Kuntilanak

Kuntilanak
Tidak percaya


__ADS_3

"Eh ibu-ibu, kalian tau gak, tadi malam saya di ganggu sama Sekar" ujar bu Hamiddeh yang berada di gazebo bersama para ibu-ibu lainnya, ia langsung menceritakan kejadian mengerikan yang menimpanya.


Langkah Karan terhenti, telinganya mendengar jelas berita yang ingin ia cari tau kebenarannya.


"Ibu di ganggu sama Sekar?" kaget bu Nining.


Bu Hamiddeh mengangguk cepat."Iya bu, saya di ganggu habis-habisan sama Sekar, saya sekarang percaya kalau dia benar-benar serem, pantesan aja bu Salamah yang pemberani itu jadi penakut"


Bu Hamiddeh tidak akan meremehkan Sekar lagi, baginya Sekar bukanlah musuh yang mudah di tumbangkan, di sini Sekar yang paling kuat, dia tidak ada apa-apanya di mata Sekar.


"Sungguh bu, Sekar benar-benar serem, keseramannya tiada tanding" tambah bu Hamiddeh yang menjelaskan tentang hantu Sekar pada mereka semua yang sebelum-sebelumnya sudah pernah di datangin sama Sekar.


"Jangankan ibu, tadi malam saya juga di gangguin sama Sekar, dia datangin saya bu, dia datangin saya" timpal bu Nining yang trauma berat dengan gangguan dari Sekar.


Karan semakin menajamkan pendengarannya, ia ingin memastikan langsung apakah isu Sekar gentayangan benar-benar nyata.


"Ada apa ini ibu-ibu, ada berita terbaru ya" bu Salamah mendekati para ibu-ibu yang tengah bersantai di gazebo.


Tatapan semua ibu-ibu tertuju pada bu Salamah yang baru datang.


"Iya bu, tadi malam bu Nining sama bu Hamiddeh di datangin Sekar" jawab bu Maimun.


"Ibu gak apa-apa kan, Sekar gak apa-apain ibu kan?" khawatir bu Salamah karena sebelumnya Sekar sudah pernah mengganggunya begitu parah.


"Saya gak apa-apa bu, Sekar cuman datangin saya biasa, dia gak menyakiti saya" jawab bu Nining.


"Iya, saya juga gitu, Sekar cuman datang buat nakut-nakutin, bukan mencelakai" tambah bu Hamiddeh.


"Untung kalian cuman di ganggu aja, lah saya waktu itu sampai luka-luka gara-gara Sekar, lebih parahnya lagi Sekar malah bawa saya ke kuburan, gimana saya gak takut sama dia, dia sungguh benar-benar tega, seumur hidup baru kali ini saya di ganggu sama hantu separah itu" celetuk bu Salamah bergidik ngeri kala teringat dengan kejadian sial itu.

__ADS_1


"Tapi walaupun saya gak di ganggu separah itu saya tetap trauma, saya takut Sekar datangin saya lagi, sumpah dia bu seremnya nauzubillah" ujar bu Nining yang tak akan mencari gara-gara lagi pada Sekar.


"Kalian harus hati-hati, Sekar sekarang tengah mengganggu warga-warga desa, dia lagi balas dendam sama kita, jangan sampai di antara kalian di apa-apain sama Sekar" peringatan bu Salamah.


Semua ibu-ibu mengangguk, mereka akan lebih waspada lagi, mereka tidak akan meremehkan Sekar lagi, karena Sekar bukan manusia lagi.


Bu Salamah menatap semua ibu-ibu yang ada di gazebo."Eh ini kemana bu Toya, bu Rohani sama bu Nilem, kok gak ada di sini?"


Bu Salamah tak melihat keberadaan ketiga orang temannya, biasanya mereka selalu berkumpul di sini menanti berita terbaru.


"Gak tau bu, bu Nilem, bu Rohani sama bu Toya gak keliatan, paling mereka belum bangun" jawab bu Sinab.


"Mungkin aja gitu" timpal bu Salamah.


Karan yang mendengar percakapan mereka menjadi yakin kalau apa yang ia dengar dari Mala benar-benar nyata adanya.


"Jadi Sekar beneran gentayangan, udah ada banyak warga yang di ganggu rupanya, aku harus temui Anton, dia harus tau masalah ini, dia pasti belum tau apa-apa tentang berita istrinya" pelan Karan yang sudah tak sabar menyampaikan berita ini pada sahabatnya.


Setibanya di ladang Karan langsung berlari mendekati kantor tempat sahabatnya berada.


"Anton, Anton ada berita baru!" heboh Karan yang membuat pak Anton mengernyitkan dahi dengan tingkah sahabatnya yang seperti monyet baru keluar dari kebun binatang.


"Ada apa, kenapa kamu teriak-teriak!" tak habis pikir pak Anton yang ikutan tegang.


"Ada berita baru, ada berita baru yang lagi hangat-hangatnya di desa ini" ujar Karan yang masih tetap heboh.


"Berita apa, cepat katakan!" titah pak Anton yang tak sabaran mendengar berita tersebut.


"Kamu tau tidak, aku dengar kalau Sekar lagi gentayangan di desa ini, banyak warga-warga yang telah di datanginnya" jelas Karan dengan sangat menghayati.

__ADS_1


"Tutup mulut kamu, gak mungkin Sekar gentayangan, aku gak percaya!" bantah keras pak Anton, ia yakin istrinya tidak akan seperti itu.


"Sungguh Anton, aku mengatakan yang sebenarnya, Sekar memang lagi gentayangan, kalau kamu gak percaya, kamu tanyakan saja sama warga sekitar, mereka pasti akan bilang yang sebenarnya" Karan berusaha menyakinkan pak Anton kalau Sekar memang tengah membuat onar di desa ini.


"Gak mungkin, Sekar gak mungkin gentayangan, kamu jangan ngaco!" tegas pak Anton tak terima ada yang menyebut istrinya gentayangan.


"Ya ampun Anton, aku bilang yang sebenarnya, aku gak ngarang cerita, kamu harus percaya sama aku, sungguh aku mengatakan yang sebenarnya!" Karan tak berhenti meyakinkan pak Anton.


"Gak, apapun yang terjadi aku gak percaya!" pertegas pak Anton yang amat yakin kalau istrinya tidak mungkin seperti itu.


"Kalau kamu gak percaya ayo ikut aku keluar, kita tanya langsung sama warg sekitar, baru kamu bisa percaya" ajak Karan yang di setujui oleh pak Anton.


Mereka berdua keluar dari dalam kantor, mereka mencari tau tentang kebenaran berita yang Karan beritahukan.


"Permisi ibu, kami mau nanya sesuatu boleh" Karan mendekati bu Misnati yang tengah kerja di ladang.


"Iya ada apa pak, bapak mau nanya apa?" penasaran bu Misnati.


"Apa benar kalau Sekar gentayangan di desa ini" ujar Karan, ia akan membuktikan kalau apa yang dia katakan memang benar adanya.


"Benar pak, Sekar memang lagi gentayangan, banyak warga yang sudah di datangin sama dia, bahkan ada yang sampai di celakain sama Sekar" jelas bu Misnati dengan apa adanya.


Pak Anton diam, ia masih tidak percaya istrinya gentayangan, ia yakin kalau itu tidak mungkin terjadi.


"Sejak kapan Sekar gentayangan bu?" Karan terus menggali informasi biar pak Anton semakin percaya.


"Dari awal pertama Sekar meninggal, dia langsung gentayangan pak, warga-warga resah karena keberadaannya, tapi gak ada satupun orang yang berani ngusir dia" jawab bu Misnati.


Pak Anton diam seribu bahasa, ia tetap tak percaya kalau istrinya gentayangan meskipun telah bertanya pada bu Misnati selaku warga desa ini.

__ADS_1


"Terima kasih bu informasinya, ibu bisa lanjut kerja lagi" ujar Karan.


Bu Misnati mengangguk, ia kembali bekerja seperti biasa, sementara pak Anton dan Karan kembali masuk ke dalam kantor.


__ADS_2