
Bu Sinab kembali menemui bu Naima dengan membawa sejumlah uang.
"Kamu mau hutang berapa?" dengan tak bersahabat bu Sinab bertanya pada bu Naima yang masih ketakutan parah.
Sungguh berhutang pada bu Sinab sama saja seperti mau bertemu dengan iblis neraka, mereka berdua sama-sama garang.
"2 juta aja bu, saya mau pinjam segitu dulu, kalau nanti kurang saya akan pinjam lagi sama ibu, tapi saya janji saya akan lunasi bulan depan" jawab bu Naima.
Tatapan maut bu Sinab masih tertuju pada bu Naima yang masih ketakutan parah."Tapi ingat pinjam di sini itu ada bunganya, kamu tau kan berapa bunganya?"
Kepala bu Naima mengangguk."Iya bu, saya tau hal, saya akan bayar lengkap dengan bunganya, saya pasti akan lunasi tepat waktu kok bu, ibu tidak perlu khawatir"
"Bagaimana saya tidak khawatir!" teriakan bu Sinab berhasil membuat bu Naima tersentak kaget.
Teriakan bu Sinab sama saja dengan petir, sama-sama keras dan menakutkan.
"Ini itu uang, bagaimana semisal kamu gak balikin uang saya, cari uang di jaman sekarang itu sulit, kamu bisa aja gak bayar uang saya!" tutur bu Sinab.
"K-kalau saya gak bayar, ibu bisa bunuh saya, saya rela mati jika memang saya gak bisa bayar hutang" jawab bu Naima dengan ketakutan parah.
Sorot mata tajam bu Sinab terus menatap ke arah bu Naima tanpa henti.
"Awas jika kamu gak bayar hutang ini, kamu akan saya bunuh" bu Naima mengangguk, ia sangat memerlukan uang itu, ia terpaksa meminjam uang pada bu Sinab yang kayaknya rentenir saking garangnya.
"Iya bu, saya rela mati jika saya tak bisa bayar hutang" jawab bu Naima.
__ADS_1
Bu Sinab menghitung uang dengan gaya menakutkannya."Di tangan saya ini ada uang 2 juta, saya berikan uang ini pada kamu hari ini, jika bulan depan kamu gak bayar, habis ini di tangan saya"
Bu Naima bergidik ngeri dengan ancaman bu Sinab yang tidak main-main.
"Ini" bu Naima dengan tangan tremor mengambil uang yang ada di tangan bu Sinab.
"Ingat bayar hutang kamu tepat waktu, jika sampai kamu gak bayar kayak Sekar, liat aja apa yang akan saya lakukan" bu Naima yang mendengar hanya bergidik ngeri saja.
"Kamu tau kan siapa Sekar itu?" bu Naima mengangguk, ia tau betul siapa orang yang bernama Sekar tersebut.
"Dia itu dulu pinjam uang sama saya, dia gak mampu bayar, sehingga dia jual diri ke juragan Doni, dia benar-benar murahan, hanya karena gak bisa bayar hutang dia rela jual diri" ujar bu Sinab menceritakan aib Sekar.
Selama ini bu Sinab tidak pernah bercinta tentang hal ini, ia membiarkan warga-warga menghina dan mencaci maki Sekar yang bukan-bukan, ia juga malas untuk menyelesaikan persoalan ini, karena ia tidak suka juga dengan Sekar.
"Yang benar bu Sekar sampe segitunya hanya karena ingin bayar hutang" terkejut bu Sinab.
"Kamu jangan sampai bernasib sama seperti Sekar, dia itu memang hina, hanya ingin melunasi hutang dia malah ingin jual diri, tapi kalau semisal nanti kamu memang gak bisa bayar hutang, datang aja ke juragan Doni, kamu jual diri kamu, karena saya tidak peduli sama kamu, kamu mau cari cara apapun untuk bayar hutang silahkan, yang penting uang saya yang kamu pinjam balik" tutur bu Sinab.
Bu Naima diam mendengarkan ocehan bu Sinab yang terus menjelek-jelekkan Sekar.
"Kenapa bu Sinab segitunya sama saya, saya cuman ingin pinjam uang loh bu, kenapa ibu menghina saya sampai segitunya" bu Naima merasa sakit hati dengan hinaan bu Sinab yang keterlaluan.
"Kenapa? kamu sakit hati, kamu mau marah sama saya, kalau kamu mau marah, jangan pinjam uang sama saya, karena di sini tidak ada rasa kemanusiaan sama sekali, di sini bukan kantor polisi, jika kamu tidak siap di hina jangan berhutang di sini" jawab bu Sinab yang tidak suka sama sekali dengan bu Naima yang tiba-tiba membantahnya.
"Tapi gak gini juga bu, tak bisakah ibu menghargai orang lain, saya juga manusia bu, ibu jangan main hina saya seperti ini, saya punya hati, hati saya sakit bu, tak bisakah ibu lihat seperti apa hancurnya hati saya, apakah ibu tidak memiliki hati nurani" dengan kecewa bu Naima menatap ke arah bu Sinab yang sedari tadi menghinanya.
__ADS_1
"Benar kata orang-orang, ibu memang seperti iblis neraka yang kejam!"
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di wajah bu Naima, bu Sinab benar-benar tak suka ada orang yang menghinanya seperti ini.
"Benar-benar gak tau diri kamu, sudah datang pinjam uang, tapi saat di kasih pinjam kamu malah hina saya, orang macam apa kamu ini, sungguh kamu itu sebelas dua belas dengan Sekar, sama-sama gak tau diri, gak tau malu dan gak punya harga diri" hina bu Sinab habis-habisan.
Bu Naima yang memegang pipinya yang sakit karena di tempat oleh bu Sinab menatap tajam ke arah bu Sinab.
"Apa? kamu mau marah sama saya, kalau kamu mau marah kembalikan uang yang saya, saya tidak mau minjamin kamu uang, saya benar-benar tidak suka dengan orang seperti kamu yang benar-benar tidak tau diri sama sekali, sudah pinjam uang masih aja gak tau diri" tantang bu Sinab dengan tatapan mata tajamnya, ia takut sama sekali dengan bu Naima karena ia merasa dirinya yang paling berani.
"Oke, saya tidak jadi pinjam sama ibu, saya tidak sudi pinjam uang sama orang yang berhati batu kayak ibu" bu Naima yang kesal melempar uang sebesar 2 juta itu ke wajah bu Sinab yang tamak dan serakah.
Bu Sinab benar-benar geram, apa yang di lakukan bu Naima benar-benar kurang ajar.
"Kurang ajar kau memang, benar-benar biadab sama seperti Sekar rupanya diri mu itu!" tutur bu Sinab.
Tatapan tajam bu Naima tiba-tiba berubah, wajahnya yang manusiawi kini berubah menjadi hantu yang menyeramkan.
Mulut bu Sinab terkejut, sedari tadi orang yang ia ajak berdebat adalah hantu yang menyeramkan.
"K-ka-u" terbata-bata bu Sinab menatap wajah Sekar yang begitu menyeramkan.
Sekar mengeluarkan tatapan mautnya, wajahnya terbakar emosi, ia kemudian langsung mendorong bu Sinab sampai bu Sinab jatuh pingsan.
__ADS_1
"Dasar manusia biadab, liat aja apa yang akan aku lakukan nantinya" geram Sekar yang tak bisa di tahan-tahan.
Sekar kemudian menghilang dari sana, ia membiarkan bu Sinab berada di sana.