
(Flashback)
Mala mendekati dapur dengan kesal, ia benar-benar kesal, waktu tidurnya terganggu gara-gara bu Jamilah, seharusnya ini sudah waktunya ia istirahat namun karena bu Jamilah dia malah di suruh-suruh sehingga mau hampir jam 2 dia masih belum tidur.
"Bu Jamilah ini kenapa sih, masa jam segini masih belum tidur juga, apa yang sudah terjadi, biasanya dia tidur paling awal, kenapa malam dia malah enggan buat tidur, apa yang sudah terjadi padanya" heran Mala dengan tak ikhlas membuat kopi untuk majikannya yang bawel dan suka marah-marah itu.
Seandainya ada pekerjaan yang lebih baik dan lebih bagus ia pasti akan pindah, ia sudah mulai tidak betah bekerja di tempat ini, namun karena gajinya lumayan ia mampu bertahan sampai saat ini.
"Kalau dia gak mau tidur ya seenggaknya jangan ganggu aku juga kali, aku juga ingin tidur, capek seharian kerja malah gak di bolehin tidur, jika kayak gini terus mending aku akan cari pekerjaan lain lagi, aku gak kuat kalau di suruh kerja 24 jam full, bisa mati gak bergerak aku nantinya"
Mala meluapkan kekesalannya di dapur, ia tau bahwa apa yang ia ucapakan saat ini tidak akan ada orang yang mendengarnya, sehingga ia bebas mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Mala" panggil seseorang yang berhasil membuat Mala terkejut, ia tiba-tiba menjadi panik tak karuan, ia khawatir orang itu mendengar apa yang telah ia katakan dan memberitahukannya pada bu Jamilah.
Mala menoleh ke arah oranh yang telah memanggilnya dengan sangat terkejut.
"Iya ada apa pak?" dengan sopan Mala bertanya pada juragan Doni yang berada di belakangnya.
Mala berdebar-debar, ia sedikit gugup, ia sangat takut juragan Doni mendengar apa yang tadi ia katakan.
"Aduh kenapa pake ada juragan Doni segala, gimana kalau ternyata dia dengar semua apa yang aku bicarain, dia pasti akan marah sama aku dan aku akan kehilangan pekerjaan ku" batin Mala ketar-ketir.
"Semoga juragan Doni gak tau, semoga dia gak dengar" batin Mala terus berdoa.
__ADS_1
"Tolong kamu simpan ini di gudang sekarang, saya ingin benda ini segera berada di gudang, saya gak mau benda ini di liat oleh istri saya" juragan Doni memberikan sebuah kardus pada Mala untuk Mala simpan di gudang.
"Baik pak, saya akan tarok benda ini di gudang" jawab Mala kemudian mengambil kardus yang berada di tangan juragan Doni.
"Cepat sekarang kamu letakkan itu di gudang" perintah juragan Doni dengan tegasnya.
Mala langsung berangkat, ia tidak bisa diam lagi, ia harus melaksanakan perintah yang telah juragan Doni suruh padanya.
Sambil mengumpat Mala berjalan ke gudang, ia melewati jalanan yang berada di belakang, bukan di depan, kalau ia lewat di depan bu Jamilah akan memarahinya karena dia masih tak kunjung menyelesaikan perintahnya.
"Istri sama suami sama saja, kalau sekalinya nyuruh gak bisa tunda-tunda, mereka kira aku ini apaan, kenapa mereka bersikap layaknya raja dan ratu yang paling berkuasa dan bisa menindas karyawan seenaknya" geram Mala yang kesal habis-habisan.
"Untung saja juragan Doni gak dengar, kalau enggak tamatlah riwayat" lega Mala, hatinya sudah plong karena tak ada satu orangpun yang mendengar apa yang tadi ia katakan tentang bu Jamilah.
"Eh tunggu-tunggu sejak kapan juragan Doni pulang, perasaan tadi dia bilang kalau dia akan ke ladang dan nginap di sana, kok bisa juragan Doni ada di rumah ini" kaget Mala kala teringat dengan keanehan ini.
"Apa iya juragan Doni pulang di larut malam kayak gini, emang ada ya orang yang berani keluaran rumah, sampai detik ini aku masih belum menemukan ada orang yang berani keluaran rumah dan berhasil tidak di ganggu oleh hantu"
Mala merasakan adanya keanehan, juragan Doni sudah bilang padanya bahwa dirinya tidak akan pulang ke rumah makan ini, namun beberapa menit yang lalu ia malah berjumpa dengan juragan Doni di dapur.
"Ini benar-benar aneh, ini pasti ada yang gak beres, aku harus cepet-cepet tarok barang di di gudang habis itu balik lagi ke dapur, aku harus lapor sama bu Jamilah kalau juragan Doni udah pulang, siapa tau bu Jamilah akan balik ke kamarnya dan aku bisa pergi ke kamar ku" pikir Mala senang karena habis ini ia akan terlepas dari cengkraman maut bu Jamilah.
Dengan semangat yang membara Mala berjalan menuju gudang yang sudah tak seberapa, ia membuka pintu gudang yang memang tidak di kunci lalu menarok kardus itu di saja.
__ADS_1
Mala cepat-cepat keluar dari sana, ia tidak mau berlama-lama berada di sana karena tempat itu pernah di jadikan tempat Sekar di sekap sampai dia jatuh pingsan, ia ngeri berada di dalam gudang malam-malam seperti ini.
"Serem banget gudang itu, kalau aku teringat sama Sekar yang di kurung di dalam gudang sama juragan Doni, aku gak akan bisa makan dengan lahap, untung waktu itu pak Anton langsung datang dan nolongin Sekar, kalau tidak Sekar pasti akan mati di sana" bergidik ngeri Mala yang merinding sehabis keluar dari gudang itu.
Mala yang sudah menyelesaikan perintah dari juragan Doni langsung terburu-buru pergi dari sana, ia meninggalkan air yang ia masak, ia harus segera meriksanya.
Saat sudah memasuki dapur, tiba-tiba langkah Mala terhenti, mulutnya terbuka dengan lebar kala melihat apa yang berhasil mencengangkan dunianya.
Mala langsung menutup mulut dengan cepat, ia tidak mau menjerit saat ini.
Mala terkaget-kaget melihat seorang laki-laki yang berdiri di dekat kompor dengan seluruh tubuh yang terbungkus dengan kain kafan.
"Pocong, kenapa bisa ada pocong di dalam rumah, siapa orang yang meninggal lagi di desa, perasaan cuman Sekar seorang, namun mengapa kok bisa ada pocong" batin Mala yang ketakutan di tempat.
Pocong itu menghadap ke lain arah sehingga Mala tidak berpapasan langsung dengan wajah pocong yang memang menyeramkan.
"Aku harus pergi dari sini, aku tidak mau berada di sini lebih lama lagi, aku harus pergi secepatnya sebelum dia sadar dan malah ganggu aku" batin Mala yang berkeringat dingin akibat melihat pocong yang menyeramkan itu.
Mala hendak berbalik dan kabur dari sana namun naasnya pocong itu sudah tau lebih dulu.
Mala tercekat melihat pocong yang wajahnya hitam legam, kelopak matanya benar-benar hitam dan dia melompat-lompat mendekati Mala.
"Aaaaaaaaahhhhh!" jerit Mala yang ketakutan, ia sampai jatuh pingsan melihat sosok pocong yang benar-benar menakutkan.
__ADS_1
Pocong itu menatap Mala yang jatuh pingsan, kemudian ia pergi meninggalkan dapur.