
Di sisi lain.
Bu Salamah membuka matanya, ia langsung memegangi kepalanya yang terasa sakit, tangan bu Salamah langsung penuh dengan darah, jidatnya terbentur dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.
"Aduuuh kepala aku sakit banget" ringisnya berusaha menahan rasa sakit itu.
Bu Salamah menatap sekelilingnya, ia langsung bangkit kala menyadari kalau dia berada di depan kuburan yang sepi, tak ada satupun orang yang melintas di jalan.
"K-kenapa bangun-bangun aku bisa ada di sini, perasaan tadi malam aku ada di rumah, kenapa sekarang kok bisa pindah ke sini?" terkesiap bu Salamah saat bangun-bangun pertama kali yang ia lihat adalah makam, makam dan makam.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" bu Salamah mulai mengingat-ingat kejadian tadi malam yang ia lewati.
"Oh iya, tadi malam aku di teror sama Sekar, aku bisa ada di sini gara-gara dia, dia yang sudah buat aku terdampar di sini!" bu Salamah ingat betul kejadian mistis yang ia lewati tadi malam.
"Sumpah Sekar serem banget, kenapa aku bisa gak sadar kalau tadi malam itu bukan Shila tapi Sekar, dia pake bikin aku jantungan lagi, aku gak mau ketemu lagi sama dia, aku nyesel banget gak dengarin kawan-kawan aku biar gak nantangin Sekar sekarang aku kena batunya, andai aku tau cuplikan wajah Sekar pasti aku gak akan main-main sama dia" begidik ngeri bu Salamah kalau teringat kejadian mengerikan itu.
Bu Salamah menatap takut sekitarnya yang rata-rata adalah kuburan semua, meskipun ia belum masuk ke dalam kuburan, dari luar saja dia sudah gemetaran hebat.
"Gak aman aku berada di sini, lebih baik aku pulang aja ke rumah, aku harus kisah tau warga-warga masalah ini, biar mereka semua tau"
Dengan terbirit-birit bu Salamah berlari pulang ke rumahnya, baju bu Salamah kotor akibat terguling-guling di jalanan.
Bu Salamah berlari seperti di kejar setan, walaupun ini masih pagi dia tetap saja merasa merinding.
Dengan tergesa-gesa bu Salamah berlari menuju rumahnya yang sudah tak terlalu jauh.
"Akhirnya aku sampai di rumah juga" lega bu Salamah setelah sekian lama akhirnya bisa sampai di rumahnya juga.
__ADS_1
Bu Salamah menatap ke depan, banyak ibu-ibu yang berada di depan rumahnya, ia mengerutkan alis mengapa mereka semua berkumpul di rumahnya.
"Ada apa ibu-ibu, kenapa kalian pada ngumpul di sini?" penasaran bu Salamah.
"Bu Salamah kemana aja, kenapa ibu muncul dari sana bukannya dari dalam rumah" heran bu Nining.
"Saya habis dari kuburan" jawab bu Salamah.
"Ngapain ibu dari kuburan, pagi-pagi gini lagi" tak habis pikir bu Sinab.
"Kalian tau gak, tadi malam saya di ganggu sama Sekar, dia serem abis, dia bikin saya luka, lihat jidat saya, berdarah kan, ini semua gara-gara dia, dia yang sudah buat saya seperti ini" jelas bu Salamah.
"Oh jadi ibu di ganggu juga sama Sekar ya" terkejut bu Nilem.
"Iya bu, tadi malam saya sampai lari terbirit-birit dari dia, dia ganggu saya sampai separah ini" begidik bu Salamah kala ingat kejadian itu.
"Saya di ganggu di dalam rumah, Sekar neror saya terus-menerus, karena gak tahan saya keluar rumah, ceritanya saya mau ke rumah bu Toya, tapi ketika di jalan saya ketemu sama Sekar tapi dia nyerupain Shila, habis itu Sekar bikin saya pingsan, jidat saya sampai luka itu semua gara-gara dia" jelas bu Salamah.
"Ibu gak sempat usir Sekar dari sini, katanya ibu bisa usir dia, kok ibu yang malah di celakain sama dia" bu Nining menagih janji bu Salamah yang katanya bisa mengusir Sekar.
"Kalau masalah itu, saya gak berani bu, saya sudah lihat bagaimana rupa Sekar, saya gak mau ngambil resiko buat usir dia, belum saya coba usir dia, dia malah bikin saya luka sampai begini" jawab bu Salamah.
"Gimana dong bu, ibu sudah janji akan beri kabar baik, tapi ini apa, ibu malah kena batunya juga, saya gak mau tau pokoknya ibu harus bikin si Sekar minggat dari sini!" pertegas bu Hamiddeh.
"Eh enak aja, gini-gini juga saya ini manusia, saya gak mau berurusan sama hantu, kalau kamu ingin dia pergi dari sini, kamu aja yang usir dia, jangan main nyuruh-nyuruh saya, emang kamu siapa!" bu Salamah langsung naik pitam saat mereka mendesaknya.
"Kemarin aja bilangnya bisa usir Sekar, eh pas hari H nya malah gak bisa, gimana sih kok plin-plan" nyinyr bu Sinab.
__ADS_1
"Banyak omong kau, mau ku robek mu hah!" bu Salamah tak terima saat mereka merendahkannya.
"Pergi kalian lagi sini, jangan ada di rumah saya, saya tidak sudi rumah saya di injak sama makhluk jahanam kayak kalian!" usir bu Salamah tegas.
"Makhluk jahanam, kayaknya kata-kata itu pantas buat yang ngomong!" bu Maimun memancing emosi bu Salamah.
"Apa maksud kamu, kamu kalau gak suka jangan main nyindir, sini hadapi saya!" dengan mata tajam bu Salamah berdiri tepat di hadapan bu Maimun.
"Malas saya berkelahi dengan anda, anda saja tidak bisa di percaya, mulai detik ini saya tidak akan percaya lagi sama anda, masalah Sekar saja anda tidak bisa selesaikan, untuk apa saya percaya sama anda lagi!" tak takut bu Maimun meskipun bu Salamah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kata mu!" bu Salamah yang geram mengangkat tangannya.
Bu Toya dan bu Nilem selaku teman bu Salamah langsung menahan bu Salamah.
"Jangan bu, ibu jangan kepancing emosi, mereka itu memang kayak gitu, ibu sabar saja" bu Toya menenangkan bu Salamah yang geram pada bu Maimun di depannya.
"Eh Maimun, pergi kau dari sini, jangan buat keributan di sini!" usir bu Nilem yang berpihak pada bu Salamah.
"Ayo ibu-ibu kita pergi dari sini, di sini itu panas, seperti di neraka hahahaha" bu Maimun tertawa puas melihat bu Salamah panas dingin, ia dan ibu-ibu lainnya pergi dari sana.
"KAU!" geram bu Salamah, ingin rasanya ia merobek mulut mereka yang terus menghinanya.
"Udah bu, gak usah ladenin mereka, mereka memang kayak gitu" bu Toya terus menenangkan temannya yang sensi.
Bu Salamah menghembuskan nafas berat."Dasar sialan mereka, enak aja mereka main hina aku, aku akan balas mereka, tidak akan aku biarkan mereka gitu aja"
"Itu harus bu, kita harus balas mereka" sahut bu Nilem.
__ADS_1
Mereka akan berniat balas dendam pada mereka semua.