
Malam harinya.
Sekar mencari warga yang keluaran rumah, ia ingin mengganggu warga-warga malam ini, ia sungguh tak bisa diam begitu saja, dendam yang tersemat di hatinya masih belum usai meskipun tadi malam ia sudah mengganggu warga habis-habisan di bantu oleh Kiki dan pocong penunggu jalanan suram.
"Di mana semua orang, kenapa pada gak ada, kemana perginya mereka semua, apa mereka benar-benar takut pada ku" Sekar melirik ke kanan dan kirinya namun tak menemukan seorang pun yang ia cari-cari.
"Ku rasa mereka memang takut pada ku, usaha ku mengganggu mereka tadi malam benar-benar menakjubkan, kalau begini terus mereka akan hidup dalam ketakutan dan aku berhasil mengganggu mereka sehingga mereka tidak ada nyali untuk keluaran rumah hahahaha" tawa Sekar yang di penuhi kebencian keluar.
Sekar begitu gembira saat tak ada seorangpun yang berani terhadapnya, dulu ia di caci maki dan hina-hina yang bukan-bukan, namun sekarang dia bisa membalas rasa sakit yang ia derita.
"Tapi walaupun mereka takut pada ku, aku tetap akan ganggu mereka, meksipun mereka sudah bersembunyi di dalam rumah" tatapan sinis dan menakutkan keluar, dendam dan amarah masih berkobar di diri Sekar.
"Aku akan cari mereka meskipun mereka bersembunyi di lubang semut sekalipun, liat aja apa yang akan aku lakukan sama mereka semua" tutur Sekar yang memiliki dendam kesumat terhadap mereka semua.
Sekar yang hatinya masih di penuhi dendam terbang mencari mangsa, ia tidak puas sama sekali meskipun warga-warga sudah sangat ketakutan dengan kebenarannya, namun ada beberapa warga yang masih menantang Sekar.
"Hihihihihihihi" tawa seram itu keluar, itu Sekar lakukan agar siapa saja yang mendengar suaranya ketakutan.
Sekar hinggap di sebuah halaman rumah orang yang berhasil membuat wajahnya berubah menjadi masam.
Sekar yang merindukan orang itu berjalan memasuki rumahnya dengan menebus tembok.
"Ya Allah tolong tempatkan Sekar di sisi mu, berikanlah dia tempat yang terbaik di sisi mu ya Allah, dia anak yang baik, dia selama ini selalu berbuat baik kepada semua orang namun orang-orang masih aja ada yang tidak menyukainya, hamba mohon ya Allah tempatkan Sekar di tempat yang terbaik di sisi mu, ampunilah dosanya dan ringankanlah bebannya, amin ya rabbal alamin" doa bu Robi'ah yang begitu baik terhadap Sekar.
Sekar meneteskan air mata, ia tidak menyangka bahwa selama ini bu Robi'ah terus berdoa meminta agar dirinya berada di tempat yang terbaik di sisinya.
Selama ini hanya bu Robi'ah satu-satunya orang yang baik dan peduli sama Sekar, dia tidak pernah sekali menghina dan mencaci maki Sekar seperti ibu-ibu lainnya.
"Bik, terima kasih selama ini sudah sayang dan peduli sama Sekar, maaf Sekar gak bisa balas semua kebaikan bibik, jika tidak ada bibik mungkin Sekar tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari orang lain" Sekar merindukan dirinya yang dulu yang menjadi manusia, meskipun pahit namun masih ada orang yang peduli dengannya di tengah banyaknya kebencian yang tertuju padanya.
"Sekar hanya bisa berdoa semoga bibik selalu berada di lindungannya, Sekar sebisa mungkin akan lindungi bibik, tidak akan Sekar biarkan bibik terluka, itu semata-mata Sekar lakukan untuk membalas semua kebaikan bibik yang tiada tanding"
Sekar menatap bu Robi'ah dengan air mata yang terus mengalir, ia masih ingat betul kebaikan-kebaikan yang bu Robi'ah berikan padanya selama ini dan ia tidak akan pernah lupakan itu.
Sekar yang tak bisa menahan tangisnya pergi dari sana, ia hanya bisa berdoa semoga bu Robi'ah selalu di lindungi oleh Allah.
Sekar mengusap air matanya."Gak nyangka bibik masih sangat peduli sama aku meskipun dia dengar kalau aku hamil anak juragan Doni, tapi gak nyangka banget dia gak berpaling sama sekali dan membenci ku, aku akan jaga dia untuk membalas budi apa yang telah dia lakukan selama ini pada ku"
Walaupun sudah berbeda alam, Sekar masih sangat menyayangi bu Robi'ah yang jelas-jelas bukan siapanya, ia begitu merindukan sosok bu Robi'ah yang layaknya ibu pengganti baginya.
Sekar terbang, ia pergi dari sana, walaupun ia merasa sedih hari ini, namun ia harus membalas dendamnya biar warga tidak semakin keterlaluan.
__ADS_1
"Wow, akhirnya ada mangsa juga yang berani keluaran rumah, aku kira gak akan ada mangsa yang nekat keluaran rumah, ternyata masih ada rupanya" kesedihan seakan hilang saat Sekar melihat seseorang yang berjalan di jalanan yang sepi.
"Aku harus ganggu dia, aku akan bikin dia trauma untuk berkeliaran di luar lagi" Sekar terbang mendekati orang tersebut, ia akan membuatnya jera.
Sekar berdiri di tengah-tengah jalanan menghadangnya, pemuda itu diam saja saat melihat Sekar terus memperlihatkan wajah menakutkan dan seramnya.
"Astaghfirullah hal adzim" ujar pemuda itu mengalihkan pandangannya saat melihat sosok Sekar yang benar-benar seram.
"Hahahaha" tawa seram Sekar yang begitu senang melihat pemuda itu mulai termakan dengan tindakannya.
"Wahai pemuda, siapa nama mu, kenapa aku baru melihat mu di mari, kamu anaknya siapa, seumur hidup aku tidak pernah melihat mu di sini, apakah kau warga baru di desa ini" Sekar yang merasa asing dengan pemuda yang mengenakan jubah berwarna putih dan di lengkapi sorban yang berada di bahu pemuda itu bertanya untuk mengetahui seluk beluk tentang pemuda itu.
"Apakah dia sosok hantu yang telah mengganggu warga-warga selama ini, ku rasa memang dia yang selama ini mengganggu warga-warga" batin ustadz Hafidz menatap Sekar dengan intens.
Ustadz Hafidz tidak takut sama sekali dengan Sekar meskipun wujudnya begitu mengerikan.
"Apakah kau adalah hantu yang selama ini mengganggu warga-warga?" ustadz Hafidz memberanikan dirinya bertanya pada sosok itu secara langsung.
"Benar, aku adalah hantu yang sudah mengganggu mereka" jawab Sekar.
"Mengapa kau mengganggunya?" penasaran ustadz Hafidz.
Raut wajah Sekar langsung berubah."Mereka selama ini telah mengusik hidup ku, mereka mencaci maki dan menghina ku, mereka juga telah memfitnah ku yang bukan-bukan, aku meneror dan mengganggu mereka semata-mata hanya karena ingin balas dendam, aku tidak memiliki tujuan lain selain membalaskan rasa sakit ku yang selama ini aku derita"
"Lantas kenapa kamu bisa meninggal, apakah mereka membunuh mu?" kepala Sekar menggeleng.
"Tidak, bukan mereka yang membunuh ku, tapi seorang wanita bernama bu Jamilah yang kaya raya yang sudah membunuh ku" jawab Sekar dengan tatapan maut dan dendam kesumat yang tiba-tiba datang saat menyebut nama bu Jamilah, orang yang paling ia benci di dunia ini.
"Mengapa dia membunuh mu, apakah hanya karena dia benci pada mu dia malah mau membunuh mu?" pikir ustadz Hafidz.
"Tidak, dia memang benci pada ku, tapi kebencian yang tersemat di dadanya tak sama dengan kebencian yang warga-warga selama ini lontarkan pada ku, dia hanya salah paham, aku dulu pernah mau menjadi istri dari suaminya, kami nikah sirih, waktu itu aku sempat hamil, namun saat juragan Doni tau aku hamil, dia tdak mau mengakui anak ku, dia malah memfitnah ku yang bukan-bukan, saking teganya dia mengurung ku di dalam gudang tanpa di beri makan sama sekali" Sekar menceritakan kepahitan yang ia rasakan selama ini.
Ustadz Hafidz terkejut, mulutnya sampai terbuka setelah mengetahui fakta menyakitkan itu.
"Namun ada pria baik yang menolong ku, dia begitu baik pada ku, setelah aku terlepas dari jerat juragan Doni yang kejam itu, dia menikahi ku, dia memberi ku kebahagiaan, namun kebahagiaan itu harus sirna saat bu Jamilah membunuh ku dengan sadis, bahkan aku belum sempat melahirkan anak yang sudah 9 bulan aku kandung dan itu semua gara-gara dia"
Ustadz Hafidz terguncang hebat, ia tak pernah membayangkan akan ada orang yang sejahat itu pada Sekar.
"Aku melakukan ini karena aku ingin balas dendam, aku tidak akan biarkan mereka hidup tenang, mereka sudah buat aku seperti ini, enak aja mereka main tidur tenang begitu saja" tutur Sekar dengan pancaran mata penuh dendam dan amarah.
"Aku tau luka yang tersemat di hati mu, namun alangkah baiknya kau mengampuni mereka, sebuah kematian itu adalah takdir yang mutlak, tak bisa di ganggu gugat oleh pihak manapun, sebelum Allah menciptakan bumi dan langit serta isinya, Allah sudah menulisnya, prihal jodoh dan maut itu tidak akan pernah tertukar, semuanya berjalan dengan apa yang Allah takdirkan, cobalah kamu memaafkan mereka, sebaik-baiknya orang adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, pahala yang akan kamu dapatkan begitu besar, bahkan Allah ta'ala itu maha pengampun, dia mengampuni orang yang sudah berdosa jika dia mau bertaubat, tapi apakah kau ciptaannya yang bagaikan debu di matanya tak bisa memaafkan kesalahan orang lain?" ujar ustadz Hafidz.
__ADS_1
Sekar tertampar dengan ucapan ustadz Hafidz, ia sadar bahwa dengan dendam tak bisa membuatnya kembali seperti semula, walaupun ia membunuh orang yang membunuhnya hal itu tidak akan membuatnya kembali menjadi manusia lagi.
"Aku akan berhenti saat dia yang sudah bunuh aku di tangkap, aku tidak terima dia tetap berkeliaran bebas setelah bikin aku kayak gini" tutur Sekar.
"Saya yang akan tangkap orang itu, kamu tidak perlu khawatir, saya yang akan menangkapnya, saya tidak akan pernah berhenti sampai tetes darah penghabisan, tapi saya mohon pada mu tinggalkan desa ini, kembalilah ke alam mu, beristirahatlah dengan tenang, dunia sudah bukan tempat mu lagi" jawab ustadz Hafidz.
"Apakah kau benar-benar akan melakukan itu?" Sekar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Sungguh saya akan melakukan itu, saya akan tangkap orang yang sudah membunuh mu, kamu tidak perlu khawatir" tutur ustadz Hafidz.
Sekar mengambil nafas berat."Baiklah aku akan pergi dari sini, aku serahkan semuanya pada mu, aku percaya pada mu, aku harap kamu bisa mewujudkan keinginan terakhir ku"
Ustadz Hafidz tersenyum karena mendapatkan kepercayaan dari Sekar."Saya akan melakukan itu, sekarang pergilah dari sini, tinggalkan desa ini"
Sekar mengangguk, ia kemudian menghilang dari sana, ustadz Hafidz yang akan meneruskan langkah Sekar yang memiliki keinginan untuk menangkap orang yang sudah membunuhnya.
Ustadz Hafidz tersenyum, ia tak butuh waktu lama untuk bisa meredamkan api yang membara di diri Sekar.
"Aku akan menangkapnya, aku tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun itu" ujar Ustadz Hafidz.
Sekar masih belum kembali ke alam selanjutnya, ia mendatangai sebuah tempat yang di dalamnya terdapat orang yang paling ia cintai.
"Mas" panggil Sekar lirih.
Mata Sekar menatap ke arah pak Anton yang terlelap dalam tidurnya, air mata mengalir secara tiba-tiba, ia begitu merindukan sosok pak Anton yang begitu ia cintai.
"Mas aku pergi dulu ya, kamu jaga diri baik-baik, maaf aku gak bisa jaga kamu lagi, aku harap kamu bisa tangkap orang yang bunuh anak kita" ujar Sekar berpamitan pada pak Anton.
Namun pak Anton tidak akan pernah mendengarnya, melihat Sekar saja ia sekarang sudah tidak bisa.
"Aku pergi dulu mas, kamu jaga diri baik-baik" Sekar mengecup kening pak Anton dengan butiran-butiran air mata yang sesekali berjatuhan.
"Aku pergi dulu, selamat tinggal"
Di saat air mata terus mengalir Sekar memaksakan bibirnya untuk tersenyum, kemudian dengan perlahan-lahan ia menghilang dari sana untuk selamanya.
...TAMAT...
Terima kasih sudah mendukung karya ini selama ini, saya sebagai author berterima kasih sekali sama kalian semua yang setia menunggu akhir dari cerita ini.
Di karya Kuntilanak ini dalang utama penyebab Sekar meninggal tidak di tangkap, jika kalian ingin tau bagaimana dalangnya di tangkap, jangan lupa mampir di karya author yang berjudul (Di Hamili Genderuwo) di sana segala titik terangnya berada!
__ADS_1
Author undur diri dulu assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh