Kuntilanak

Kuntilanak
Keanehan bu Jamilah


__ADS_3

Di kediaman bu Jamilah seroang art kaget ketika mendapati bu Jamilah yang tertidur di lantai, ia dengan wajah panik mendekati bu Jamilah, ia takut ada apa-apa dengan bu Jamilah.


"Ibu, ibu bangun, ibu jangan tidur di sini" art itu dengan lembut membangunkan tuan rumahnya.


Bu Jamilah menggeliat, ia dengan terkejut bangun dari tidur, ia melihat sekelilingnya yang hanya ada dia dan juga art itu.


Hari sudah tidak gelap lagi, dia kini merasa sedikit lega.


"Aman, aku aman, dia sudah pergi aku aman" lega bu Jamilah karena siang yang dia tunggu-tunggu sudah datang.


Art itu menatap heran ke arah bu Jamilah yang gelagatnya aneh, tidak pernah bu Jamilah bersikap seperti ini sebelum-sebelumnya.


"Apanya yang aman bu?" penasaran art itu padahal setahunya tidak ada bahaya yang mengancam.


"Gak ada apapun, pergi kamu!" usir bu Jamilah dengan kasar, watak iblisnya sudah keluar lagi.


Dengan hati yang masih penasaran art itu pergi dari sana sebelum bu Jamilah semakin bertambah marah, dia tidak bisa mencari tau tentang apa yang sudah terjadi pada bu Jamilah.


Bu Jamilah lega ketika art itu pergi, ia tidak mau ketahuan kalau tadi malam beneran ada hantu Sekar yang mengganggunya, mau di tarok di mana mukanya kalau sampai ada orang yang tau kalau bu Jamilah takut pada Sekar, padahal dia sendiri yang sudah bikin Sekar meninggal dunia.


"Huft syukurlah sudah siang, Sekar gak akan ganggu aku kalau siang-siang begini" lega bu Jamilah dengan memegangi dadanya yang cenat-cenut.


"Kenapa Sekar jadi hantu, pake datangin aku segala lagi, apa dia dendam ya sama aku?" begidik ngeri bu Jamilah ketika teringat dengan Sekar yang seramnya naudzubillah.


"Gak mungkin, Sekar gak mungkin dendam sama aku, dia palingan cuman iseng aja gangguin aku, gak mungkin dia nyimpen dendam sama aku, aku yakin itu" bantah keras bu Jamilah yang tak mau pikiran buruk itu beneran terjadi.

__ADS_1


"Bu"


"Astaga!" kaget bu Jamilah yang langsung bangkit dari duduk.


"Kamu ngapain ngagetin saya!" omel bu Jamilah dengan melototkan matanya ke arah satpam yang memanggilnya dan berhasil membuat jantungnya hampir copot.


"Maaf bu, saya gak sengaja, saya gak tau kalau panggilan saya akan bikin ibu kaget" satpam itu merasa aneh dengan bu Jamilah yang berubah total, namun dia diam karena tak mau di marahi lagi.


"Apa mau kamu, kenapa kamu manggil saya?" ketus bu Jamilah yang tidak bisa menjawab dengan nada baik-baik dan sopan sama sekali.


"Ini ada surat dari pak Karan bu, dia minta saya buat kasih surat ini ke ibu" satpam itu memberikan surat itu pada bu Jamilah.


Bu Jamilah mengambil surat itu lalu membacanya, ia penasaran mengapa Karan mengirim surat padanya.


"Surat pengunduran diri? apa-apaan ini, kenapa Karan mau mengundurkan diri, di mana dia, panggil dia kemari, saya ingin ketemu langsung sama dia!" titah bu Jamilah yang langsung emosi saat supir yang biasanya mengantar jemputnya mengundurkan diri dari pekerjaannya.


"Kurang ajar, kenapa dia main resign aja, perasaan saya sudah gaji dia dengan gaji yang tinggi, kenapa dia masih mau berhenti!" emosi bu Jamilah yang merasa janggal dengan Karan yang tiba-tiba memutuskan untuk berhenti kerja.


Satpam itu diam, dia tidak mau menyahut sama sekali karena tak mau di jadikan sasaran empuk bu Jamilah yang lagi emosi.


"Apa kamu tau kenapa Karan tiba-tiba mutusin berhenti kerja!"


"Gak tau bu, saya gak tau kalau pak Karan mau berhenti kerja, saya hanya di minta anterin surat itu pada ibu saja, saya tidak tau apapun alasan mengapa pak Karan berhenti kerja" dengan gemetaran satpam itu menjawab, dia menundukkan kepalanya takut pada bu Jamilah.


"Apa alasan Karan berhenti kerja, aku rasa pasti ada misteri di balik ini semua, aku harus cari tau" batin bu Jamilah.

__ADS_1


Satpam itu masih diam di tempat, dia takut pada bu Jamilah.


Bu Jamilah menghela nafas berat."Ah sudahlah, nanti aku akan urus dia, sekarang kamu kembalilah kerja, kalau kamu ketemu sama Karan, bilang saya cari dia!"


"B-baik bu" satpam itu dengan terburu-buru pergi dari sana, ia tidak mau berlama-lama berada di sana.


Bu Jamilah dengan tak semangat membaca surat pengunduran diri yang telah Karan kirimkan.


"Mengapa Karan tiba-tiba mau berhenti kerja, aku sudah gaji dia dengan gaji yang tinggi, selain itu aku sudah beri fasilitas terbaik untuknya, tapi kenapa dia masih mau berhenti kerja, apa alasan dia berhenti kerja" tak habis pikir bu Jamilah.


Bu Jamilah kebingungan, ia harus mencari supir di mana lagi yang sebaik dan sebertanggung jawab seperti Karan.


"Aku akan datangin dia, aku akan tanyakan alasan kenapa dia berhenti kerja, kalau alasannya pas aku akan izinin dia, tapi kalau alasannya gak pas, aku gak akan izinin dia berhenti kerja!" bu Jamilah tidak akan melepaskan Karan begitu saja, menurutnya sulit mempunyai supir seperti Karan di jaman sekarang.


Bu Jamilah meletakkan surat itu di atas meja, ia bangkit dari duduk dan berjalan mendekati kamarnya yang tak jauh dari sana.


Ketika bu Jamilah memegang gagang pintu tiba-tiba tindakan bu Jamilah terhenti, bu Jamilah teringat kejadian tadi malam di mana dia melihat dengan jelas ada hantu seram yang berada di kolom tempat tidur.


"Di dalam kamar aku masih ada hantu itu gak ya, masa dia masih belum pergi, ini kan sudah pagi, hantu mana ada di jam segini, pasti hantu itu sudah pergi, aman bagi aku masuk ke dalam kamar ku"


Bu Jamilah dengan was-was membuka pintu, ia masih merasa takut untuk masuk ke dalam kamar kala teringat kejadian mengerikan yang ia lewati tadi malam, di pikirannya masih penuh dengan kata hantu.


Dengan pelan-pelan bu Jamilah membuka pintu, sebelum menginjakkan kaki, bu Jamilah melihat sekeliling kamar, bu Jamilah akan memastikan terlebih dahulu kalau situasi di dalam kamarnya aman.


"Gak ada, dia gak ada di sini, dia beneran sudah pergi, waktunya aku mandi habis itu keluar lagi sebelum dia datang lagi" senang bu Jamilah.

__ADS_1


Dengan terburu-buru bu Jamilah masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan tubuh dengan secepat mungkin, habis itu bu Jamilah keluar dari dalam kamarnya setelah selesai bersiap-siap.


__ADS_2