
Sekar yang mendengar penuturan bu Rohani mengepal kuat tangannya, wajahnya bagaikan bom yang akan segera meledak, ucapan yang barusan keluar dari bibir bu Rohani benar-benar fatal.
Ia mengira bahwa tidak akan ada warga yang berani macam-macam dengannya namun ia tidak pernah menyangka bahwa masih ada orang yang mau mencari gara-gara dengannya padahal mereka sudah tau bahwa dirinya tengah gentayangan.
Ibu-ibu di desa ini masih tau apa yang telah terjadi antara Sekar dan juga juragan Doni sehingga mereka masih menganggap Sekar wanita hina dan tidak memiliki harga diri, seandainya mereka tau, mereka tidak akan ada yang bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Ujian yang menimpa Sekar begitu berat sehingga ia memilih jalan gelap itu, jika saja pak Anton datang terlebih dahulu mungkin hidupnya tidak akan sehancur ini.
Tatapan maut Sekar tertuju pada bu Rohani yang berjalan sendirian di tengah jalan, guratan kebencian terlihat jelas di wajah Sekar.
"Benar-benar biadab, dia sungguh keterlaluan, dia benar-benar gak bisa di biarkan, ucapannya benar-benar menyakitkan, akan aku balas kau dengan sangat kejam wahai bu Rohani, aku tidak akan tinggal diam lagi, kau dan seluruh ibu-ibu di desa ini sama saja, sama-sama kejam!" pertegas Sekar yang marah besar pada ulah mereka yang masih sempat-sempatnya memancing emosinya.
Sekar berdiri di bawah pohon besar yang lumayan jauh dari posisi bu Rohani berjalan, ia menatap tajam bu Rohani yang berjalan di depannya dengan amarah yang semakin lama semakin menjadi-jadi.
"Kau mencari gara-gara dengan ku wahai bu Rohani, akan aku buat kau menderita, suruh siapa kau mau bermain-main dengan ku" seulas senyuman sinis terukir di wajah Sekar yang di penuhi amarah.
Wussshhhh
Angin kencang tiba-tiba datang dan mengguncang semua dedaunan, angin yang kali ini bertiup benar-benar kencang, sampai-sampai bu Rohani menatap takut sekelilingnya.
Tak pernah ia merasakan angin sekencang ini, selain angin kencang yang datang, rasa takut pun ikut datang secara bersamaan.
"Kenceng benar angin di sini, aku harus cepat-cepat masuk ke dalam rumah, sebelum masuk angin dan jatuh sakit" dengan terburu-buru bu Rohani berjalan dengan langkah cepat.
Sebenarnya bu Rohani tidak takut masuk angin, namun ia minggat dari sana lantaran merasa merinding, dan itu terjadi bersamaan dengan datangnya angin kencang tersebut.
Bu Rohani tak ingin mengambil resiko berada di sana lebih lama lagi, ia dengan secepat mungkin berjalan mendekati rumahnya yang sudah tidak seberapa jauh.
__ADS_1
Sekar tersenyum sinis dengan mata yang melotot tajam ia menatap punggung bu Rohani yang berlari kencang dari sana.
Bu Rohani berlari dengan cepat, setelah tiba di rumahnya ia langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu rapat-rapat, ia tidak mau ada makhluk halus yang masuk ke dalam mengikutinya.
Bu Rohani malam ini tinggal sendiri di rumahnya, anak dan suaminya tidak pulang, mereka berada di tempat kerja masing-masing, mereka sudah mengabari bu Rohani sebelumnya terkait hal ini.
Bu Rohani mulai menyantap sate yang sudah ia beli dengan lahap, ia memang sengaja tidak masak malam ini lantaran dirinya ingin beli makan di luar, apalagi malam ini tidak ada anak dan suaminya yang berada di rumah, ia enggan untuk masak karena tidak akan ada yang memakannya.
Setelah menghabiskan tiga porsi sate bu Rohani membuang bungkusnya di luar.
"Ibu, ibu" panggil Sri anak bu Rohani dengan panik.
Bu Rohani mengerutkan alis menatap anaknya yang pulang-pulang dengan wajah yang panik.
"Ada apa Sri, kenapa kamu panik, apa yang sudah terjadi, lalu kenapa kamu berada di sini, tadi kamu bilang kamu akan lembur malam ini, kenapa sekarang kamu malah pulang?" heran bu Rohani menangkap anaknya yang pulang dengan panik.
"Tadi aku memang bilang kayak gitu bu, tapi sekarang aku mohon sama ibu ikutlah dengan ku ke tempat kerja ku, soalnya bos aku mau mecat aku bu, tolong ibu hentikan dia, aku mohon bu, aku gak mau kehilangan pekerjaan ku" titah Sri dengan raut wajahnya yang sangat tidak mau kehilangan pekerjaannya, ia tidak mau menjadi pengangguran.
"Kenapa bos kamu mau mecat kamu Sri?" kaget bu Rohani akan apa yang barusan telah ia dengar.
"Teman-teman aku jebak aku bu, mereka curi laptopnya bos dan naruhnya di dalam tas ku, mereka sengaja ingin aku di tuduh mencuri laptop bos, ibu tolonglah aku, tolong jelaskan pada bos ku, ini bukan kesalahan ku, aku tidak pernah mencuri, mereka yang sudah mencurinya" jelas Sri sambil memohon-mohon, ia hanya bisa meminta bantuan pada ibunya untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
"Kurang ajar mereka, kenapa mereka segitunya jahat sama kamu, kenapa mereka sampai tega lakuin ini sama kamu" mulai naik pitam bu Rohani.
Ibu mana yang tidak akan kesal saat mendengar bahwa anaknya di tuduh yang bukan-bukan oleh orang-orang yang iri padanya.
"Mereka memang gak suka sama aku bu karena aku selalu rajin di kantor, nama ku cukup baik di sana, mereka ingin menghancurkan nama baik ku dengan cara ini bu, aku gak mau bu usaha mereka berhasil, tolong ibu jelaskan pada bos aku kalau apa yang terjadi ini semuanya sudah di rekayasa sama mereka" titah Sri yang terus memohon-mohon agar bu Rohani mau menolongnya.
__ADS_1
Apapun yang terjadi Sri tidak rela kehilangan pekerjaan yang sudah mapan hilang, ia tidak mau pekerjaan yang ia dapat dengan susah payah hancur gara-gara ulah teman-temannya yang tidak tau diri.
"Siap, ibu akan jelaskan pada bos mu, ibu akan pastikan bos mu percaya pada mu lagi, ayo sekarang anterin ibu ke sana, ibu akan bikin orang-orang yang udah ganggu kamu bungkam, enak aja mereka main hancurin martabat kamu, ibu sungguh gak terima nama baik kamu tercemar kayak gini, ibu akan balas mereka biar mereka gak berani lagi macem-macem sama kamu" tak terima bu Rohani dengan perlakukan mereka yang benar-benar kejam.
Selama ini penghasilan paling besar di keluarga bu rohani berasal dari pekerjaan anaknya, penghasilan suaminya tidak seberapa namun cukup untuk makan sehari-hari.
"Ayo anterin ibu ke sana, ibu akan selesain masalah kamu" titah bu Rohani yang akan melabrak orang yang sudah membuat nama baik anaknya hancur.
Sri membonceng ibunya, ia akan membawa ibunya menuju tempat di mana ia mengais rezeki.
Sepanjang perjalanan bu Rohani semakin meledak-ledak, ia geram pada orang yang sudah memfitnah anaknya sampai sesadis ini, ia akan mengacak-acak rambut mereka semua yang bermain-main dengannya, ia tidak akan tinggal diam aja.
Sri terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia akan membawa ibunya ke tempat yang seharusnya, ia berharap bahwa ibunya bisa menjelaskan pada bosnya kalau apa yang telah terjadi itu bukan murni kesalahannya.
Motor terus melaju, sepanjang perjalanan tak pernah ada percakapan yang terjadi di antara mereka, Sri terus fokus mengendari motornya dengan kecepatan sedang.
"Benar-benar sialan mereka, teman macem apa mereka itu, akan aku bikin harga diri mereka hancur, tidak akan aku biarkan mereka menang, mereka belum liat siapa yang berhadapan dengan mereka!" batin bu Rohani yang kesal pada orang-orang yang sudah berani-beraninya mengusik ketenangannya.
Tiba-tiba bu Rohani tercekat saat melihat ada seorang laki-laki yang seluruh tubuhnya terbungkus oleh kain kafan yang sudah lusuh berdiri di bawah pohon pisang yang terletak di pinggir jalan.
Bu Rohani menutup mulut tidak percaya, tubuhnya bergetar karena takut."Kenapa ada pocong di desa ini, siapa yang meninggal lagi, mengapa ada hantu baru yang berkeliaran, Sekar aja udah begitu meresahkan masyarakat dan sekarang malah kedatangan pocong, ini berita besar, aku harus kasih tau semua orang besok, mereka harus hati-hati karena yang menjadi ancaman desa bukanlah Sekar seorang melainkan dia juga" batin bu Rohani.
Bu Rohani memiliki berita yang cukup menggemparkan masyarakat, ia yakin bahwa mereka akan terguncang dengan berita yang telah ia bawa.
"Sri siapa nama teman kamu itu, bilang sama ibu siapa namanya, biar ibu santet dia, agar dia gak ganggu kamu lagi!" penasaran bu Rohani akan nama orang yang sudah meresahkan keluarganya.
Sri tiba-tiba diam, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, mulutnya bungkam, tidak ada niatan sama sekali baginya untuk menjawab pertanyaan sang ibu.
__ADS_1
"Sri kenapa kamu diam aja, bilang sama ibu siapa namanya, kamu gak usah takut dia marah, karena ibu yang akan hadapi dia, kamu tidak perlu khawatir, ibu mu yang akan berdiri di garda terdepan" perintah bu Rohan, ia begitu penasaran nama orang yang sudah menjebak anaknya.
Sri tetap saja diam, ia hanya terus melajukan motornya tanpa menjawab semua pertanyaan yang bu Rohani ajukan.