
"Palingan sekarang suami ibu ada di gazebo sama warga-warga lainnya, saya tadi liat kalau para warga yang berada di sana, mereka bilang kalau mereka mau nongkrong dulu, setelah di adakan acara ini mereka menjadi sedikit tidak merasa takut untuk beraktivitas di luar rumah, acara yang pak RT terapkan ini memang membuahkan hasil bu, saya membuktikan hal itu" ujar bu Salamah dengan sangat berantusias.
"Semoga saja bu setalah saya menyelesaikan kegiatan ini saya gak takut lagi sama yang namanya hantu" harapan besar bu Maimun yang juga sudah capek takut dengan yang namanya hantu.
"Saya doakan yang terbaik untuk ibu-ibu sekalian, saya berharap desa kita akan kembali seperti dahulu kala, saya juga sudah lelah bu tinggal di desa yang angkernya kayak gini" mulai muak bu Salamah dengan keadaan desa yang begitu menakutkan ini.
"Saya juga begitu bu, saya juga sudah lelah, tapi mau gimana lagi, ini desa tempat di mana saya di lahirkan, gak mungkin saya tinggalkan desa ini dan mencari desa lain, saya gak mau pindah walaupun apapun yang terjadi, meskipun ada orang mati lagi yang gentayangan saya akan mempertahankan tempat tinggal saya" bagaimana pun bu Naima tidak akan pernah pergi dari tempat ini, ia sudah nyaman berada di sini, ia tidak mau pergi.
"Saya juga begitu bu, saya mana mau pergi dari sini, walaupun di sini banyak hantunya" sahut bu Maimun yang juga akan melakukan hal yang sama dengan keputusan bu Naima.
"Kenapa hantunya Sekar itu gak pergi-pergi juga, kenapa dia masih tinggal di desa ini, dia gak mikir apa kalau desa ini sudah angker abis, bahkan gak ada orang yang berani keluaran rumah cuman gara-gara dia, seharusnya dia mikir kalau desa ini udah gak bisa di teror lagi, tak bisakah dia punya rasa simpati sama warga, kan gak semua warga jahat sama dia, ada sebagian pula yang gak jahat, kasihan mereka yang gak jahat kalau desa dia buat angker kayak gini" omel bu Naima yang tak suka dengan keadaan desa yang seperti ini.
"Itu sudah jadi resikonya bu, Sekar juga sebenernya baik kok, dia gak mungkin lakuin ini semua kalau mereka juga gak mulai dukuan, dia itu cuman ingin balas dendam karena bu Jamilah selaku orang yang udah bunuh dia dan juga anak yang ia kandung, ibu mana coba yang gak dendam kalau anak yang dia kandung selama berbulan-bulan harus menghembusakan nafas gara-gara ulah bu Jamilah" bu Salamah merasa iba akan nasib Sekar yang buruk itu.
__ADS_1
Tiba-tiba bu Naima terdiam, tak pernah bu Salamah seiba ini pada Sekar, biasanya dia selalu mencaci maki Sekar bahkan saat Sekar masih hidup ia terus saja mengganggu Sekar tanpa henti.
"Kok bu Salamah belain Sekar ya, apa dia udah sadar dengan tindakannya, dia kan yang selama ini benci berat sama Sekar, dia juga udah usik hidup Sekar sampai pada akhirnya Sekar menghembuskan nafas" batin bu Naima merasa aneh dengan bu Salamah yang tiba-tiba berubah total tak sama seperti bu Salamah yang ia kenali.
"Betul itu bu, Sekar gak mungkin ganggu warga-warga kalau warga gak mulai duluan, saya sih sekarang sadar bahwa apa yang Sekar lakukan itu benar, dia melakukan ini untuk balas dendam, saya harap semua ibu-ibu yang tinggal di desa ini sadar bahwa Sekar juga bisa membuat mereka menderita" tambah bu Maimun yang setuju dengan bu Salamah.
Bu Naima semakin terdiam, ia tau betul siapa bu Maimun dan siapa bu Salamah.
"Bu Maimun dan bu Salamah kenapa pada belain Sekar, kenapa mereka sekarang kayak orang yang baru kenal sama Sekar, bukannya dulu mereka sangat benci sama Sekar, mereka bahkan saking gak sukanya sama Sekar sampai menghina-hina Sekar dan juga keluarga Sekar, tapi kenapa malam ini mereka berubah, apa yang sudah terjadi sama mereka, apakah kegiatan ini mampu membuat mereka insyaf" batin bu Naima bertanda tanya.
"Bu Salamah tadi saat ibu keliling kampung sama warga-warga apa ibu gak ketemu sama hantu?" penasaran bu Naima.
"Enggak kok bu, gak ada hantu tadi, berkat kegiatan ini hantu minggat, dia kayaknya takut sama warga-warga yang sebanyak itu, dia juga punya rasa takut pastinya bukan kita saja" jawab bu Salamah.
__ADS_1
"Masa iya sih bu, ibu gak ketemu sama hantu, padahal hantunya Sekar itu sedang ramai-ramainya di perbincangkan, kalau tadi ibu yang keliling sama warga-warga gak ketemu sama Sekar ya gak berhasil dong acara ini, seharusnya kalian itu ketemu sama Sekar biar kalian bisa buktiin apakah kalian takut atau tidak sama hantu" ujar bu Naima yang menganggap kegiatan yang terjadi tadi gagal total.
"Nah mangkanya itu bu saya bersedia ikut bersama bu Maimun keliling sekali lagi, saya pengen ketemu sama Sekar itu, saya ingin liat langsung wajahnya, saya yakin jika nanti saya ketemu sama dia, saya gak akan takut" yakin penuh bu Salamah.
"Semoga saya juga begitu bu, saya gak mau terus menerus ketakutan, apalagi kalau gak ada suami, saya resah sekali di dalam rumah sendirian, saya takut banget sama Sekar itu, semoga saja nanti kita ketemu sama Sekar dan kita gak akan takut lagi" harapan besar bu Maimun.
Untuk menghilangkan rasa takut ini bu Maimun bersedia ikut ke dalam kegiatan ini, ia yakin dirinya akan lebih kebal dan gak takut sama hantu manapun sehabis pulang dari kegiatan ini.
"Bu Salamah tadi ibu yang ikut kegiatan ini nemu bu Jamilah gak, saya penasaran apakah oranv yang sudah bunuh Sekar itu beneran ketakutan sama teror ini atau tidak?" memastikan bu Naima.
"Ketemu dong bu, bu Jamilah cerita bahwa dirinya selama ini di ganggu habis-habisan sama Sekar, dia bilang kalau dia udah gak kuat sama gangguan ini, mangkanya dia mau ikutan kegaiatn ini" Jawa. bu Salamah.
"Owh ternyata bukan kita aja yang di ganggu sama hantu ya bu, bu Jamilah yang kejam dan garang itu di ganggu juga sama hantu" ujar bu Naima yang terkaget-kaget>
__ADS_1
Mereka bertiga terus berjalan di jalanan yang sepi, tak ada seorang pun yang berada di jalanan, namun mereka tidak ada yang takut, mereka benar-benar mulai tidak takut dengan keadaan desa yang kacau balau seperti ini.