
Di rumah bu Toya.
Bu Toya berjalan memasuki kamarnya, ia hendak tidur karena malam sudah semakin larut.
Baru beberapa detik bu Toya memejamkan mata, telinganya mendengar sesuatu yang membuat matanya kembali terbuka.
tes
tes
tes
"Kok kayak ada suara kran yang bunyi, apa aku belum matiin kran ya, tapi perasaan aku kran sudah di matiin semua" bu Toya merasa aneh saat mendengar suara kran di tengah malam.
tes
tes
tes
Suara gemericik air terus terdengar di telinga bu Toya.
"Aku cek aja dulu biar semuanya jelas"
Bu Toya bangkit dari duduk, ia melangkah keluar dari kamarnya, tempat pertama yang bu Toya datangin adalah kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Bu Toya membuka pintu kamar mandi."Sepi, kamar mandi ini gak siapapun apalagi kran nyala, tapi mengapa tadi aku dengar ada suara air, kalau bukan berasal dari sini dari mana lagi?"
Bu Toya menatap heran dengan kejadian barusan, ia kembali mengamati kamar mandi yang memang tidak ada apapun yang mencurigakan, lantai kamar mandi kering, tidak ada yang menggunakan kamar mandi baru-baru ini.
__ADS_1
"Aneh, kenapa ada suara air malam-malam begini, apa mungkin aku cuman salah dengar, lagian siapa juga yang mau idupin air di jam segini, bapak masih belum pulang, biasanya dia pulang jam 2-3 malam, kalau Umam kan ada di luar kota, gak mungkin dia yang ngelakuin ini semua"
Bu Toya menutup pintu kamar mandi setelah tidak ada apapun yang mencurigakan, bu Toya kembali berjalan menuju kamarnya yang terletak di paling tengah.
Bu Toya berhenti berjalan untuk sejenak, ia mendengarkan kembali suara yang tadi ia dengar.
"Sudah gak ada suara air itu, kayaknya bukan dari sini suara itu berasal, pasti tetangga sebelah yang idupin air dan gak sengaja kedengaran sampai sini"
Bu Toya merasa lega, ia berjalan menuju kamarnya kembali karena sudah waktunya dia istirahat.
Tiba-tiba langkah bu Toya terhenti, ia menatap ke arah dapur, ia berjalan mendekati wastafel, bu Toya mengambil gelas dan hendak mengisi gelas itu dengan air, sebelum kembali ke kamar ia ingin minum terlebih dahulu.
Ketika kran di hidupkan, bu Toya langsung kaget kala yang keluar bukan air tapi darah.
Bu Toya langsung menjatuhkan gelas itu dan gelas itu hancur berkeping-keping di lantai.
"D-DARAH, k-kenapa air ini berubah menjadi darah!" tercekat bu Toya dengan menutup mulutnya yang ternganga, ia menatap terkejut ke arah darah yang memenuhi lantai.
"Ini pasti ada kesalahan, gak mungkin air ini berubah menjadi darah, itu sangat mustahil terjadi!" yakin bu Toya karena sebelum-sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini.
"Aku harus pastikan kalau ini semua salah"
Bu Toya yang gemetar berlari ke kamar mandi, wajah bu Toya tercekat, ia melototkan matanya menatap bak air yang ada di kamar mandi.
"K-kenapa di sini airnya berubah jadi merah, perasaan tadi airnya masih jernih, mengapa semuanya berubah secepat ini" heran bu Toya melihat itu semua, mulutnya tak henti-hentinya terbuka.
"Gak mungkin ini terjadi, ini gak mungkin bisa terjadi, ini pasti ada yang salah, gak mungkin semua ini terjadi" berulang kali bu Toya mengatakan itu semua, ia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"B-bagaimana mungkin air di rumah ku berubah jadi darah, siapa yang sudah mencemarinya, gak mungkin air ini tercemar dengan sendirinya, aku yakin pasti ada orang yang sudah mencemarinya"
__ADS_1
Dengan tatapan takut bu Toya memundurkan tubuhnya, ia tidak percaya kalau ini semua terjadi, ia yakin apa yang dia lihat sekarang hanyalah halusinasi saja.
"Gak mungkin ini terjadi, ini pasti salah, gak mungkin air di rumah ku berubah jadi darah, mata ku pasti salah, ini pasti salah" dengan terus mundur bu Toya mengucapkan kalimat itu, ia masih tak percaya dengan keanehan yang terjadi di depan matanya.
Tubuh bu Toya menabrak sesuatu, wajahnya berubah menjadi tegang kala tubuhnya tak bisa lagi untuk mundur.
"S-siapa yang ada di belakang ku, apa mungkin bapak atau Umam, tapi biasanya mereka gak pulang jam segini, gak mungkin di antara mereka yang berada di belakang ku" batin bu Toya bertanya-tanya siapa yang berada di belakang tubuhnya.
Bu Toya diam, ia berpikir siapa yang ada di belakangnya, posisinya dia saat ini lagi sendirian di rumah, secara logika tidak mungkin ada tamu yang masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
Wajah bu Toya semakin tegang, ia tak sengaja mencium bau kembang kuburan yang baunya semerbak, bu Toya menelan ludah pahit, tubuhnya mendadak gemetaran hebat.
"Siapa di belakang ku sebenarnya, k-kenapa pake ada bau kembang, apa jangan-jangan di belakang aku itu......." batin bu Toya yang tak bisa membayangkan itu semua.
Bau kembang semakin lama semakin pekat, bulu kuduk bu Toya berdiri semua, ia sudah tidak tahan berada di sana dalam situasi seperti ini.
"Aku harus lihat siapa yang ada di belakang ku, aku harus pastikan kebenarannya" batin bu Toya yang tidak ingin ketakutan tanpa sebab.
Bu Toya dengan perlahan-lahan membalikkan badannya menghadap ke belakang.
"Aaaaaaaaaahhhh" teriakan bu Toya terdengar seisi rumah, saat matanya menangkap dengan jelas wajah Sekar yang berlumuran darah di tambah mata seramnya yang melotot tajam ke arah bu Toya.
Bu Toya langsung jatuh pingsan tak sanggup melihat hantu seseram Sekar.
Sekar diam di tempat, dia melihat ke arah bu Toya yang jatuh pingsan dan tergeletak di lantai.
"Akhirnya aku bisa balas dendam juga, setelah sekian lama aku bisa membuat kau dan seluruh teman-teman mu merasakan penderitaan yang aku rasakan selama ini, ini masih pemulaan, kedepannya aku akan melakukan teror yang lebih ekstrim dan sadis lagi!" tegas Sekar, seluruh hati dan jiwanya di penuhi dendam dan amarah.
"Kalian bertiga sudah merasakan pahitnya mengganggu ku, waktunya aku memberi peringatan pada warga-warga lainnya, aku tidak akan berhenti untuk membuat kekacauan di sini, ini semua aku lakukan gara-gara kalian, aku tidak akan balas dendam kalau bukan kalian yang memulainya terlebih dahulu!"
__ADS_1
Sorot mata Sekar begitu seram, dendam terus berkobar bagaikan api yang menyala-nyala, bagaimana mungkin ada orang yang tidak dendam setelah dirinya di siksa habis-habisan hingga meregang nyawa, padahal dia sudah sangat menantikan kelahiran anaknya, tapi karena mereka anak yang dia tunggu-tunggu selama 9 bulan harus mati mengenaskan.
Sekar menghilang dari sana, ia tidak peduli sama sekali pada nasib bu Toya yang jatuh pingsan akibat melihatnya.