Kuntilanak

Kuntilanak
Pengendara motor membawa petaka


__ADS_3

"Shila kenapa kamu diam saja, jawab pertanyaan ibu!" hardik bu Salamah karena Shila tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Shila masih diam, dia menatap kosong ke arah bu Salamah yang berada di depannya, sorot matanya amat berbeda, tak sama seperti Shila pada umumnya.


Terbesit rasa aneh di hati bu Salamah ketika melihat anaknya yang menjadi pendiam padahal biasanya anaknya selalu cerewet.


"Shila kamu jangan bengong nanti kesambet!" teriak bu Jamilah untuk menyadarkan anaknya yang berubah menjadi aneh.


"Gak akan bu, gak akan aku kesambet, setan takut sama aku" jawab Shila setelah sekian lama terdiam.


"Kamu dari mana, kenapa dari arah sana, bukannya biasanya kamu selalu pulang lewat jalanan ini" tunjuk bu Salamah ke arah jalanan seram yang merupakan jalanan angker, jalanan itu adalah jalanan alternatif yang selalu warga lewati meksipun gelap, seram dan angker, mereka terpaksa lewat jalanan itu karena tidak ada jalanan lain lagi.


"Tapi kenapa sekarang mamu malah muncul dari jalanan itu" heran bu Salamah sekaligus bertanya-tanya dengan menunjuk ke arah jalanan setapak yang ada di sebelah barat.


"Ibu mau kemana, kenapa aku cari gak ada di rumah!" Shila sepertinya mengalihkan pembicaraan agar ibunya tak fokus pada hal itu.


"Ibu mau ke rumah bu Toya, kita nginap di sana saja"


"Kenapa kita harus nginap di sana bu, kita kan punya rumah, ngapain kita nginap di rumah orang" heran Shila yang tidak tau apa-apa.


"Udah kamu jangan banyak tanya, malam ini kita nginap di sana, besok pagi-pagi kita pulang ke rumah, oh ya di mana bapak kamu, kenapa kamu gak pulang sama bapak mu, biasanya kan kamu selalu pulang sama dia!" heran bu Salamah ketika tidak melihat suaminya.


"Bapak lagi lembur, dia nyuruh aku pulang duluan, kata bapak nanti temannya yang akan antar dia pulang" jelas Shila.


Bu Salamah tak lagi merasa curiga, ia kini lega akhirnya anak yang dia tunggu-tunggu pulang juga.

__ADS_1


"Ayo kita ke rumah bu Toya, kita nginap di sana, kang anterin ibu ke sana"


Shila mengangguk, ia mengantar bu Salamah ke rumah bu Toya.


Motor melaju memasuki jalanan angker yang di kanan dan kirinya terdapat kuburan, bu Salamah membenamkan wajahnya ke punggung Shila, ia merasa takut melewati jalanan itu.


"Shila lebih cepat lagi, ibu ingin segera sampai di rumah bu Toya" titah bu Salamah karena Shila begitu pelan-pelan sekali melewati kuburan itu.


Tidak ada perubahan, Shila masih mengemudikan motornya dengan sangat pelan, dia tidak mengerti kalau ibunya sedang ketakutan.


"Shila lebih cepat lagi, ibu ingin segera keluar dari sini, ibu gak mau lama-lama berada di sini" titah bu Salamah sekali lagi, ia merasakan hawa tak nyaman ketika melewati kuburan massal yang pajang dan sepi serta gelap itu.


Shila tidak mendengarkan, dia tidak sama sekali menuruti ucapan bu Salamah, dia dengan pelan-pelan melajukan motornya melewati kuburan massal itu.


"Shila kamu dengar gak sih apa yang ibu bilang, cepet tancap gas, ibu ingin segera keluar dari sini, ibu takut lama-lama berada di sini, ibu khawatir ada penampakan nantinya" titah bu Salamah mulai naik pitam saat Shila tidak sama sekali menggubris ucapannya.


"Kenapa anak ini jadi tuli, apa dia gak dengar suara ku, mustahil dia gak dengar, tapi kalau dia dengar kenapa dia gak nurutin apa yang aku minta, dia gak tau apa kalau aku ingin pergi dari sini, aku sudah gak tahan berada di sini" batin bu Salamah yang mulai emosi.


"Shila lebih cepat lagi!" teriak bu Salamah yang emosi.


Tak ada pergerakan di diri Shila, dia masih diam seribu bahasa, sementara bu Salamah mati ketakutan berada di kuburan itu.


Tubuh bu Salamah gemetaran, ia tak tahan berada di keadaan ini.


Bu Salamah sudah sangat greget, dia mendongakkan kepalanya, dia menatap ke arah anaknya, bu Salamah tercekat, tadi yang dia lihat Shila anaknya mengenakan pakaian berwarna coklat, tapi kenapa sekarang berubah menjadi putih.

__ADS_1


"A-apa ini, kenapa punggung Shila luka-luka dan banyak darahnya" batin bu Salamah yang tercekat ketika baju putih itu merembes darah.


"Apa yang sudah terjadi sama Shila, apa dia mengalami kecelakaan, kenapa dia terluka separah ini" batin bu Salamah khawatir dengan anak emasnya.


Bu Salamah menatap ke arah spion untuk melihat wajah Shila.


"Aaaaaaaaaahhhh!" teriak histeris bu Salamah yang melompat dari motor ketika melihat wajah seorang wanita yang penuh dengan darah, wanita itu jelas-jelas bukan anaknya.


Kepala bu Salamah menghantam batu, darah langsung mengalir tanpa henti, tubuh bu Salamah terguling-guling di sana, dengan setengah tidak sadar bu Salamah menatap ke arah wanita berpakaian putih yang berdiri tepat di sampingnya.


"S-sekar" terbata-bata bu Salamah yang melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri wajah Sekar yang menakutkan.


Sekar diam tanpa ekspresi, dia tidak melakukan apapun dan hanya menatap ke arah bu Salamah yang mulai kehilangan kesadarannya.


Pelan-pelan mata bu Salamah terpejam kuat, dia tidak lagi bergerak.


Sekar langsung merubah kembali wajahnya yang dulu."Rasakan ini, kau tadi berlagak tidak akan takut pada ku, belum apa-apa saja kau sudah ketakutan, kau memang benar-benar orang yang sombong dan angkuh, sudah sepatutnya kau merasakan ini semua!"


Sekar puas ketika bu Salamah, kedua trio ondel-ondel berhasil dia celakai.


Bu Salamah kurang teliti, dia tidak berpikir sebelum meminta Sekar yang menjelma menjadi Shila mengantarkannya ke rumah bu Toya, sudah jelas-jelas jalanan di sebelah barat arah Sekar datang buntu, tidak mungkin ada pengendara yang bisa keluar dari jalanan itu.


Sekar menatap sekelilingnya yang sepi, tak ada satupun orang yang berada di sana, ia kembali menatap ke arah bu Salamah yang terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Sudah lama aku ingin melakukan ini semua, kali ini aku akan terus melakukan kejahatan, sudah sepatutnya aku balas dendam, kau harus merasakan hidup mu bagaikan di neraka habis ini, dulu aku yang kau buat menderita, kini giliran ku untuk membalas dendam!"

__ADS_1


Dendam terus berkobar di mata Sekar, dia benar-benar akan membalas semua apa yang sudah mereka perbuat padanya.


Sekar yang di penuhi amarah dan dendam pergi dari sana meninggalkan bu Salamah yang tergeletak tak sadarkan diri di tengah-tengah jalanan angker.


__ADS_2