tirai untuk memastikan apakah hantu yang barusan lewat itu Sekar atau bukan.
"Aaaaahhh!" teriak histeris bu Naima ketika ia membuka tirai wajah seram Sekar yang pertama kali dia lihat.
Sekar menampakkan wajah seramnya, matanya melotot tajam ke arah bu Naima yang gemetaran.
__ADS_1
"Huaaaaa hantuuuuu!" teriak bu Naima berlari terbirit-birit dari sana, ia masuk ke dalam kamarnya dengan ketakutan.
Sekar tersenyum senang ketika bu Naima berhasil ia ganggu hingga seperti itu, Sekar masih diam di tempat, ia tidak mau bergerak sama sekali.
"Bapaaaak, bapak di luar ada hantu, Sekar jadi hantu, dia ada di luar" teriak bu Naima membangunkan suaminya yang baru saja tertidur.
Pak Thoiron bangun dengan terkejut mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa bu, kenapa ibu teriak-teriak!" marah pak Khoiron karena waktu tidurnya yang di ganggu.
"D-di luar ada hantu, dia gangguin ibu, bapak usir dia, jangan biarkan dia masuk ke dalam" titah bu Naima yang ketakutan.
"Mana ada hantu di sini, ibu jangan ngaco, di sini gak ada orang yang meninggal, mana mungkin ada hantu yang ganggu ibu!" tak percaya pak Khoiron, setahunya tidak ada orang meninggal di desa ini, menurutnya tidak mungkin tiba-tiba ada hantu yang gentayangan.
"Pak, baru-baru ini Sekar meninggal dunia, ibu yakin dia yang lagi gentayangan di desa kita, dia kan meninggalnya gak wajar, bisa jadi dia berubah menjadi hantu dan balas dendam sama warga-warga" heboh bu Naima yang ketakutan.
Pan Khoiron terdiam, ia baru teringat dengan Sekar yang baru meninggal dunia karena di bunuh sama bu Jamilah.
"Gimana ini pak, di luar ada hantunya Sekar, bagaimana kalau dia masuk ke dalam rumah kita, bapak usir dia, ibu gak mau dia gangguin kita terus, ibu takut" bu Naima bersembunyi di belakang suaminya, ia ketakutan hebat ketika teringat dengan wajah seram Sekar.
"Gak akan bu, dia gak akan ganggu kita, ayo kita lihat keluar, kita harus pastikan dia ada di luar atau tidak" ajak pak Khoiron yang penasaran sekali apakah sosok Sekar yang seram masih ada di luar atau tidak.
"Enggak mau pak, ibu gak mau keluar, ibu gak mau ketemu lagi sama Sekar, sumpah pak wajahnya itu seram banget, dia benar-benar nakutin gak kayak dulu, aaaah ibu gak mau ketemu lagi sama dia" histeris bu Naima yang trauma pada hantu.
"Ibu jangan berisik banget, lihat anak kita lagi tidur, nanti dia bisa bangun kalau ibu teriak-teriak!" marah pak Khoiron dengan tindakan istrinya yang heboh tak karuan.
"Ayo kita keluar, kita itu harus lihat apakah di luar ada hantunya Sekar atau tidak, kita jangan diam begitu saja, kalau kita terus menerus diam, bisa-bisa hantunya Sekar akan masuk ke rumah ini, kalau dia bersarang di sini bagaimana, ibu mau hah!" maki pak Khoiron yang kesal dengan istrinya.
"Ya enggak mau lah pak, ibu mana mau rumah kita di jadiin tempat hantu"
"Mangkanya kalau ibu gak mau, ayo ikut bapak keluar, kita harus usir hantu itu, biar dia gak ganggu kita lagi!" ajak pak Khoiron yang mulai emosi karena istrinya susah sekali di ajak kompromi.
Bu Naima dengan ketakutan berjalan mengikuti suaminya yang hendak keluar dari dalam kamar, ia sebenarnya tidak mau keluar dari dalam kamar ini, tapi mau tidak mau dia harus ikut keluar juga.
tok
tok
tok
Langkah mereka langsung terhenti, telinga mereka mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Keduanya menelan ludah pahit, mereka saling menatap, lalu tatapan mereka jauh pada Mia anak perempuan mereka yang berumur 3 tahun dan tengah tidur di kasur.
__ADS_1
"Bu siapa yang ngetuk pintu, anak kita ada di sini, di rumah ini kita cuman tinggal bertiga, siapa lagi yang ngetuk pintu malam-malam begini?" mulai merinding pak Khoiron.
"Pak, itu palingan Sekar pak, dia jadi hantu, dia pasti dendam sama kita, kita kan juga ikut menghakimi dia, dia pasti mau balas dendam tentang kematiannya" jelas bu Jamilah dengan wajah yang ketakutan.
Pak Khoiron diam, ia merasakan ketakutan yang sama seperti istrinya, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
tok
tok
tok
"Pak suara ketukan itu kembali, ibu takut pak, bapak keluarlah, temui dia" bu Naima yang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh suaminya.
"Enggak mau bu, bapak gak mau keluar, ibu saja sana, ibu kan yang sudah ikut-ikutan hina Sekar kayak ibu-ibu lainnya, sekarang ibu tanggung resiko sendiri" pak Khoiron bukannya menenangkan bu Naima dia malah semakin menakut-nakuti bu Naima.
"Aaaaah gak mau pak, ibu gak ngapa-ngapain Sekar, bu Salamah yang hasut ibu, ibu gak salah, dia yang salah, seharusnya dia yang di datangin sama Sekar, bukan kita" histeris bu Naima yang menyesali semuanya.
tok
tok
tok
Suara ketukan itu kembali, suaranya semakin lama semakin keras dan terdengar memaksa.
"Gimana ini pak, ibu takut, tolongin ibu" ketakutan bu Naima dengan terus membenamkan wajahnya di punggung suaminya.
"Mangkanya lain kali ibu jangan ikut-ikutan, ini yang bapak takutkan!" omel pak Khoiron pada istrinya.
Bu Naima hanya bisa menyesali perbuatannya, ia sungguh menyesal mau mengikuti ajakan bu Salamah, kini ia harus menanggung resiko dari apa yang sudah dia lakukan.
tok
tok
tok
"Bu Naima hihihihihihihi" panggilan lirih terdengar di telinga bu Naima dan pak Khoiron.
"Aaaaaaaaaahhhh!" teriak mereka berdua dan langsung bergegas masuk ke dalam selimut, mereka berdua yang ketakutan bersembunyi di dalam selimut, mereka berdua tak ingin sama sekali keluar dari dalam selimut.
Sekar di balik pintu tersenyum bahagia ketika musuh satu persatu sudah berhasil dia buat ketakutan.
__ADS_1
"Makan itu, suruh siapa kalian mau ganggu hidup aku, sekarang rasakan pembalasan ku!" senang Sekar yang bisa membalas dendamnya.
Sekar dengan mudah keluar dari sana, ia bisa menembus benda apapun saat ini.